
"Kak Joan," Valeda mengeluarkan suara begitu mereka tiba di dekat Joan.
Joan yang tengah sibuk menggoda salah satu perempuan, menoleh ke arah Valeda. "Wah! Lihatlah siapa yang muncul?" serunya dengan nada heboh sendiri.
Perempuan-perempuan yang merupakan sepupu-sepupu Valeda, tentunya tidak perlu bertanya lagi siapa yang dimaksud Joan. Sebagian dari mereka memandang Valeda dengan binar mata kagum, sementara sisanya sangat jelas melempar pandangan jijik pada Valeda.
"Jadi ini laki-laki yang menaklukkan hatimu yang seperti batu itu?" tanya Joan.
"Kenalkan, ini Daniel. Pacarku," jawab Valeda.
Joan tersenyum mengejek, memandang Daniel dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Daniel pikir, Joan akan langsung menghinanya. Namun, ternyata Joan malah mengulurkan tangannya. "Aku Joan," ujarnya.
Daniel menjabat tangan Joan. "Aku Daniel. Salam kenal," jawab Daniel seadanya.
"Apa yang sudah kamu tawarkan pada Valeda sampai dia mau menjadi budak cintamu, Daniel?" tanya Joan.
"Tidak ada yang menjadi budak di antara kami," Daniel berusaha bicara setenang mungkin.
"Kami menjalin hubungan yang sehat, di mana kami saling menguntungkan," Valeda ikut angkat suara.
Joan masih tersenyum mengejek. Pancaran sinar matanya yang merendahkan Daniel, bahkan dapat Valeda rasakan. "Val, setelah perdebatan kita di rumah bulan lalu, kamu tiba-tiba memiliki seorang pacar. Itu agak aneh bagiku," kata Joan. "Ah! Aku teringat bagaimana aku jadi menyukai gadis-gadis manis. Aku 'mencicipi' sekali, lalu ketagihan."
Alis Daniel berkerut. Sejenak, Daniel dapat menangkap apa yang Joan maksud, namun dia urung berdebat dan menunggu Joan menjelaskan dengan mulutnya sendiri.
"Sudah berapa kali kalian tidur bersama, sampai adikku ini ketagihan denganmu, Daniel?" tanya Joan.
Daniel menangkap bahu Valeda sebelum Valeda membentak Joan di depan umum.
"Val, kamu sendiri juga tahu sekarang, bagaimana enaknya berhubungan di ranjang, kan?" ujar Joan sambil terkekeh geli. "Tidak usah terlalu serius! Kamu masih muda. Cobalah beberapa laki-laki lagi, sebelum kamu memutuskan pilihanmu. Laki-laki macam Daniel ada banyak di pasaran. Kalau kamu mau cari yang 'enak', aku bisa mengenalkanmu beberapa."
Daniel menarik nafas panjang saat melihat wajah Valeda memerah saking marahnya. "Kak--" Daniel terhenti. "Ah, aku rasa orang seperti Anda tidak pantas aku sebut 'kakak'. Baiklah, Joan," Daniel menegaskan di akhir kalimatnya, "jika Anda suka bermain perempuan dan tidur dengan mereka, lakukanlah!" Daniel melemparkan senyuman kepada Joan. "Memang ada beberapa gadis yang kehilangan akal sehat saat melihat wajah tampan Anda. Tapi, meskipun Valeda adalah adik kandung Anda, dia berbeda. Dia memiliki prinsip. Mungkin itu yang membuatnya sukses lebih dulu ketimbang Anda."
__ADS_1
"Apa kau bilang!?"
Daniel mengangkat bahunya. "Aku dengar, perusahaan yang Anda pimpin telah mem-PHK sebagian karyawannya. Aku sedang berdiskusi dengan Valeda, apakah akan membeli perusahaan itu, atau menunggu berita bagaimana anak kedua seorang Tuan Suherman menghancurkan mimpi ayahnya sendiri."
"Kau!" Joan menunjuk Daniel tepat di depan hidungnya.
Daniel menepis tangan Joan. "Teruslah bermain-main seperti ini, Joan," bisik Daniel. "Maka, semakin mudah untukku membuktikan diri pada Valeda bahwa aku berguna untuk membantunya sukses."
Joan maju dengan cepat dan menarik kerah kemeja Daniel. Beberapa perempuan di belakang Joan yang kaget, memekik pelan, takut sampai ada perkelahian di antara mereka.
"Aku tidak menyangka kalau kesabaranmu hanya sepanjang ini," Daniel kembali memprovokasi. "Pantas saja tidak ada kolega yang mau bekerja sama dengan perusahaanmu lagi."
Belum sempat Joan menjawab, sebuah tangan menarik tangan Joan sampai terlepas dari genggamannya. "Apa yang kamu lakukan, Joan?" seorang laki-laki berbadan tegap sudah berdiri di samping Joan. Tubuhnya yang berotot tercetak jelas di kemeja biru langit yang ia kenakan.
"Kamu tidak perlu ikut campur," desis Joan. Kekesalan masih menguasai dirinya.
"Ini acara makan malam yang dibuat Papa. Kalau kamu merusaknya, kamu sama saja seperti sampah!" jawab laki-laki berbadan besar.
"Lepas!" Joan menepis tangan laki-laki itu. "Kamu sama menyebalkannya dengan pacar Valeda!" kata Joan, kemudian berlalu dari hadapan Daniel.
"Memangnya apa yang dia lakukan padaku?" Daniel malah nyengir, seolah tidak merasakan ketegangan yang Valeda rasakan sedetik lalu.
Valeda mendongak, menatap laki-laki besar yang masih tidak bergeming di dekat Daniel. "Kak Alex, makasi yang tadi."
Daniel ikut menoleh. "Terimakasih sudah melerai kami," ujar Daniel. Daniel langsung tahu kalau itu adalah kakak pertama Valeda. Wajahnya sangat mirip dengan Tuan Suherman. "Maaf saya membuat keributan di sini. Perkenalkan, nama saya Daniel."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Alex.
Valeda menoleh pada Daniel yang hanya diam. Pertanyaan yang sama pernah dilontarkan Tuan Suherman sebelumnya. Valeda mulai berpikir kalau Daniel pernah bertemu keluarganya sebelumnya.
"Mungkin kita papasan di jalan?" jawab Daniel.
__ADS_1
Alex menggaruk dagunya yang tidak gatal. Dia memperhatikan Daniel sejenak, lalu menggeleng. "Tidak. Jika hanya papasan, aku tidak akan mengingat wajahmu."
"Kak Alex punya ingatan yang baik dalam mengingat wajah," timpal Valeda.
Daniel hanya diam. Valeda menangkap ekspresi aneh dari Daniel. Dia seperti tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Ada yang Daniel sembunyikan darinya.
'Selama itu tidak merugikanku, sepertinya tidak apa-apa. Dia juga manusia biasa yang punya rahasia sendiri,' pikir Valeda.
"Kak, tidak usah bahas itu," Valeda menengahi. "Setidaknya sekarang aku sudah memperkenalkan pacarku secara resmi."
Alex melirik Valeda sekilas. "Jaga pacarmu baik-baik. Aku tidak peduli bagaimana kasmarannya dirimu. Jika dia membuat masalah, kamu juga yang harus membereskannya. Jangan terlalu berpihak."
"Tidak usah diberitahupun, aku akan menjaga apa yang harus dijaga," jawab Valeda.
"Jangan sombong," sahut Alex. "Kamu sama serakahnya dengan Joan dan Lucas."
Valeda tertawa rendah. "Aku tidak mengambil apapun dari Kak Alex. Ayah hanya memberikan satu perusahaan, karena memang itu yang pantas Kak Alex terima."
"Apa berada di puncak membuatmu lupa diri, Val?" Alex menyilangkan tangannya di depan dada. "Bagaimanapun, nantinya kamu hanya akan menjadi ibu rumah tangga seperti Mama. Kesuksesanmu itu hanya sementara dan akan berpindah tangan."
"Pemikiran yang seperti itu yang membuat Anda tidak berkembang, Tuan," sahut Daniel. Dia sengaja tidak memanggil Alex dengan sebutan kakak. Panggilan itu terlalu sok akrab saat ini. Daniel juga tidak mungkin menyebut nama Alex secara langsung, mengingat umur mereka yang terpaut tujuh tahun.
"Apa yang kamu ketahui tentang itu, Daniel? Kamu baru berkecimpung di dunia ini. Duniamu tidak sama dengan kami," kata Alex.
"Setidaknya, pemikiran saya lebih terbuka dan saya sadar ada banyak perempuan berbakat di dunia ini. Sayang sekali jika Anda menyingkirkan perempuan dengan segala ambisi mereka jika masih berpikiran kolot seperti itu."
Valeda tersenyum mendengar pembelaan dari Daniel. Dia menyukai bagaimana Daniel memujinya yang sudah bekerja keras, bukan malah menyuruhnya buru-buru mencari pendamping hidup. Meskipun Valeda tahu bahwa Daniel mengatakannya karena mereka terikat kontrak, tetap saja itu membuat perasaan Valeda membaik.
Alex memandang Daniel dan Valeda bergantian. "Aku tidak mengerti hubungan seperti apa yang kalian miliki," ujarnya. "Bagiku, tidak ada tempat tinggi untuk perempuan. Mereka hanyalah pendukung. Nanti kamu akan mengerti maksudku, Val. Sekeras apapun kamu berusaha, akhirnya kamu hanyalah pajangan untuk rumah tanggamu kelak."
"Valeda tidak akan menjadi sekadar pajangan jika bersama saya," jawab Daniel.
__ADS_1
Valeda tahu bahwa perkataan Daniel sebenarnya ingin membuat Valeda tidak merasa kesal karena kakaknya sendiri merendahkannya. Tapi, Valeda juga merasakan kesedihan. Dia sedih karena itu hanyalah pura-pura.
***