DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
28. Bangga


__ADS_3

(Seminggu kemudian)


Valeda duduk kembali di sebelah Daniel. Mereka baru saja selesai menikmati makan siang mereka yang sederhana, namun sangat dinikmati oleh Valeda.


Siang yang seperti biasa. Daniel menyempatkan diri membuatkan Valeda bekal makan siang sebelum berangkat ke kantor. Rutinitas seperti ini sudah berjalan hampir tiga hari lamanya.


"Besok, kamu akan buat makan siang apa?" tanya Valeda.


"Giliranmu untuk buat bekal," jawab Daniel.


"Apa? Tidak bisa!" sahut Valeda cepat. "Aku... Aku belum latihan dan kerjaanku banyak!"


Daniel menyilangkan tangannya di depan dada sambil menghela nafas. "Alasan terus," gerutunya.


Valeda menggigit bibir bawahnya, gugup. Dia tidak berani membalas tatapan mata Daniel. Sebenarnya, dia berbohong tentang alasannya itu. Valeda telah memanggil seorang koki profesional untuk mengajarinya sejak seminggu setelah tantangan Daniel. Namun, hasilnya bisa ditebak.


Dalam hati, Valeda menyesal karena dengan mudahnya menerima tantangan Daniel. Sementara yang dia lawan setara dengan seorang koki profesional. Bagaimana tidak, Daniel masak telur goreng saja, rasanya benar-benar enak!


"Pokoknya aku tidak bisa," tolak Valeda.


"Waktu kita masih banyak. Aku akan menunggu sampai kamu siap menyajikan masakanmu di depanku," kata Daniel. "Ngomong-ngomong, istri Kak Lucas akan tiba besok. Dia akan pergi ke panti asuhanku bersama kedua anak kembarnya."


Alis Valeda berkerut. Dia heran karena Daniel bisa berkata itu dengan mudah. "Dan, aku mau kamu jujur."


Daniel duduk tegak. "Wah, kalau perempuan sudah berkata 'aku mau kamu jujur', sepertinya aku sudah membuat suatu masalah besar."


"Jangan samakan aku dengan perempuan lain!" bentak Valeda. "Dan, aku serius, nih!"


"Mau tanya apa?"


"Kenapa kamu dengan suka rela mau bantu Lucas?" tanya Valeda. "Apa kamu pernah bertemu Lucas sebelumnya?"


Daniel menggeleng. "Minggu lalu itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Kak Lucas. Tapi, benarkah kamu tidak punya bayangan kenapa aku melakukan ini?" selidik Daniel.


"Apa maksudmu?"


"Kamu pintar menilai orang dan selalu penuh perhitungan. Aku pikir, kamu akan tahu tujuanku membantu kakakmu."

__ADS_1


Otak Valeda berpikir keras. Dia benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran Daniel. Valeda baru sadar kalau selama ini, dia terlalu santai. Semenjak ada Daniel, dia menikmati hari-harinya, terutama saat makan.


"Val?" panggil Daniel. "Kenapa malah melamun? Kamu tidak enak badan?" Daniel menempelkan telapak tangannya di kening Valeda.


Valeda dapat merasakan suhu tubuhnya yang meningkat drastis, padahal ruangannya terbilang dingin dengan suhu enam belas derajat celcius. Dia sadar bahwa tangan Daniel yang membuat tubuhnya bereaksi. "Aku capek," jawab Valeda sambil menepis tangan Daniel. "Cepat katakan apa tujuanmu!"


Daniel menarik nafas. "Untuk mengambil hati keluargamu."


"Bagaimana bisa?" tanya Valeda.


"Kak Lucas hanya salah satu alat untuk membantumu lepas dari keinginan Nyonya Emely. Dengan membantu Kak Lucas, kamu akan punya satu sekutu tambahan. Lagipula, Kak Lucas memihak padaku," jelas Daniel.


"Pintar kamu!" Valeda menepuk bahu Daniel dengan bangga. "Tidak salah aku mempekerjakanmu!"


"Kamu membayarku mahal. Tentu saja aku harus menggunakan otakku agar kamu nyaman." Daniel bersandar di sofa kerja Valeda, namun tubuhnya menghadap ke Valeda.


Sesaat, Valeda tidak bisa melepas tatapan matanya dari laki-laki cerdas di hadapannya. 'Wah... Bukan senyumannya saja yang berbahaya. Tatapan matanya juga mematikan!' batin Valeda. Tidak tahu kenapa, dia malah kesal karena Daniel ternyata tampan dan pintar.


"Aku percaya dengan rencanamu." Hanya itu yang bisa Valeda pikirkan untuk menanggapi perkataan Daniel.


Tok! Tok! Tok!


"Mulai," bisik Valeda pada Daniel di sebelahnya.


Daniel bergerak cepat duduk mendekati Valeda. Dia merapikan berkas yang berisikan informasi keluarga Lucas di atas meja ke dalam map.


"Tuan Suherman dan Nyonya Emely di sini," ujar Celine. Valeda hanya mengangguk untuk menjawab Celine. Celine membuka pintu ruangan Valeda lebih lebar dan membiarkan dua orang paruh baya masuk ke dalam.


Daniel berdiri sambil mengancing jasnya kembali ketika matanya bertemu pandang dengan Tuan Suherman. Dia harus berpakaian rapi di hadapan ayah Valeda.


"Papa, Mama, kenapa tiba-tiba ke sini?" sapa Valeda, ikut berdiri.


"Karena kamu tidak kunjung memperkenalkan pacarmu pada Papa, makanya Papa ke sini," jawab Tuan Suherman.


Valeda menelan ludah dengan susah payah. Bintik-bintik keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Valeda tahu bagaimana tabiat ayahnya itu. Mata ayahnya setajam matanya. Tuan Suherman akan langsung mengetahui segalanya kalau ada satu saja kesalahan kecil di dalam sandiwara mereka.


"Maaf saya tidak langsung menyapa Anda, Tuan," Daniel mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, nama saya Daniel."

__ADS_1


Tuan Suherman menyambut uluran tangan Daniel. "Aku seperti pernah melihatmu. Apa kita pernah bertemu?" tanya Tuan Suherman.


Daniel terdiam. Dia meneliti wajah Tuan Suherman. "Saya tidak ingat, Tuan," jawab Daniel pada akhirnya. "Akan berbohong jadinya jika saya menjawab bahwa saya tidak pernah melihat Tuan. Wajah Tuan ada di headline koran setiap bulan."


"Hahahahaha!" Tuan Suherman tertawa. "Kamu pintar mengambil hati orang, Nak!" pujinya sambil menepuk pundak Daniel.


"Papa!" bentak Mama. Wajah Mama memberenggut. Terlihat sekali bahwa Mama tidak suka kalau Papa beramah-tamah dengan Daniel.


"Ehem!" Papa berdeham, namun masih mengulas sebuah senyuman di wajahnya. "Ayo Duduk!"


Valeda tidak berani mengira-ngira bahwa senyuman itu mengartikan sebuah dukungan. Tuan Suherman bisa saja tengah menguji Daniel. 'Semoga Daniel tidak lengah,' doa Valeda dalam hati.


"Jadi, kamu berasal dari mana, Daniel?" tanya Tuan Suherman begitu semua orang di ruangan itu duduk.


"Saya asli kota ini," jawab Daniel.


"Aku sudah membaca semua artikel tentang dirimu," ujar Tuan Suherman. "Apa benar orangtuamu telah tiada?"


Daniel mengangguk. "Ibu saya meninggal ketika melahirkan adik saya, yang pada akhirnya juga meninggal. Lalu, Ayah saya meninggal saat saya berusia sembilan belas tahun."


"Tinggal di mana kamu sekarang?"


"Saya tinggal di sebuah panti asuhan dekat sini, Tuan. Namanya Panti Asuhan Matahari Terbit. Itu hanya sebuah panti asuhan kecil," jawab Daniel.


"Selama ini, kamu bekerja apa?" Tuan Suherman masih melontarkan pertanyaan.


Celine yang masuk sambil membawa empat cangkir kopi, menjadi penyela percakapan mereka untuk semenit. Tuan Suherman tidak melepas pandangannya sedetikpun dari Daniel. Seperti yang Valeda duga, Beliau tengah meneliti Daniel.


"Saya bekerja serabutan," jawab Daniel dengan tenang. Dia terlihat tidak terintimidasi sama sekali dengan kehadiran orangtua Valeda. "Tidak banyak yang bisa dilakukan tamatan sekolah menengah atas seperti saya. Saya mengelola kebun sayur di halaman panti asuhan, lalu mendistribusikannya ke restoran-restoran setiap minggu."


"Hanya itu?" selidik Tuan Suherman.


Daniel menggeleng. "Saya menjahit boneka-boneka kecil untuk penadah, mencuci piring di restoran bintang lima setiap Sabtu dan Minggu, terkadang menerima les privat saat menjelang ujian."


"Dengan pekerjaanmu seperti itu, kamu terlihat tidak malu berada di samping putri kami," komentar Tuan Suherman.


"Tentu tidak," Daniel menjawab sambil tersenyum. "Pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yang melanggar hukum. Lagipula, saya menghidupi enam belas anak panti asuhan dengan itu. Seharusnya saya merasa bangga, bukan malu."

__ADS_1


Valeda tidak bisa menahan ekspresi kagumnya, mendengar apa yang Daniel katakan. Tanpa sadar, sebuah senyuman kecil terulas di bibir merahnya.


***


__ADS_2