
Valeda menyerahkan sebuah map berwarna merah ke hadapan Daniel yang baru saja selesai makan siang. Daniel meneguk airnya dengan buru-buru dan menerima map di tangan Valeda.
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama," ujar Valeda yang merasa sungkan karena memaksa tamunya untuk makan dengan cepat.
"Saya tahu Anda orang yang sibuk," jawab Daniel. Dia membuka map dengan hati-hati.
"Bacalah perlahan," Valeda berdiri dari duduknya, "aku ada di mejaku."
Daniel mengangguk saja untuk menjawab perkataan Valeda. Dia kembali sibuk meneliti kontrak yang Valeda tawarkan.
Detik demi detik berlalu. Valeda dan Daniel bersama dalam diam. Mereka sama-sama sibuk dengan diri mereka masing-masing. Valeda tidak bertanya apapun dan membiarkan Daniel membaca kontraknya dengan seksama. Setelah tiga puluh menit berlalu, Daniel akhirnya meraih bolpoin yang ada di atas meja, kemudian menandatangani kontrak.
"Saya setuju, Nona," ujar Daniel sembari menutup map merah di tangannya. "Kontrak ini sangat menguntungkan bagi saya. Tapi, saya hanya perlu berpura-pura menjadi pacar Nona?" tanya Daniel tidak percaya.
"Sama halnya dirimu yang menganggap uang adalah hal yang sulit, aku menganggap bahwa menjalin hubungan adalah hal yang sulit. Kita bisa melengkapi satu sama lain," jawab Valeda. "Baiklah, jika sudah selesai. Mari bicarakan divisi yang akan kau masuki untuk bekerja di sini."
"Itu berlebihan, Nona."
Valeda menggeleng tegas. "Anggap itu bonus. Sudah aku bilang, aku perlu kamu untuk berada di sekitarku."
Daniel menyibak rambutnya ke belakang. "Apakah Nona sudah tahu latar belakang saya?" tanya Daniel memastikan. Sejujurnya, dia senang jika bisa mendapatkan pekerjaan di tempat sebagus ini. Namun, dia jelas tahu konsekuensi yang harus dia hadapi.
Valeda mengangkat sebuah map dari atas meja kerjanya. "Aku punya datamu sejak kamu ada di bangku sekolah menengah pertama. Rupanya kamu anak yang berprestasi. Sayang sekali tidak ada jalan untukmu."
Daniel menelan ludah dengan susah payah. "Anda mendapatkan data saya semudah itu?" tanya Daniel.
__ADS_1
Valeda mengangguk enteng. "Ini hal yang mudah untukku." Valeda meletakkan map itu kembali ke atas meja. "Jadi, aku suka caramu mengatur keuangan. Kamu jenius dalam urusan hitung-menghitung. Masuklah ke tim keuangan di bawah pengawasan Celine."
"Apa? Tim keuangan?" Daniel tidak percaya bagaimana dengan santainya Valeda mengatakan hal itu. "Nona percaya dengan saya? Kita belum lama saling mengenal, namun Nona mempercayakan pekerjaan sepenting itu pada saya?"
"Hanya ada empat orang di tim itu," kata Valeda. "Orang-orang dengan kelemahan di tanganku. Jika mereka korupsi, aku akan menghabisi mereka tanpa ampun."
"Wah, Anda sama menyeramkannya dengan ibu Anda."
Valeda hanya tersenyum mendengarnya. Dia tidak peduli kalau itu sebuah sindiran, karena memang begitu adanya.
"Ngomong-ngomong, di kontrak itu dikatakan bahwa kamu harus berpura-pura sampai aku menemukan laki-laki yang aku cintai. Apa kamu tidak keberatan?" Valeda penasaran, karena Daniel dengan mudahnya menandatangani kontrak mereka. Setidaknya, menemukan seseorang yang Valeda sukai bukanlah hal mudah dan pastinya memerlukan waktu yang lumayan lama.
"Tidak apa. Saya tidak berencana menyukai seseorang dalam waktu dekat ini. Hidup adik-adik saya lebih penting," Daniel menjawab dengan santai.
Valeda mengangguk mengerti. "Bagus kalau begitu. Karena hal ini akan berlangsung lama."
"Aku sudah memutuskan hal itu. Tidak ada yang berubah," potong Valeda. "Setelah kamu mengajari tukang kebun yang aku kirimkan dalam tiga hari, lalu datanglah untuk bekerja."
Daniel berpikir sejenak. "Menurut profil yang saya baca di internet, perusahaan Nona adalah perusahaan terketat dalam memilih karyawan. Kalau saya masuk semudah ini, bukankah itu akan mencoreng nama Nona?"
"Itu adalah bagian dari drama percintaan yang aku buat. Kamu ikuti saja apa mauku," jawab Valeda enteng. "Ada pertanyaan lainnya?" Valeda bertanya, berjaga-jaga jika ada hal yang tidak Daniel mengerti.
"Saya rasa, saya cukup mengerti," Daniel mengangguk yakin. Tidak sulit baginya berpura-pura mencintai Valeda.
Valeda bangkit dari duduknya. "Sekarang, ikut denganku," perintahnya.
__ADS_1
"Ke mana?" tanya Daniel.
"Aku harus memperkenalkan perusahaanku padamu. Tidak baik kalau mengganggumu setengah-setengah," sahut Valeda sambil nyengir.
Daniel segera mengekor di belakang Valeda ketika Valeda berjalan melewatinya. Valeda sempat menoleh ke belakang sebelum membuka pintu. "Iya, saya tahu. Begitu Nona membuka pintu ini, kita harus seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta," bisik Daniel.
Valeda tersenyum senang memiliki partner sepintar Daniel. Dia merasa jalannya akan mudah untuk menjauh dari semua kencan buta yang Nyonya Emely atur untuknya. Daniel pun tampaknya tidak tertarik dengan dirinya. Hal itu membuat Valeda yakin bahwa Daniel akan bekerja secara profesional.
"Saya mohon perhatiannya," kata Valeda begitu dia berdiri di hadapan staf general manager di lantainya. Lilia, Nanda, dan Michael langsung mengalihkan pandangan mereka dari komputer di hadapan mereka ke arah Valeda. Celine yang sudah tahu apa yang akan terjadi, berdoa di dalam hati agar rencana mereka berhasil. Ketiga general manager Valeda saling bertukar pandangan penuh tanya.
"Perkenalkan, ini adalah Daniel. Dalam tiga hari ke depan, dia akan bergabung dengan tim Celine di keuangan. Aku harap, kalian bisa membantunya," ujar Valeda.
"Ehem," Celine berdeham karena ketiga temannya malah melongo mendengar apa yang Valeda katakan. "Daniel, kenalkan staf general manager di sini. Lilia, memegang fungsional SDM. Michael, memegang fungsional pemasaran dan operasional. Lalu Nanda, memegang fungsional administrasi," Celine memperkenalkan koleganya.
Daniel membungkuk dan mengedarkan pandangannya pada orang-orang baru di depannya. "Perkenalkan, Saya Daniel. Mohon bantuannya selama saya di sini nanti," sapanya.
"Dan, mau aku buatkan kopi?" Valeda menoleh pada Daniel.
Daniel yang melihat ekspresi Valeda menjadi melembut, menangkap sinyal itu sebagai mulainya kontrak mereka hari ini. "Jangan pergi," Daniel menyelipkan rambut panjang Valeda ke belakang telinga. "Waktu kita tidak banyak. Aku mau kita berdua lebih lama sambil jalan-jalan di kantormu."
Suara riuh rendah terdengar berdengung memenuhi ruangan. Sepertinya Lilia, Michael, dan Nanda sudah termakan sandiwara Valeda. Mereka yang pertama kali melihat Valeda berlaku manja kepada laki-laki, sungguh menjadi berita besar. Tanpa usaha berarti, kabar Daniel yang mampu meluluhkan hati Valeda akan tersebar cepat di kantornya.
Daniel mengikuti Valeda masuk ke dalam lift untuk memberinya tour singkat siang itu. "Aku suka bagaimana cepatnya respon yang kamu berikan. Pertahankan itu," bisik Valeda.
Valeda menghabiskan sisa hari kerjanya saat itu dengan membuat kegemparan di kantornya sendiri. Dia agak kaget dengan kemahiran Daniel dalam bersandiwara. Daniel tidak gugup sama sekali ketika berkenalan dengan orang-orang di kantor Valeda. Senyumannya yang ramah dan menyejukkan mampu menarik perhatian banyak orang.
__ADS_1
***