
"Kamu yakin?" Valeda meremas dress-nya. Tangannya mulai berkeringat. Valeda berusaha keras agar dia tidak terlihat gugup di depan Rangga. Dia tidak mau Rangga sampai menyadari kalau dirinya hampir pingsan. Jika Rangga tahu, pembicaraan mereka akan berakhir.
Rangga memijit keningnya. "Aku rasa, aku cukup yakin. Kalau tidak salah, baju anak itu sampai robek. Luka bakar terlihat di bahu sampai ke lehernya. Mungkin karena terkena sesuatu yang jatuh. Kita semua tidak pernah tahu. Anak itu benar-benar menghilang dari hadapan kita."
Valeda memejamkan mata. Kepalanya terasa pening. Dia mendapat kilasan ingatan lagi. Ingatan saat Verdinant tersenyum lembut padanya, kemudian memberikan sekuntum bunga mawar kesukaan Valeda. Lalu, ingatan itu menghilang, digantikan ingatan lain di mana Valeda duduk bersama Verdinant sambil menikmati es krim.
"Cinta?" panggil Rangga. "Kenapa? Apa kepalamu sakit lagi?"
Valeda membuka mata, kemudian menggeleng pelan. "Aku mencoba mengingat apa yang terjadi," dusta Valeda.
Rangga menatapnya dengan tatapan menyelidik. "Lalu, apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Rangga.
"Tidak. Aku tidak bisa mengingat apapun. Coba ceritakan lebih banyak!" Valeda memutuskan untuk tidak menceritakan apapun pada siapapun. Sebenarnya, Valeda sendiri tidak yakin dengan apa yang terjadi. Dia hanya sedikit curiga karena Daniel mengatakan soal balas dendam tempo hari. Namun, Valeda belum menemukan bukti apapun dan Daniel tidak melakukan apapun selain perannya.
"Apa lagi yang ingin kamu tahu?" Rangga balik bertanya.
"Apa hanya aku dan Verdinant yang pergi ke rumah kaca?" tanya Valeda. Dia tidak akan curiga kalau Rangga menjawab kalau dia tidak ingat tentang hal itu. Bisa saja Rangga tidak melihat saat mereka pergi ke rumah kaca, atau Rangga tidak ingat karena terlalu fokus dengan kejadian kebakaran itu. Bagaimanapun, saat kebakaran itu terjadi, Rangga seumuran dengannya. Tidak mungkin dia mengingat semuanya dengan jelas.
"Ya, hanya kalian berdua."
"Kamu yakin?" Valeda memastikan.
Rangga mengangguk. "Aku yakin. Aku melihatnya sendiri."
Valeda menggigit bibir bawahnya. 'Kenapa dia seyakin itu, sementara dia tidak begitu ingat tentang luka Verdinant?' batin Valeda. "Sudahlah... Aku tidak mau membicarakannya lagi sekarang," putus Valeda. Ada banyak hal yang tidak sesuai dengan ingatannya yang kembali. Dia juga tidak bisa membicarakan hal ini terlalu lama, karena kepalanya semakin sakit.
"Kamu baik-baik saja? Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Rangga.
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir," Valeda berusaha melemparkan sebuah senyuman pada Rangga yang duduk di depannya. 'Rangga pasti tidak percaya kalau aku baik-baik saja. Aku harap, ada hal lain yang mengalihkan perhatiannya,' doa Valeda di dalam hati.
"Wah, siapa ini yang aku temui?"
Valeda menoleh ke belakang saat mendengar sapaan dari suara orang yang sangat familiar di telinganya. Benarlah dugaannya ketika melihat ibunya berjalan mendekat.
"Selamat siang, Tante Emely!" sapa Rangga.
__ADS_1
"Boleh Tante bergabung?" tanya Nyonya Emely.
Rangga mengangguk. "Tante tidak usah meminta izin untuk hal itu," jawab Rangga. "Aku dan Cinta tidak keberatan."
Nyonya Emely duduk sambil tersenyum lebar. "Tante selalu merasa senang setiap kali kamu menyebut panggilan sayang untuk Valeda," ujar Nyonya Emely.
"Itu sudah menjadi kebiasaan. Sulit bagiku untuk mengubahnya," jawab Rangga. "Tante ke sini untuk makan siang?"
"Ini terlalu cepat untuk makan siang," jawab Nyonya Emely. "Tante ke sini untuk cemilan."
Rangga mengangkat tangan, memanggil seorang pelayan yang berdiri di dekat mereka. "Silakan pesan, Tante. Biar aku yang traktir."
"Seperti biasa," ujar Nyonya Emely ketika seorang pelayan menyodorkan menu padanya. Pelayan itu langsung mengerti karena Nyonya Emely adalah pelanggan tetap di restoran, lalu segera pergi untuk bicara dengan koki restoran. "Tidak apa. Kali ini, biar Tante yang mentraktir kalian. Rangga, kamu terlalu sering menyogok Tante dengan makanan. Tante akan terlihat gemuk saat konferensi pers nanti."
"Konferensi pers?" tanya Valeda.
"Apa kamu belum mendengarnya dari ayahmu? Kita akan melakukan konferensi pers mengenai kakakmu, Lucas," jawab Nyonya Emely.
"Tentang istri dan anak Kak Lucas?"
Valeda terkejut dengan kalimat terakhir yang Nyonya Emely katakan. "Pernikahan siapa?"
"Apa kamu pikir, Mama akan menyerah begitu saja setelah kamu memiliki Daniel?" tanya Nyonya Emely. "Sampai detik ini pun, Mama tetap tidak setuju dengan Daniel. Mama akan mencarikan calon suami yang pantas untuk berdiri di sebelahmu."
"Daniel adalah orang yang pantas, Ma," sambar Valeda. "Dia baik dan sayang pada Val."
Pelayan yang tadi datang kembali dengan nampan berisi cake dan jus stroberi di atasnya. "Silakan, Nyonya," kata pelayan itu waktu semua pesanan sudah tersedia di atas meja.
Nyonya Emely menjawabnya dengan senyuman kecil dan mengangguk sekali. Dia menunggu hingga pelayan itu pergi sebelum menjawab pernyataan Valeda. "Dia tidak pantas, Val."
Valeda mengepalkan tangan di atas meja. "Apa yang membuatnya tidak pantas?" Valeda bersikeras.
"Kamu harus mengerti, Val," Nyonya Emely mengaduk jus stroberi di depannya. "Sebagai seorang perempuan, kita akan terlihat kuat jika ada di samping orang yang memiliki status tinggi. Dengan cara itu, kita akan dipandang." Nyonya menyeruput jusnya perlahan.
Valeda baru akan membuka mulut, ketika Rangga memberi isyarat untuk tidak melawan. Valeda menelan protesnya mentah-mentah.
__ADS_1
"Tante, kalau aku bagaimana?" tanya Rangga tiba-tiba.
"Bagaimana apanya?" Nyonya Emely menyendok sepotong kecil cake ke dalam mulutnya.
Rangga tersenyum lebar. "Kalau aku yang menjadi pasangan Valeda, bagaimana menurut Tante?"
"Hm!" Nyonya Emely meletakkan sendoknya dan bertepuk tangan dengan semangat. "Tante akan sangat setuju!" jawabnya dengan nada ceria. Wajah Nyonya Emely menjadi cerah. Awan mendung yang tadi menyelimutinya saat bicara dengan Valeda, menguap begitu saja.
"Mama! Val dan Rangga itu saudara," Valeda mengingatkan.
Nyonya Emely menghela napas sambil menatap Valeda dengan tatapan kecewa. "Kamu merusak imajinasi Mama, Val," gerutu Nyonya Emely. "Yah, terlepas dari itu, kalian memang saudara. Meskipun sepupu, apa tidak ada cara untuk kalian bersama?"
"Mama!" cicit Valeda. Dia merasa tidak enak pada Rangga karena Nyonya Emely bersikap seperti itu di depan Rangga. "Rangga, tidak usah ditanggapi!"
Rangga tertawa melihat Valeda yang panik sendiri. "Hahaha! Kamu lucu kalau sedang gugup begini," ujar Rangga.
"Jangan meledekku!" Valeda mendelik pada Rangga.
"Tapi, aku tidak keberatan jika harus menikah denganmu, Val," tambah Rangga.
Valeda tertegun selama beberapa saat, menilai apakah ucapan Rangga serius atau hanya gurauan agar Nyonya Emely tidak membuat Valeda terpojok lagi.
"Tante bisa bayangkan, bagaimana suksesnya kami nanti. Aku bisa katakan, kalau kami berdua adalah pasangan yang tidak terkalahkan jika bersama," Rangga menoleh pada Nyonya Emely.
"Kamu benar!" Nyonya Emely setuju dengan perkataan Rangga. "Kalian adalah pasangan paling serasi yang pernah Tante lihat. Andaikan kalian bukan saudara."
"Tidak usah membicarakan ini lagi, Ma," pinta Valeda. "Rangga memiliki orang yang dia sukai."
Nyonya Emely menoleh cepat pada Rangga. "Benarkah? Apa Tante tahu siapa orangnya? Ibumu tidak pernah menceritakan perempuan itu pada Tante," aku Nyonya Emely.
"Itu hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, Tan," jawab Rangga dengan nada lirih. "Sepertinya, aku belum menjadi laki-laki yang cukup baik untuk ada di dalam pandangannya."
Rangga melirik Valeda yang diam. Valeda menyadari bagaimana Rangga mencuri pandang padanya. Ada kesadaran yang tidak wajar muncul di kepala Valeda.
***
__ADS_1