
Valeda memutuskan untuk tidak menantang Daniel lebih jauh lagi. Valeda menangkap pandangan serius yang Daniel lemparkan.
"Apa kamu benar tidak mau sarapan denganku?" tanya Valeda sekali lagi.
"Bukan tidak mau. Tapi aku sudah sarapan. Aku mau mengerjakan beberapa hal lagi di kantor. Lalu ada kelas nanti sore." Daniel melepas tangan Valeda. "Jangan atur AC terlalu dingin dan makanlah yang banyak!" pesan Daniel sebelum benar-benar meninggalkan Valeda sendirian lagi di apartemennya.
Mood Valeda menjadi buruk. Daniel pergi begitu saja. Mereka bahkan belum berbaikan dengan benar.
"Ya! Terserah padamu! Memangnya apa yang penting dari hubungan kita!" seru Valeda kesal, walau Daniel sudah pergi jauh dan tidak mungkin mendengarnya.
Valeda kembali ke kamar untuk mengganti baju. Dia akan bersolek secantik mungkin hari ini. Valeda memutuskan untuk menikmati hari liburnya dan melupakan masalah yang timbul karena seorang Daniel. Dia memilih dress mini berwarna merah muda kesukaannya sebagai penutup. Lalu, pergi ke luar apartemennya.
"Ah ya... Aku menyuruh Kris pergi," gumam Valeda ketika dia sampai di lobi apartemennya. Valeda mengeluarkan handphone-nya dan menghubungi seseorang untuk menjemputnya. "Siapa tahu dia senggang," kata Valeda.
Lama Valeda menunggu, hingga akhirnya teleponnya tersambung pada orang yang dituju. "Hai, Cinta! Tumben kamu telepon?" sapa orang di seberang.
"Pagi, Rangga," Valeda balas menyapa. "Maaf kalau aku mengganggu. Apa kamu sedang sibuk?" tanya Valeda.
"Tidak jika itu untukmu."
Jawaban Rangga membuat mood Valeda naik. Sahabatnya itu memang bisa diandalkan. Valeda tahu, meskipun dia tidak bertanya apakah Rangga sedang sibuk atau tidak, Rangga akan datang menghampirinya kapanpun Valeda mau. Dan Valeda pun akan melakukan hal yang sama untuk sahabatnya itu.
"Aku sedang cuti," Valeda memulai. "Ka--"
"Aku akan ke sana. Beri aku waktu sepuluh menit," potong Rangga.
"Oh, apa kamu ada di sekitar apartemenku?" tanya Valeda.
"Ya. Kebetulan aku sedang membeli sesuatu di sekitar tempatmu. Tunggu aku, ya!"
Valeda tersenyum kecil. "Oke." Valeda menyimpan kembali handphone-nya ke dalam tas. Dia pergi ke sofa yang ada di dekat pintu keluar dan memutuskan untuk menunggu Rangga di sana.
Saat melamun dan membiarkan pikirannya pergi ke mana pun yang dia suka, rasa bersalah tiba-tiba menghampiri Valeda.
"Tunggu! Ini tidak seperti aku sedang berselingkuh dengan Rangga, kan?" gumamnya sambil mengusap-usap dagu runcingnya. "Tidak, tidak! Aku dan Daniel sejak awal memang tidak punya hubungan khusus, jadi tidak ada salahnya bertemu sahabatku sendiri," Valeda meyakinkan keputusannya.
(Sepuluh menit kemudian...)
__ADS_1
"Cinta!" Rangga memanggil dari pintu masuk apartemen begitu melihat Valeda di sana.
Valeda menarik pandangannya dari majalah di tangannya dan mendongak ke arah pintu masuk. "Hai, Rangga!" sapanya balik, lalu menaruh majalah ke tempatnya semula. Valeda buru-buru menghampiri Rangga. "Wow! Kamu benar-benar datang dalam sepuluh menit!" puji Valeda.
Rangga menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah. "Buat kamu, bunga kesukaanmu," kata Rangga.
Valeda menerimanya dengan senang hati. 'Anak ini memang jago membuat perasaanku membaik,' batin Valeda senang. "Makasi, Ga. Repot-repot segala."
"Jadi, kamu minta aku ke sini untuk apa?" tanya Rangga.
Valeda tertawa pelan mendengarnya. "Kamu tidak berubah, ya? Selalu datang dengan tergesa-gesa padaku, walau kamu tidak tahu alasannya."
"Aku takut kamu berubah pikiran. Jadi aku datang secepat mungkin." Rangga akhirnya sadar dengan penampilan Valeda. "Kamu dandan?" tanyanya. "Apa kamu mau aku mengantarmu ke tempat pacarmu? Tapi bukankah kalian satu kantor? Apa ini semacam kejutan?"
"Kamu terlalu banyak bertanya, Ga!" Valeda meninju pelan lengan Rangga. "Ayo, temani aku sarapan!" Valeda berjalan duluan menuju mobil Rangga yang terparkir di depan lobi.
Rangga segera menjajarkan langkahnya dengan Valeda, kemudian membukakan Valeda pintu. "Silakan," ujarnya.
Valeda langsung masuk ke dalam mobil. "Terima kasih," jawabnya.
Mobil Rangga melaju ke tempat yang Valeda sebutkan untuk menikmati sarapan pagi yang lumayan terlambat. Selama perjalanan, Valeda tidak banyak bicara. Dia memandang ke luar jendela, kembali melamun.
"Kamu ada masalah?" tanya Rangga.
"Masalah apa yang bisa menggangguku?" jawab Valeda datar.
Rangga menarik rem tangan dan menoleh pada perempuan di sebelah kirinya. "Daniel."
Valeda menoleh ketika Rangga menyebut nama Daniel. "Kenapa dia menjadi masalah untukku?" tanya Valeda.
"Daniel tidak suka padaku, kan?" tebak Rangga, meski dia tidak memerlukan jawaban dari Valeda. Rangga tahu kalau hal itu sudah pasti. "Dari awal bertemu, dia tidak suka padaku."
"Aku rasa tidak begitu," kilah Valeda.
Rangga tertawa pelan. "Ya, dia begitu," Rangga meyakinkan. "Dia seperti akan menerkamku jika aku membawamu pergi." Rangga mengusap kepala Valeda. "Tidak aku sangka, kamu akan menemukan seseorang secepat ini."
Valeda menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bisa mengatakan tentang rahasia kontraknya pada Rangga sekalipun. Rangga memang sahabatnya, namun bisa saja itu menjadi bumerang dalam rencananya. Valeda ingin menyimpan ini baik-baik.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak bisa mengatakan kalau dia orang yang baik. Aku tidak mengenalnya," tambah Rangga. "Apa kamu mau membicarakan Daniel?"
Valeda menggeleng. "Tidak. Aku sedang tidak ingin membicarakan dia."
"Oooh, rupanya kalian sedang ada masalah," Rangga menarik kesimpulan.
Valeda tidak bisa mengatakan masalah yang sebenarnya. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia curiga tentang bekas luka bakar di leher Daniel.
"Awal pacaran memang susah, tapi akan berlalu kalau cinta di antara kalian memang kuat," Rangga memberi saran.
"Kamu pintar bicara. Sudah berapa perempuan yang menjadi korban gombalmu?" tanya Valeda sambil terkikik geli. Seingat Valeda, Rangga tidak pernah memiliki kekasih apalagi pacaran.
"Begini-begini, aku mencintai dengan tulus," sahut Rangga.
"Benarkah?" Valeda menjadi sangsi. "Siapa perempuan itu? Kamu tidak pernah cerita tentang dia."
"Itu urusan laki-laki. Tidak ada gunanya kamu tahu siapa dia," Rangga mengusap kepala Valeda lagi.
Valeda menepis tangan Rangga. "Hei, aku menata rambut hampir setengah jam!" protesnya. "Tapi, Ga, aku bisa membantumu untuk mendapatkan perempuan itu."
Rangga menghela napas. "Cintaku sudah menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan selama bertahun-tahun. Aku ingin membiarkannya begitu."
"Apa!? Bertahun-tahun dan aku tidak tahu apapun!?" cicit Valeda. "Artinya aku mengenal perempuan ini, kan? Kita bersama sejak kecil. Aku pasti tahu siapa dia."
"Ya, kamu memang tahu siapa dia. Tapi, jangan berusaha membantuku!" perintah Rangga. "Sekarang ini, kita harusnya fokus pada dirimu, Cinta. Kamu memanggilku di saat cuti, artinya kamu memerlukan pelampiasan untuk mengubah mood-mu, kan?"
Valeda sadar kembali akan masalahnya. Dia bersandar lesu di kursi mobil seraya menghela napas. "Kamu benar. Aku harusnya bersenang-senang hari ini."
"Hmmm, setelah makan, ayo pergi ke kebun binatang. Lalu makan siang bersama. Setelah itu kita bisa mencoba rafting."
"Tapi aku memakai dress," keluh Valeda.
"Kita bisa membeli pakaian yang cocok untukmu nanti." Rangga menepi di restoran langganan Valeda. "Hari ini, bersenang-senanglah! Aku akan mengambil banyak foto untuk kenang-kenangan."
Valeda menggenggam tangan Rangga. "Terima kasih. Kamu sahabat terbaikku."
Rangga tersenyum lebar. "Ya, aku tahu."
__ADS_1
***