DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
31. Dress Up


__ADS_3

"Wah, wah, wah... Pemandangan sore yang indah, ya?"


Suara berat dan serak dari seorang laki-laki membuat Daniel menoleh ke belakang. Dia mengenal suara itu, karena pernah bertemu sebelumnya. Daniel berdiri dan sedikit membungkuk menyapa orang yang tadi bicara. "Selamat sore, Tuan Suherman," sapa Daniel.


"Sore," balas Tuan Suherman. "Ada apa ini?" tanyanya, merasa ganjil melihat Valeda duduk diam seperti itu. Dia mengenal anaknya. Valeda tidak mungkin duduk santai jam segini. Valeda sangat aktif. Jika ada jam luang, dia akan memilih pergi berolahraga daripada duduk melamun.


"Valeda ngambek, Tuan," jawab Daniel sambil tersenyum jahil.


"Aku nggak ngambek!" seru Valeda dengan wajah merahnya. "Pa, jangan dengarkan dia!"


Tuan Suherman tertawa pelan mendengar Valeda yang protes. Dia tidak menyangka anaknya bisa berubah manis seperti itu. "Kalian ini, baru kenal tapi terasa sudah bersama bertahun-tahun," kata Tuan Suherman.


"Apa kami terlihat cocok?" timpal Daniel.


Tuan Suherman mengusap dagunya. "Kalau aku bilang, ya, istriku akan membunuhku," jawabnya.


Daniel tertawa mendengarnya. "Kami akan berusaha sebaik mungkin, Tuan."


Tuan Suherman duduk di sebelah Valeda. "Apa kalian memikirkan masalah makan malam nanti?" tanya Tuan Suherman.


Valeda tidak menjawab. Dia memilih untuk diam saja. Dia masih tidak bisa menebak ayahnya itu. Semakin sedikit dia bicara, akan semakin aman untuk mereka.


"Yah, keluarga kita adalah keluarga terpandang," Tuan Suherman memulai. Dia melemparkan pandangannya jauh ke depan. "Sudah jelas ibumu merasa khawatir dengan hal ini. Kenyataan bahwa kamu mencintai seorang laki-laki biasa, sangat mengejutkan ibumu. Jangan tersinggung, Daniel," Tuan Suherman menambahkan.


Daniel menggeleng. "Saya tidak mungkin tersinggung, karena Tuan mengatakan kenyataan," jawab Daniel. "Jika saya nantinya memiliki anak perempuan yang mencintai laki-laki dengan status sosial berbeda, tentunya saya juga akan merasa khawatir. Bahkan, kemungkinan besar saya akan melakukan hal yang sama dengan yang Nyonya Emely lakukan."


Tuan Suherman memandang Daniel untuk sekian lama. Daniel membalas pandangan itu dengan berani. Daniel harus meyakinkan ayah dari Valeda, bahwa dia benar mencintai anaknya itu. Urusan bagaimana caranya mengakhiri semua ini, bisa dia pikirkan nanti. Dia hanya ingin suntikan dana yang diterima panti asuhannya, tidak putus sampai di sini. Adik-adiknya masih harus melanjutkan sekolah dan ini cara mendapatkan uang dengan mudah.


"Di acara nanti malam, akan ada banyak anggota keluarga yang datang. Akan ada pesta yang sangat meriah. Daniel, sebagai anggota baru, kamu akan menjadi pusat perhatian. Aku tidak bisa memberikan kisi-kisi apapun untuk nanti malam. Tapi, bersiaplah!" Tuan Suherman berdiri dari duduknya dan menepuk pundak Daniel.


"Papa--" sela Valeda sebelum ayahnya beranjak. "Papa bisa percaya sama Val."

__ADS_1


Tuan Suherman tersenyum lebar. "Kapan Papa tidak percaya padamu, Nak?" ujarnya. "Kamu adalah anak gadis kesayangan Papa dan selamanya akan begitu."


Ada rasa bersalah yang muncul di dalam diri Valeda karena telah membohongi Tuan Suherman. Namun, dia menelan rasa bersalah itu dalam-dalam dan membulatkan tekadnya untuk terus berpura-pura.


"Baiklah, aku titip Valeda padamu, Dan. Datanglah malam nanti," pamit Tuan Suherman.


"Baik, Tuan," jawab Daniel. Lalu, Daniel dan Valeda hanya berdiam diri sampai Tuan Suherman menghilang dari pandangan mereka. Daniel duduk di tempat Tuan Suherman duduk beberapa saat yang lalu. "Masih ngambek?" tanya Daniel.


Valeda spontan meninju lengan Daniel. "Aku bukan ngambek!" sanggahnya.


"Terus?"


Valeda tidak bisa menjawab. Dia tidak bisa berkata jujur pada Daniel bahwa tadi dia sempat terpukau dengan senyuman Daniel yang manis. "Aku cuma capek," jawab Valeda asal.


Daniel malah terkekeh. Dia meraih sejumput rambut Valeda dan memainkannya di antara jari-jemarinya. "Di depanku, kamu buruk dalam berbohong."


Valeda menepis tangan Daniel. "Stop! Jangan main-main lagi! Ayo kembali ke mobil!" Valeda bangun dan langsung meninggalkan Daniel. Daniel mengikutinya, kali ini dalam diam.


Mobil Valeda melaju membelah jalanan yang ramai sore itu. Waktu mereka tidak banyak sampai acara makan malam keluarga Valeda. Mereka hanya mampir sekitar sepuluh menit ke toko kue langganan Valeda untuk membeli beberapa jenis kue kering sebagai makanan penutup nanti. Setelah memastikan bahwa pesanannya akan diantar tepat waktu, Valeda menyeret Daniel menuju apartemennya.


"Tidak. Ini kedua kalinya," jawab Daniel.


"Wah, benarkah?" Kris tersenyum kecil. "Nona Val tidak membiarkan sembarang orang masuk ke apartemennya," lanjut Kris.


"Kris, jangan bicara yang aneh-aneh! Cepat siapkan Daniel untukku!" seru Valeda dari dalam.


Kris melemparkan senyuman penuh arti pada Daniel. Dia tidak membuka mulutnya lagi sampai mereka tiba di kamar tamu. "Silakan bersihkan dirimu dulu di sini. Aku akan tunggu di luar," ujar Kris.


Sementara Daniel sibuk membersihkan diri, Valeda juga sibuk dengan dirinya sendiri. Dia memastikan bahwa setiap jengkal dari tubuhnya bersih dan memancarkan cahaya. Tidak pernah dia menikmati waktu mandinya seperti ini. Bukan karena dia akan menghadiri acara makan malam keluarganya, namun lebih karena ada laki-laki yang akan mendampinginya. Valeda merasa benar-benar menjadi perempuan.


Valeda yang mendengar suara tawa rendah dari arah ruang tamunya, segera mengeringkan rambutnya yang basah.

__ADS_1


"Sepertinya Daniel sudah selesai," gumam Valeda.


Dalam tiga puluh menit, dia sudah selesai dengan rambutnya. Dia membuka kotak make up kebanggaannya dan mulai mengoles wajahnya dengan ini-itu. Dia ingin terlihat cantik dan menawan di depan Daniel.


"Astaga! Apa-apaan pikiranku ini?" Valeda meletakkan brush ke atas meja. "Kenapa aku ingin terlihat cantik di depan Daniel?" tanyanya pada diri sendiri. Valeda menggeleng keras, lalu menghela nafas. "Sudah terlanjur pakai yang ini. Ya sudah, aku lanjut berhias saja!" putusnya.


Butuh waktu lama untuk Valeda menyelesaikan persiapan dirinya. Dia sengaja memilih jenis mermaid dress dengan off shoulders untuk menonjolkan bentuk tubuhnya yang indah. Dengan penuh percaya diri, Valeda keluar dari kamarnya.


Valeda tidak bisa memungkiri pandangan kagum dari Daniel yang ditujukan untuknya. Senyuman pun terulas di bibirnya yang telah dia oleskan lipstik berwarna merah muda.


"Kenapa kamu belum mengganti pakaianmu?" tanya Valeda.


Daniel memang masih mengenakan kimono mandinya. Bahkan, poninya yang panjang masih sedikit basah. "Aku masih menunggu kiriman jasnya," jawab Daniel.


TING TONG!


Mereka bertiga menoleh serentak ke arah pintu. "Paketnya!" kata Kris. Dia beranjak menghampiri pintu masuk.


Valeda pergi ke sofa ruang tamunya dan duduk di sebelah Daniel. "Aku tidak sabar melihatmu berdandan," Valeda membuka percakapan.


"Aku akan menjadi laki-laki tampan karena harus mendampingi perempuan mengagumkan seperti kamu," jawab Daniel.


Valeda menoleh ke arah lain, tidak mau Daniel sadar kalau wajahnya memerah. "Cepat pakai jasmu!" sahut Valeda, mencoba terdengar tidak peduli dengan pandangan Daniel.


Daniel menurut saja apa kata Valeda, karena mereka memang tidak punya waktu banyak lagi sebelum acara makan malam dimulai.


Kris yang sudah terbiasa memakai jas dan berdandan, membantu Daniel dengan cekatan. Tidak seperti Valeda yang butuh waktu lama, Daniel selesai dalam lima belas menit.


"Val, bagaimana?" tanya Daniel ketika keluar kamar tamu.


Valeda menganga tidak percaya dengan perubahan drastis yang terjadi di diri Daniel, padahal dia hanya berganti jas dan rambut disisir rapi ke belakang.

__ADS_1


"Ekspresimu sudah menjelaskan segalanya," Daniel menjawab pertanyaannya sendiri.


***


__ADS_2