DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
66. Pengganggu


__ADS_3

Valeda, Celine, dan Daniel, duduk bertiga mengitari meja di tengah ruang kerja Valeda. Sofa empuk yang memanjakan pantat mereka, tidak bisa membuat tubuh mereka rileks.


Daniel membaca dengan serius, kertas yang ada di tangannya. Sudah hampir sebulan semenjak dia masuk rumah sakit. Keadaannya dapat dipastikan sudah baik-baik saja. Tapi, Daniel masih menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan, agar mengurangi tekanan di kedua kakinya. Bagaimanapun, saraf di punggungnya yang terluka lebih lama pulih ketimbang perdarahan di kepalanya. Namun dokter mengatakan bahwa Daniel akan baik-baik saja.


"Kapan surat ini datang?" tanya Daniel.


Valeda meminta Kris untuk menjemput Daniel dari panti asuhannya, bukanlah tanpa sebab yang jelas. Valeda harus membicarakan mengenai hal penting, tapi tidak ingin didengar oleh siapapun. Hanya kantornyalah yang menjadi tempat paling aman untuk sekarang ini.


"Beberapa hari setelah kamu masuk rumah sakit," jawab Celine. "Surat ini ditemukan oleh salah satu security yang sedang berjaga di panti asuhan. Maaf, Daniel, aku memeriksa semua surat yang masuk sebelum menyerahkannya kepada Jingga."


Daniel menggeleng. "Tidak apa. Aku mengerti tujuan perbuatanmu," jawab Daniel maklum. "Aku bersyukur ini tidak ditemukan oleh adik-adikku, seperti waktu kejadian kecelakaan dulu."


Valeda bernapas lega. Dia sempat khawatir kalau Daniel akan marah karena Celine memeriksa barang pribadinya. Untung saja Daniel mengerti.


Daniel menyibak rambutnya ke belakang. Dia sebenarnya sudah tahu kalau hal ini akan terjadi. Orang yang mencelakainya sedang marah saat ini, karena Daniel tetap melancarkan balas dendamnya.


"Apa kamu baik-baik saja? Apa aku perlu menambah penjagaan di panti asuhan?" tanya Valeda.


Daniel menggeleng. "Celine, bisa aku minta waktu berdua dengan Valeda?" pinta Daniel.


"Baiklah," Celine menjawab cepat. Dia kemudian berlalu begitu saja dari ruangan Valeda.


Daniel berdiri, kemudian duduk di sebelah Valeda. "Hei, aku dengar, sahabatmu itu beberapa kali ke sini, ya?" bisik Daniel.


Kening Valeda berkerut. "Rangga maksudmu?" dia balik bertanya. "Dia mampir karena khawatir aku kesusahan. Kamu dan adik-adikmu saat itu dirawat."


"Kalian melakukan apa saja?"


Mendengar hal itu, Valeda menjadi marah. "Apa maksudmu!?" cicitnya. "Aku dan Rangga hanya berteman! Kami hanya mengobrol dan makan bersama!"


Daniel mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup Valeda sekilas. Valeda tertegun. Amarahnya ada di ujung lidah, namun dia tidak bisa melewatkan bagaimana manisnya sikap Daniel saat ini.

__ADS_1


"Ap—" Valeda tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Daniel sudah ******* bibirnya dengan ganas. Valeda merasakan suhu tubuhnya meningkat dengan cepat. Dia tidak peduli dengan lipstiknya yang dirusak oleh Daniel.


Daniel menangkupkan kedua tangannya di leher Valeda. Dia menyalurkan semua gairahnya kepada Valeda. Betapa bahagianya Daniel, ketika Valeda menyambutnya dengan senang hati.


Daniel menarik tubuhnya. Dia hampir kehilangan akal sehatnya. Jantung Daniel sudah membuat kepalanya berdengung. Dia menunduk, memandang Valeda yang mendongak padanya. Tubuh perempuan itu juga sepanas dirinya, seakan siap menerima apapun yang akan Daniel lakukan.


Kedua manik mata Valeda bergetar. Air mata tergenang di pelupuk matanya. Bukan karena sedih, namun karena ketagihan dengan keahlian Daniel memainkan lidahnya.


"Val... Kamu cantik sekali..." bisik Daniel. Waktu dia sudah dapat mengendalikan libido laki-lakinya, Daniel kembali mengecup Valeda. Dia mengulum bibir Valeda lebih intens dari sebelumnya. Dia ingin memberikan kenikmatan yang sama dengan apa yang dia rasakan.


"D-Dan..." suara Valeda bergetar ketika Daniel melepasnya. Napas Valeda memburu. Keringat mengucur dari pelipisnya.


Daniel ganti mengecup leher Valeda. Dia berhenti sejenak, membiarkan Valeda merasakan hangat bibirnya dan deru nafas Daniel yang tidak kalah cepatnya. Daniel berusaha mati-matian agar tangannya tidak menggerayangi Valeda. Bagaimana pun, dia adalah laki-laki normal. Diberi 'lampu hijau' dari orang yang dia sukai, membuat akalnya menjadi tidak sehat.


"Val..." bisik Daniel.


Valeda menelan ludahnya dengan susah payah.


"Val, dengarkan aku," bisik Daniel lagi.


"Jika ada yang datang nanti, siapapun itu, jangan percaya. Beraktinglah yang bagus dan jangan memasukkan apapun ke mulutmu," desis Daniel di telinganya, kemudian tanpa diduga Daniel mengulum telinga Valeda.


"Nggg," Valeda menggigit bibir bawahnya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan serangan mendadak dari Daniel lagi. Tangannya meremas kemeja Daniel. "D-Dan... Lukamu..." Valeda mencoba menghentikan Daniel.


"Sebentar lagi..." bisik Daniel.


Napas mereka yang memburu saling bersahut-sahutan di tengah ruangan Valeda. Valeda tidak mengerti maksud Daniel, namun tidak memiliki kesempatan untuk bertanya karena sibuk menjaga kesadarannya tetap ada. Dia sudah hampir pingsan dibuat Daniel.


BRAK!!!


Valeda terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu ruangannya terbuka dengan kasar. Namun, ternyata Daniel tidak sepanik dirinya. Sekilas, Valeda dapat melihat wajah Daniel yang tersenyum.

__ADS_1


Daniel mendongak dari balik punggung sofa. "Wah, wah, wah, lihat siapa yang merusak kencanku?" kata Daniel. Kali ini, senyuman tadi sudah tergantikan dengan wajah cemberut yang merasa terganggu. Entah kenapa, Valeda tahu kalau Daniel sedang berakting.


Ketika Daniel menarik tubuhnya dari atas Valeda, dia buru-buru membenahi pakaian dan rambutnya. "Astaga! Aku perlu kaca!" gumam Valeda panik, karena yakin dirinya sangat berantakan saat ini.


Daniel menangkup pipi Valeda, memaksanya untuk balas memandang Daniel. "Tunggu sebentar," pinta Daniel. Dengan jari-jemarinya yang panjang, Daniel membenahi rambut Valeda. Tangannya lihai dalam melakukan hal itu, berhubung dia memiliki banyak adik perempuan. "Hei," Daniel memandang melewati Valeda, ke arah orang yang datang. "Kami sedang sibuk. Kalau tidak ada hal penting, silakan keluar. Jika ada yang penting, duduklah sampai kami selesai," kata Daniel.


Brak!


Pintu tertutup dengan kasar. Suara langkah kaki terdengar memenuhi ruangan Valeda, lalu disusul suara gesekan seseorang yang duduk di sofa yang Valeda punggungi.


"Maaf, aku membuatmu berantakan seperti ini," Daniel meraih tissue, kemudian mengusap ujung bibir Valeda. "Apakah ini lipstik baru? Warnanya berbeda, begitupun dengan rasanya."


Wajah Valeda menjadi merah padam mendengar pertanyaan Daniel. Dia memejamkan matanya dan mengangguk sekali. Dia tidak bisa melihat Daniel secara langsung, jantungnya akan meledak karena hal itu.


"Cantik... Kamu cantik sekali..." puji Daniel. Daniel menyelesaikan pekerjaannya dengan menyampirkan rambut panjang Valeda ke bahunya. "Nah, Tuan Putri-ku sudah siap," kata Daniel.


Valeda tersenyum malu mendengar Daniel menyebutnya seperti hak milik. "T-terima kasih..." jawabnya gugup.


"Jadi, aku sudah boleh menyela?" orang yang duduk di belakang Valeda akhirnya berbicara.


Valeda menoleh cepat dan menyadari siapa yang datang. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Valeda.


"Aku kebetulan lewat. Jadi sekalian mampir. Tapi, kalian sedang apa di kantor?" sahut Rangga.


Daniel tertawa pelan. "Maaf, salahku," jawabnya. "Aku tidak bisa menahan kerinduanku pada Valeda. Aku ini laki-laki biasa."


Rangga mengerutkan keningnya. "Ternyata kamu bukan laki-laki yang bisa aku percaya untuk mendampingi Valeda."


Daniel ganti melihat Valeda. "Apakah aku melakukan yang lebih dari ciuman?" tanya Daniel.


Valeda menggeleng malu. Ini hal baru baginya dan masih sangat memalukan walau hanya mendengarnya.

__ADS_1


"Aku masih belum melewati batas. Aku juga ingin melakukan malam pertama kami di tempat yang layak," ujar Daniel sambil nyengir.


***


__ADS_2