
"Ibu Nona sungguh luar biasa menyeramkan," tambah Daniel. Walau bicara seperti itu, dia tetap tersenyum dan tampak santai. Daniel kembali melanjutkan makan siangnya.
Valeda terkikik geli melihat tingkah Daniel. "Kamu takut, tapi masih bisa makan?" tanya Valeda. Pengalaman sebelumnya, jika ada orang yang membuat Nyonya Emely marah, orang itu akan gemetar sampai berlutut di hadapan Beliau. Nyonya Emely memang terkenal dengan emosinya yang tidak stabil.
"Saya tidak mungkin melewatkan makanan enak seperti ini," jawabnya.
"Ayo bungkus beberapa untuk anak-anak panti." Valeda mengangkat tangan kembali, memanggil pelayan yang berdiri di pojok ruangan. Dia berniat memesan banyak makanan karena hatinya sedang senang saat ini.
"Tidak usah, Nona!" Daniel gelagapan.
"Anggap ini bonus," ujar Valeda. Valeda menunjuk beberapa menu untuk dibawa pulang saat pelayan menghampiri.
"Nona tidak perlu seperti itu," tambah Daniel ketika Valeda selesai memesan. "Anak-anak panti sudah sangat bahagia dengan apa yang Nona lakukan tempo hari. Tidak perlu memanjakan mereka."
"Aku tidak akan bangkrut hanya karena mentraktir kalian makan," sahut Valeda. "Oh, iya! Masalah ini, kamu harus bantu aku sampai aku menemukan laki-laki yang menurutku pantas untuk aku cintai. Sesuai janjiku, aku akan menjadi pendonor dana tetap untuk panti asuhanmu."
Daniel mengangguk setuju. Tidak ada ruginya bagi Daniel jika dia berpura-pura seperti itu. Dia akan menyimpan rahasia ini baik-baik, bahkan kepada anggota panti asuhan. Daniel hanya membutuhkan keuntungan bagi panti asuhannya.
"Jadi, selain itu, kamu juga harus selalu ada di sekitarku," Valeda menambahkan.
Daniel mengusap dagunya. "Saya tidak berani janji, Nona," jawab Daniel. "Saya masih harus mengantar paket sayuran ke sana-sini, dan juga saya harus merawat tanaman saya."
"Aku akan mencarikan orang berkompeten untuk itu," sambar Valeda. "Kamu harus bekerja di kantorku," tambah Valeda cepat. Dia tidak mungkin berjauhan dengan Daniel. Nyonya Emely bisa datang kapan saja ke kantornya dan menyeret Valeda untuk pergi kencan buta lagi. Dia memerlukan Daniel sebagai tempat bersembunyi.
Daniel tertegun. Dia tidak menyangka bahwa itu maksud Valeda memintanya selalu ada di sekitar Valeda.
Valeda yang menyadari ekspresi kaget Daniel, buru-buru melanjutkan. "Aku akan beri kamu pekerjaan yang sesuai dengan keahlianmu."
Daniel tertawa mendengar ucapan Valeda. "Maaf, Nona. Saya sungguh berterima kasih atas niat baik Nona," kata Daniel. "Tapi, Nona sendiri tidak tahu latar belakang pendidikan saya, kan?"
Valeda terdiam. Saat ini Valeda benar-benar sadar kalau dia tidak begitu mengenal Daniel. "Boleh aku tahu?"
__ADS_1
"Saya tamatan sekolah menengah atas. Saya sempat lanjut kuliah selama setahun, namun selesai sampai di situ. Ayah saya meninggal dan saya harus mengurus panti asuhan peninggalan ayah saya," jawab Daniel.
"Tenang saja!" seru Valeda. "Aku akan cari jalan keluar! Hubungan ini harus terus berlanjut!"
Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!
Tepuk tangan terdengar riuh memenuhi seisi restoran. Valeda langsung sadar bahwa dia berkata terlalu keras sedetik yang lalu, sehingga orang-orang di sekitar mereka mendengar ucapan terakhirnya.
Setelah kejadian dengan Nyonya Emely tadi, pastinya orang-orang mengira bahwa Valeda memperjuangkan hubungannya yang ada di ujung tanduk.
Daniel menanggapi kegaduhan itu dengan cepat, dan restoran kembali ke keadaan seperti semula. "Kalau itu yang Nona inginkan, saya akan membantu," kata Daniel akhirnya.
Valeda mengangguk senang, mendapatkan jawaban sesuai yang dia inginkan. Dia akan melakukan apapun agar Daniel tetap berada di sampingnya saat ini. Daniel orang yang cocok untuk 'mengusir' Nyonya Emely.
"Kita habiskan makan siang kita. Lalu, aku akan antar kamu pulang," ajak Valeda.
"Tidak usah, Nona. Saya masih harus ke restoran lain," tolak Daniel. Dia mulai melahap makanannya lagi.
***
"Namanya Daniel," jawab Valeda sabar.
"Dia laki-laki yang kamu temui di panti asuhan tempo hari, kan?" tanya Celine lagi.
Valeda menghela nafas panjang. Dia menceritakan semua kejadian di restoran siang tadi kepala Celine. Namun, entah kenapa Celine mendadak tuli dan terus mengulang-ulang perkataannya.
"Jadi, yang menang undian shampo itu adalah orang yang kamu kenal?"
Valeda memasukkan kentang goreng di atas meja ke dalam mulutnya dengan kasar. Dia sebal sendiri melihat tingkah sahabatnya.
"Jika kamu tadi ikut, aku yakin kamu akan menyukainya, Cel," Kris muncul dari dapur apartemen Valeda, membawa seloyang pizza rumahan. "Aku masih ingat bagaimana wajah Nyonya Emely yang tidak terima atas tingkah Daniel."
__ADS_1
"Nyonya Emely berkata apa?" tanya Celine cepat.
"Saat keluar dan memintaku memesankan taksi untuk Beliau, Beliau terus menggerutu tentang bagaimana Daniel tidak mengenal takut dan terus membuat Beliau marah," jawab Kris. Dia meletakkan pizza ke atas meja dan langsung diserbu Valeda. Celine sendiri masih penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kalian curang! Aku bahkan tidak mengenal laki-laki bernama Daniel itu," keluh Celine. "Apa dia tipe bad boy?"
Valeda dan Kris menggeleng bersamaan. Celine mendengus kesal melihat mereka kompak, sementara dia tidak tahu apapun tentang Daniel.
"Aku harus bertemu dengannya juga!" rengek Celine.
"Kamu memang akan bertemu dengan Daniel secepatnya," jawab Valeda. "Besok, pergilah ke panti asuhannya. Catat seperti apa orang yang dia mau untuk merawat kebun sayurnya. Lalu, pelajari profilnya."
"Aku tahu kalau kita perlu mempelajari profilnya. Aku juga akan mencari info mengenai dia dari orang-orang di sekitar panti asuhan itu. Tapi, untuk apa mencari orang yang bisa merawat kebun sayur?" tanya Celine.
Valeda menelan pizza di mulutnya terlebih dahulu. "Aku ingin Daniel ada di dekatku. Dia harus bekerja di kantorku."
"Jangan gila, Val!" bentak Celine. "Kantormu hanya untuk orang-orang terpilih yang bahkan melewati berbagai macam tes dan wawancara. Namun sekarang, kamu mau memasukkan orang dan bahkan tidak mengikuti tes apapun? Apa kata orang-orang nanti?"
"Manipulasi tentang latar belakangnya," Valeda memberi perintah. "Daniel orang yang low profile. Tidak ada banyak orang mengenal dia dan mau bersusah payah menelusuri kehidupannya."
Celine menggeleng tidak setuju. Jelas dia tidak sependapat dengan Valeda. "Dia akan menjadi sangat menarik karena menjadi pasanganmu, Val," kata Celine.
"Saya setuju dengan ucapan Celine," timpal Kris. "Anda bukan orang biasa, Nona. Akan ada banyak mata yang tertuju pada Daniel begitu dia berdiri di sebelah Anda."
"Kalau begitu, buatlah dia menjadi luar biasa juga," sahut Valeda dengan entengnya.
Celine dan Kris saling bertukar pandangan, mendengar permintaan atasan mereka yang terbilang susah. Menjadi pendamping seorang Valeda, bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi memanipulasi latar belakang Daniel agar bisa setara dengan Valeda.
"Val, kita ke dokter, yuk? Cek apa kamu masih waras atau tidak," sindir Celine.
***
__ADS_1