DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
16. Alibi


__ADS_3

"Celine!" seru Valeda.


Celine yang duduk di depan ruangan Valeda terlonjak kaget mendengar atasannya itu tiba-tiba berseru dari dalam. Dia menoleh pada beberapa pekerja lainnya yang duduk tidak jauh darinya, tapi semua hanya diam dengan alis berkerut.


"Ada masalah, Cel?" tanya Lilia.


"Perasaan semua kerjaan sudah beres. Ada apa, Cel?" Nanda ikutan bertanya, merasa sebenarnya tidak ada masalah lagi di dalam pekerjaan mereka.


"Ceeellliiiinnneee!" Valeda berseru lantang.


"Tengok, gih!" usul Michael.


Celine segera bangkit dan berlari kecil menuju ruangan Valeda. "Ada apa, Val? Kamu bisa telepon aku, kan, daripada teriak-teriak begitu?" tanya Celine.


Valeda mengacungkan ponsel di tangannya. "Ada pesan masuk lagi!" jawab Valeda.


Celine menggeleng heran. "Kamu ini! Aku pikir ada apa sampai kamu jerit-jerit tidak jelas!" Celine menghampiri Valeda dan meraih ponsel yang mereka gunakan untuk dihubungi oleh pemenang undian shampo.


"Apa yang dia katakan?" tanya Valeda.


"'Saya mendapat nomor ini dari bungkus shampo. Undian macam apa yang saya menangkan?'" Celine membaca pesan yang masuk.


"Urus itu!" perintah Valeda.


"Langsung aku ajak ketemuan saja, ya?" tanya Celine, meminta pendapat Valeda.


Valeda mengetuk meja kerjanya, menimbang perkataan Celine. Dia memang tidak punya banyak waktu lagi kali ini. "Apa tidak mencurigakan?"


Celine tertawa mendengar kekhawatiran Valeda. "Undian itu memang sudah mencurigakan sejak awal, Val. Kita putus asa, ingat?"


"Kamu benar," jawab Valeda. "Oke, langsung ketemuan!"


Celine duduk di sofa dan mulai membalas pesan yang masuk. Valeda duduk gelisah di kursinya. Entah kenapa, kursinya terasa tidak nyaman saat ini. Seperti ada seribu jarum yang menonjol.


Valeda berdiri, hendak menghampiri Celine, melihat Celine anteng membalas pesan. Tapi langkahnya terhenti karena dering telepon di meja kerjanya.


"Ya?" tanya Valeda setelah menghidupkan loadspeaker.


"Nona Valeda, Nyonya Emely di sini untuk bertemu dengan Anda," jawab Eva yang bekerja di bagian front office.


Valeda menelan ludah dengan susah payah. Dia tidak mungkin menolak untuk bertemu dengan ibunya sendiri. Sementara, Valeda tahu apa yang akan terjadi jika Nyonya Emely sampai naik ke atas sini.


"Tunda tiga puluh menit. Aku masih ada rapat internal," jawab Valeda. Valeda dapat mendengar Eva menceritakan kondisi Valeda pada Nyonya Emely.

__ADS_1


"Nona, Nyonya Emely bersedia menunggu," Eva memberi jawaban.


"Baik, terima kasih," ujar Valeda, kemudian berjalan cepat ke arah Celine.


"Tenanglah, Val!" kata Celine yang melihat Valeda panik.


"Mamaku ada di bawah! Bagaimana ini?" tanya Valeda. "Mama pasti akan menyeretku kencan buta lagi kali ini. Skenario terburuknya, Mama akan ikut. Aku tidak akan bisa kabur atau bicara macam-macam."


Celine ikut memutar otaknya untuk menyelamatkan Valeda yang mulai panik. Nyonya Emely adalah orang yang kuat, seperti halnya Valeda. Beliau tidak akan melepaskan Valeda semudah itu. "Siapa tahu Nyonya Emely kemari untuk hal lain?" tukas Celine.


Valeda tertawa garing. "Apa lagi yang Mama harapkan selain melihat aku kencan? Aku mengenal ibuku. Dia tidak akan jauh-jauh datang ke kantorku hanya untuk mengajakku makan siang berdua."


Celine tidak menyangkal, karena dia tahu apa yang dikatakan Valeda adalah benar adanya. "Kabur lagi?" usul Celine, merasa tidak mempunyai jalan keluar lain.


"Lewat tangga darurat!" Valeda setuju. "Berikan sepatumu!" perintah Valeda.


Celine langsung teringat dengan sepatu keds yang dia simpan di bawah mejanya. "Tidak! Aku baru membeli sepatu itu!" tolak Celine. "Aku sudah mengincarnya selama lima bulan!"


"Akan aku belikan yang baru!" sahut Valeda cepat. "Aku tidak mungkin menuruni tangga sebanyak lima belas tingkat dengan memakai high heels, kan?"


Celine manyun. Dia benar-benar tidak bisa merelakan sepatunya begitu saja ke tangan Valeda.


BRAK!


"Tidak perlu susah-susah meminjam sepatu Celine," kata Nyonya Emely.


Celine yang menyadari ibu dari atasannya yang datang, segera berdiri. "Siang, Nyonya Emely!" sapa Celine. "Apa Anda sudah makan siang?"


"Celine, kamu sebaiknya jangan membantu Valeda untuk kabur lagi," Nyonya Emely memperingatkan.


Celine menggigit bibirnya. Dia tidak berani membuka mulut lagi untuk terlibat lebih jauh dalam masalah perjodohan Valeda. Nyonya Emely bisa menjadi lebih menyeramkan daripada Valeda.


"Mama, aku masih ada rapat," Valeda mencoba menghindar.


Nyonya Emely yang merasa 'diusir' oleh Valeda, malah duduk santai di tempat Celine duduk tadi. "Kamu bisa batalkan rapat itu. Tidak ada yang lebih penting saat ini selain perjodohanmu."


Valeda melemparkan pandangan 'tuh kan benar' pada Celine yang berdiri sambil menahan tawa.


"Mama sudah membuat janji makan siang dengan teman Mama. Ayo, kamu juga bersiap untuk ikut!" perintah Nyonya Emely.


"Ma, ini tidak akan berhasil," tolak Valeda. "Mama tahu sendiri bagaimana laki-laki yang Mama kirim untuk Val. Semuanya tidak ada yang beres."


"Ya, itu salah Mama," jawab Nyonya Emely. Sejenak, Valeda berharap bahwa ibunya mengerti dan tidak melanjutkan rencananya. "Mama terlalu terburu-buru dan tidak memeriksa segalanya lebih jauh. Mama mengenalkanmu pada anak teman Mama yang bahkan belum pernah Mama temui. Kali ini, Mama akan ikut."

__ADS_1


"Apa!?" cicit Valeda.


Nyonya Emely memandang Valeda lurus-lurus. "Mama akan ikut dalam perjodohanmu. Lagipula, menikah itu bukan hanya menyangkut kalian berdua, tapi juga keluarga kita."


"Mama!" rengek Valeda frustasi. Dia tidak tahu lagi bagaimana harus memberitahu Nyonya Emely bahwa dia tidak tertarik dengan perjodohan itu.


"Kamu itu perempuan. Tidak ada baiknya jika perempuan melajang terlalu lama. Karirmu sudah bagus. Lebih baik lagi kalau ada yang mendampingimu," jelas Nyonya Emely yang tetap kukuh memutuskan perjodohan Valeda.


"Kali ini, laki-laki seperti apa, Nyonya?" Celine yang penasaran tidak bisa menutup mulutnya lagi.


"Pertanyaan bagus!" puji Nyonya Emely, seolah itu adalah pertanyaan yang sudah dia tunggu-tunggu daritadi. "Dia adalah anak teman lama Mama. Namanya Sebastian. Anak itu lama tinggal di Singapura. Teman Mama bilang, Sebastian akan menetap di Indonesia bulan depan."


Valeda memutar bola matanya. Dia tidak tertarik dengan apapun yang Nyonya Emely katakan.


"Sebastian adalah pasangan yang cocok untukmu, Val. Mama pernah bertemu dengannya beberapa kali. Dia anak yang sopan," puji Nyonya Emely.


"Val tidak mau bertemu dengannya," tolak Valeda tanpa basa-basi. "Val tidak berminat."


"Kamu akan menyukai Sebastian begitu bertemu dengannya," putus Nyonya Emely.


"Mama yang menyukainya, bukan Val," tolak Valeda lagi.


Celine hanya geleng-geleng kepala melihat bagaimana kedua orang di hadapannya sangat keras kepala satu sama lain. Namun, dia terlalu penasaran dengan kelanjutan drama di depan matanya.


"Valeda," suara Nyonya Emely terdengar dalam. "Mama tidak pernah meminta apapun darimu. Kali ini saja, jadilah anak berbakti dan bahagiakan Mama. Jangan seperti ketiga kakakmu."


Suara Valeda tercekat mendengar permintaan Nyonya Emely. Beliau memang tidak menuntut apapun dari Valeda. Tapi, hati kecilnya tetap menolak dengan keras apa yang diminta darinya sekarang.


"Ayo kita pergi makan siang dan temui Sebastian," pinta Nyonya Emely.


"Nyonya, maaf saya menyela," Celine membuka mulutnya. "Tapi, Nona Valeda benar-benar tidak bisa saat ini," imbuhnya.


Valeda menatap Celine dengan penuh tanya. Celine yang biasanya hanya diam dan mendengarkan, dengan berani menengahi pembicaraan Nyonya Emely, bahkan mendukung Valeda.


"Aku tidak menerima alasan rapat," jawab Nyonya Emely tegas.


"Bukan, Nyonya," sahut Celine cepat, kemudian memandang Valeda. "Nona Valeda, bukannya ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan alasan yang sebenarnya pada Nyonya Emely?"


Alis Valeda berkerut mendengar perkataan Celine. Dia sendiri tidak mengerti apa yang Celine maksud.


"Pacar Anda sedang menuju restoran untuk makan siang bersama," jawab Celine.


***

__ADS_1


__ADS_2