DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
35. Tidak Mengerti


__ADS_3

"Romantis sekali kalian."


Valeda dan Daniel menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Mata Valeda membulat sempurna ketika melihat seorang laki-laki setinggi Daniel berdiri tidak jauh dari mereka.


"Rangga?" seru Valeda.


"Cinta?" jawab laki-laki itu.


Valeda tertawa mendengar jawaban laki-laki itu yang jelas bukan menyebut namanya. Daniel yang tidak mengerti, hanya diam memperhatikan. "Apa kabar, Ga?" Valeda berdiri dari duduknya. "Kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Aku baru aja sampai Indonesia," jawab Rangga. "Mama minta aku jemput, jadi aku ke sini. Ternyata ada kamu. Apa kabar, Cinta?" Rangga merentangkan tangannya.


Valeda menyambut pelukan hangat Rangga sambil tertawa-tawa. Dia tidak sadar bahwa ada sepasang mata di belakangnya yang tengah memperhatikan.


"Baik, aku baik," jawab Valeda seraya melepas pelukannya. "Senang sekali bisa melihatmu, Rangga! Sudah berapa lama, ya, kita tidak bertemu?"


"Hmm, sekitar lima tahun," jawab Rangga. "Maaf, ya, selama di luar negeri, aku jarang menghubungi kamu. Ada banyak kegiatan dan aku mau fokus dengan kuliahku."


"Tidak apa. Tidak begitu masalah buatku," jawab Valeda. "Jadi, bagaimana kuliahmu? Lancar?"


Rangga mengangguk. "Sesuai dengan ekspektasiku. Semuanya berjalan lancar."


"Sekarang kamu tinggal di Indonesia lagi?" tanya Valeda.


Rangga tersenyum lebar. "Ya. Aku akan menetap di Indonesia. Papa memberiku waktu enam bulan untuk bermain-main sebelum mengambil alih jabatannya di kantor."


"Apa kamu serius? Bukankah terlalu dini untuk mengambil alih perusahaan sekarang?" tanya Valeda.


Rangga hanya menjawab dengan mengangkat bahunya. "Bagaimana denganmu? Apa saja yang sudah kamu lakukan selama aku tidak ada?"


"Tidak banyak. Aku bekerja seperti biasanya. Lalu..." Valeda melirik ke belakang, di mana Daniel ternyata juga berdiri. Tapi, dia hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun. "A... Aku punya pacar," ujar Valeda pelan.


"Pacar?" Rangga mengulangnya, seolah tidak percaya dengan ucapan Valeda.


"Dia Daniel. Pacarku," Valeda memperkenalkan.


Daniel maju dan mengulurkan tangannya. "Kenalkan, saya Daniel."


Rangga menyambutnya tanpa ragu. "Rangga," jawabnya. "Ini berita baru bagiku, mendengar Valeda memiliki seorang pacar. Valeda sangat susah dekat dengan orang lain. Kamu pasti orang yang luar biasa karena bisa menaklukkan hati seorang Valeda."


"Terima kasih atas pujiannya. Kalau boleh saya tahu, apa hubungan Anda dengan Valeda?" tanya Daniel.

__ADS_1


Valeda hanya bisa bengong melihat Daniel yang terang-terangan bertanya di depan Rangga. 'Daniel mulai cerewet, ya?' batin Valeda.


"Aku sepupu Valeda, walaupun kami tidak memiliki hubungan darah," jawab Rangga santai, terlihat tidak begitu tersinggung ditanyai hal pribadi oleh orang asing. "Ayah tiriku yang merupakan sepupu Oom Suherman, menikah dengan ibuku ketika aku masih berusia enam tahun."


"Kami dekat sejak sekolah dasar, karena satu sekolah," tambah Valeda. "Benar kata Rangga, aku susah akrab dengan orang asing. Jadi, Rangga membantuku untuk berinteraksi."


Daniel tidak merespon, hanya menatap Rangga lekat-lekat. Valeda tidak bisa mengartikan ataupun menangkap apa maksud Daniel melakukan hal itu.


"Rangga, kamu sudah makan?" Valeda buka suara. Dia merasa tidak enak hati karena kedua laki-laki di depannya hanya diam. "Ibuku memilih enam koki profesional untuk menyajikan makan malam ini."


"Aku mencicipi sedikit. Tante Emely memang sangat pintar memilih orang," jawab Rangga. "Besok aku berencana menyapa orangtuamu secara resmi. Tidak enak rasanya aku kembali tapi tidak langsung menemui mereka."


"Pukul berapa?" Valeda bertanya.


"Aku akan mengajak mereka makan malam. Kamu ada waktu?" Rangga balik bertanya.


Valeda menoleh pada Daniel. Daniel yang merasa ditanya dengan pandangan mata Valeda, menjawab dengan cepat. "Kamu bisa gunakan waktumu semaumu. Janji besok, kita batalkan saja."


"Kalau kalian sudah ada kegiatan, aku tidak memaksa kalian untuk ikut makan malam," timpal Rangga buru-buru.


"Tidak. Janji kami tidak begitu penting. Valeda pasti ingin ngobrol lama dengan Rangga-nya," jawab Daniel.


"Hahahaha! Kamu berkata seperti itu, seolah aku adalah milik Valeda," goda Rangga sambil tertawa.


"Baiklah, baiklah," Rangga menghentikan tawanya. "Besok aku akan buat reservasi untuk makan malam kita."


"Tidak usah melibatkanku," tolak Daniel. "Aku tidak mau merusak acara makan malam kalian dan orangtua Valeda."


"Tapi aku ingin mengenalmu lebih jauh," kata Rangga.


"Aku memiliki dunia yang berbeda dengan kalian. Jika kamu mau mengenalku, sebaiknya kamu merendahkan sedikit derajatmu," Daniel tetap menolak.


"Kamu mendapatkan laki-laki yang rendah hati, Cinta," ujar Rangga seraya tersenyum.


Valeda tahu bahwa Rangga memuji Daniel. Namun, Daniel terasa tidak begitu meresponnya. Daniel tidak bereaksi seperti saat dia berbincang dengan bibi-bibinya atau ayahnya. Daniel lebih banyak diam.


"A... Aku beruntung bisa punya pacar seperti Daniel. Dia memang orang yang tidak suka menyombongkan dirinya," jawab Valeda.


"Kalau begitu, besok malam aku akan menghubungimu tentang acara makan malam kita," Rangga mengakhiri percakapan mereka. "Daniel, kalau kamu berubah pikiran, datanglah bersama Valeda. Kamu bisa bertanya apapun padaku tentang Valeda. Aku hampir tahu semuanya."


Daniel membalas senyuman Rangga. "Tidak perlu repot-repot. Jika aku ingin tahu sesuatu tentang Valeda, aku bisa menanyakannya secara langsung. Dia pacarku," jawabnya.

__ADS_1


Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oke... Baiklah... Kalau begitu aku pamit dulu."


"Hati-hati di jalan, Rangga," Valeda melambai kecil.


"Bye, Cinta!" Rangga balas melambai. Kemudian dia mengangguk singkat pada Daniel. Daniel meresponnya dengan mengangguk sekali.


Daniel duduk kembali di sofa waktu Rangga sudah lumayan jauh. Dia melempar pandangan ke arah berlawanan dengan Valeda.


Valeda ikut duduk di sebelah Daniel. Dia tidak bicara untuk berapa lama, hanya memandangi kepala bagian belakang Daniel. Rambut hitam Daniel diterpa angin malam, membuatnya sedikit bergerak. Valeda dapat mencium wangi shampo yang Daniel kenakan tadi sore.


"Sampai kapan kamu mau memunggungiku begitu?" tanya Valeda.


"Aku sedang menghirup udara malam," kilah Daniel.


Valeda menyusuri punggung Daniel dengan jari-jemarinya. Tubuh Daniel tidak besar seperti kakak pertamanya, namun Valeda dapat merasakan otot-otot sempurna membalut tulangnya. "Ada apa? Kenapa sepertinya kamu tidak enak hati?" Valeda tidak mengerti dengan sikap Daniel.


Daniel menoleh. "Benar kamu tidak mengerti?" tanya Daniel.


Valeda menelengkan kepalanya. "Sungguh aku tidak mengerti. Aku tidak terlalu pintar tentang hal-hal seperti ini. Rangga sendiri bilang padamu, kan, kalau aku buruk dalam berinteraksi."


Daniel mendengus keras. "Ya. Kamu benar-benar buruk dalam menilai perasaan orang lain. Karena itulah kamu sulit mendapat simpati dari laki-laki."


"Kenapa malah menjelekkan aku?" protes Valeda. "Aku bertanya baik-baik, dan itu caramu menjawab?"


"Ya. Caraku menjawab memang seperti ini," ketus Daniel.


Alis Valeda berkerut. Dia menarik tangannya dari punggung Daniel. "Daniel, kamu mulai melunjak!" cicit Valeda kesal. "Memangnya apa salahku sampai kamu ketus begitu? Kamu bisa bicara baik-baik padaku!"


"Tidak ada. Kamu tidak salah," Daniel berdiri dari duduknya. "Kamu bisa pulang bareng Kris, kan? Hati-hatilah di jalan." Daniel langsung mengambil langkah tanpa menunggu jawaban Valeda.


Valeda menganga tidak percaya melihat Daniel berjalan cepat meninggalkannya sendirian di acara itu. Ada sensasi dingin yang Valeda rasakan begitu Daniel menghilang dari pandangannya.


"Apa? Kenapa? Ada apa?" tanya Valeda pada dirinya sendiri.


Tidak lama setelah kepergian Daniel, Kris muncul dan menghampiri Valeda. "Nona, apa Nona mau pulang sekarang?" tanya Kris setibanya di depan Valeda.


"Ah... Aku harus pamit pada Papa dan Mama dulu." Valeda berdiri.


Kris menyodorkan sebuah jas pada Valeda. "Tadi Daniel pergi buru-buru. Dia memintaku memastikan Nona memakai ini agar tidak terkena flu."


Valeda menerima jas dari tangan Kris. 'Walaupun dia terlihat marah, tapi dia masih mengkhawatirkan aku?' pikir Valeda, masih tidak mengerti.

__ADS_1


Tanpa sadar, Valeda melangkah cepat ke arah Daniel menghilang tadi. Dalam hati, dia berharap masih bisa melihat sosok Daniel.


***


__ADS_2