DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
74. Air Mata


__ADS_3

"Val... Valeda... Bangunlah... Valeda..."


Suara itu membuat Valeda bangun dari pingsannya. Suara yang membuat hatinya bergetar belakangan ini dan sulit untuk dilupakan. "Daniel!?" Valeda tersadar dan langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap bahwa pendengarannya bukan hanya sebuah ilusi.


Daniel tersenyum melihat Valeda akhirnya membuka mata. "Kamu tidak apa-apa? Apa pipimu sakit?" tanya Daniel.


Valeda yang mendengar hal itu dari Daniel, langsung menangis. Hatinya hancur melihat keadaan Daniel saat ini. Tanpa melihat keadaan secara langsung, Valeda sudah tahu apa yang telah Daniel lalui selama dia menghilang. "Ini... Ini semua karena aku..." ujar Valeda di tengah isak tangisnya.


"Val, dengarkan aku!" Daniel berkata dengan suara tegas. Dia tidak bisa melihat air mata Valeda saat ini. Daniel ingin memastikan bahwa Valeda tidak merasa bersalah dengan apa yang terjadi. "Val, berhenti menangis! Dengarkan aku!" pinta Daniel sekali lagi.


Valeda tersedu-sedu untuk beberapa saat, namun akhirnya mampu mengendalikan dirinya dan berhenti menangis. Dia membalas tatapan mata Daniel yang nanar. Mata Daniel yang dulunya berkilau, kini redup. Wajahnya pucat. Ada bekas memar dan luka di setiap sentinya. Bahkan, noda darah tampak baru di pelipis Daniel.


"Val... Sejak awal aku sudah katakan padamu. Ini konsekuensi yang aku ambil. Tindakanku ini murni karena keputusanku. Mencintaimu adalah keputusanku. Mana mungkin ini menjadi salahmu?" Daniel berkata selembut mungkin. Dia berharap Valeda mempercayai apa yang dia katakan saat ini.


"Ta-tapi, apakah semua ini benar perbuatan Rangga?" tanya Valeda. Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis lagi.


"Aku melihat dia membawamu kemari semalam," jawab Daniel.


Valeda mencoba bangkit dari tidurnya. Saat itu, barulah dia sadar kalau tangan dan kakinya terikat. Valeda mengedarkan pandangan ke sekitar, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi dalam waktu singkat itu. "Semalam?" gumam Valeda pelan.


"Bagaimana bisa Rangga membawamu ke sini? Apa kamu ikut dengan sukarela?" tanya Daniel.


Valeda menggeleng. "Tidak. Kami terlibat pertengkaran di apartemenku. Kemudian dia membekapku hingga pingsan. Hal yang aku tahu setelahnya adalah bertemu denganmu di sini."


"Bukankah sudah aku peringatkan, jangan membukakan pintu untuk orang itu?" suara Daniel terdengar sedikit marah.


"Ada Celine dan Kris di sana," Valeda berbisik.


Alis Daniel berkerut. "Maksudmu, Rangga melakukan ini padamu di hadapan Celine dan Kris?"


"Tentu tidak," Valeda memejamkan mata sesaat. Kepalanya pening, sementara pipinya kembali berdenyut menyakitkan. "Celine dan Kris aku minta untuk bersembunyi di kemar tamu."


"Aku harap Rangga tidak menemukan mereka," doa Daniel.


Valeda mengangguk setuju. Setidaknya, dua orang sahabatnya tidak terseret ke dalam kejadian ini. Mereka pasti bisa menjadi saksi kunci jika nantinya Valeda dan Daniel bisa kabur dari sini.

__ADS_1


"Apa kamu menyingkirkan hiasan jam pemberianku yang ada di dekat televisi ruang tamumu?" tanya Daniel tiba-tiba.


"Apa?" Valeda balik bertanya, heran dengan pertanyaan yang Daniel lontarkan secara mendadak. "Tidak. Jam itu masih di tempatnya. Memangnya kenapa?"


Daniel menoleh ke arah pintu untuk sesaat. Dia memastikan pintu itu tertutup rapat dan tidak ada seorangpun di sana yang sedang menguping pembicaraan mereka. "Maaf untuk ini. Sebelumnya, aku memasang penyadap di dalam jam itu. Pertengkaranmu dengan Rangga bisa saja terekam di sana."


"Kamu memberitahu seseorang tentang penyadap itu?" Valeda bertanya.


Daniel mengangguk. "Temanku. Dia akan bertindak kalau aku tidak muncul dalam sebulan."


"Sebulan? Itu terlalu lama," protes Valeda.


Daniel hanya nyengir. Valeda menelan protesannya karena tidak akan mengubah apapun untuk saat ini. Semakin lama dia melihat wajah Daniel, semakin sedih yang dia rasakan. Valeda ingin menyeka darah yang mulai menetes melewati pelipis Daniel, namun tangannya terikat kuat.


BRAK!


Pintu gudang mendadak terbuka lebar. Daniel dan Vanela menoleh bersamaan. Rangga melenggang masuk ke dalam bersama dua orang laki-laki berbadan besar. "Apa tidurmu nyenyak?" sapa Rangga, lebih kepada Valeda.


Valeda bungkam. Dia memilih menutup mulutnya rapat-rapat daripada menjawab sapaan Rangga.


Valeda tetap diam. Cacian demi cacian hendak terlontar dari mulutnya saat ini. Dia ingin berteriak agar Rangga membebaskan mereka, namun tentu saja dia tahu hal itu sangat mustahil.


"Lihatlah, Cinta," Rangga meneruskan pembicaraannya. "Kamu sudah merasakannya sendiri, bukan? Lihatlah Daniel yang ada di sebelahmu! Lalu, lihatlah dirimu sendiri sekarang! Bukankah ini tidak menyenangkan? Kamu seharusnya ada di apartemen mewahmu, menikmati sarapan favoritmu, lalu berangkat kerja dengan diantar sopir."


Valeda makin ingin memaki Rangga. Jika saja tangan dan kakinya tidak terikat, Valeda pasti sudah menerjangnya seperti terakhir kali, walau itu tidak berarti bagi Rangga.


"Apa kamu mengerti sekarang? Aku bisa melakukan apapun semudah membalikkan telapak tangan. Aku bisa membuatmu merasakan kenyamanan, atau sebaliknya. Tapi, apa yang bisa orang itu lakukan?"


"Lepaskan kami!" sahut Valeda.


Senyuman Rangga menghilang. "Apakah kamu belum mengerti posisimu?" tanyanya. Dia melangkah cepat ke arah Daniel dan menendang Daniel hingga terguling.


"Hentikan!!!" seru Valeda. "JANGAN SENTUH DANIEL!" pekiknya.


Rangga menyunggingkan senyuman sinis. "Menikahlah denganku, jika kamu ingin laki-laki lemah ini selamat!" ancamnya.

__ADS_1


"Hehehehehe..." Daniel malah tertawa. "Val, apa ini tidak lucu? Dia melakukan hal sekotor ini hanya untuk mendapatkanmu," kata Daniel.


BUK! BUK! BUK!


Pukulan bertubi-tubi bersarang lagi ke wajah Daniel yang sudah babak belur. Valeda yang melihatnya secara langsung, membeku untuk beberapa detik.


"HENTIKAN! HENTIKAN, RANGGA!!! BERHENTI!!!" Valeda menjadi histeris.


Tangan Rangga berhenti di udara. Matanya berkilat memandang Valeda yang menangis. "Kenapa kamu menangis untuknya?" Rangga berdiri. Darah Daniel menetes dari jarinya. "Apakah dia sehebat itu, sampai kamu bertahan dengannya? Apa yang bisa dia lakukan untukmu? Apa yang bisa diberikan oleh laki-laki rendahan itu?"


Tangisan Valeda tidak mau berhenti. Air mata mengalir dengan deras membasahi pipinya. Dia tidak berani bicara setelah melihat akibat dari ucapannya. Valeda merasa mungkin dia bisa menahan jika yang disakiti adalah dirinya. Tapi, jika yang menerima akibat dari besar mulutnya adalah Daniel, dia lebih baik diam sejak awal.


"Tuan!"


Panggilan itu mencairkan suasana tegang. Seorang laki-laki paruh baya dengan baju lusuh mendatangi Rangga. Wajah laki-laki itu pucat, keringat dingin membasahi bajunya.


Rangga mengernyit, jelas terganggu dengan kedatangan orang itu. "Ada apa?"


"Sa-saya dapat laporan! Gu-gudang Tuan di kota sebelah terbakar!"


Rangga tersentak. Bahunya langsung tegak menegang. "Apa!? Bagaimana bisa!?" serunya.


"Saya kurang tahu, Tuan! Tapi pemadam kebakaran sudah berada di lokasi dan mencoba memadamkan api!"


Rangga menyibak rambutnya ke belakang. Wajahnya merah karena marah. Dia bisa membunuh siapa saja saking kesalnya dia saat ini. Tanpa sepatah katapun, Rangga langsung berlari kecil ke luar gudang bersama semua anak buahnya.


"Dan... Daniel..." rintih Valeda, sembari menggeliat mendekati Daniel yang tidak bergerak. "Daniel..." panggilnya lagi. Ketika tiba di sebelah Daniel, Valeda menempelkan telinganya ke dada Daniel.


"Aku masih hidup," ujar Daniel tiba-tiba.


Valeda menarik kepalanya. "Jangan mati..." pinta Valeda lirih.


Daniel tersenyum lebar. "Baiklah jika itu maumu," Daniel menjawab.


***

__ADS_1


__ADS_2