DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
53. Kebun Binatang


__ADS_3

"Hhhhh..." Valeda menghela napas dengan keras seraya menutup pintu mobil. Setelah perbincangan yang sangat membuatnya tidak nyaman di restoran tadi, akhirnya Valeda berhasil kabur dari sana. "Terima kasih, Ga," ujar Valeda saat Rangga masuk dari pintu kemudi.


"Hm? Untuk apa?" tanya Rangga sambil menstater mobilnya.


"Kalau kamu tidak ada, aku akan berakhir berseteru dengan ibuku. Kamu benar-benar bisa mencairkan suasana," jawab Valeda.


Rangga melempar senyuman simpul pada Valeda. "Sudah aku bilang, kan? Hari ini, pikirkan dirimu sendiri. Ayo kita bersenang-senang. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta."


"Kita akan ke kebun binatang sekarang?" Valeda bersemangat.


Rangga melirik jam tangannya. "Ayo! Kita masih bisa mengikuti banyak atraksi di sana."


Mobil Rangga pun melaju menuju kebun binatang sesuai harapan Valeda. Sudah lama rasanya dia tidak pergi melihat satwa di sana. Pikiran Valeda melayang, memikirkan kapan terakhir kali dia pergi bersama keluarganya. 'Ah... Sudah lama sekali... Itu ketika aku belum memikirkan masalah persaingan kakak-kakakku dan memutuskan untuk keluar rumah,' batin Valeda.


"Kamu masih suka gulali?" tanya Rangga.


"Apa rasanya masih sama?"


Rangga terbahak mendengar pertanyaan Valeda. Jelas sekali Valeda sudah lama tidak pernah memakan makanan jalanan. "Rasanya masih manis dan lembut. Belum berubah menjadi rasa nasi goreng."


"Sinis amat, sih!" Valeda meninju lengan Rangga.


Rangga tertawa untuk berapa lama. Valeda ikut tertular tawa Rangga yang renyah. Kemudian keadaan menjadi hening. Rangga melirik Valeda yang masih tersenyum kecil. "Val..." panggilnya.


"Ya?"


Rangga menjulurkan tangannya, lalu membelai kepala Valeda. "Aku harap, kamu selalu bahagia..."


"Manusia tidak bisa selalu bahagia, Ga," sanggah Valeda.


"Aku akan mengusahakannya," tambah Rangga. "Aku akan selalu ada di sampingmu dan memastikan kamu bahagia. Kalau ada yang membuat harimu kelabu, kamu bisa mencariku."


"Sampai kapan?" tanya Valeda. "Sampai kapan aku bisa bergantung padamu? Maksudku, nantinya aku akan menikah dan punya anak. Tentu saja itu bukan hal yang mudah dan akan banyak hari buruk yang aku dapatkan. Apakah--"


"Kamu bisa pergi padaku," kata Rangga. "Kapanpun."


Valeda terbahak mendengarnya. Melihat Rangga yang mengatakan hal itu dengan wajah serius, membuatnya seperti lelucon. "Kenapa kamu mengatakan itu padaku? Jika saja kamu bicara hal yang sama pada perempuan yang kamu suka, aku yakin dia akan menerimamu."

__ADS_1


Rangga menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. "Sudah aku bilang, kan? Aku tidak mau membicarakan perempuan itu," kata Rangga dengan wajah ditekuk.


"Setidaknya, beritahu aku namanya," rengek Valeda.


"Tidak akan!" tolak Rangga masih keras kepala.


Valeda menyilangkan tangannya di depan dada. "Aku tidak suka saat kamu keras kepala seperti batu!"


"Kamu akan kesulitan kalau tahu siapa orangnya," jawab Rangga. "Hei, lihat! Kita sudah sampai!"


Pembicaraan merekapun berakhir sampai di sana. Valeda tidak bisa melanjutkannya karena Rangga sudah heboh sendiri melihat gerbang kebun binatang yang mereka tuju. Valeda mengubur rasa penasarannya di dalam hati. Meski begitu, dia mempunyai firasat buruk jika mengetahui siapa perempuan itu, mengingat Rangga begitu menyembunyikannya.


'Apakah itu rivalku?' batin Valeda ketika mobil Rangga berhenti di tempat parkir. 'Atau, jangan-jangan perempuan itu adalah Celine?' Valeda menoleh cepat pada Rangga, bertepatan dengan Rangga turun dari mobil.


Mata Valeda mengikuti Rangga yang berjalan cepat mengitari bagian depan mobil untuk membukakannya pintu. 'Astaga... Jika benar perempuan itu adalah Celine, aku benar-benar akan kesulitan.'


Rangga membuka pintu mobil untuk Valeda. "Silakan, Cinta," Rangga mempersilakan.


Valeda keluar dari mobil dan menepuk bahu Rangga sambil berdecak sedih. "Kamu harus kuat!" pesan Valeda.


"Kita lupakan semua masalah kita! Hari ini, ayo bersenang-senang!" seru Valeda dengan tangan mengepal ke atas.


"O...ke..." alis Rangga terangkat. "Terserah apa katamu, yang penting kamu bersenang-senang saat ini."


Mereka berdua berjalan berdampingan masuk ke area kebun binatang. Rangga langsung membeli tiket, berhubung tidak banyak antrian karena hari ini adalah hari kerja.


Sementara itu, Valeda membeli dua buah bando dengan hiasan telinga binatang yang biasa dijual di kebun binatang. "Rangga! Lihat!" Valeda menyodorkan sebuah bando dengan telinga kelinci ke tangan Rangga. "Pakai, pakai! Pasti cocok buat kamu!"


Rangga tersenyum kecut. "Apa aku boleh pakai yang model beruang?" Rangga berharap Valeda melunak kali ini.


Valeda menatap bando kelinci di tangannya. "Seingatku, waktu kecil dulu kamu suka memakai yang kelinci. Apa aku salah ingat?"


"Tidak, bukan begitu," jawab Rangga tidak enak hati. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku memakainya karena suka melihatmu tertawa terbahak-bahak."


Valeda tersenyum lebar. Dia kembali menyerahkan bando kelinci ke tangan Rangga. "Buat aku tertawa terbahak-bahak lagi!" perintahnya.


Rangga mendengus. Tapi, tetap mengikuti permintaan Valeda untuk memakai bando kelinci. "Apa kita tidak terlalu berlebihan? Kita seperti sedang main film korea."

__ADS_1


"Apa kamu sekarang suka film korea?"


"Kita bicara terlalu jauh dari topik," Rangga berkacak pinggang.


Valeda mengulurkan tangan. "Pinjam handphone-mu!"


Rangga merogoh kantong celananya dan menyerahkan handphone-nya kepada Valeda. "Apa handphone-mu ada masalah?" tanya Rangga.


"Aku sengaja menonaktifkannya. Celine akan mengurus semuanya kalau itu adalah urusan kantor." Valeda mengambil handphone Rangga, kemudian memilih fitur kamera. "Ayo berfoto! Kamu lucu sekali dengan bando kelinci itu!"


Rangga bergerak mendekat hingga mereka muat dalam satu frame. "Setidaknya, aku masih terlihat ganteng meski memakai bando ini."


Valeda bergidik. "Terserah padamu! Senyum!"


Valeda mengambil beberapa gambar. Itu akan menjadi kenangan baru untuk mereka setelah lima tahun tidak bertemu. Valeda bersyukur Rangga masih bersikap sama seperti dulu, meski mereka sudah dewasa.


Valeda merangkul tangan Rangga ketika mereka mulai menjelajahi kebun binatang. Rangga mampu menggantikan sosok kakak yang hilang dari keluarga Valeda. Kakak yang mampu membuatnya nyaman dan tenang.


"Lihat monyet itu!" Rangga menunjuk salah satu monyet yang bergelayut terbalik sambil menjulurkan lidahnya. "Dia mengejekmu, Cinta! Hahaha!"


Valeda ikut tersenyum melihat wajah bahagia Rangga. 'Maaf, Ga... Aku tidak bisa membantumu untuk bersama Celine. Dia sudah menjadi milik Kris,' batin Valeda dengan rasa menyesal.


"Hei, ada kijang di sebelah sana. Apa kamu pikir kita bisa menyentuhnya?" Rangga menunduk. Mereka bertemu pandang untuk berapa lama. Rangga sadar kalau Valeda menatapnya untuk sekian lama. "Ada apa, Cinta?"


"Aku hanya berpikir, kamu baik sekali," jawab Valeda. "Kamu akan mendapatkan perempuan yang baik juga."


"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku orang yang baik?" tanya Rangga.


"Kamu selalu baik padaku."


Rangga membelai kepala Valeda. "Aku hanya baik padamu. Sama seperti kamu yang baik hanya pada orang yang menguntungkan."


"Sepertinya kita memang cocok jika bersama," Valeda setuju dengan ucapan Rangga sebelumnya.


"Oh. Jadi kamu mau bersama Rangga?" suara berat Daniel tiba-tiba terdengar dari belakang Valeda.


***

__ADS_1


__ADS_2