DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
13. Melihatnya (Daniel's POV)


__ADS_3

Daniel berjalan cepat menyusuri jalan yang Jingga dan Vio lewati beberapa menit yang lalu. Daniel mencoba menyusul adik-adiknya ke supermarket yang ada tidak jauh dari tempat mereka tinggal.


Daniel sudah mencoba menghubungi Jingga untuk meminta Jingga membeli daging sapi seperti janjinya pada anak-anak panti asuhan lainnya. Namun, ternyata Jingga tidak membawa serta ponselnya. Jadi, Daniel bergegas menyusul mereka. Daniel sudah menitipkan anak-anak panti pada tetangga mereka, Bi Sekar, yang merupakan teman dekat ayah Daniel. Untung saja Bi Sekar adalah perempuan paruh baya yang tidak ada kerjaan selain menyiram bunga di halaman rumahnya.


Hari masih terang. Orang-orang berlalu-lalang di jalan itu. Kebanyakan adalah yang baru pulang kerja. Panti asuhan milik Daniel terletak dekat dengan jalan utama. Itu membuatnya harus ekstra hati-hati karena banyak anak panti yang masih kecil.


Hal itu juga yang membuat panti asuhan itu menarik banyak minat dari kalangan orang kaya. Selain ada di dekat jalan utama, luasnya juga cukup untuk membuat sebuah hotel bintang lima.


Langkah Daniel terhenti ketika melihat kerumunan di depan supermarket yang dia tuju. Dia punya firasat buruk tentang itu. Di saat Daniel akan berlari ke arah kerumunan, seorang perempuan yang tidak asing di ingatannya, keluar dari mobil sedan hitam yang mengkilat diikuti seorang laki-laki jangkung berjas.


Laki-laki itu membelah kerumunan dan memberi jalan untuk perempuan berambut panjang yang Daniel kenal.


"Nona Valeda?" gumam Daniel. Dia mempercepat langkahnya menuju kerumunan.


PLAK!


Daniel melihat bagaimana seorang perempuan seusianya melayangkan sebuah tamparan ke pipi Valeda, dan tamparan itu mendarat dengan sempurna. Namun, laki-laki di sebelah Valeda tetap diam melihat Valeda ditampar. Valeda mengusap pipinya dan membalas pandangan lawannya dengan berani. Kemudian...


PLAK!!!


Valeda membalas tamparan yang dia terima. Bahkan lebih keras. Perempuan di hadapannya sampai jatuh bersimpuh di trotoar.


"Kenapa Anda main kasar?" tanya Valeda. "Saya jelas berkata bahwa anak ini tidak salah. Anda yang berjalan sambil main handphone dan menabrak anak ini yang kebetulan berdiri di pinggir jalan. Kenapa Anda berlaku kasar?"


"Akan aku laporkan kamu ke kantor polisi!" seru perempuan itu geram. Dia segera bangkit, merasa harga dirinya terluka. "Kamu akan menyesal, cewek sialan!"


Valeda menoleh pada Kris. "Kris, bereskan ini. Jika perempuan ini mau membawa kasus ini ke pengadilan, hubungi pengacaraku. Jika yang dia tuntut adalah uang kompensasi dari tamparanku, berikan harga yang sesuai," ujar Valeda.

__ADS_1


"Baik, Nona," jawab Kris.


Valeda berjongkok di depan Vio yang masih gemetar ketakutan. "Kamu tidak salah, Nak. Aku lihat semuanya dan kamu tidak pantas dimaki seperti itu. Tidak usah minta maaf lagi. Ayo, aku antar kamu pulang," tawar Valeda.


Vio makin bersembunyi di belakang Jingga. Dia hampir menangis. Anak kecil itu benar-benar ketakutan melihat apa yang terjadi. "Vio, sudah nggak apa-apa," kata Jingga, mencoba menenangkan.


"Hei! Urusan kita belum selesai!" pekik perempuan tadi yang merasa dikacangin.


Daniel menghadang perempuan itu ketika dia hendak menerjang Valeda. Tidak ada yang Daniel takutkan karena perempuan itu tampak mengancam adik-adiknya. "Mbak, saya minta Anda jangan kasar. Ini tempat umum," ujar Daniel.


"Kamu jangan ikut campur! Nggak tahu masalah malah sok menengahi!"


Belum sempat Daniel membuka mulut untuk beradu argumen, suara sirine mobil polisi sudah bergaung dan membuat semua terdiam.


Kris maju dan berdiri beberapa jengkal di hadapan perempuan yang bingung dengan sirine polisi. Tinggi badan Kris yang menjulang membuat perempuan itu merasa terintimidasi. "Saya sudah memanggil polisi sesuai keinginan Anda. Mari bicarakan di kantor polisi. Pengacara kami dalam perjalanan menuju kantor polisi. Anda akan bertemu dengannya di sana," Kris menyerahkan sebuah kartu nama pada perempuan itu. "Ini kartu nama saya. Di baliknya adalah nama pengacara kami."


Valeda menarik Jingga dan Vio menjauh dari Kris dan perempuan yang dia ajak bicara. Valeda tahu bahwa perdebatan mereka tidak akan selesai dengan cepat dan anak kecil tidak pantas mendengarnya.


Valeda menoleh ke belakang. "Kita menjauh dulu," jawab Valeda.


'Oh, aku kira dia tidak mengenaliku,' batin Daniel malu. Dia sempat kepikiran sendiri karena tidak disapa, dan sekarang itu membuatnya malu setengah mati. Daniel memutuskan untuk diam saja dan mengikuti apa kata Valeda selanjutnya.


"Tuan Daniel, apa kamu mengenal anak-anak ini?" tanya Valeda pada akhirnya.


"Dia kakak kami," Jingga menjawab duluan.


Daniel berjongkok dan merentangkan tangannya. Vio langsung berlari ke dalam pelukannya. "Apa yang terjadi, Vi?" tanya Daniel.

__ADS_1


Vio melepas pelukannya. Namun, bukannya menjawab, Vio malah menangis keras. Daniel memeluknya lagi, kali ini lebih erat. Dia merasa bersalah karena telah membiarkan adiknya dalam masalah yang belum bisa adiknya atasi sendiri. Bahkan, Jingga masih terlalu lugu untuk berhadapan dengan perempuan ganas seperti tadi.


"Perempuan tadi bermain handphone sambil berjalan. Lalu dia menabrak anak itu hingga kopinya tumpah. Aku kebetulan melihatnya dari dalam mobil," giliran Valeda yang menjawab.


"Maaf, Kak," sambung Jingga. "Tadi aku masuk ke dalam supermarket lagi karena ada barang yang tertinggal. Semuanya salahku karena meninggalkan Vio sendirian di sini. Aku minta maaf, Kak."


Daniel merentangkan tangan kanannya, mengundang Jingga untuk masuk ke dalam pelukannya bersama Vio. Walaupun sudah tujuh belas tahun, Jingga tidak merasa malu ataupun canggung untuk bermanja-manja pada Daniel. Dia langsung memeluk Daniel dan Vio.


"Tidak ada yang salah. Lain kali, lebih berhati-hatilah," Daniel memberi nasehat.


"Baiklah. Aku pikir masalah sudah selesai," sahut Valeda sambil tersenyum. "Apa kalian perlu tumpangan untuk pulang?"


Daniel melepas pelukan kedua adiknya. Dia berdiri canggung. "Saya sangat berterima kasih karena Nona Valeda sudah banyak menolong kami," kata Daniel.


"Nona Valeda, mau makan malam sama kami?" serobot Jingga.


"Nona Valeda, Kak Dan pintar masak. Ayo makan malam di rumah kami," Vio ikut-ikutan.


Daniel sempat panik karena tidak menduga kedua adiknya bisa selancang itu mengajak seorang perempuan dari kalangan atas untuk makan malam ke sebuah panti asuhan yang hanya menyediakan daging sapi sebulan sekali. Daniel menghela nafas dan menenangkan diri. "Maaf, Nona. Adik-adik saya suka berterima kasih dengan mengundang makan."


"Kak Dan yang ajari."


"Iya, Kata Kak Dan perut yang kenyang akan membuat hati senang."


"Nona ini kurus sekali. Kita bisa belikan daging untuknya."


Daniel mengusap wajahnya dengan gusar. Jingga dan Vio jelas belum mengerti dengan perbedaan kasta antara mereka dengan Valeda. "Kalian ja--"

__ADS_1


"Baiklah. Ayo makan malam bersama. Aku yang belikan dagingnya," potong Valeda.


***


__ADS_2