
"Apa?" tanya Valeda. Telinganya berdenging sekaligus seperti tersumbat. Dia bisa mendengar Rangga memekik pelan di belakangnya, namun juga tidak bisa mendengar ayahnya yang mendengus kesal di depannya. Senyuman lebar dari Daniel tidak menjelaskan apapun. Sedetik lalu dia mengatakan hal lain ketika bertemu Rangga di kantornya, kemudian detik ini dia malah mengatakan bahwa Valeda tengah hamil.
Kepala Valeda berputar cepat. Senyuman Daniel memang menawan, namun Valeda harus tahu posisi mereka sekarang. Daniel bilang akan memancing seseorang, entah siapa itu. Perkataan Daniel yang sekarang, pastinya ada hubungannya dengan rencana yang dia miliki. Daniel tidak mungkin bicara omong kosong secara sembarangan.
Valeda menelusuri wajah Daniel. Dia tersenyum lebar nan menawan, tapi ada yang berbeda dengan sinar matanya. Itu bukan tatapan yang menyatakan kebahagiaan, tapi kewaspadaan. Valeda cepat menangkap situasi.
"Kamu berbohong!" Rangga bersuara.
Daniel menoleh ke belakang Valeda, di mana Rangga berdiri tidak jauh dari sofa berwarna hitam yang Daniel duduki. Daniel meneliti wajah Rangga. Dia tahu, bahwa Rangga dan Tuan Suherman bukanlah orang yang bodoh. Tentu saja mereka tidak langsung percaya dengan apa yang dia katakan. Namun, dia telah berhasil membuat Tuan Suherman kalut. Beliau sangat menyayangi putri semata wayangnya itu. Putrinya adalah satu-satunya anak Tuan Suherman yang "waras" dan memiliki kepintaran yang setara mengenai bisnis.
"Kamu berjanji tidak akan menyentuh Cinta!" Rangga berseru. Dia tidak bisa menyembunyikan nada marah di dalam suaranya.
Daniel bersandar ke belakang. Dia menarik nafas panjang, kemudian melepaskannya perlahan. "Maaf..." ujar Daniel pelan. "Tapi, saya mau Tuan Suherman mengetahui kebenarannya. Saya tidak mau Valeda menjadi gelisah karena hal ini. Apalagi diusianya yang masih muda."
BRAK!
Rangga menggebrak meja kerja Tuan Suherman yang ada di sebelahnya. "KAMU TAHU SENDIRI KALAU CINTA MASIH MUDA! KAMU BERBOHONG, KAN!?" emosi Rangga memuncak. Dia bahkan tidak peduli dengan tangannya yang berdenyut menyakitkan. Wajahnya semerah api dan dia seakan siap melahap Daniel hidup-hidup.
Tuan Suherman mengangkat tangan kirinya. "Cukup," kata Beliau. Tuan Suherman tahu, jika dia tidak menghentikan Rangga, akan ada perkelahian di ruang kerjanya, cepat atau lambat. "Aku tadi tidak berpikir jernih dan langsung marah pada Val," Tuan Suherman melanjutkan. "Jika benar apa yang kamu katakan, kita sebaiknya langsung ke rumah sakit dan memeriksa kandungan Val."
Valeda menelan ludah dengan susah payah. Dia tahu bahwa ayahnya tidak mudah terperdaya. Tentu saja Tuan Suherman akan meminta bukti atas apa yang Daniel katakan. 'Astaga! Bagaimana sekarang? Dokter pastinya mengatakan kalau aku tidak hamil!' batin Valeda gusar. Bintik-bintik keringat dingin mulai terbentuk di keningnya.
__ADS_1
Valeda melihat Daniel merogoh ransel yang sedari tadi bertengger manis di kakinya. "Sudah saya duga Anda akan berkata begitu, Tuan," kata Daniel. Dia mengeluarkan sebuah amplop berlogo salah satu rumah sakit terkenal yang ada di daerah sana. Tentu saja bukan rumah sakit milik Valeda. Jika dia memakai rumah sakit Valeda, Tuan Suherman akan mencurigai hasil USG itu. "Ini adalah hasil USG Valeda semalam." Daniel menyodorkan amplop itu pada Tuan Suherman.
Tuan Suherman tidak serta-merta menyambut uluran amplop dari tangan Daniel. Dia meneliti air muka Daniel untuk beberapa detik, sebelum memutuskan untuk menerima amplop itu. "Semalam?" Tuan Suherman mengulang perkataan Daniel.
"Iya, Tuan. Semalam," Daniel menegaskan, tak lupa dengan seulas senyuman lebar.
'Anak ini pintar sekali bersandiwara,' pikir Valeda. Namun, dalam hati kecilnya, dia berharap rencana Daniel berjalan dengan lancar. Meski dia tidak tahu pasti, dia juga akan terkena masalah jika mereka salah langkah atau Tuan Suherman akan menjadi curiga.
Tuan Suherman membuka amplop itu, membuat jantung Valeda berlompatan seakan mau keluar dari dalam rongga dadanya. Mata Beliau yang tajam membaca selembar kertas dari dalam amplop dengan amat teliti, seolah tengah mencari celah untuk menyangkal berita bahwa anak perempuannya sedang hamil. "Delapan minggu..." gumamnya hampir tidak terdengar. Kemudian tangannya mulai merogoh amplop itu lagi, mengeluarkan beberapa lembar hasil cetakan USG. "Astaga..." bisiknya.
"Tidak mungkin!" seru Rangga. "Oom, ayo kita ke rumah sakit sekali lagi untuk memastikan!" pintanya. Kedua tangan Rangga mengepal di sisi tubuhnya. Dia sudah siap menghajar Daniel. "Ini semua pasti hanya rekayasa Daniel saja! Oom jangan sampai tertipu olehnya!"
"Hahaha!" Daniel tertawa renyah menanggapi omongan Rangga. "Perkataanmu tidak berdasar, Rangga," timpalnya. "Aku bukanlah orang dengan banyak tipu muslihat. Aku hanya ingin orang yang aku cintai merasa bahagia bersamaku dan aku tidak akan memakai cara kotor untuk mendapatkan apa yang aku mau," kata Daniel dengan nada rendah.
"Rangga, sudahlah," Tuan Suherman menengahi kembali. Dia melempar hasil USG itu ke atas meja. Tangannya mengusap wajahnya dengan perasaan tidak tenang. "Mari kita bicara jujur," Tuan Suherman memulai. "Daniel, apa kamu mengira bahwa saya tidak tahu siapa kamu sebenarnya?"
Daniel terdiam. Dia tidak mau mengira-ngira. Daniel memilih menunggu Tuan Suherman mengatakan apa yang ingin Beliau katakan. Daniel tidak ingin terperangkap di dalam rumah orang yang ingin membunuhnya saat ini karena mengaku telah menghamili putrinya.
"Kamu adalah putra Hendra, kan? Salah satu pegawaiku dulu?" Tuan Suherman melanjutkan. "Kamu adalah anak yang menyebabkan kebakaran di rumah kaca dan hampir membuat Val celaka."
Tangan Daniel mengepal. Dia hampir saja tidak bisa mengendalikan emosinya. Kenyataan bahwa dialah yang telah menyelamatkan Valeda dari kobaran api, tidak menjadi sorotan di dalam pembicaraan Tuan Suherman.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu mengenal Val ketika kalian sudah dewasa? Ah, tentu saja! Siapa yang tidak mengenal Val? Dia adalah perempuan cantik dan cerdas. Semua laki-laki mengaguminya. Lalu, kamu dengan sengaja mendekatinya, kan? Trik-trik murahan yang digunakan orang-orang rendah seperti dirimu," kata Tuan Suherman. "Ayahmu memang gagal membesarkanmu."
"Papa, cukup!" bentak Valeda. "Kata-kata Papa sangat keterlaluan!"
"Val, apa kamu tahu bahwa Daniel hampir membunuhmu waktu kalian kecil dulu?" Tuan Suherman menolak untuk berhenti.
"Tapi Val masih hidup, kan?" bela Valeda. "Val masih belum ingat dengan jelas, tapi Val yakin kalau Daniel bukan orang yang menyebabkan kebakaran itu!"
Kedua mata Tuan Suherman memicing. "Kamu sekarang lebih membela dia ketimbang ayahmu? Aku dengan jelas melihat kalian berdua keluar dari rumah kaca itu!"
"Artinya Daniel menolong Val, kan?" Valeda masih membela.
Tuan Suherman menahan nafasnya. Dia hampir tidak bisa mengontrol diri di depan anak perempuan sematawayangnya itu. "Tidak. Apapun alasanmu, aku tidak bisa membiarkan kamu menikah dengan laki-laki yang tidak jelas ini! Aku bahkan tidak mengenal orangtuanya!"
"Jika Anda dengan cepat dapat mengenali saya, seharusnya Anda tahu jika kedua orangtua saya telah meninggal karena bunuh diri, kan?" Daniel menambahkan.
"Heh!" Tuan Suherman mendengus. "Kamu dengar sendiri, Val? Orangtuanya saja tidak bisa menangani kerasnya dunia. Bagaimana mungkin kamu hidup bersama laki-laki seperti ini? Tinggalkan dia dan gugurkan anak di dalam kandunganmu itu!"
Valeda berdiri. Dia jengah mendengar perkataan Tuan Suherman. "Cukup, Papa!" serunya kesal. Dia menarik Daniel hingga berdiri di sebelahnya. "Apapun kata Papa, aku tetap mencintai Daniel dan aku tahu dia orang yang seperti apa! Aku akan menikahinya!" Valeda menarik tangan Daniel tanpa aba-aba.
Daniel meraih ranselnya dengan buru-buru dan mengikuti tarikan tangan Valeda menuju ke luar ruangan. Daniel bernafas lega. Untuk sementara, dia aman dari terjangan Tuan Suherman. Dia tinggal menunggu apakah ada yang menangkap umpannya sekarang.
__ADS_1
***