
Valeda kembali ke kantornya setelah puas berdiskusi dengan Adimas. Dia tidak bisa menyanggah apapun yang Adimas katakan, karena semuanya memang benar adanya. Valeda duduk di kursi kerjanya, lalu menengadah, menatap langit-langit kantornya yang berwarna putih bersih. Pantulan cahaya lampunya membuat mata Valeda silau.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya pada diri sendiri.
Valeda memang orang yang berpengaruh. Dia memiliki hal yang kebanyakan orang lain tidak miliki. Tapi, jika dibandingkan dengan Tuan Suherman ataupun Nyonya Emely, Valeda bukanlah siapa-siapa. Valeda akan kalah hanya dalam sekali sapuan tangan orangtuanya.
“Tidak. Jika aku menggunakan cara kotor seperti yang mereka lakukan pada Daniel, apa bedanya aku dengan mereka?” Valeda mencoba berpikir rasionalis, padahal pola pikir seperti itu jelas akan mengalahkannya.
Tok! Tok! Tok!
Valeda duduk tegak di kursinya. Dia bertanya-tanya, siapakah yang datang di jam segini. Valeda tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini. Dia sengaja mengosongkan jadwalnya untuk bertemu dengan Adimas. Sementara Celine masih ada rapat di luar dan Kris sedang menjemputnya setelah mengantar Valeda kembali ke kantor.
“Jika ini Papa atau Mama…” Valeda bangkit dari duduknya. Rasa amarah menguasai dirinya untuk sesaat. Valeda berusaha menahan diri. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan sebelum berkata, “masuk!”
Amarah Valeda langsung menguap begitu melihat Lucas muncul dari balik pintu kantornya. “Hai, Val, maaf aku mengganggu,” sapa Lucas dari ambang pintu.
Valeda bergerak menuju sofa tamunya dan memberi isyarat pada Lucas untuk duduk bersamanya. “Silakan, Kak,” ujarnya memberi izin.
“Aku pikir, akan susah bertemu denganmu, berhubung kamu adalah orang yang sibuk,” kata Lucas seraya duduk di hadapan Valeda.
“Aku sudah memberitahu pihak front office, siapa saja orang yang bebas bertemu denganku, karena Kak Lucas adalah sekutuku,” jawab Valeda sambil tersenyum. “Ada apa Kak Lucas sampai mencariku kemari?”
“Aku mendengar kabar Daniel dan adik-adiknya. Tidak enak rasanya jika aku langsung ke rumah sakit tanpa persiapan. Jadi aku menemuimu. Bagaimana kabarnya?” Tanya Lucas.
Valeda menggeleng pelan dengan wajah kecut. “Kacau. Semuanya benar-benar kacau,” bisik Valeda. Dia mengusap keningnya. Bayangan wajah Yano dengan tubuh sedingin es terbaring di tempat tidur UGD, kembali terlintas di kepalanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Valeda membalas pandangan Lucas dan memandang matanya lekat-lekat. Dia ingin memastikan bahwa Lucas benar-benar ada di pihaknya, bukan malah menjadi mata-mata untuk orangtuanya. “Kecelakaan,” jawab Valeda akhirnya.
“Kecelakaan?” ulang Lucas.
Valeda mengangguk. “Tiga orang adik Daniel ditabrak orang mabuk saat sedang menyeberang jalan.”
“Apa? Bagaimana bisa?”
__ADS_1
“Kita tidak bisa memprediksi kecelakaan.” Valeda memutuskan untuk bungkam. Terlalu dini baginya untuk memutuskan siapa teman dan siapa lawan. Saat ini, dia harus fokus memperketat penjagaan di panti asuhan demi Daniel.
“Astaga…” Lucas bersandar pada sofa. “Lalu, bagaimana dengan ketiga adiknya?”
“Salah seorangnya meninggal.”
Mata Lucas membelalak. Rasa ngeri terpancar dari bola matanya yang hitam. “Tidak mungkin,” sangkalnya.
“Aku melihatnya sendiri,” tambah Valeda. “Tapi, dua orang lainnya berhasil diselamatkan.”
Lucas bernapas lega. “Syukurlah kamu memiliki rumah sakit itu,” katanya dengan nada penuh syukur.
“Meskipun bukan rumah sakitku, pasti tenaga medis lainnya akan melakukan hal yang sama,” sanggah Valeda.
“Apakah aku bisa mengunjungi mereka malam ini?” tanya Lucas.
“Salah satunya masih di ICU. Hanya Daniel yang aku perbolehkan masuk. Tapi, Kak Lucas bisa mengunjungi adiknya yang ada di ruang rawat inap biasa. Aku akan memberitahu Daniel kalau Kak Lucas akan ke sana.”
Lucas mengangguk. “Terima kasih, Val.”
Lucas mengangguk cepat. “Katakan! Apa saja!” jawabnya.
“Aku ingin Kak Lucas memberitahuku apa saja kegiatan Papa dan Mama saat Kak Lucas akan kembali ke rumah besok.”
Lucas mengangguk lagi. “Baiklah. Itu mudah. Tapi, untuk apa?”
“Kak Lucas tidak perlu tahu,” sahut Valeda.
Lucas tidak membuka mulutnya lagi untuk memaksa Valeda mengatakan apa alasannya bertindak seperti itu. Lucas berdiri dan mengangguk sekali untuk undur diri.
Valeda melemparkan pandangannya ke luar jendela ruangannya, menatap langit yang terlihat dekat dari sana. Birunya langit tanpa awan sedikitpun, membuat Valeda merasa agak sedih. Seolah langit tertawa di atas kegundahan hatinya. Valeda tahu, bahwa perasaan itu adalah hal sia-sia. Tapi, dia ingin ada yang disalahkan tentang kekacauan yang terjadi.
***
Valeda membuka pintu ruang rawat inap adik Daniel yang terletak di lantai lima rumah sakitnya. Dia sengaja memberikan kamar yang paling nyaman agar Daniel bisa beristirahat dengan tenang bersama adiknya.
__ADS_1
“Hai, Val,” sapa Daniel. Dia masih terlihat lesu seperti kemarin. Kantung matanya sangat tebal karena terlalu banyak menangis.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Valeda.
Daniel tersenyum masam. “Bukan aku yang harusnya kamu tanyakan,” jawabnya. “Ngomong-ngomong, Kak Lucas datang tadi.”
Valeda mengangguk. “Aku berpapasan dengannya di bawah.”
“Maaf, aku harusnya hadir untuk acaranya besok.”
Valeda berjalan mendekati Daniel dan duduk di sebelahnya. “Jangan pikirkan hal lain dulu! Fokuslah pada adik-adikmu.”
Daniel menghela napas panjang. “Terima kasih. Aku janji untuk—”
Valeda cepat-cepat menutup mulut Daniel dengan tangannya. “Ucapan terima kasih saja, sudah cukup,” jawab Valeda.
Dia memandang ke arah tempat tidur. Mata Cahya terpejam. Valeda melihat kantong darah yang terhubung ke tangan Cahya melalui selang infus. Rupanya Cahya mendapatkan tranfusi setelah operasi kemarin. “Apa ada yang gawat mengenai kedua adikmu?” tanya Valeda.
Daniel menggeleng. “Sepertinya tidak. Dokter spesialis yang menangani adikku memberikan penjelasan yang baik, sehingga aku cukup mengerti dengan kondisi Cahya dan Wahyu. Cahya hanya perlu dua kantong darah tranfusi karena dia kehilangan banyak darah kemarin. Selain itu, dia aman.”
“Bagaimana dengan Wahyu?”
“Dia belum sadar. Dokter bilang, paling cepat dia akan merespon dalam lima sampai tujuh hari,” jawab Daniel dengan suara parau. Dia hampir menangis lagi.
Valeda menggigit bibir bawahnya. Rasa takut tiba-tiba saja muncul dan menguasai pikirannya. Sebenarnya, dia ingin mengatakan pada Daniel tentang semua kemungkinan yang Adimas katakan padanya tadi siang. Namun, Valeda sendiri menjadi takut jika itu akan membuat Daniel benci padanya.
Memang, Daniel pernah mengatakan kalau dia akan menerima semua konsekuensi yang terjadi dengan menyetujui kontraknya bersama Valeda. Tapi, bukankah kematian salah satu adiknya menjadi bumerang untuk Valeda sendiri? Valeda sangat tahu bagaimana Daniel mencintai semua adiknya yang ada di panti asuhan. Jika Valeda adalah alasan kejadian ini terjadi, Daniel tidak mungkin bisa memaafkannya.
“Ada apa?” tanya Daniel tiba-tiba, membuat Valeda sadar dari lamunannya. “Kenapa kamu diam? Kamu mau mengatakan sesuatu padaku? Apa kita perlu bicara di luar?”
Valeda menggeleng cepat. “Tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya melamun tadi,” dustanya. “Apa kamu sudah makan malam? Mau makan bersamaku?” tawar Valeda.
***
Terima kasih, para pembaca setia yang sudah mengikuti sampai part 60 ini.
__ADS_1
Ingat klik favorit dan like untuk dukungannya 😊