DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
76. Jalan


__ADS_3

Daniel sudah panik saat Rangga bergerak mendekati Valeda. Dia tidak bisa berkutik untuk menyelamatkan kekasihnya itu. Memohon pada Rangga pun tidak akan berguna.


"Kenapa kamu ingin menyingkirkan anak Daniel?" tanya Kris.


Rangga berhenti di tempatnya. "Aku akan melakukan apapun untuk melindungi Valeda," jawab Rangga enteng.


"Heh, melindungi, ya?" cibir Kris. "Bukankah kamu berjanji akan membesarkan anak itu seperti anak kandungmu sendiri?"


"Darimana kamu mendengar hal sebodoh itu?" Rangga balik bertanya. "Mana mungkin aku mau merawat anak musuhku? Lebih baik aku menyingkirkannya selagi bisa, 'kan?"


"Selain pembunuh, ternyata kamu adalah pembohong," geram Celine. "Aku mengenal orangtuamu, dan mereka adalah orang baik dan bijak. Aku tidak menyangka kalau mereka memiliki anak sekeji dirimu."


Kris bergerak mendekati Celine, berjaga-jaga bila nanti Rangga gelap mata dan malah melampiaskannya pada Celine. "Aku setuju dengan perkataanmu, Cel. Pantas saja Nona Valeda tidak menyukai orang ini. Aku bersyukur Nona Valeda masih diberi akal sehat."


"Hahahaha! Kalian kompak sekali!" Rangga menyibak rambutnya ke belakang. Tanpa peringatan, pukulan melayang lagi ke dagu Kris. "Tapi, aku akan membuatnya bertekuk lutut di hadapanku. Kalian lihat sendiri, apa yang aku mau akan terlaksana. Begitulah duniaku berjalan."


"Aku akan membuatmu merasakan karma dari perbuatanmu," sahut Kris marah. "Mereka semua adalah orang yang berarti bagiku dan kamu telah melukai mereka."


"HAHAHAHAHA!!!" Rangga terbahak hingga air matanya keluar. "Lucu sekali perkataanmu! Harusnya kamu melihat posisimu dulu sebelum mengeluarkan kata-kata yang tidak bertanggung jawab seperti itu." Rangga menyeka air mata yang muncul di ujung matanya. "Memangnya orang miskin sepertimu bisa apa? Bukankah kamu yang paling tahu, betapa kejamnya dunia ini bagi orang-orang sepertimu?"


Kris membalas tatapan mata Rangga dengan berani. Sedikitpun tidak ada rasa takut yang tergambar di dirinya. Hal itu membuat Rangga sedikit kesal dan ingin memberikan pelajaran agar Kris tunduk padanya.


Rangga berpaling pada salah satu anak buahnya. "Aku rasa, pukulan sekeras apapun tidak akan berpengaruh pada Kris. Cari keluarganya dan siksa mereka satu-satu. Bila perlu, buat ayahnya cacat!"


"BERANINYA KAU-" Kris tidak melanjutkan kalimatnya, karena bagi Kris tidak ada makian yang sebanding untuk mendeskripsikan betapa iblisnya hati Rangga.


"Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum berkata apapun tentangku," Rangga memperingatkan. Rangga berlutut di sebelah Valeda yang masih diam tergeletak di lantai. Celine mendorong Rangga dengan bahunya, namun segera disingkirkan oleh dua orang anak buah Rangga.


Rangga merangkul Valeda yang lemas ke dalam pelukannya. Daniel dan Celine memanggilnya berkali-kali, berharap Valeda sadar. Namun Valeda tidak kunjung membuka mata.


BRAK!!!


Suara pintu gudang yang menjeblak terbuka dengan kasar, membuat semua terperanjat kaget. Mata semua orang tertuju pada segerombolan laki-laki berjas hitam yang menyeruak masuk ke dalam ruangan. Merasa bahwa yang masuk baru saja bukanlah orang-orangnya, Rangga langsung memerintahkan anak buahnya menyerang.


Baku hantam belum sempat terjadi karena orang berseragam polisi masuk ke dalam gudang satu-persatu. Semua anak buah Rangga mundur dengan teratur. "APA YANG KALIAN LAKUKAN!? HAJAR MEREKA SE-" Rangga tiba-tiba terdiam. Matanya melotot saat melihat orang terakhir yang masuk.

__ADS_1


"Akhirnya..." Kris jatuh terduduk di sebelah Daniel. Dia menoleh pada Daniel yang masih bingung dengan perubahan keadaan secara mendadak itu. "Tadi, waktu aku menutup pintu, aku menghubungi Tuan Suherman dan meletakkan handphone-ku di dekat pintu. Setidaknya, Tuan Suherman mendengar pembicaraan kita tadi."


Daniel mengerjap tidak percaya dengan apa yang Kris katakan. "Apa kamu merekamnya juga?"


Kris tersenyum lebar. "Tentu saja. Aku tidak akan melewatkan momen berharga seperti tadi. Ini tidak akan terulang dua kali di dalam hidup kita," jawabnya sambil nyengir.


Rangga berjalan mendekati Tuan Suherman, masih dengan Valeda di dalam pelukannya. "Oom, aku akan menjelaskan semuanya!" katanya cepat.


Tuan Suherman hanya diam. Pandangannya melekat pada Valeda yang tidak sadarkan diri.


"Va-Valeda baik-baik saja, Oom," sambar Rangga. "Aku akan membawanya ke rumah sakit dan memastikan dia tidak terluka sedikitpun!"


Tuan Suherman menoleh ke salah satu laki-laki berbadan besar yang ada di dekatnya, kemudian mengangguk sekali. Laki-laki itu segera merebut Valeda dari tangan Rangga. Kemudian, empat orang polisi menghampiri Rangga dan membekuknya.


"Oom! Oom, dengarkan aku dulu!" pinta Rangga sambil meronta. "Aku melakukan hal ini karena aku mencintai Valeda! Bukankah Oom juga tidak setuju dengan pilihan Valeda? Valeda tidak akan bisa bahagia jika bersama laki-laki lemah dan tanpa kekuasaan seperti Daniel!"


Tuan Suherman tidak mengindahkan perkataan Daniel. Beliau berdiri di hadapan anaknya. Tuan Suherman membelai pipi Valeda yang bengkak. Rasa sakit yang luar bisa menguasai dirinya. Anak yang paling Beliau sayangi menjadi seperti ini dan dia tidak bisa melakukan apapun.


Dua orang petugas medis yang membawa tandu segera membawa Valeda pergi dari gudang itu. Setelah memastikan bahwa anaknya sudah ditangani oleh orang yang tepat, Tuan Suherman menghampiri Kris, Celine, dan Daniel. Tiga orang laki-laki berjas hitam tengah membantu mereka untuk membuka ikatan di tangan dan kaki.


"Kalian tidak apa-apa?" Tuan Suherman berbasa-basi.


Arah mata Tuan Suherman berpaling pada Daniel. "Maaf karena kamu harus melalui ini," ujarnya.


"Saya terima maaf dari Tuan," jawab Daniel.


Tuan Suherman menghela nafas panjang. "Hal seperti ini sungguh tidak terduga. Kamu tetap tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk melindungi putriku."


Semua terdiam. Kris dan Celine menoleh panik pada Daniel. Setelah apa yang mereka lalui, Daniel masih saja ditentang oleh ayah Valeda. Tapi, Daniel merasa tenang. Dia sendiri juga sadar bahwa tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk Valeda. Menjaga dirinya sendiri saja sulit, apalagi menjaga seorang putri konglomerat yang baik hati dan lugu.


"Jika kamu ingin bersama Valeda, kamu harus menerima bantuanku. Kamu harus memegang kuasa dan memperkuat pertahananmu. Aku melepas Valeda tidak untuk disakiti siapapun," tambah Tuan Suherman.


Kris dan Celine melongo mendengar pernyataan Tuan Suherman. Rasa senang memenuhi diri mereka. Semenjak mereka mengenal Daniel, mereka tidak pernah bisa menemukan laki-laki lain yang lebih cocok untuk menjadi pendamping hidup Valeda.


Tidak lama kemudian, Daniel juga diangkat menggunakan tandu. Mereka semua dikirim ke rumah sakit untuk menerima perawatan yang diperlukan. Daniel menutup matanya tanpa rasa takut untuk pertama kali. Dia meyakinkan dirinya untuk bangun di kemudian hari, lalu melihat Valeda di sisinya.

__ADS_1


***


Aroma obat dan pemutih bercampur aduk menjadi satu memenuhi paru-paru Daniel. Dia membuka matanya secara perlahan. Sinar lampu yang terang membuatnya silau.


"Daniel! Tunggu, tunggu! Aku akan panggilkan dokter!"


Suara yang sangat familiar membuat Daniel sadar. Pandangannya masih buram, namun dia tahu siapa yang tadi ada bersamanya. Semakin lama, pandangan matanya makin membaik. Dia ada di dalam ruangan rumah sakit. Warna putih memenuhi matanya.


"Dokter, cepat!" pinta suara itu lagi. Ternyata Valeda masuk kembali ke dalam ruangan dengan seorang dokter di belakangnya. "Daniel sudah bangun! Dia sadar!"


Dokter paruh baya berjas putih menghampiri Daniel. Beliau mengeluarkan senter, kemudian memeriksa reflek pupil Daniel. Beberapa detik berlalu, Beliau menggunakan stetoskop di lehernya dan memeriksa suara nafas Daniel. "Kita harus melakukan beberapa pemeriksaan tambahan untuk mengetahui kondisi terbaru pasien," kata dokter pada Valeda. "Namun, ini adalah hal bagus bahwa dia akhirnya sadar setelah tiga hari."


Valeda tersenyum lebar mendengar perkataan dokter itu. "Terima kasih, Dok!" jawabnya cepat.


Dokter itu hanya mengangguk dan berlalu. Valeda ambruk di sisi Daniel. Dia menangis tersedu-sedu. "Daniel..." panggilnya dengan suara bergetar. "Daniel... Terima kasih... Terima kasih sudah sadar..."


Daniel ingin bangun, tetapi dia tidak memiliki kekuatan. Jadi, dia hanya menggerakkan tangannya untuk membelai kepala Valeda. "Va-uhuk, uhuk!" suara Daniel tidak mau keluar.


Valeda bangkit, segera meraih botol minuman di sebelah tempat tidur Daniel. Dia menyodorkan botol itu agar Daniel membasahi tenggorokannya dengan air terlebih dahulu, tanpa bersusah payah menghapus air mata dan ingusnya.


Daniel tersenyum geli melihat keadaan Valeda. Dia meneguk air itu tiga kali, kemudian mencoba mengatur nafasnya. Dadanya masih terasa sakit. Kepalanya berdenyut sesekali.


"Jangan terlalu banyak bergerak," Valeda memberi nasehat. "Ada empat tulang rusukmu yang patah. Lalu, dokter memberimu lima belas jaritan di kepala. Tulang lengan kirimu juga patah. Tapi kamu tidak usah khawatir. Aku akan merawatmu sampai sembuh!"


Daniel terkekeh. "Terima kasih, Val," jawabnya. "Maaf sudah merepotkanmu."


Valeda menggeleng dengan bersemangat. Daniel yang melihatnya sampai takut kalau kepala Valeda terlepas dari lehernya. "Kris dan Celine sedang membeli makan siang. Kamu mau sesuatu?" tawarnya.


"Aku rasa, aku belum mendapatkan izin untuk makan apa yang aku mau," tolak Daniel. "Val, apa kamu tahu kondisi adik-adikku?"


"Semuanya sudah aku tangani. Mereka tidak aku perbolehkan datang ke sini karena mereka heboh dan malah mengganggu pasien lain. Tapi, aku bisa memastikan bahwa tidak ada satu halpun yang aku lewatkan tentang mereka."


Daniel melihat kesungguhan di mata Valeda. "Syukurlah... Terima kasih, Val..."


"Jangan mengatakan terima kasih terus," tolak Valeda.

__ADS_1


Daniel menatap Valeda lurus-lurus. "Apa kamu mau menikah denganku?" tanyanya.


***


__ADS_2