DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
64. Akhir Kontrak


__ADS_3

"Kalian ini, benar-benar bikir repot!" gerutu Nyonya Emely. "Seharusnya kamu menuruti apa kata Mama sejak pertama, Val! Hidupmu tidak akan serumit ini."


"Lalu, Mama menyuruh Val menikah muda?" sindir Valeda. "Bukan itu yang Valeda mau, Ma."


"Setidaknya, carilah orang seperti Rangga," sahut Nyonya Emely.


Valeda sudah siap untuk beradu argumen, ketika tiba-tiba Rangga muncul di belakang Tuan Suherman. Valeda dapat merasakan tangan Daniel yang menegang. Dia tahu, bahwa Daniel tidak menyukai Rangga.


"Oom, Tante, tidak baik membicarakan hal seperti ini di rumah sakit," Rangga angkat bicara.


"Kamu selalu begini! Tidak ada gunanya melindungi Valeda terus-menerus!" jawab Nyonya Emely.


Rangga mengusap lengan Nyonya Emely. "Bukannya tugas saudara memang saling melindungi?" ujar Rangga sambil tersenyum.


"Rangga, bisa kamu ajak Papa dan Mama ke luar? Aku akan menyusul," pinta Valeda. Dia tidak mau suasana menjadi semakin panas.


"Oke," Rangga setuju. Dia segera menggiring Tuan Suherman dan Nyonya Emely pergi dari bilik Daniel.


Valeda menoleh pada Daniel. Wajah Daniel sama sekali tidak santai. Dia seakan ingin marah.


"Dan... Aku akan ke luar untuk bicara dengan orangtuaku," kata Valeda.


Daniel meremas tangan Valeda. "Jangan tertipu!" bisik Daniel.


Valeda tersenyum mendengar peringatan dari Daniel. "Akulah pencetus ide pura-pura pacaran ini. Tidak mungkin aku setuju berpisah denganmu dan menikah dengan orang yang Mama pilih," Valeda balas berbisik.


Daniel membuka mulut, hendak bicara lagi. Tapi, dia buru-buru membuang muka. Meski merasa aneh, Valeda memutuskan menyimpan pertanyaannya untuk nanti. Orangtuanya tidak akan duduk sabar di luar sana. Valeda menepuk punggung tangan Daniel, kemudian ikut berlalu pergi.


Valeda berjalan cepat ke luar ruangan UGD dan melihat orangtuanya sedang bicara dengan Rangga. "Pa..." panggil Valeda.


Tuan Suherman berbalik. "Apa kamu masih akan berkeras dengan hubunganmu?" tanya Tuan Suherman.


Valeda menatap orangtuanya bergantian. "Val belum bisa berpisah dengan Daniel," jawab Valeda dengan nada pelan.

__ADS_1


"Hahaha!" Nyonya Emely tertawa nyaring, kemudian pergi dari hadapan Valeda.


Tuan Suherman menghela napas panjang. "Papa rasa, kamu sudah tahu apa jawaban kami, Val," Tuan Suherman berkata sebelum mengikuti istrinya berjalan menuju parkiran.


Rangga menepuk bahu Valeda. "Tenanglah. Kamu sendiri tahu bagaimana tabiat orangtuamu, kan? Mereka pasti lebih mementingkan harga diri dan nama baik."


Valeda menatap mobil orangtuanya hingga menghilang di gerbang rumah sakit. Dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Aku sudah capek," aku Valeda. "Aku mengerti bagaimana pentingnya menjaga nama baik mereka. Tapi, Daniel bukanlah orang yang buruk."


"Kasta," sahut Rangga. "Orangtua kita masih kolot dan memikirkan kasta. Aku pikir, kamu juga akan jadi seperti mereka jika sudah menjadi orangtua."


"Jangan menggodaku!" gerutu Valeda. "Kamu juga, pulang saja! Aku masih mau bersama Daniel."


"Mau makan dulu?" tawar Rangga.


Valeda menggeleng. Dia tidak nafsu makan saat ini. "Aku akan makan nanti."


"Lain kali, jangan menolakku," Rangga menepuk kepala Valeda seraya tersenyum.


'Menolaknya untuk makan bersama?' pikir Valeda. Dia hanya menjawab dengan mengangguk, karena dia tidak bisa janji mengenai hal itu.


Waktu tiba, Valeda melihat mata Daniel tertutup. Napasnya teratur. Ada suara dengkuran pelan darinya. Valeda tersenyum tanpa sadar.


'Daniel sampai berkata untuk jangan tertipu, apa dia khawatir aku akan menuruti perkataan orangtuaku?' batin Valeda.


Valeda duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Daniel. Dia menatap Daniel berlama-lama.


"Maaf..." bisik Valeda. Dia diam untuk berapa lama, memastikan bahwa Daniel tidak terbangun karena dirinya. "Andai aku bisa menjagamu lebih baik lagi. Semua ini tidak akan terjadi. Aku yakin, ini semua ulah pesaing bisnisku."


"Tidak," Daniel menjawab tiba-tiba.


Valeda terlonjak kaget mendengar suara Daniel. "Ka-kamu bangun?"


Daniel membuka matanya perlahan. Dia memandang ke langit-langit ruangan tanpa berkedip. "Ini bukan karena pesaing bisnismu."

__ADS_1


Valeda menelan ludah dengan susah payah. Dia menunduk lesu. Memang tidak mungkin menyembunyikan apa yang dia pikirkan dari Daniel, karena hal ini menyangkut Daniel sendiri.


"Aku tahu, kamu tidak diam saja tentang hal ini. Mungkin juga, kamu sudah banyak melakukan penyelidikan di belakangku." Daniel bergerak pelan, lalu menoleh pada Valeda. "Apa ada yang mau kamu katakan?"


Air mata menyeruak keluar dari pelupuk mata Valeda. Rasanya panas dan menyakitkan. "A-aku mencoba menyelesaikannya sendirian..." ujar Valeda di tengah tangisannya. "Tanpa sadar... Kamu jadi begitu penting untukku... Aku takut, kamu akan membenciku setelah semua kejadian ini..."


Tangan Daniel terjulur. Dia memilin rambut panjang Valeda. "Ketika aku sepakat untuk membantumu, aku sudah sadar dengan akibat yang akan aku terima."


"Ta-tapi... Adikmu sampai kehilangan nyawanya..."


Daniel menarik Valeda ke dalam pelukannya. Karena kaget, Valeda jadi berhenti menangis. Daniel membelai rambut Valeda dengan lembut. Mereka diam dalam hening untuk waktu yang lama.


"Val..." Daniel akhirnya memecah keheningan. "Aku akan menceritakan semua yang aku tahu. Awalnya, aku juga takut kalau kamu akan menyangkal dan balik memusuhiku. Tapi, sekarang semuanya terserah padamu."


Valeda mendongak. Dia melihat Daniel berwajah serius. "Apa yang mau kamu ceritakan?"


"Sebelum itu, aku ingin mengakhiri kontrak di antara kita," sahut Daniel.


Valeda tercengang. Permintaan Daniel yang mendadak membuat otaknya berhenti bekerja. Dia bahkan tidak berani bertanya kenapa. Daniel memang berlaku lembut kepadanya. Tapi, itu bukan berarti Daniel menginginkannya.


Ciuman itu pun...


"Aku tidak bisa berpura-pura menjadi pacarmu lagi," sambung Daniel.


Valeda menarik tubuhnya. Dia duduk tegak di kursi dengan wajah serius. "Aku mengerti. Berada di sampingku hanya akan memperburuk suasana," jawab Valeda. Dia hampir menangis lagi, tapi kali ini karena sedih. Padahal, baru beberapa menit yang lalu Daniel mengatakan bahwa dia tidak ingin berpisah dan akan bersama Valeda. Tapi, yang Valeda dapatkan saat ini malah sebaliknya.


"Bukan itu alasanku."


Valeda sudah hampir berlari untuk kabur karena tidak ingin mendengar apapun dari Daniel lagi. Tangannya meremas rok yang menutupi lututnya. Valeda berusaha keras untuk bertahan duduk di sana. "Apa karena Berlian?" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Valeda.


Daniel tertawa pelan. Dia menggeleng. "Apakah sikapku selama ini tidak membuatmu sadar?" tanya Daniel.


Jantung Valeda berdegup kencang, entah karena apa. Bukannya tidak sadar, Valeda malah menikmati setiap kelembutan yang Daniel berikan. Dia bahkan mengingingkan lebih dari itu.

__ADS_1


"Aku jatuh cinta padamu, Val..." bisik Daniel. "Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu."


***


__ADS_2