
Valeda mengunyah steak sapi di mulutnya secara perlahan. Dia menikmati setiap gigitan yang masuk. Lidahnya seakan kembali merasakan makanan yang dulu sangat dia sukai.
"Apakah kamu selalu makan dengan pelan seperti ini?" tanya Rangga. Dia memasukkan sesendok penuh nasi merah ke dalam mulutnya.
Valeda menelan makanannya. "Tidak. Hari ini, aku hanya ingin menikmati makanan yang sudah lama tidak aku makan," jawab Valeda.
Rangga mengulurkan tangan, menyeka ujung bibir Valeda dengan tissue. "Sudah lama?" ulangnya. "Bukankah tempat ini adalah restoran favoritmu?"
Valeda tersenyum tipis. "Dulunya..." ucapnya lirih. "Sekarang, aku terbiasa dengan masakan yang Daniel buat."
"Aku mendengarnya dari Celine. Rupanya Daniel benar-benar jago dalam hal memasak, ya?"
Valeda mengangguk. "Aku harap, kamu juga bisa merasakan masakannya."
"Hahaha!" Rangga malah tertawa. "Dia akan memilih memberiku racun daripada membuat perutku terisi."
"Ga, kenapa kamu berpikiran buruk terhadap Daniel?" Valeda akhirnya bertanya, karena Daniel pun melarangnya untuk menyebut nama Rangga. Daniel dan Rangga terlihat seperti sedang perang dingin.
"Aku tidak berpikiran buruk," jawab Rangga dengan nada kalem. Dia menyeruput lemon tea-nya banyak-banyak. "Kami hanya melakukan peran kami masing-masing."
Alis Valeda mengkerut. "Peran? Peran seperti apa yang kamu maksud?" Valeda tidak mengerti dengan apa yang Rangga katakan.
Rangga melipat tangannya di atas meja. "Peran sebagai laki-laki yang ada di sekitarmu," kata Rangga.
"Jangan berkata yang tidak jelas! Cepat jelaskan apa maksudmu!"
"Tenanglah, Cinta..." pinta Rangga. "Jadi, Daniel bersikap seperti itu padaku, karena dia mau menjaga otoritasnya terhadap kamu. Dia ingin menegaskan bahwa kamu adalah miliknya dan aku harus menjaga jarak."
"Karena alasan itu, kamu mengambil langkah untuk menjauh dariku?" Valeda memastikan. Valeda sadar, kalau Rangga tidak sedekat dulu dengan dirinya. Valeda memiliki banyak waktu untuk dirinya dan Daniel tanpa kehadiran Rangga. Padahal, sebelum Valeda dan idenya untuk pura-pura pacaran muncul, Rangga akan selalu menempel padanya.
Rangga mengangguk. "Aku berusaha menghormati pilihanmu. Aku percaya, kamu tidak akan salah memilih orang, apalagi seseorang yang akan ada di sampingmu untuk waktu yang lama."
"Daniel tidak akan lama berada di sisiku," gumam Valeda.
"Apa maksudmu?" rupanya Rangga mendengar gumaman Valeda dengan jelas. "Apakah dia melakukan kesalahan yang tidak bisa kamu maafkan?"
Valeda menghela napas panjang. "Aku tidak tahu," jawab Valeda. "Aku merasa dia dekat dan juga jauh."
Rangga tersenyum geli melihat Valeda galau. "Aku dengar, dia mulai kuliah?"
"Bagaimana kamu tahu?" Valeda terkesiap.
__ADS_1
"Aku tahu banyak apapun yang berhubungan dengan sahabatku," Rangga berkata dengan sombongnya. Valeda hanya menanggapinya dengan cibiran. Valeda tahu, pasti diam-diam Rangga bertanya pada Celine atau Kris. "Biar aku tebak. Kamu bisa menjawab dengan 'ya' atau 'tidak' saja."
"O...ke..." jawab Valeda lambat-lambat.
"Apa kamu menyukai Daniel?"
Valeda menyilangkan jarinya di bawah meja. "Ya," jawabnya.
"Apa kamu khawatir saat dia pergi ke kampus?" Rangga menatap Valeda lekat-lekat.
Valeda tidak berani berkedip. Dia sadar dengan sikapnya tempo hari, ketika dia tergesa-gesa menyusul Daniel ke kampus. "Ya..." jawab Valeda dengan suara pelan.
"Pertanyaan selanjutnya, akan menjadi sedikit pribadi. Kalau kamu tidak nyaman untuk membicarakannya, kamu bisa bilang padaku," Rangga memperingatkan.
Valeda mengangguk. Dalam hati, Valeda mengira-ngira kalau yang akan Rangga bicarakan adalah masalah perempuan. Entah kenapa, hal itu yang paling Valeda pikirkan.
"Apa..." Rangga bicara lambat-lambat, "...Daniel tidak sengaja bertemu dengan mantan pacarnya di kampus?"
"Kenapa kamu tahu semuanya!?" seru Valeda kaget. "Kamu pasti mengikutiku, kan?"
Rangga terbahak melihat wajah Valeda yang cengak. "Hahahaha! Lihatlah wajah kagetmu sekarang! Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat!" tawanya.
Valeda melipat tangan di depan dada dengan wajah ditekuk. "Aku tidak mau membicarakannya!"
"Lalu, apa kamu juga tahu tentang kejadian kemarin?" tanya Valeda.
Rangga mengangguk. "Celine menceritakan garis besarnya. Aku akan mengatakannya secara sederhana, karena aku pernah mengalaminya."
"Apa?"
"Kamu sedang cemburu pada Daniel," Rangga berkata dengan pandangan lurus.
"Hahahahaha!" Valeda tertawa. "Aku? Cemburu?"
"Tidak usah menyangkalnya. Itu terlihat jelas di wajahmu," kata Rangga.
Valeda terdiam. Dia memikirkan kata-kata Rangga dengan serius. Dia sadar akan tingkahnya yang kekanakan jika menyangkut masalah Daniel. Rasa amarah yang muncul ketika Daniel bersama Berlian, juga membuat Valeda tahu kalau itu adalah rasa cemburu.
'Tapi, aku tidak boleh cemburu padanya, kan? Kami hanya bersama karena terikat kontrak. Kalaupun Daniel kembali pada Berlian, itu tidak ada hubungannya denganku,' pikir Valeda.
"Aku tidak mau membicarakan tentang perasaanku," jawab Valeda.
__ADS_1
"Oke, kita akhiri masalah perasaanmu yang sedang kacau itu," Rangga mengangkat gelasnya.
"Ngomong-ngomong, kamu pasti tahu tentang kejadian saat aku masih tiga tahun, kan?" Valeda mengubah topik pembicaraan.
Rangga meletakkan gelasnya, lalu mengusap bibirnya dengan tissue. "Kejadian apa maksudmu?" tanya Rangga.
"Kejadian di rumah kaca," jelas Valeda.
Rangga meneliti ekspresi yang Valeda tampilkan untuk sesaat. "Aku berjanji pada Oom Suherman untuk tidak membicarakannya denganmu," jawab Rangga akhirnya.
"Aku ingin membicarakannya," timpal Valeda.
"Mendengarmu bicara begini, artinya kamu tidak ingat bagaimana usaha ayahmu membuatmu melupakan kejadian mengerikan itu."
"Aku sudah siap mendengarnya sekarang," desak Valeda.
Rangga masih terlihat segan membicarakan hal yang membuat sahabatnya trauma. Namun, melihat Valeda yang keras kepala, membuat Rangga menyerah. "Tapi, jika kamu merasa tidak baik-baik saja, kita akan mengakhiri pembicaraan kita dan aku tidak akan mau mengungkitnya lagi," ancam Rangga.
Valeda mengangguk setuju. "Baiklah. Aku mengerti," jawab Valeda. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi hari itu?"
Rangga menghela napas dengan berat hati sebelum menjawab. "Kamu pergi ke rumah kaca dengan temanmu yang akan memberikan kado," Rangga memulai
"Siapa nama anak itu?"
Rangga mengusap dagunya. "Verdinant, kalau tidak salah," jawab Rangga.
"Kenapa dia mengajakku ke rumah kaca hanya untuk memberikan kado?" tanya Valeda.
Rangga mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Saat kejadian itu, Oom Suherman sangat marah lalu mengusir Verdinant dan ayahnya yang datang ke pesta. Tidak ada yang pernah mendengar alasan anak itu. Oom Suherman melepas mereka dengan syarat mereka tidak akan pernah muncul lagi di hadapan kalian. Aku dengar, kontrak dengan perusahaannya juga diputus."
"Lalu?"
Rangga menatap langit-langit restoran. "Kamu trauma terhadap api. Setiap melihat api, kamu seperti anak kecil gila. Siapapun akan menjadi seperti itu jika melihat kobaran api besar di depan matanya."
"Bagaimana dengan anak yang bernama Verdinant?" Valeda ingin mencocokkan cerita ayahnya dan Rangga.
"Dia menyelamatkanmu dari sana. Tapi, dia sendiri mengalami luka serius. Aku tidak begitu ingat, tapi luka itu pasti akan membekas sampai dia dewasa."
Valeda mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Dia berusaha sekeras mungkin untuk terlihat baik-baik saja di depan Rangga. "Luka di bagian mana?"
"Leher dan bahunya."
__ADS_1
***