DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
72. Panik


__ADS_3

Valeda duduk berputar-putar di kantornya. Hatinya gelisah dan pikirannya kalut. Sudah lebih dari dua puluh empat jam dia tidak bisa menghubungi Daniel. Valeda sudah bertindak cepat dengan melaporkan ke polisi bahwa Daniel menghilang. Namun, itu tidak bisa membuat hatinya tenang.


Tok, tok, tok!


Ketukan dari pintu kantornya membuat Valeda tersadar. "Ya, masuk!" jawab Valeda.


Celine masuk dan langsung menyodorkan sebuah flashdisk kepada Valeda. "Aku sudah periksa semua CCTV dan kemungkinan Daniel dibawa pergi oleh orang itu."


Valeda menyambar flashdisk di tangan Celine dengan cepat. Dia buru-buru membuka file yang Celine berikan di laptopnya. Matanya fokus pada setiap video yang dia putar. Otaknya berpikir sangat keras untuk menemukan petunjuk apapun.


"Apa ini?" desis Valeda sambil bergidik. Dia merasa ngeri setelah menonton semua video di depannya.


"Hanya itu," jawab Celine singkat.


BRAK!!!


Valeda menggebrak meja dengan keras. Dia gusar. "Tidak mungkin! Orang awam pun tahu bahwa video ini tidak ada isinya! Ini hanya rekaman jalanan biasa!"


"Val, tenanglah!" pinta Celine. Dia tahu kalau sahabatnya satu ini akan kehilangan kesabarannya. "Daniel memang terekam di beberapa titik--"


"Tapi dia tiba-tiba menghilang. Seperti ditelan bumi," potong Valeda. Matanya membulat ketakutan.


Celine duduk di sofa ruang kerja Valeda. Dia duduk tegak. Punggungnya tidak bisa rileks. "Kamu sendiri tahu, seberapa besar pengaruh orang itu, kan? Dia bisa melakukan hal gila apapun untuk mendapatkan keinginannya."


Valeda menyeka rambutnya ke belakang. Otaknya tidak bisa berpikir. Tiba-tiba saja dia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Dia tahu pasti bahwa Daniel tidak baik-baik saja. Tapi, yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah berdiri di depan meja kerjanya.


"Kita harus meminta bantuan orang lain. Kita tidak bisa menyelesaikan ini berdua saja. Bahkan, Kris tidak akan terlalu berguna," usul Celine.


Valeda melirik Celine dengan tatapan tajam. "Bantuan siapa yang kamu maksud, Cel?" bisiknya. Tentu saja ada satu orang yang terlintas di benaknya, meskipun Valeda enggan untuk mempercayai dugaannya.


"Ayahmu," jawaban itu meluncur cepat dari mulut Celine. "Tuan Suherman," Celine menegaskan jawabannya.


"Kamu gila?" sindir Valeda seraya tersenyum getir. Dia sama sekali tidak terpikir bahwa Celine akan menjawab dengan jelas seperti itu dan menyebut nama ayahnya. Meskipun Valeda ingin, tapi bagaimana bisa dia meminta bantuan itu, padahal sejak awal ayahnya menentang hubungan mereka.


Celine menghela nafas panjang. "Val, kita tidak bisa berkutik. Orang itu terlalu kuat. Atau, dia terlalu gila untuk kita."


Valeda jatuh terduduk di kursinya. Kursi senilai jutaan rupiah itu tidak mampu membuatnya merasa nyaman. Dia memijit-mijit keningnya. Valeda mencoba memikirkan sebuah cara. Dia tahu, semakin lama dia membuang waktu, nyawa Daniel akan semakin terancam.


Tok! Tok! Tok!


Pintu ruangan Valeda diketuk untuk kedua kalinya. Valeda menahan nafas selama beberapa detik, sementara Celine membeku di tempat duduknya.

__ADS_1


Celine menoleh pada Valeda. Tatapan matanya menyiratkan pertanyaan apakah dia harus membuka pintu atau tidak. Valeda tidak bergeming untuk beberapa saat. Dia takut membuka pintu tapi tidak mendapati Daniel di sana.


"Bukan Daniel," bisik Celine. "Rangga."


Valeda menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. Dengan perasaan campur aduk, akhirnya Valeda berdiri dari kursinya dan berjalan lambat menuju pintu ruangannya. Celine Ikut berdiri ketika Valeda tiba di depan pintu. Tangan pucat Valeda bergetar ketika meraih gagang pintu. Dia menahan nafas ketika pintu terbuka.


"Hai, Cinta!" Sapaan itu akan terdengar biasa saja jika Daniel tidak menghilang. Tapi, kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya kali ini membuat bulu kuduknya meremang.


Valeda berusaha untuk tersenyum seperti biasa. "Hai, Rangga!" sapanya balik. Valeda bersyukur karena suaranya tidak bergetar. "Tumben kamu ke sini tanpa memberi kabar dulu. Ada apa?" sambung Valeda.


Rangga melirik Celine yang diam saja di tempatnya. "Apakah kamu punya banyak pekerjaan, hingga masih ada di kantor bersama sekretarismu hingga selarut ini?"


"Ya, begitulah. Banyak hal yang harus aku kerjakan," Valeda menjawab dengan ambigu.


Rangga beralih kembali pada Valeda. "Kamu sudah makan? Aku kebetulan lewat kantormu, jadi aku sekalian mampir. Kamu pasti belum makan."


Ada keraguan ketika Rangga mengajaknya pergi. Valeda sedikit takut. Namun, dia tahu bahwa keraguannya akan membuat Daniel dalam masalah. Valeda menguasai dirinya dengan cepat. "Celine, bisa kamu bereskan sisanya? Dan juga minta Kris Untuk mengantarmu pulang."


"Tapi, Val--" Celine mencoba menghentikan, tapi Rangga yang tiba-tiba berbalik membuatnya bungkam.


"Apakah ada pekerjaan lain yang sangat penting saat ini?" tanya Rangga dengan nada sinis.


Celine menggeleng pelan. Semenjak Valeda mencurigai Rangga, Celine menjadi agak takut dengan tatapan mata Rangga.


"Aku sudah membuat reservasi di restoran kesukaanmu," Rangga memulai percakapan ketika lift sudah sampai di basement. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Rangga. Karena tidak ada jawaban dari Valeda, Rangga melanjutkan percakapannya. "Aku punya kejutan untukmu sesampainya kita di restoran," ujar Rangga seraya tersenyum simpul. Senyuman yang membuat Valeda merasa takut.


Mereka menghabiskan waktu sekitar empat puluh lima menit untuk tiba di restoran. Selama perjalanan, Valeda tidak banyak bicara. Pikirannya melayang ke Daniel yang menghilang.


"Kamu masih memikirkan Daniel?" tanya Rangga sembari menarik rem tangan setelah dia memarkir mobilnya. Rangga menoleh dengan wajah serius. "Kenapa kamu bisa sampai menyukai orang seperti itu?" lanjut Rangga.


Valeda membalas tatapan Rangga dengan berani. "Memangnya ada apa dengan Daniel?" balas Valeda. "Dia laki- laki yang baik dan menyenangkan. Selain itu, dia pintar dan tekun dalam bekerja. Tidak ada yang kurang darinya."


"Status sosial, Cinta," potong Rangga. "Semua orang tidak akan begitu menentangnya, jika Daniel juga berasal dari keluarga terpandang."


Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Valeda. Dia ingin berteriak pada Rangga untuk mengembalikan Daniel sekarang juga. Tapi dia mengurungkan niatnya yang menggebu itu. Valeda tahu, hal itu hanya akan merugikan Daniel dan dirinya. "Apa kamu tahu, apa alasanku merintis usahaku sendiri?" Valeda bertanya setengah berbisik. "Agar aku bisa bebas menentukan jalan hidupku, tanpa harus bersaing dengan ketiga kakakku."


"Tapi ayahmu hanya menginginkan kamu, Cinta," Rangga masih ngotot. "Bagi ayahmu, hanya kamu harapannya. Apa kamu tega membuang keluargamu demi laki - laki yang baru kamu kenal?"


" Aku tidak membuang keluargaku," sanggah Valeda.


Rangga menghela nafas panjang. Dia tampak menyerah dengan Valeda yang keras kepala. "Kita akhiri pembicaraan ini di sini. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu. Aku tidak mau merusaknya." Rangga keluar dari mobil, kemudian berjalan memutari mobilnya untuk membukakan Valeda pintu. Tapi, sedetik sebelum Rangga meraih daun pintu, Valeda sudah membuka pintu mobil terlebih dahulu.

__ADS_1


Rangga tidak berkomentar mengenai hal itu. Mungkin dia merasa tidak enak hati telah membuat Valeda kesal. Rangga mengikuti langkah Valeda masuk ke dalam restoran yang sebenarnya adalah restoran favorit Valeda. Dia menyukai menu penutup di sana.


Saat melewati pintu masuk restoran, Valeda teringat bahwa dia pernah mengajak Daniel ke sini sekali. Rasanya sudah lama sekali semenjak dia melihat Daniel. Mata Valeda membulat ketika melihat meja yang ada di dekat jendela. Daniel pernah duduk di sana bersamanya.


"Val!" Suara yang terdengar familiar itu membuat Valeda menghentikan langkahnya.


Pandangan Valeda menyapu seluruh ruangan, lalu menemukan Nyonya Emily duduk di tengah ruangan. Wajah ibunya itu tampak cerah. Valeda tahu, ada yang membuat ibunya sebahagia itu. Valeda ragu untuk mendekati Nyonya Emily, sampai dia merasakan sebuah dorongan pelan dari belakangnya.


"Kejutan," ucap Rangga dengan suara pelan. Kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah lengkungan yang menawan.


Tenggorokan Valeda tercekat. Dia merasa sebuah kain menyumpaI tenggorokannya dengan tiba-tiba. 'Apa yang mereka rencanakan?' batin Valeda. Jantungnya semakin berdebar kencang, setiap kali dia melangkah mendekati Nyonya Emily.


"Duduklah, Val," Nyonya Emily membuka pembicaraan, begitu Valeda tiba di hadapannya. "Rangga akan membicarakan sesuatu yang penting dengan kita."


Valeda duduk dengan perlahan, seolah kursi itu akan patah olehnya. Dirinya tetap awas dan dia siap melarikan diri kapanpun dia merasa terancam.


Sementara Valeda merasa was-was dengan apa yang akan terjadi, Rangga duduk di sebelah Valeda dengan santai. Rangga tampak ingin memperlunak suasana dengan sikapnya.


"Mau bicara apa?" tanya Valeda.


"Aku ingin menikahimu, Val," jawab Rangga.


Mata Valeda membulat sempurna. Mulutnya menganga saking kagetnya dengan apa yang Rangga katakan barusan. Valeda bahkan tidak bisa membalas perkataan Rangga.


"Anak yang ada di dalam kandunganmu, walaupun itu bukan anakku, aku berjanji akan merawatnya dengan baik. Aku akan membesarkannya seperti membesarkan anakku sendiri." Rangga menggenggam tangan Valeda yang duduk mematung di kursinya. "Percayalah padaku, Cinta," sambung Rangga.


Valeda menarik tangannya. Keningnya berkerut. "Tidak!" sahutnya tegas. "Tidak!" ulangnya. "Daniel akan bertanggung jawab."


Rangga tersenyum sinis. "Dia bahkan tidak ada di sini."


"Val, Mama mohon dengarkan Mama," Nyonya Emily bersuara. "Mama setuju dengan apa yang Rangga katakan. Rangga sudah berbaik hati mau bertanggung jawab atas kandunganmu. Tidak akan ada laki-laki sebaik Rangga."


"Val tidak meminta Rangga untuk bertanggung jawab!" Valeda menjadi emosi. "Val akan menunggu sampai Daniel kembali!"


"Jangan egois!" bentak Nyonya Emily. Dia tidak berniat untuk kalah dari Valeda. "Perutmu tidak akan sekecil itu selamanya! Daniel tidak akan mampu mengurusmu yang berbadan dua!"


BRAK!!!


Valeda menggebrak meja sambil berdiri. "Daniel lebih dari kata mampu," desis Valeda. Air mata mulai mengalir melewati pipinya. "Aku akan membesarkan anakku bersama Daniel."


Senyuman dari wajah Rangga menghilang. Air mukanya menjadi serius. "Benarkah?" tanya Rangga, terdengar sangsi. "Dia tidak akan kembali," lanjutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2