DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
77. Akhir


__ADS_3

Tuan Suherman membelai kepala putrinya penuh sayang. Beliau menatap Valeda sangat lama, hingga membuat suasana di kamar rawat inap Daniel terasa canggung.


Pagi itu, matahari bersembunyi di balik awan tebal berwarna kelabu. Hawa di luar lumayan hangat. Cuaca yang cocok jika seseorang ini berjalan-jalan. Namun, Valeda memilih menemani Daniel di rumah sakit. Dia tidak mau jika Daniel menghilang lagi dari pandangannya. Dia bahkan menyerahkan semua urusan kantor sepenuhnya pada Celine.


Daniel melirik Kris yang sedang menjenguknya setelah memeriksa keadaan panti asuhan milik Daniel. Ternyata Kris juga merasa canggung. Dia sendiri belum pernah ada di posisi seperti ini dengan keluarga Valeda, apalagi dengan Tuan Suherman. Kris mengangkat bahunya, memberi isyarat untuk diam saja saat ini dan menunggu Tuan Suherman membuka mulut.


"Aku sudah dengar dari dokter yang merawat Valeda," Tuan Suherman akhirnya memulai percakapan. Daniel tidak berani bersandar di bantalnya, saking tegangnya dia. Bagi Daniel, kali ini suasananya berbeda. Tuan Suherman bukan lagi hanya sekedar orangtua yang harus dibuat terkesan, namun juga Daniel harus mendapatkan restunya untuk meminang Valeda. "Dokter mengatakan bahwa Valeda tidak hamil," lanjut Tuan Suherman.


Daniel mengangguk, membenarkan apa yang Tuan Suherman katakan. "Itu hanya siasat saya untuk memancing Rangga," aku Daniel.


Tuan Suherman mengusap-usap dahunya yang runcing. "Begitu rupanya..." Beliau tampak lebih tenang dan tidak ada amarah yang tersirat dari matanya. "Sebenarnya, aku membencimu karena aku masih percaya bahwa kamulah orang yang membuat Valeda mengalami musibah kebakaran dulu. Ternyata aku tertipu mentah-mentah. Aku minta maaf untuk itu."


"Tidak usah dibahas, Tuan," jawab Daniel. "Itu sudah cerita lama. Lagipula, akhirnya saya kembali mendapatkan Valeda," pipi Daniel bersemu merah ketika mengatakannya.


"Uhuk! Uhuk!" Kris menggoda, geli melihat tingkah Daniel.


Tuan Suherman tersenyum kecil. "Ngomong-ngomong, bisa kamu jelaskan, apa sebenarnya rencana kalian, hingga kejadiannya sampai seperti ini?" tanya Tuan Suherman.


Daniel menoleh pada Kris yang segera mengangguk. "Saya akan menceritakan bagian saya, dan Kris akan melengkapinya," ujar Daniel. Daniel pun menjelaskan bahwa awalnya dia hanyalah berpura-pura menjalin hubungan dengan Valeda, dengan maksud menghindari desakan Nyonya Emely untuk segera menikah. Daniel juga memiliki maksud tersembunyi, setelah mengetahui bahwa Valeda adalah anak Tuan Suherman--orang yang membuat hubungan keluarganya hancur. Namun, seiring berjalannya waktu, semua menjadi berbeda. Mereka saling jatuh cinta.


Mungkin karena mendengar kabar itu, Rangga akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia dan menemui Valeda. Kemudian, mimpi buruk terjadi. Semua yang diakui Rangga, terdengar jelas oleh Tuan Suherman lewat Telepon. Daniel tidak perlu menjelaskan bagaimana jahatnya diri Rangga di balik sikap baiknya pada semua orang.


"Lalu, bagaimana kamu bisa sampai ke tempat itu?" Tuan Suherman melempar pertanyaan pada Kris.


"Kami sedang berdiskusi masalah Daniel yang hilang, Tuan," Kris memulai ceritanya. "Saya dan Celine ada di apartemen Valeda hari itu, ketika Rangga datang. Entah kenapa, Valeda memiliki firasat, kalau Rangga akan melakukan sesuatu."


Tuan Suherman mengangguk. "Anak perempuanku ini memang mirip dengan ibunya. Mereka memiliki firasat yang kuat."


"Kami bersembunyi di kamar tamu. Seperti yang Tuan sudah saksikan, saya merekam semua kejadian waktu itu." Kris menoleh ke luar jendela. Gerimis telah menyapa bumi, entah sejak kapan. Kris masih bisa merasakan rasa takut yang luar biasa saat mengingat bagaimana dia menguntit Rangga malam itu. "Untuk berjaga-jaga, saya mengirim video itu ke teman saya yang bekerja di kepolisian. Saya sebenarnya tidak tahu apakah dia bisa membantu atau tidak, karena dia hanyalah pegawai kecil dan tidak memiliki kekuasaan. Saya dan Celine hanya bisa mengikuti mereka waktu itu."


"Tanpa rencana apapun?" tanya Tuan Suherman.

__ADS_1


Kris mengangguk sekali. Tangannya mengepal dan bergetar. Kris dapat merasakan amarah kembali mengalir di dalam darahnya. "Saya dan Celine hanya diam. Bahkan saya takut untuk bernafas. Saya tahu, jika kami tertangkap, tamat sudah riwayat kami."


"Tapi kalian berhasil," Tuan Suherman mengoreksi.


Sebuah senyuman terukir di wajah Kris. "Teman saya ternyata mempunyai hutang budi pada Nona Valeda. Dia segera menghubungi saya dan meminta saya memberikan posisi saya saat itu."


Tuan Suherman mengangguk paham. Ternyata, para polisi yang datang saat itu adalah bantuan dari teman Kris. Tiba-tiba Tuan Suherman merasa rendah diri. Dia tidak bisa memikirkan, apa yang telah putrinya lakukan, hingga orang lain memiliki hutang budi dan segera bergerak ketika Valeda membutuhkan bantuan. Putri yang dia anggap hanyalah anak ingusan, ternyata telah tumbuh dengan baik.


"Untunglah semuanya sudah berakhir kali ini," ucap Tuan Suherman lega. "Rangga akan diganjar hukuman yang sesuai. Aku pastikan dia tidak akan bisa mendekati kalian ataupun keluarga kalian." Tuan Suherman berpaling pada Daniel. "Kamu bisa fokus mengambil alih beberapa perusahaanku dan bagilah waktumu dengan baik."


"Maaf, Tuan," jawab Daniel cepat. "Saya harus menolak tawaran itu sekarang. Saya masih harus menyelesaikan kuliah saya. Jika saya mendapatkan jabatan tinggi dalam waktu singkat, itu akan mengundang kontroversi yang luar biasa besar."


"Aku hanya menggodamu," potong Tuan Suherman.


Daniel menghela nafas panjang. 'Untunglah aku menolaknya,' batin Daniel.


Tuan Suherman menengok ke arah handphone-nya. "Sepertinya istriku sudah sampai rumah sakit. Aku akan mengajaknya minum kopi di kafetaria. Kalian jangan mengganggu tidur Valeda!" kata Tuan Suherman, kemudian berlalu dari hadapan mereka.


***


Adik-adik Daniel sangat senang dengan undangan dari Tuan Suherman dan sudah menghabiskan banyak sekali daging panggang sebelum jam makan malam dimulai. Ketiga kakak Valeda bersikap lunak karena merasa iba dengan kejadian mengerikan yang dialami Valeda. Satupun dari mereka tidak ada yang menyangka bahwa Rangga akan melakukan hal sekejam itu pada Valeda ataupun Daniel.


"Kamu tidak apa-apa?" Valeda dengan sigap membantu Daniel saat Daniel akan berdiri dari duduknya.


"Aku sudah sehat, Val," Daniel berdusta. Dia masih bisa merasakan kedutan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Daniel bahkan kesusahan karena salah satu tangannya masih harus menggunakan gips sampai dua bulan lagi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Valeda, seraya mengikuti Daniel yang berjalan menjauh dari lingkaran api unggun.


"Kenapa? Kamu masih takut aku menghilang lagi?" goda Daniel.


Tanpa ragu, Valeda meraih tangan Daniel yang sehat dan menggenggamnya erat-erat. "Aku tidak akan melepaskanmu dari pandanganku," jawabnya mantap.

__ADS_1


"Semoga Tuhan mendengar doamu," Daniel balas menggenggam tangan Valeda. "Aku dengar, Rangga mandapat vonis hukuman kurungan seumur hidup?"


"Hukuman itu bahkan kurang untuk semua kejahatannya," tandas Valeda. "Aku tidak menyangka dia seperti itu."


Kalimat terakhir Valeda sudah dia katakan jutaan kali. Jelas terlihat dari caranya bicara dan sorotan matanya, sebenarnya dia sedih dengan kenyataan itu. Valeda sudah bersama Rangga sejak kecil. Tentu saja ada rasa sayang di hatinya. Rangga tetap memiliki ruang khusus bagi Valeda.


Daniel tidak berani mengungkapkan rasa cemburunya. Sekuat tenaga dia berusaha untuk menutupi hal itu. Sekarang ini bukan saatnya membuat Valeda yang tengah rapuh menjadi kesusahan dengan perasaan kanak-kanak yang Daniel rasakan.


"Apa kamu makan dengan baik?" Daniel berbasa-basi. Sebenarnya dia selalu memperhatikan perempuan yang dia cintai itu. Dia cukup khawatir karena Valeda malah sibuk mengurusinya yang memiliki banyak 'perawat'.


"Aku makan tiga kali sehari," jawab Valeda.


"Kamu kurus."


"Aku akan makan dengan baik, saat suasana hatiku sudah membaik."


"Kamu sebegitu memikirkan Rangga?" tuduh Daniel. Akhirnya gejolak cemburu itu meluap keluar dari mulutnya.


Valeda menoleh cepat dan Daniel langsung membuang muka. Wajah Daniel merah padam karena malu sendiri dengan perasaannya yang menggebu-gebu.


"Daniel..." panggil Valeda pelan. Dia menarik tangan Daniel yang masih tidak mau membalas tatapannya. "Kamu cemburu?" tanya Valeda.


Daniel tidak mau menjawab. Jantungnya berdegup sangat kencang, hingga membuat tangannya gemetaran. Daniel melihat ilalang yang bergoyang-goyang diterpa angin pantai. Dia memetiknya dan memilin ilalang itu menjadi sebuah lingkaran kecil.


Valeda hanya diam melihat tingkah Daniel. Hatinya berbunga karena merasakan kecemburuan yang manis dari pacarnya itu.


Daniel berbalik, menghadap Valeda dengan dada membusung. "Ini untuk sementara!" ujarnya dengan suara bergetar hebat. Dia sendiri kaget, karena merasa suaranya seperti sedang membentak Valeda.


Valeda menunduk mendapati Daniel menarik tangannya, kemudian Daniel menyematkan cincin ilalang itu di jari manisnya. "Hahaha! Kebesaran!" Valeda berkomentar sambil terbahak. "Mana ada lamaran seperti ini, Dan?"


"Ehem! Ehem!" Daniel memalingkan wajahnya yang semerah kepiting rebus. "Po-pokoknya kamu sudah terikat denganku! Tidak boleh ada laki-laki lain!" Daniel menegaskan.

__ADS_1


Valeda tersenyum lebar. "Kita sudah terikat jauh sebelum ini," ujarnya.


***


__ADS_2