
Valeda mendengus kesal. "Kalau begitu, aku boleh bertemu Rangga?"
"Tidak!" jawab Daniel cepat.
Alis Valeda berkerut. Dia merasa tidak adil di banyak hal. "Kamu begitu lagi. Kenapa harus selalu kamu dan kamu? Aku juga ingin merasa tenang kalau jauh dari kamu," cerocos Valeda. Sedetik kemudian, dia baru menyadari apa yang sudah dia katakan. Wajahnya langsung memerah.
Daniel tersenyum lebar. Dia merasa melambung mendapatkan pernyataan dari Valeda. "Kamu bisa percaya padaku, Val," kata Daniel, mencoba menenangkan Valeda.
"Apa kamu masih menyimpan rasa untuk perempuan itu?" tanya Valeda.
"Sudah aku katakan dari awal, tujuanku sampai sejauh ini adalah menghidupi adik-adikku dan membantumu, kan? Aku tidak punya minat apapun selain itu." Daniel terdengar percaya diri dengan kalimatnya, membuat Valeda lumayan percaya.
"Tadi, waktu aku sarapan, aku bertemu Mama," Valeda memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.
"Lalu, ada kabar baru apa?" Daniel bertanya.
Valeda menghela napas sebelum menjawab. "Mama belum menyerah tentang kita. Beliau akan tetap memaksaku ikut kencan buta," keluhnya.
"Kalau tentang itu, kita tinggal hancurkan saja kencannya," jawab Daniel enteng.
Tiba-tiba suara dering handphone Daniel yang ada di saku celananya terdengar. Daniel segera mengecek siapa yang menghubunginya. "Kiki?" gumam Daniel. Ternyata salah satu anak panti asuhan yang menghubunginya.
"Adikmu?" tanya Valeda.
Daniel mengangguk dan langsung mengangkat telepon. "Halo, Ki?" sapanya.
"Kakak!" sambar Kiki dengan suara bergetar.
Daniel tahu adiknya itu sedang menangis. "Ada apa, Ki? Kenapa kamu nangis?" tanya Daniel.
"Kak Dan..." Kiki terdengar lirih. Isakan tangisnya makin menjadi.
"Ki, tenanglah dulu!" suara Daniel terdengar tegas. "Atur napasmu, kendalikan dirimu! Lalu, ceritakan padaku ada apa!"
Valeda mengusap lengan Daniel. "Ada apa?" tanya Valeda saat Daniel menoleh padanya.
Daniel menggeleng tanpa suara. Dia memberikan waktu untuk Kiki agar menenangkan dirinya terlebih dulu. Setelah berlalu hampir semenit, Daniel kembali bicara. "Ada apa, Ki?"
"K-Kak... Tadi aku dapat telepon... Kak Cahya, Kak Wahyu, dan Kak Yano katanya ada di rumah sakit. Ja-jadi, aku ajak Kak Jingga dan Kak Nana ke rumah sakit untuk cek. La-lalu..." Kiki berhenti bicara dan menangis lagi.
"Rumah sakit mana?" desis Daniel. Tangannya mengepal di atas pangkuannya.
Valeda sadar kalau ada yang tidak beres dengan adik-adik Daniel hanya dengan memandang ekspresi Daniel.
__ADS_1
Daniel tiba-tiba menutup telepon dan menepuk bahu sopir taksi. "Pak, tolong ke Rumah Sakit Harapan," katanya pada sopir.
"Kenapa ke rumah sakitku?" Valeda penasaran karena Daniel menyebut rumah sakit miliknya. "Ada apa, Dan?"
Daniel memijit keningnya. "Tiga orang adikku yang masuk kuliah, kecelakaan."
"Apa!?" pekik Valeda. "Bagaimana kejadiannya!?"
Daniel menggeleng. "Aku belum tahu. Tadi Kiki terus menangis. Kalau sampai bukan Jingga dan Nana yang bicara denganku di telepon, artinya ada sesuatu yang salah."
Valeda bergidik ngeri. Bulu kuduknya berdiri ketika dia membayangkan tentang kemungkinan terburuk yang terjadi pada ketiga adik Daniel.
Tapi, mereka tidak punya pilihan lain. Mereka hanya bisa menunggu sampai akhirnya tiba di Rumah Sakit Harapan. Tiga puluh menit benar-benar terasa mengerikan dan lama.
"Dan, tenanglah!" Valeda menarik tangan Daniel saat dia hendak keluar dari mobil, namun laju mobil belum terhenti sepenuhnya.
"Maaf," gumam Daniel.
Valeda tetap memegang tangannya, tahu kalau saat ini pikiran Daniel sedang kosong. Dia bisa bertindak gegabah dan membuat masalah. "Tenang dulu! Ikuti aku!" perintah Valeda.
Dia menarik Daniel menuju meja front office. Melihat pemilik rumah sakit muncul, petugas langsung berdiri untuk memberi salam. "Ada pasien bernama Wahyu, Cahya, dan Yano?" tanya Valeda tanpa basa-basi.
"Tunggu sebentar, Nona," jawab Warni yang sedang bertugas di meja front office. Jarinya menjelajah dengan cepat menggunakan mouse komputer. Lalu, beberapa detik kemudian Warni mengangguk. "Ada," jawabnya. "Ketiga pasien tadi masih ada di emergency."
"Terima kasih," jawab Valeda sebelum berlalu.
Valeda berbalik ketika mereka tiba di pintu belakang ruang emergency. "Kamu harus tenang!" kata Valeda.
Daniel mengangguk. Dia juga tidak mau membuat keributan di rumah sakit Valeda. Daniel mengulurkan tangannya, kemudian membuka pintu ruangan. Wajah yang Daniel lihat pertama kali adalah wajah Kiki yang duduk dengan wajah pucat di depan counter perawat.
"Ki!" Daniel segera menghampiri. "Di mana yang lain?"
"Huwaaaaa!" Kiki berlari dan langsung memeluk Daniel. Tangisnya tumpah kembali. Dia membenamkan wajahnya di lengan Daniel.
"Permisi, Suster," Valeda mengambil alih ketika dia melihat seorang perawat lewat. "Di mana pasien atas nama Cahya, Yano, dan Wahyu?"
"Untuk pasien Cahya dan Wahyu, ada di bed nomor enam dan tujuh. Kalau Yano..." perawat itu tampak ragu. "Anda punya hubungan apa dengan pasien?"
"Laki-laki ini kakaknya. Saya penanggung jawabnya," kata Valeda.
"Saya turut berbelasungkawa atas kehilangan kalian. Yano ada di bed nomor satu," perawat itu menjawab pelan.
Jantung Daniel seakan berhenti. Kepalanya berputar. Semua suara menghilang dan telinganya berdenging. "Apa?" bisik Daniel. Suaranya hampir tidak bisa keluar.
__ADS_1
Valeda menepuk bahu Daniel. "Tunggu sebentar. Aku akan memeriksanya," ujarnya, kemudian berlalu pergi ke bed nomor satu.
Daniel melepas pelukan Kiki. "Di mana Jingga dan Nana?" tanyanya pada Kiki.
Kiki menunjuk lorong yang berisi bed dengan tirai tertutup. "K-Kak Jingga pingsan... Kak Nana ada di sana..." jawabnya lirih.
Kaki Daniel tiba-tiba menjadi kaku. Dia tidak bisa bergerak. Daniel memilih untuk menunggu Valeda sampai dia kembali.
Tidak lama kemudian, Valeda keluar dari balik tirai bed satu. Wajahnya tidak kalah pucatnya dengan Kiki. Daniel tahu ada yang tidak beres. Dia langsung berjalan cepat menghampiri Valeda. Tanpa bertanya apapun, Daniel menyingkap tirai bed.
Yano di sana, terbaring di atas bed emergency dengan selimut menutupi hingga sebatas lehernya. Wajah Yano tampak pucat pasi. Pelipis sebelah kirinya tertutup perban. Seutas tali melintang dari dagu dan terikat di puncak kepalanya.
"Yano?" panggil Daniel. Suaranya bergetar hebat. Dia tidak mau mempercayai apa yang dia lihat. "Hei, Yano... Bangun! Kakak datang!"
Tidak ada yang berubah. Yano diam tidak bergeming. Daniel membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh Yano. Dia memakai kemeja yang baru Daniel belikan untuknya pergi kuliah. Kemeja itu kini kotor dengan noda merah kehitaman. Daniel menggenggam tangan Yano. Rasanya sedingin es.
"Apa yang terjadi?" tanya Daniel, meskipun tidak ada jawaban dari Yano.
Daniel merapikan kembali selimut dan menutupi Yano hingga ke ujung kepalanya. Lalu dia kembali menghampiri Valeda.
"Aku harus tahu apa yang terjadi," kata Daniel.
"Dokternya di sini," Valeda menoleh pada seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan jas putih.
"Selamat siang, Tuan Daniel. Saya Dokter Michael. Saya yang menangani adik-adik Anda ketika diantar ke rumah sakit ini," jawab laki-laki itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Daniel.
"Ketiga adik Anda mengalami kecelakaan saat akan menyeberang jalan. Seorang pengemudi mabuk menerobos lampu merah dan menabrak ketiga adik Anda," ujar Dokter Michael dengan nada tenang. "Mereka langsung di bawa ke sini. Pasien Cahya mengalami patah tulang di bagian kaki dan bahu. Untungnya, Pasien Cahya tidak mengalami luka serius di bagian kepala. Kita akan melakukan operasi malam ini jika Anda setuju."
"Tolong lakukan malam ini, Dok," jawab Daniel cepat.
"Biar aku yang urus untuk itu," tambah Valeda.
Daniel mengangguk saja dan melemparkan pandangan terima kasih pada Valeda. "Lalu, bagaimana dengan adik saya yang lainnya, Dok?" tanya Daniel.
"Untuk Pasien Wahyu, dia mengalami cedera di bagian kepala. Ketika tiba, keadaannya tidak cukup baik dan dia muntah-muntah. Kita bisa katakan itu cedera kepala berat dan pasien tidak benar-benar sadar saat ini. Jadwal operasi untuk menurunkan tekanan di kepalanya akan diadakan beberapa menit lagi. Maaf, kami tidak menunggu Anda datang, karena ini termasuk kasus 'life saving'."
Daniel mengusap air mata yang menetes membasahi pipinya. "Terima kasih, Dok..."
"Lalu," Dokter Michael memelankan nada bicaranya. "Kami tidak bisa menyelamatkan Pasien Yano. Dia datang tanpa ada reaksi dan nadinya tidak teraba. Kami sudah mencoba melakukan resusitasi, namun tidak ada perubahan. Jika berkenan, kami akan menjahit luka di kepalanya sebelum Anda membawa pasien pulang."
Daniel memegang ujung counter perawat karena kepalanya berputar. Dia tidak mau percaya dengan apa yang dokter itu katakan. Baru tadi pagi dia bicara dengan Yano. Bahkan, Daniel masih ingat dengan senyuman Yano. "Tidak mungkin..." lirihnya.
__ADS_1
Valeda memeluk erat Daniel. "Dan, tenanglah... Ayo kita lihat adik-adikmu yang lain," ajak Valeda.
***