
Daniel dan Valeda duduk berdampingan di salah satu bangku warung kaki lima. Dua mangkuk mie ayam yang mengepulkan asap putih tipis tersaji di depan mereka. Wanginya bahkan mampu membuat perut Daniel menjerit-jerit, meski dia sedang tegang saat ini.
"Es tehnya, Mas," seorang perempuan seumuran Valeda menyodorkan dua gelas es teh di hadapan Daniel. Tidak lupa dia berkedip manja ketika tatapan matanya bertemu dengan mata Daniel.
"Makasi, Mbak," jawab Daniel sekadarnya, tapi jelas perempuan itu menangkapnya secara berlebihan.
"Mas kalau perlu apa-apa, panggil aja saya, ya," jawab perempuan itu. "Nama saya Maria."
"Oh... Oke," Daniel menjawab tanpa ekspresi. Dia tahu, tersenyum di saat seperti ini malah akan memberikan harapan palsu pada Maria. Apalagi ada hawa membunuh yang sangat terasa di sebelahnya.
"Tipemu?" tanya Valeda begitu Maria melenggang pergi.
"Hahahaha," Daniel tertawa pelan. "Apa kamu menganggap dirimu sama seperti perempuan tadi? Sama genitnya?" Daniel balik bertanya.
Valeda yang merasa bahwa dia adalah kekasih Daniel yang sekarang, menjadi malu sendiri. Wajahnya berubah merah padam. "Tidak," jawabnya setengah bergumam.
Daniel membelai kepala Valeda penuh sayang. "Maaf..." ujarnya pelan.
"Kenapa?"
Daniel menatap mie ayam yang ada di depan Valeda. "Sebaiknya kita makan dulu. Aku akan menceritakan semuanya setelah kita selesai makan," Daniel memutuskan. "Aku tidak mau selera makan kita hilang karena hal ini. Mienya juga mulai dingin."
Valeda mengangguk mengerti. "Baiklah."
Mereka akhirnya menikmati makanan yang ada di hadapan mereka dalam diam. Suara orang-orang yang ada di sekitar mereka bahkan tidak menjadi gangguan. Valeda dan Daniel tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Valeda terlalu takut dengan apa yang akan dia dengar dari Daniel sebentar lagi, namun juga sangat penasaran dengan apa yang Daniel rencanakan.
'Ah... Aku juga harus memberi tahu Daniel tentang ingatanku yang kembali, walau belum sempurna,' pikir Valeda.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya mereka menyelesaikan makan mereka. Daniel tidak bermaksud buang-buang waktu, jadi dia tidak menunggu makanan tercerna sebagian di perutnya untuk memulai percakapan.
"Maaf sudah menyeretmu sejauh ini," Daniel memulai.
Valeda menggeleng cepat. Dia sebenarnya tidak keberatan dengan apa yang Daniel lakukan. Valeda yakin apa yang Daniel lakukan bukanlah suatu hal buruk. Namun, dia tidak dapat berkata-kata. Awalnya, Valeda yakin bahwa dia pintar menilai orang. Belakangan ini keyakinannya menurun. Tapi dia terlalu takut untuk mengutarakan pemikirannya dari mulutnya sendiri.
"Sebenarnya, aku sudah mengenalimu sejak pertama kali melihatmu," kata Daniel. Tapi, ketika dia menangkap raut wajah tidak mengerti dari Valeda, Daniel cepat-cepat melanjutkan. "Bukan karena kamu adalah orang terkenal, bukan juga karena wajahmu sering muncul di koran, majalah, dan media elektronik lainnya."
"Lalu, maksudmu, kamu mengenaliku karena kita pernah bertemu sebelumnya?" terka Valeda. "Tapi, bukankah itu saat kita sama-sama kecil? Wajahku sangat berubah, kan? Aku bahkan tidak mengenalimu."
Daniel tersenyum tipis. Ada rasa bahagia dan juga sedih di dalam senyumannya itu. "Mungkin kamu tidak ingat karena kamu masih sangat kecil waktu itu. Namun, aku mencintaimu lebih dari apapun saat kita kecil dulu. Aku merasa sangat bahagia bisa berada di sampingmu."
Wajah Valeda langsung bersemu merah. Dia bisa merasakan uap panas keluar dari telinganya. "A-apa yang membuatmu sampai punya perasaan seperti itu padaku?" tanyanya terbata.
"Karena kamu tidak memandangku rendah. Kamu memperlakukanku seperti manusia biasa. Bukan sebagai monster." Daniel menatap jauh ke depan, seakan mengenang kembali masa-masa yang dia bicarakan sekarang. "Aku tidak seperti anak lainnya. Pemikiranku berbeda dan aku suka melakukan hal-hal diluar dugaan. Guru-guru tidak menyukaiku karena aku berbeda dan terlalu pandai. Tentu saja orangtuaku selalu ada di pihakku, tapi dunia di luar sana berbeda. Apa yang ada di hadapanku waktu itu, sangat menakutkan. Tapi..." Daniel menoleh pada Valeda yang duduk dengan tenang di sebelahnya, "kamu mau menerimaku. Kamu bermain bersamaku."
"Aku tahu, kebakaran itu membuat semuanya berantakan. Hari-hari yang indah itu akhirnya harus berakhir juga. Tapi, kenyataan bahwa ayahmu membuat keluargaku hancur, bahkan setelah ayahku tidak lagi bekerja untuk ayahmu, membuatku marah. Aku marah. Sangat marah. Saking marahnya, aku bahkan mampu membakar ayahmu hidup-hidup."
Bulu kuduk Valeda meremang ketika mendengar pengakuan Daniel. Dia menelan ludah dengan susah payah.
"Aku membenci ayahmu, namun aku begitu mencintaimu. Ketika bertemu denganmu, rasa itu yang membuatku mengenalimu. Kamu selalu hidup di hatiku, di antara amarah dan cinta." Daniel membelai rambut Valeda penuh sayang. "Awalnya, aku ingin membalas dendam. Aku ingin ayahmu merasakan bagaimana sakitnya kehilangan sesuatu yang paling berharga."
Valeda tidak mengelak. Dia tahu cerita di balik sakit hatinya Daniel. Bagaimana dia kehilangan ibunya, ayahnya, bahkan adiknya. Valeda dapat mengerti dendam yang Daniel miliki.
"Tapi, begitu bersamamu lagi, semuanya sirna... Aku hanya ingin bahagia bersamamu. Aku ingin melindungimu sebisa mungkin." Suara Daniel mendalam. Kilat matanya menyiratkan sesuatu yang serius kali ini. "Sampai seseorang mengusik kita."
Valeda masih tidak mau menyebut nama orang yang ia curigai secara terang-terangan. "Apa rencanamu?" tanya Valeda.
__ADS_1
"Membuatnya marah. Sebagian besar orang marah akan menjadi lengah. Saat itu aku akan mendapatkan bukti atas semua perbuatannya," jawab Daniel.
"Apa kamu yakin kalau dia orangnya?" Valeda masih sangsi. Bahkan, dia sempat berharap bahwa dugaannya salah.
"Dia harus masuk perangkapku dulu untuk menjadi pelakunya," Daniel menjawab singkat.
"Apa yang bisa aku lakukan sekarang?"
Daniel mengangkat bahunya. "Menunggu?"
***
PRANG!!!
Suara kaca pecah menggema di dalam ruangan berukuran besar yang dipenuhi barang-barang mewah. Ruangan itu sudah setengahnya hancur. Pecahan berbagai jenis kaca berserakan di setiap sudut. Tiga orang berpakaian serba hitam yang ada di tengah ruangan itu, penuh dengan luka-luka. Entah itu luka goresan kaca, dan juga luka pukulan benda tumpul. Sementara, orang yang membuat ruangan itu kacau, berdiri di depan meja kerjanya dengan wajah memerah.
"SEBENARNYA, APA YANG KALIAN KERJAKAN!?" pekiknya dengan nada kesal. Dia meraih patung kayu seukuran lengannya, lalu melemparkannya ke salah satu laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya.
Patung itu tepat mengenai kepala sasarannya, membuat laki-laki itu terhuyung kemudian ambruk. Darah segar menetes dari pelipisnya. Namun dia buru-buru bangkit dan berdiri tegap kembali. Dia berusaha tidak mengindahkan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya.
"AAAAARRRGGGHHH!!!" serunya.
"Tu-Tuan, kami akan menyelesaikannya dengan cepat!" ujar salah satu laki-laki. Tidak bisa dipungkiri, kalau dia merasa takut dengan majikannya. Dia ingin segera kabur, namun dia dipekerjakan memang untuk hal ini.
Mata tuannya berkilat mendengar hal itu. Dia sadar kalau tuannya tidak akan menerima alasan apapun. Meski bukan dia yang salah, tuannya tetap akan melampiaskan amarah padanya.
"Baik," desis tuannya, membuat atmosfer ruangan bertambah dingin. "Satu kesempatan lagi. Buat aku terkesan!"
__ADS_1
***