
Valeda memapah Daniel untuk pergi ke bed nomor enam dan tujuh, di mana Cahya dan Wahyu berada. Langkah Daniel gontai. Dia tidak sanggup melihat adiknya seperti sekarang, tapi dia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri.
Valeda membuka tirai bed dengan perlahan. Daniel tidak berkedip ketika melihat Wahyu di atas tempat tidur. Matanya tertutup dengan napas memburu. Sebuah sungkup oksigen terpasang menutupi hidung dan mulutnya. Perban membalut kepala Wahyu. Kedua tangan Wahyu terikat di sisi tempat tidur.
"Kenapa tangannya terikat?" gumam Daniel.
"Pasien Wahyu terkadang terbangun dan gelisah. Kami terpaksa mengikat tangannya agar pasien tidak jatuh dari tempat tidur," seorang perawat yang mengikuti mereka menjawab. "Saya harus minta tanda tangan penanggung jawab pasien. Saya akan membawanya ke ruang operasi sekarang," tambahnya.
Daniel mengusap wajahnya, kemudian meraih pulpen yang disodorkan perawat. Dia menandatangani semua berkas yang diperlukan, tidak lupa untuk meninggalkan nomor teleponnya juga.
"Terima kasih, Sus," kata Daniel sesaat sebelum perawat mendorong bed Wahyu menuju ruang operasi.
Daniel kembali memeluk Valeda untuk beberapa detik. Setelah mampu mengendalikan dirinya, Daniel berdiri tegak dan pergi ke bed nomor tujuh. Dia menarik tirai.
Orang yang terbaring di tempat tidur menoleh padanya. "K-Kaakkk..." Cahya menangis saat melihat Daniel muncul. "Kak Daaaannn..." dia merentangkan tangannya.
Daniel langsung menghampiri dan memeluk Cahya. "Apa kamu kesakitan?" tanya Daniel. "Kakak akan minta dokter memberikan obat lagi."
"Kak... Gimana dengan Yano?" Cahya bertanya di tengah isak tangisnya.
Daniel mengusap kepala Cahya. "Tenanglah... Kakak akan mengurus semuanya. Kamu fokus dengan dirimu saja."
Valeda ke luar dari bilik bed Cahya. Dia menghubungi Celine. Dia ingin Celine memeriksa apakah pengemudi yang mabuk itu sudah diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
"Celine!" sambar Valeda saat suara Celine terdengar dari seberang. Valeda pergi ke luar ruangan emergency untuk bicara lebih jauh.
"Ada apa, Val?" tanya Celine. "Apa kamu menelepon untuk tahu keadaan kantor? Semuanya baik-baik saja."
"Bukan! Aku ingin kamu memeriksa sesuatu," jawab Valeda cepat. "Ketiga adik Daniel kecelakaan sekitar satu jam yang lalu. Salah satunya meninggal."
"Apa!?" pekik Celine. "Bagaimana bisa!?"
Valeda menyibak rambutnya ke belakang. "Menurut laporan, mereka ditabrak pengemudi yang mabuk. Aku mau kamu menyelidiki pengemudi itu. Pastikan dia dipenjara seumur hidup atau mati!"
__ADS_1
"Val, tenang dulu," pinta Celine. "Aku akan memastikan orang itu menerima hukumannya."
Valeda menghela napas panjang. Emosi menguasai dirinya untuk sesaat. "Kabari aku secepatnya!"
"Oke," Celine mengakhiri percakapan.
Valeda menyelipkan handphone-nya kembali ke dalam tas. Dia memijit keningnya. "Astaga... Kenapa ada kejadian seperti ini?"
"Nona!"
Valeda mendongak, melihat siapa yang memanggilnya. "Kris? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Valeda.
Kris berlari menghampiri Valeda. "Aku mendapat kabar dari pihak rumah sakit kalau Nona ada di sini. Jadi, aku ke sini secepatnya. Ada apa?"
Valeda menggeleng. "Tiga adik Daniel kecelakaan. Salah satunya meninggal dunia," jawab Valeda.
"Apa!?" pekik Kris. Dia memegang kepalanya. "Apa Nona serius?"
"Untuk apa aku berbohong tentang nyawa orang lain?" Valeda melemparkan pertanyaan pada Kris. "Aaah... Aku lelah sekali. Semuanya terjadi begitu mendadak."
Valeda menggeleng cepat. "Keadaan sedang kacau dan Daniel adalah pacarku. Akan aneh jika aku tidak ada di saat seperti ini. Aku harus tetap memikirkan omongan media," tolak Valeda. "Kamu pergilah ke panti asuhan. Pastikan adik-adik Daniel yang lainnya baik-baik saja!"
Kris mengangguk sekali, kemudian berlari kembali ke mobil untuk pergi ke panti asuhan, sesuai instruksi Valeda.
Valeda masuk kembali ke ruang emergency. Dia melihat Daniel duduk di depan counter perawat. Dokter Michael tengah menjelaskan sesuatu padanya. Valeda memutuskan untuk pergi ke meja kasir. Dia hanya bisa membantu masalah biaya saat ini. Tidak ada gunanya meminta Daniel untuk tidak bersedih. Dia mengalami luka yang sangat dalam. Daniel pantas untuk menangis sejadi-jadinya.
"Urusan biaya, kalian bisa menghubungi sekretarisku, Celine. Dia akan aktif dua puluh empat jam. Jangan ganggu Daniel untuk urusan uang," ujar Valeda pada petugas kasir.
"Baik, Nona," jawab petugas kasir.
Valeda bangkit dari duduknya. "Terima kasih," ujarnya sebelum berlalu. Saat hendak masuk kembali ke ruangan di mana adik-adik Daniel terbaring, Daniel tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Dan..." Valeda merentangkan tangannya sambil berjalan cepat menghampiri Daniel.
__ADS_1
Daniel jatuh ke dalam pelukannya. Dia membenamkan wajahnya di bahu kecil Valeda. Isakan tangisnya langsung terdengar.
Valeda mengusap punggung Daniel. Rasa sedih yang Daniel rasakan, seakan mengalir melalui bahunya. Ini pertama kalinya Valeda melihat seseorang sangat putus asa.
"Dan, aku sudah mengurus semuanya di sini. Mari kita tenangkan diri dan temani adik-adikmu," usul Valeda.
Daniel berusaha mengontrol dirinya. Dia hanya perlu beberapa detik sebelum akhirnya berhenti menangis. "Kenapa harus adik-adikku?" bisiknya.
"Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja," jawab Valeda.
"Aku tidak akan memaafkan orang yang telah membuat semua ini terjadi." Daniel menarik dirinya dan menghapus air matanya.
"Aku sudah meminta Celine memastikan hal itu," tambah Valeda. "Saat ini, Kris sedang menuju panti asuhan dan akan menjaga adik-adikmu. Besok pagi, aku akan mengirim beberapa orang untuk mengurus semua urusan di sana. Kamu ambilah waktu sebanyak yang kamu mau untuk bersama Cahya dan Wahyu."
Daniel membelai pipi Valeda. "Terima kasih... Aku terlalu manja padamu..."
Valeda menggeleng cepat. Dia tidak bisa fokus untuk beberapa detik. Melihat Daniel seperti ini membuatnya sedih. 'Ada apa denganmu, Val! Kamu tidak seharusnya melibatkan perasaan!' jerit Valeda di dalam hati.
"Maaf, aku sampai lupa kalau kamu lapar," Daniel tiba-tiba mengungkit masalah perut. "Ayo kita makan di sekitar sini. Tunggu sebentar, aku akan mengajak Kiki dan Nana."
"Bagaimana dengan Jingga?" tanya Valeda.
"Dia perlu istirahat lebih banyak. Aku akan membelikannya makanan saat kita kembali." Daniel membelai kepala Valeda sebelum pergi ke ruang emergency lagi.
Valeda duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang emergency. Dia membiarkan kepalanya kosong untuk beberapa saat. Valeda kaget dengan semua yang terjadi. Baru saja rasanya dia merasakan 'musim semi' yang sangat indah, lalu semuanya berakhir secepat kilat.
"Aku harus menangani hal ini sebelum acara Kak Lucas," ujarnya pada diri sendiri.
Tidak lama kemudian, Daniel datang bersama Kiki dan Nana. Kedua adiknya tampak lesu. "Kalian pergilah duluan. Aku masih harus mengurus Yano," kata Daniel.
Valeda bangun dari duduknya. "Kamu tinggal memutuskan akan membawa Yano ke mana. Apakah rumah duka atau panti asuhan," Valeda dengan cepat menanggapi.
"Aku tidak bisa membiarkan adik-adikku yang lain melihat Yano. Aku akan memutuskan rumah duka," jawab Daniel. "Terima kasih banyak, Val..."
__ADS_1
Valeda menjawab dengan seulas senyuman. Dia menggandeng kedua adik Daniel dan membawa mereka pergi makan terlebih dulu, walau dia tahu tidak ada yang lapar saat ini.
***