
"Kamu juga harus lihat kerennya tim basket kampus ini, Dan!" perempuan yang duduk memunggungi Valeda, menepuk punggung Daniel. "Atau, kamu mau masuk tim basket lagi? Waktu sekolah, kamu ikutan, kan?"
"Hmm, sepertinya aku cuma akan fokus ke nilai akademik saja," jawab Daniel.
'Uuugh! Kenapa Daniel tidak menepis tangan perempuan itu,' gerutu Valeda di dalam hati.
"Kenapa? Kamu suka olahraga, kan? Buktinya, badanmu masih bagus seperti dulu!" puji perempuan itu sambil mengusap-usap lengan Daniel.
Valeda menggigit bibir bawahnya. 'Aku bahkan belum pernah menyentuh lengan Daniel itu!' Valeda berseru di dalam hati.
"Hehehe, kamu kayak orang kebelet pipis, Val," sindir Celine yang juga ikut mengintip.
"Ehem!" Valeda menegapkan tubuhnya. "Ayo, kita samperin mereka!"
"Ooh, sudah tidak takut lagi?" tanya Celine.
"A-apanya yang harus aku takutkan?" dusta Valeda, walau sebenarnya dia merasa ciut karena Daniel tampak akrab dengan perempuan di sebelahnya itu. Ada sedikit rasa takut di pikiran Valeda, kalau nanti Daniel lebih berpihak pada perempuan itu. "Aku yakin, perempuan itu kalah jauh jika dibandingkan denganku!"
"Hmmm, begitu?" Celine terdengar sangsi. "Ayo, kita ke sana!"
Valeda mendengus keras sebelum mulai melangkah, menghampiri Daniel yang duduk bersama seorang perempuan di kantin kampus.
"Daniel!" panggil Valeda.
Daniel langsung menoleh ketika mendengar suara Valeda di belakangnya. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Daniel.
Perempuan di sebelahnya ikut berbalik. Rambutnya yang sepanjang pinggang, bergerak indah ketika dia menoleh. Valeda yakin, perempuan itu menghabiskan banyak biaya untuk merawat rambutnya yang indah.
Entah kenapa, waktu melihat wajah perempuan yang duduk di samping Daniel, Valeda langsung tahu siapa perempuan itu. Dia seperti mendapat ilham dari Yang Maha Kuasa tentang kebenaran yang Daniel ucapkan.
"Temanmu, Dan?" tanya perempuan berwajah oval itu.
'Waaaah! Lihatlah betapa mulusnya wajah perempuan ini," batin Valeda. Dia tidak bisa berbohong kalau menurutnya, perempuan itu sangat cantik.
"Bukan, dia pacarku," jawab Daniel.
Dada Valeda langsung membusung ketika mendengar apa yang keluar dari mulut Daniel. 'Ya! Memang begitu harusnya kamu bicara!' puji Valeda di dalam hati.
"Astaga! Jadi benar, kamu pacaran sama anak konglomerat itu?" perempuan itu tampak terkejut, tapi Valeda tahu bahwa itu hanya pura-pura.
'Kenapa aku sebal dengan wajah cantiknya, ya?' pikir Valeda dengan wajah tertekuk.
__ADS_1
Perempuan itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya. Valeda makin sebal saat melihat bentuk tubuh perempuan itu. Dia tidak setinggi Valeda, namun memiliki dada dan pantat yang besar--senjata mematikan untuk kaum adam.
"Hai, aku Berlian!" sapanya.
'Sudah kuduga,' batin Valeda. Dari awal, dia sudah bisa menebak siapa perempuan itu. Valeda mengangkat dagunya. Ini pertama kalinya dia merasa tidak ingin kalah dari seorang perempuan dalam hal laki-laki. "Valeda," dia menyambut uluran tangan Berlian.
"Aku satu sekolah sama Daniel waktu SMA dulu. Kita kebetulan bertemu dan nostalgia bersama," lanjut Berlian.
Valeda tersenyum simpul. "Termasuk nostalgia sebagai mantan?" tanyanya.
Berlian terkikik pelan, seolah pertanyaan itu bukanlah apa-apa. Jelas terlihat kalau dia tidak peduli apakah Valeda cemburu atau tidak padanya. Rupanya, kepercayaan diri dan nyali Berlian lebih besar dari perkiraan Valeda.
'Ha! Tentu saja dia bersikap seperti itu! Lihatlah bagaimana cantik dan menggodanya perempuan satu ini!' pikir Valeda. 'Kebetulan yang mengesalkan!'
"Dan, kamu sampai dijemput begini, pasti pacarmu sayang banget sama kamu, ya?" Berlian menyenggol lengan Daniel seraya tersenyum manis, membuat Valeda muak.
Daniel melirik jam tangannya sebelum menjawab. "Sepertinya karena aku terlalu lama meninggalkan kantor. Pasti itu menjadi masalah untuknya saat memerlukanku," jawab Daniel.
"Ah, maaf! Apa aku penyebabnya? Aku yang memaksa kamu untuk berkeliling kampus dan makan bersama," Berlian bergelayut manja di lengan Daniel.
"Hahaha," Daniel melepas rangkulan Berlian di lengannya. "Tidak apa. Terima kasih sudah mengantarku berkeliling. Maaf karena sampai sore begini."
"Aku tidak janji. Aku kuliah di sini hanya karena rekomendasi dari Valeda," jawab Daniel. "Sudah sore, lebih baik kamu pulang sekarang, Li," kata Daniel.
"Oke, deh! Nanti aku akan hubungi kamu, Dan," jawab Berlian, masih dengan gaya genitnya yang sok dekat dengan Daniel.
Daniel menggeleng pelan. "Hubungi aku jika perlu saja. Aku tidak mau membuat Valeda cemburu."
"Apa? Aku? Cemburu? Hahaha!" Valeda tertawa renyah.
"Jadi, aku boleh saling berkirim pesan dengan Berlian walau tidak ada yang penting?" tanya Daniel.
"Terserah padamu!" Valeda berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Celine buru-buru mengikuti. Belum jauh mereka berjalan, Kris tiba-tiba muncul. Kris tidak berani membuka mulut karena melihat nonanya berwajah masam. Dia ikut berbalik dan mengekor di belakang Celine.
"Darimana saja kamu?" bisik Celine pada Kris.
"Toilet," jawab Kris. "Apa ada yang aku lewatkan?"
"Nanti saja kita bahas. Cepat buka pintu mobil untuk Val!" desis Celine.
Kris berlari mendahului Celine dan Valeda, kemudian membukakan pintu mobil untuk Valeda. Valeda langsung masuk dan menutup pintu mobil dengan kasar.
__ADS_1
Celine yang tahu kalau Valeda sedang marah, urung untuk duduk di sebelahnya. Dia menyusup di kursi depan, di sebelah Kris yang akan mengemudi. Setidaknya, jika Valeda ingin menjambak rambut seseorang, Celine aman dari jangkauannya.
"Kris, kamu bisa minta Daniel pulang dengan mobil kantor kita?" kata Celine sebelum Kris masuk ke dalam mobil.
"Baik," jawab Kris. Dia segera menghampiri Daniel yang berjalan mendekat dengan santai.
Valeda melihat Kris bicara dengan Daniel sejenak. 'Lihatlah bagaimana santainya dia! Ya, kami memang tidak punya hubungan apapun dan jika dia bicara dengan Berlian, itu terserah padanya!' gerutu Valeda di dalam hati.
Tidak lama kemudian, Kris kembali ke mobil Valeda. Valeda membuang muka saat mobilnya mulai melaju dan melewati Daniel yang masih diam berdiri di tempatnya.
Detik demi detik berlalu. Valeda tidak bersuara sama sekali, membuat Celine semakin curiga. Sementara Kris hanya bisa berkonsentrasi dengan setirnya.
"Val..." Celine membuka percakapan.
"Apa?" ketus Valeda dari kursi belakang.
"Kenapa kamu semarah ini pada Daniel?"
Valeda menelan ludah dengan susah payah. "Apa aku kelihatan marah?" Valeda balik bertanya.
"Ya. Sangat marah." Celine mendongak ke belakang. "Apa Daniel sebegitunya mengganggumu?"
"Dia tidak menggangguku!" seru Valeda kesal.
Celine menghela napas panjang. "Val, jujur padaku..." pintanya. "Apa kamu menyukai Daniel?"
"Hah!? Apa!? Tentu saja tidak!" seru Valeda dengan wajah gugup.
"Benar-benar tidak menyukainya?" Celine memastikan.
"Aku menyukainya hanya sebagai rekan kerja!" Valeda menegaskan. Tapi dia sendiri tahu, kalau ucapan itu dia tujukan pada dirinya sendiri.
Celine membalas tatapan Valeda dengan penuh rasa curiga. "Kamu ingat, kan, apa syarat pertama dari kontrakmu dengan Daniel?"
"Ya. Aku ingat. Dilarang jatuh cinta," jawab Valeda.
"Aku tahu kontrak itu akan berakhir jika kamu menemukan laki-laki yang cocok. Tapi, kalau laki-laki itu adalah Daniel, apa kamu yakin, Daniel dan keluarganya akan mampu menanggung harapan orang-orang terhadap mereka? Kamu bukan sembarang orang, Val. Semua mata tertuju padamu."
"Ya, aku tahu. Aku tidak akan membuat orang baik seperti Daniel kesusahan karena diriku. Kamu bisa tenang." Valeda membuang pandangan ke luar jendela mobil. Valeda lebih memilih melihat kendaraan yang berpapasan dengan mobilnya, daripada membalas tatapan sahabatnya yang penuh rasa curiga.
***
__ADS_1