
Daniel menyiapkan alat memanggang dan semua kelengkapannya dengan sempurna. Dalam hitungan menit, semua sudah tertata di halaman belakang Panti Asuhan Matahari Terbit.
Bukan Valeda yang banyak mengambil peran dalam membantu Daniel, tapi anak-anak panti lainnya. Valeda bahkan tidak mengetahui perbedaan merica dan vetsin, bagaimana mungkin dia mampu menyiapkan bahan untuk acara api unggun mereka.
Awalnya, Daniel yang sudah mengira kalau Valeda tidak begitu lihai dalam urusan memasak, mengajak Valeda untuk membuat makan malam sederhana saja.
Memang dasarnya Valeda ingin pamer kemesraan di depan kamera, dia memilih acara outdoor agar paparazzi bisa mengabadikan kegiatannya dengan Daniel sore itu, meski gambar mereka diambil dengan cara diam-diam.
Hasilnya, Valeda merasa capek sendiri. Bukan capek karena ke sana-sini untuk menyiapkan alat, dia capek secara mental. Dia merasa malu pada Vio yang berusia lima tahun, namun bisa membantu Daniel mengupas jagung.
"Duduklah," Daniel membuka sebuah kursi lipat dan meletakkannya di dekat api unggun.
Api unggun berukuran kecil yang akan mereka gunakan untuk memanggang itu, telah selesai Daniel tata. Dia meletakkan kayunya dengan rapi walau nantinya akan habis terbakar. Tidak jauh dari api unggun, terdapat sebuah meja kecil yang dipenuhi dengan bahan makanan. Piring-piring di atasnya didominasi oleh daging. Anak-anak panti tampak antusias karena melihat daging lagi. Mereka membantu Daniel dengan semangat membara.
Valeda duduk di kursi lipat yang Daniel bawakan untuknya. Dia menyibak rambutnya ke belakang dan mengikatnya seperti ekor kuda. "Aku bantu panggang!" ujar Valeda penuh tekad.
Alis Daniel terangkat. Dia agak kaget mendengar ucapan Valeda. "Akan saya ajarkan." Daniel tidak mencegahnya. Dia tidak punya hak untuk melarang Valeda mencoba hal-hal baru. Lagipula, bagi Daniel akan seru melihat Valeda yang canggung dan kikuk dalam satu hal. "Saya akan nyalakan apinya dulu. Nona tunggu sebentar di sini."
"Daniel!" panggil Valeda ketika Daniel berbalik.
"Ya?"
Valeda mengusap lengannya. Bukan karena dingin, tapi dia agak gugup untuk mengatakan pikirannya. "Mulai sekarang, jangan panggil aku 'nona' lagi. Panggil saja dengan namaku."
Daniel tidak menjawab. Dia memandang Valeda lekat-lekat. Mungkin menimbang permintaannya itu.
"Jangan salah paham," tambah Valeda cepat. "Aku cuma mau kamu terbiasa memanggil namaku. Tidak ada maksud lain."
Daniel tersenyum melihat Valeda malu-malu seperti itu. "Iya, Val. Aku mengerti," jawabnya, kemudian berlalu dari hadapan Valeda.
"Senyumannya berbahaya," Kris bersuara dari belakang Valeda.
"Menurutku biasa saja," dusta Valeda. "Jangan bahas hal itu, Kris! Cepat beri tahu aku dasar-dasar dalam memanggang!"
__ADS_1
"Daniel berkata akan mengajari Nona, kan?" timpal Kris.
"Sebenarnya aku lumayan malu karena tidak tahu apapun tentang hal ini," bisik Valeda.
"Nona, kedekatan kalian saat memanggang nanti, akan menjadi headline berita di koran besok pagi," Kris balas berbisik.
Valeda mendengus dengan wajah ditekuk. Dia masih tidak percaya bahwa dia sangat buruk dalam hal ini. Setelah hari ini usai, dia akan meminta koki terbaik untuk mengajarinya memasak. Sudah cukup baginya menanggung malu seperti sekarang ini.
Daniel melambai pada Valeda agar mendekatinya ketika dia berhasil menyalakan api unggun. "Kita bakar jagung dulu," kata Daniel begitu Valeda berdiri di sebelahnya.
Valeda ikut saja apa yang Daniel katakan. Dia melihat berbagai macam bumbu di atas meja yang telah ditata di dalam mangkuk-mangkuk kecil. "Semua ini akan kita gunakan?" tanya Valeda tidak mengerti.
"Setiap bumbu punya rasa yang berbeda," jawab Daniel. "Kamu suka makanan pedas?"
Valeda menggeleng. "Tidak terlalu. Perutku agak sensitif," jawabnya.
"Kalau begitu, untukmu yang manis saja." Daniel meletakkan empat jagung ke atas piring dan membalurinya dengan bumbu berwarna cokelat. "Mawar dan Vio juga tidak suka pedas."
"Biar aku saja," Valeda mengulurkan tangannya. Dia rasa, kalau mengoles bumbu seperti itu saja, pasti mudah untuknya.
"Iya." Valeda mulai meneruskan apa yang Daniel lakukan tadi. "Mudah. Seperti di kelas melukis dulu."
"Pelan-pelan," Daniel menggenggam tangan Valeda. "Oles perlahan seperti ini," katanya sambil menggerakkan tangan Valeda.
"Daniel?"
"Ya?"
"Berapa kali kamu pacaran?" tanya Valeda.
"Hmmm, sekali." Daniel melepas pegangan tangannya. "Kenapa?"
"Bohong!" Valeda tidak percaya. "Kamu ahli dalam hal membuat orang salah paham."
__ADS_1
Daniel tersenyum miring. "Aku laki-laki. Hal seperti ini tidak perlu aku pelajari."
"Bagus. Teruslah berlaku romantis seperti ini. Besok adalah debutmu di duniaku." Valeda meneruskan kerjaannya.
"Aku akan mulai memanggang daging. Teruslah menyiapkan jagungnya." Daniel membelai kepala Valeda.
Valeda sempat menahan nafas ketika Daniel berlaku seperti itu. Ini pertama kalinya dia benar-benar berdekatan dengan seorang laki-laki. Tidak bisa dipungkiri bahwa Daniel mampu membuat bulu kuduknya berdiri.
Valeda melirik Daniel yang masih berdiri di sebelahnya. Tangan Daniel dengan lihai mengolah daging yang tadi mereka beli di supermarket.
"Sini," Daniel meraih piring penuh jagung yang sudah selesai Valeda lumuri dengan bumbu. "Ayo, kita ke dekat api unggun." Daniel berbalik dengan dua piring di tangannya.
Valeda mengikuti Daniel menuju dekat api unggun. Beberapa anak yang sudah cukup besar, menjaga anak-anak yang masih kecil dari jangkauan jilatan si jago merah.
Ketika mereka melihat Daniel mulai memanggang jagung dan daging, sorakan bahagia terdengar memenuhi halaman belakang. Valeda teringat dengan kata-kata Daniel, bahwa daging merupakan makanan mewah di panti asuhan itu. Daniel bekerja dengan keras, namun usahanya ternyata tidak mampu membelikan daging untuk makan sehari-hari.
Valeda berpikir bahwa Daniel menjadi seperti itu karena dia tidak diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi. Sama seperti waktu dia menemukan Kris di pinggir jalan, lalu memberinya sebuah pekerjaan yang layak, Daniel juga bisa seperti itu.
Namun, keahlian Daniel berbeda dengan Kris. Kris suka di jalan dan lihai mengemudi. Sementara Daniel, pintar bicara dan menggunakan otaknya.
"Dan," panggil Valeda lagi.
Daniel menyerahkan daging yang sudah matang pada Jingga untuk dibagikan ke adik-adiknya. "Ya, ada apa?"
"Kalau aku minta kamu sekolah lagi, apa kamu mau?" tanya Valeda.
Daniel menoleh cepat ke arahnya. "Maksudnya? Melanjutkan pendidikan di bangku kuliah?"
Valeda mengangguk. "Aku berpikir untuk membantumu memiliki pekerjaan yang lebih layak ke depannya. Jika kontrak kita sudah selesai, kamu tidak bisa bekerja di kantorku lagi. Setidaknya, kamu ada bekal untuk menjadikan kehidupan di panti asuhan ini jadi lebih baik."
"Kamu baik hati, Val," puji Daniel.
"Aku cuma mencoba membantu orang-orang yang aku kenal," jawab Valeda. "Tidak mungkin selamanya aku menjadi seperti sekarang ini. Setidaknya, kalau nantinya aku memerlukan bantuan, akan ada yang membantu."
__ADS_1
"Kedepannya, kalau kamu butuh bantuan, carilah aku," jawab Daniel.
***