
Valeda bersandar di kursi kerjanya sambil membaca ulang koran hari ini. Seulas senyuman manis terpatri di bibir merahnya. Hari ini, suasana hatinya sedang baik.
Koran di tangannya sudah dia baca berkali-kali. Dia bahkan hafal dengan apa yang ditulis tentang dirinya di koran itu.
Seperti yang dia harapkan, acara api unggun kemarin malam akan menjadi berita heboh hari ini. Berita tentang bagaimana dirinya menerima seorang laki-laki biasa untuk menjadi kekasihnya. Tidak sampai di situ, dia bahkan menerima seluruh anak panti asuhan tanpa terkecuali.
Valeda meletakkan koran ke atas meja. Ide gila terlintas di kepalanya untuk membingkai artikel tentang dirinya dari koran itu.
"Celine," panggil Valeda.
Celine yang duduk di sofa sambil merapikan berkas, mendongak karena namanya disebut Valeda. "Kenapa?"
"Ada tiga orang anak di Panti Asuhan Matahari Terbit yang akan masuk kuliah. Apa aku bisa lakukan sesuatu?" tanya Valeda.
Celine memasukkan berkas yang sudah dia rapikan ke dalam tas hitam yang selalu dia bawa. "Tiga orang anak yang mendapatkan beasiswa itu?" Celine memastikan.
"Iya, mereka," jawab Valeda.
"Mungkin fasilitasi hal-hal yang tidak ditanggung oleh beasiswa yang mereka terima?" usul Celine.
Valeda mengusap dagunya yang runcing. "Bentuk tim untuk mencari tahu apa yang mereka butuhkan dan apa saja kegiatan mereka. Aku tidak bisa membiarkan semuanya diurus olehmu," perintah Valeda.
"Oke, gampang," timpal Celine. "Mau pulang sekarang?"
Valeda melirik jam tangannya sekilas. "Ayo!" jawabnya sambil berdiri karena melihat jam sudah menunjukkan pukul enam sore.
"Mmm, Val..."
Valeda mengangkat alisnya, melihat Celine menunduk dengan wajah merah. "Ada apa? Kamu sakit?" tanya Valeda.
"Bu-bukan," jawab Celine gugup. "Mmm, boleh aku ikut mobilmu?"
__ADS_1
"Hah? Kenapa perlu bertanya segala? Bukannya kamu sering ikut?" Valeda tidak mengerti. "Malah aneh kalau kamu nggak bareng aku, padahal apartemen kita ke arah yang sama."
Celine bergerak gelisah, membuat Valeda semakin tidak mengerti. "A... Apa kali ini kerjaan kita sudah beres?"
"Celine," Valeda berkata lembut. "Kamu jangan bicara berputar-putar seperti sekarang. Kamu hanya membuang-buang waktumu, karena aku tidak akan mengerti."
Celine masih terlihat agak gugup setelah mendengarnya. "Begini... Aku ada janji makan malam dengan seseorang..." ujar Celine lambat-lambat.
"Dengan Kris?" terka Valeda cepat.
Celine menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum malu. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus.
"Hahahaha!" Valeda terbahak mendengar sahabatnya yang seperti mengaku bahwa dia mengompol di celana. "Sejak awal aku sudah mengatakan bahwa aku setuju dengan hubungan kalian, kan?"
"Tapi, kalau masih ada kerjaan yang belum beres, aku bisa membatalkan makan malamku," kata Celine buru-buru. Dari awal, dia sudah berjanji pada Valeda untuk mendedikasikan dirinya dalam pekerjaan dan Celine ingin menepati hal itu.
Valeda mengeluarkan smartphonenya dan menghubungi seseorang. Celine dibuatnya diam mematung untuk tiga detik. "Kris," sapa Valeda begitu telepon diangkat. "Hari ini tidak usah mengantarku pulang. Bersenang-senanglah!" Valeda langsung menutup telepon begitu selesai bicara.
"Val, tidak usah seperti itu!" rengek Celine. "Masih pukul enam sore. Kris bisa mengantarmu pulang dulu."
Valeda tidak bisa membiarkan temannya berpenampilan biasa saja untuk kencan, apalagi dengan Kris. Sudah sejak awal Valeda ingin melihat kedua temannya itu bersama. Akan baik rasanya melihat mereka menyatu, lalu Valeda akan memiliki keponakan-keponakan yang lucu.
"Hihihi," Valeda terkikik, geli sendiri dengan imajinasinya yang membayangkan Kris dan Celine menikah lalu memiliki anak-anak yang lucu.
Dia masuk ke dalam lift, lalu memencet tombol ground floor. Valeda bersandar di dinding lift sementara lift terus bergerak turun. Hanya butuh waktu tiga menit untuknya mencapai ground floor, berhubung kantor sudah sepi dan tidak ada yang menghentikan laju liftnya.
Valeda tidak langsung memesan taksi ataupun jemputan online seperti yang biasa dia lakukan jika Kris berhalangan, melainkan berjalan pelan menikmati hembusan angin sore.
Matahari sudah tenggelam di ufuk Barat dunia, hanya menyisakan semburat warna jingga di langit. Warna romantis yang indah jika kalian sedang jatuh cinta.
Valeda menggerakkan kakinya selangkah demi selangkah. Tumitnya berdenyut nyeri karena dia sudah berjalan cukup jauh dengan menggunakan high heels.
__ADS_1
Dia berhenti di sebuah halte bus. Valeda duduk untuk beristirahat dan meluruskan kakinya. Tidak ada orang di sekitarnya yang menunggu bus datang. Valeda bersandar di kursi panjang dan menutup matanya. Dia menikmati hembusan angin dan riuhnya suara kendaraan yang lalu-lalang di depannya.
Belum lama Valeda duduk di halte, bunyi klakson membuatnya terlonjak kaget. Valeda menoleh ke sana-sini untuk mencari sumber suara.
Sebuah mobil pick up berhenti di hadapan Valeda. Dari jendela yang terbuka, Daniel mendongakkan kepalanya. "Val, sedang apa di sini?" sapa Daniel.
Valeda berdiri dan menghampiri Daniel yang masih di dalam mobil. "Aku habis jalan-jalan," jawab Valeda. Dia memperhatikan Daniel lagi. "Ah! Jaketmu!" Valeda baru teringat tentang jaket Daniel, karena saat ini Daniel memakai topi yang sama dengan yang dia kenakan tempo hari saat menolong Valeda.
"Tidak usah dipikirkan," sahut Daniel. "Kamu mau pulang sekarang? Di mana Kris?" Daniel celingukan mencari sosok Kris yang tidak terlihat.
"Dia sedang kencan dengan Celine." Valeda melirik ke box pick up yang Daniel bawa. "Kamu dari mana?"
"Antar sayuran," jawab Daniel singkat. Matanya yang hitam memandang Valeda tanpa berkedip, membuat Valeda menahan nafasnya tanpa sadar. "Kakimu terlihat lelah. Mau aku antar sampai apartemenmu?"
Valeda mengangguk saja, kemudian memutar untuk duduk di sebelah Daniel. Bau sayuran segar mempengaruhi mood Valeda dan juga perutnya yang keroncongan.
"Kamu sudah makan?" tanya Daniel sambil menginjak pedal gas.
"Belum," jawab Valeda.
"Aku ada waktu untuk buatkan kamu makan malam," kata Daniel. "Boleh aku mampir?"
"Boleh!" jawab Valeda antusias. Tawaran Daniel membuat perutnya semakin bereaksi, meronta minta diberi makan. "Kamu jago masak. Kamu juga jago dalam hal keuangan. Kalau kamu sekolah lagi, kamu mau ambil jurusan apa?"
"Hmmm..." Daniel berpikir sejenak. "Keduanya sama menguntungkannya bagiku. Menurutmu, yang mana?" Daniel balik bertanya.
"Ambil keduanya, bisa?" tawar Valeda. "Aku sudah membentuk tim khusus untuk mengurus apa yang anak-anak panti asuhan perlukan. Mereka akan melapor pada kita berdua, jadi kamu bisa memastikan bahwa kebutuhan adik-adikmu terpenuhi dengan sempurna."
Daniel menangkap tangan Valeda. Dia menoleh sekilas sambil tersenyum. "Berkat kamu, hidup adik-adikku terjamin. Aku akan lakukan apapun untuk membalas kebaikanmu."
Valeda menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat, membuat suaranya tidak bisa keluar. Jantungnya berdebar tidak karuan.
__ADS_1
'Benar kata Kris, senyuman Daniel sungguh berbahaya,' batin Valeda.
***