DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
71. Kebencian


__ADS_3

Daniel membuka matanya yang terasa berat dengan susah payah. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan lingkungan di sekitarnya. Ruangan itu gelap dan berhawa lembab, seakan tidak mendapatkan udara yang cukup untuk waktu lama.


Tiba-tiba, Daniel dapat merasakan sesuatu yang hangat menetes melewati alisnya. Daniel menggelengkan kepala. Seketika, rasa sakit menerpanya. Kepalanya terasa mau pecah.


"Aaarrgghhh..." Daniel mengerang pelan. Dia menutup matanya kembali. Nafasnya memburu. Dia tersentak pelan ketika menahan sakit, hampir kehilangan kesadaran.


Daniel menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia berusaha sekuat mungkin untuk menenangkan diri. Dia membuka mata pelan-pelan. Kegelapan langsung menyergap. Dengan jantung yang berdebar kencang, Daniel mengedarkan pandangan. Ada secercah cahaya yang menyeruak masuk melewati jendela kecil yang terletak jauh di atas. Tidak lama kemudian, Daniel dapat merasakan pergerakan.


"Hehehehe..." Daniel terkekeh. Tidak tahu kenapa, dia merasa sangat lucu. Tanpa harus melihat langsung siapa orang yang duduk tidak jauh dari tempatnya, Daniel seakan tahu siapa orang itu. Daniel menunduk, mendapati kakinya yang terikat. Dia mencoba menggerakkan tangannya. Rentang geraknya benar-benar terbatas. Tangannya juga terikat.


"Apa kamu sebegitu takutnya padaku, sampai harus mengikat tangan dan kakiku?" ujar Daniel dengan suara serak. Kepalanya pening, jadi dia menutup mata kembali. "Tidak usah bersembunyi," lanjut Daniel. "Hanya dengan mendengar suara nafasmu saja, aku sudah tahu siapa kamu."


Drak!


Kursi yang orang itu duduki bergemeretak ketika dia bangkit dari duduknya. "Kamu banyak omong juga, ya?" sindirnya.


Daniel tersenyum getir begitu melihat wajah orang itu yang tertimpa cahaya dari jendela. Meskipun dia sudah menduga siapa yang melakukan hal ini padanya, dia tetap merasa kasihan. "Entah bagaimana perasaan Valeda..." bisiknya.


Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki orang itu mendekati Daniel terdengar berat nan mantap. Daniel bisa tahu bahwa orang itu marah dan belum puas menghajarnya. "Kamu masih bisa bicara rupanya."


DUAG!!!


Sebuah tendangan melayang menghantam pipi Daniel. Spontan Daniel merapatkan giginya. Rasa besi langsung memenuhi mulutnya. Daniel tidak sengaja menggigit bibirnya sendiri.


"Bicaralah lagi!" seru orang itu.


"Sejak awal, kamulah dalangnya," jawab Daniel. "Kamu yang membunuh adik-adikku, kan?"


"HAHAHAHAHAHA!!!" dia tergelak, meski menurut Daniel tidak ada yang lucu.

__ADS_1


Daniel mengamati air muka laki-laki di hadapannya. Sejak awal, dia sudah tidak menyukai orang itu. Namun, kali ini dia merasa sangat membencinya.


Daniel membencinya bukan karena orang itu telah menghajarnya habis-habisan. Tapi dia lebih memikirkan perempuan yang dia cintai.


Perempuan yang membuat dirinya kalut itu, kini sendirian di luar sana. Tidak ada yang bisa mengungkap kebenaran. Daniel menyaksikan semuanya sendirian.


Ketakutannya semakin besar ketika membayangkan wajah ngeri Valeda jika mengetahui apa yang orang itu lakukan. Dia mencintai perempuan itu dan tidak mau air matanya terbuang karena kejahatan yang dia terima.


"Apa maumu?" desis Daniel.


Bibir orang itu tertarik ke atas, membuat sebuah lengkungan senyuman yang menjijikkan bagi Daniel. "Tentu saja kamu tahu," jawabnya. "Apakah aku harus mengatakannya lagi? Bukankah kamu adalah manusia paling pintar?"


Daniel mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan bahu. Pergelangan tangannya mulai berdenyut menyakitkan, sementara jari-jemarinya mulai kebas. "Menjauhi Valeda?" terka Daniel.


Matanya berkilat. "Ya!" jawabnya tegas.


Daniel mendengus keras. "Kamu pikir, kamu siapa?"


DUAK!!!


"Aku..." geramnya. "Aku adalah orang yang duluan memperhatikan Valeda. Aku adalah orang yang lebih dulu mencintai Valeda. Bukan kamu!"


Daniel tertawa kecil. "Apakah aku harus mengantri untuk mendapatkan cinta Valeda?" hardik Daniel. "Bukankah dalam urusan cinta, 'siapa cepat, dia dapat'?"


"Apa kamu bilang!?"


"Kamu sudah mendapatkan waktu bertahun-tahun bersamanya. Kenapa tidak kamu manfaatkan? Kenapa kamu hanya menunggu? Sekarang, saat Valeda ada di tanganku, kamu malah menginginkannya dan menyalahkanku?" Daniel bicara tanpa tahu bahwa lawan bicaranya sudah ingin membunuhnya.


"Aku menunggu Valeda karena mau memastikan bahwa dia baik-baik saja," kilah orang itu.


"Hahahahaha," giliran Daniel yang merasa lucu. "Baik-baik saja? Dari hal apa?"

__ADS_1


"Kamu!"


Alis Daniel terangkat. "Aku? Bagaimana aku bisa menjadi ancaman untuk perempuan yang begitu kuat itu?"


"Kamu membuatnya lemah!"


"Bukannya itu hanya pikiranmu?" potong Daniel. Dia memperhatikan air muka orang itu sebelum melanjutkan. "Bahkan Valeda tidak mengingat kejadian kebakaran itu."


"Mana mungkin dia tidak ingat? Dia harus mengingatnya!"


"Kenapa kamu ngotot?" Daniel merasa tidak mengerti. "Apa kamu menjadi gusar begini, karena sejak dulu sebenarnya kamu sudah tahu bahwa Valeda lebih suka saat bersamaku ketimbang saat bersamamu?"


"DIAM!!!"


BUG!


Pukulan kembali menghantam pipi Daniel. Dia yang sudah mendapatkan banyak pukulan tanpa perlawanan, jatuh tersungkur di lantai yang dingin. Debu-debu halus memenuhi rongga parunya ketika Daniel menarik nafas. Kepalanya berputar. Dia tidak bisa menjaga kesadarannya lagi. Daniel akhirnya pingsan.


Daniel bermimpi tentang masa kecilnya yang bahagia. Di mana dia tengah bermain dengan Valeda yang manis. Valeda yang sangat baik hati dan lugu. Valeda yang mampu membuatnya jatuh hati dalam sekejap. Lalu, dia juga bermimpi tentang ayahnya yang bangkrut. Kemudian adiknya yang meninggal. Serta ibunya yang bunuh diri. Semua kilasan itu berjalan sangat cepat.


Daniel tersentak. Dia kembali pada kenyataan. Tangan dan kakinya masih terikat kuat. Pusing di kepalanya tidak serta-merta menghilang. Daniel mendongak, memandang jendela kecil yang letaknya jauh di atas. Sinar matahari sangat terang. Saking terangnya, hingga mampu menyinari seluruh sudut ruangan.


Ruangan itu tampak seperti gudang tua, namun dindingnya masih kokoh. Di seberang jendela, terdapat pintu kayu berukuran besar. Pintu itu tampak baru.


"Hanya akan membuang-buang waktu kalau aku mencoba untuk mendobraknya," gumam Daniel.


Daniel berusaha bangkit. Sekujur tubuhnya terasa ngilu. Dia menyeret tubuhnya dengan susah payah hingga terduduk. Daniel bersandar pada dinding dan merasakan hangatnya matahari di dinding itu.


"Valeda..." bisik Daniel pelan. "Maaf... Aku ceroboh... Aku harap, Celine atau Kris dapat memberitahumu sesuatu."


Tanpa terasa, air mata Daniel menetes. Hatinya teriris setiap mengingat senyuman Valeda bisa sirna kapanpun. Dia ingin segera pergi dari sini dan melindungi Valeda dengan tangannya sendiri, namun mustahil. Sekarang saja, dia tidak punya tenaga bahkan untuk bernafas. Perutnya kosong. Dahaga menguasai tenggorokannya. Kehabisan tenaga membuatnya mengantuk dengan cepat.

__ADS_1


Daniel menutup matanya kembali. Hembusan nafasnya melambat. Daniel tertidur kembali. Tetapi, kali ini dia tidak bermimpi. Tubuhnya terkulai lemas. Telinganya terasa tuli, sampai tidak mendengar suara pintu terbuka.


***


__ADS_2