
"Tidak pernah," dusta Valeda. "Aku tidak merasakan apapun saat ada di dekat Daniel," sambung Valeda dengan nada tegas. Dia seakan ingin memastikan pada dirinya sendiri bahwa dia mengatakan sebuah kebenaran.
"Begitu rupanya," Celine mengangguk, seolah mengerti dengan jawaban Valeda. "Aku tahu kalau kamu ingin menata kariermu dulu saat ini. Tidak ada yang lebih penting dari itu."
"Ya. Kamu benar. Daniel hanya membuatku bingung dengan tingkahnya," Valeda menambahkan untuk meyakinkan dirinya sendiri lagi. Dalam hati, dia masih bimbang dengan apa yang dia rasakan. Dia tidak mau terburu-buru dan salah mengambil keputusan. Lagipula, dia merasa sangat malu jika harus mengakui semuanya pada Celine sekalipun.
"Kalau begitu, biar aku memberi nasehat pada Daniel untuk memilah masalah pribadi dan pekerjaan," kata Celine sembari bangkit dari duduknya.
"Tidak!" cegah Valeda cepat. "Tidak usah!"
"Hm? Kenapa? Aku pikir, kamu tidak suka repot dengan urusan seperti ini?" tanya Celine, merasa aneh karena Valeda menghentikannya secepat itu.
"Iya, aku memang tidak suka dengan hal yang merepotkan seperti ini. Tapi, aku bisa menyelesaikannya sendiri," Valeda beralasan.
Celine menatap Valeda sejenak. "Baiklah. Aku tidak akan ikut campur," jawab Celine. "Aku ada di mejaku kalau kamu membutuhkan."
"Oke, terima kasih," ujar Valeda. Dia memperhatikan Celine hingga Celine menghilang dari balik pintu ruangannya. Valeda menghela nafas panjang dan bersandar di kursinya. Kursi mahal itu gagal membuat Valeda nyaman saat ini. Pikirannya tidak bisa fokus ke kertas-kertas yang ada di hadapannya.
"Daniel tidak datang... Padahal dia janji akan bawakan sarapan," gumam Valeda kecewa.
Valeda menghela nafas lagi dan lagi. Tidak ada niatan sedikitpun dalam dirinya untuk mengerjakan apa yang ada di depan matanya.
Tok, tok, tok!
Ketukan pelan terdengar dari pintu ruangan Valeda. "Masuk!" jawab Valeda dengan nada malas. Dia tidak begitu peduli dengan siapa yang datang.
"Permisi."
Suara berat itu membuat Valeda duduk tegak. Seketika darah mengalir deras ke kepalanya. Matanya fokus melihat siapa yang muncul dari balik pintu.
"Aku bawakan sarapan," Daniel muncul sambil menenteng rantang makanan yang biasa dia bawa.
'Untung tadi aku makan sedikit,' batin Valeda. "Terima kasih," jawab Valeda. Dia bangkit dan menghampiri Daniel yang sudah duduk duluan di sofa.
__ADS_1
Daniel membuka rantangnya dan menata makanan di atas meja. "Aku buatkan makanan sederhana. Adik-adikku menyukainya. Aku pikir, kamu juga akan suka." Daniel menyodorkan sendok pada Valeda.
Valeda menerimanya dengan tangan gemetar. Dia ingin bertanya kenapa Daniel marah kemarin, tapi sekaligus tidak mau menanyakannya.
"Makanlah," Daniel menyerahkan rantang yang sudah lengkap dengan lauk pauk ke tangan Valeda.
Valeda menunduk, menatap rantang makanan di pangkuannya. Wangi masakan Daniel sangat enak dan menggugah selera. "Terima kasih," ujar Valeda pelan.
"Hm," jawab Daniel singkat. Dia menyendok makanan bagiannya ke dalam mulut.
Valeda juga mulai menikmati sarapan yang sedari tadi dia tunggu. Dia sendiri sadar bahwa makanan dari koki terkenal di apartemennya, tidak lagi menjadi favoritnya. Valeda lebih memilih memakan makanan sederhana yang Daniel buat.
'Rasanya seperti masakan Mama dulu,' batin Valeda sembari mengunyah sarapannya.
Tiga puluh menit mereka habiskan dalam diam. Mereka hanya fokus mengunyah makanan mereka masing-masing. Valeda bahkan menghitung berapa kali dia mengunyah secara tidak sadar.
Beberapa kali dia melirik Daniel, mencoba membuka percakapan di antara mereka. Namun Valeda mengurungkan niatnya setiap kali dia membulatkan tekad. Valeda menikmati mencuri pandang seperti itu. Matanya haus akan keindahan Daniel dari dekat.
"Makan siang nanti..." Daniel tiba-tiba bicara, membuat Valeda terlonjak. Untung saja Daniel tidak sadar kalau Valeda kaget. "Kamu lebih baik makan di restoran langganan kamu dengan Celine seperti dulu."
"Aku ada urusan penting," jawab Daniel.
'Urusan apa yang penting sampai kamu tidak menjelaskannya padaku?' pikir Valeda. "Apa maksudmu 'seperti dulu'?" malah pertanyaan itu yang terlontar.
"Aku akan mulai sibuk dengan tugas yang Celine berikan. Akan lebih baik kalau aku fokus dengan tujuanku," jawab Daniel.
"Aku menolak!"
"Tidak ada alasan untukmu menolak," jawab Daniel cepat. "Di dalam perjanjian tidak ada aturan bahwa aku harus makan siang denganmu."
Valeda menggigit bibir bawahnya. Ada rasa tidak puas dalam dirinya setelah mendengar perkataan Daniel. Namun, dia sendiri mengakui bahwa itu memang benar adanya. Tidak tahu sejak kapan, dia mulai terbiasa dengan keberadaan Daniel. Valeda sendiri tahu bahwa dia terlalu bergantung dengan Daniel saat ini.
"Ya, terserah padamu saja," ujar Valeda. Dia tidak menemukan alasan apapun untuk mempertahankan kedekatan mereka.
__ADS_1
Rantang makanan yang ada di pangkuan Valeda akhirnya kosong, padahal dia sudah makan dengan perlahan demi bisa duduk di samping Daniel lebih lama. Daniel mengulurkan tangannya, sadar kalau Valeda sudah selesai makan. "Sini," pintanya.
Valeda menyerahkan rantang makanan Daniel. Tidak ada lagi alasan Daniel berlama-lama di kantornya. Valeda langsung kehilangan selera bekerjanya. Tidak ada jaminan bahwa Daniel akan memperlakukannya dengan lembut seperti kemarin walau mereka hanya berdua.
"Baiklah, aku permisi," Daniel berdiri dari duduknya begitu selesai menata rantangnya.
"A-aku akan masak malam ini," kata Valeda cepat sebelum Daniel beranjak.
Daniel berhenti, lalu menoleh melihat Valeda yang masih duduk di sofanya. Daniel tersenyum simpul, namun senyuman itu malah membuat hati Valeda sakit. "Tidak perlu dipaksakan. Kamu tidak harus menepatinya. Aku tidak akan marah. Bersenang-senanglah dengan temanmu!"
Valeda ikut berdiri. "Kamu berubah, Dan!" serunya. Dia malah menjadi jengkel sendiri karena tidak bisa menahan Daniel lebih lama.
"Aku tidak berubah. Kamu hanya mengenalku lebih jauh." Daniel pergi dari hadapan Valeda tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Apa ini gara-gara Rangga?" desak Valeda ketika tangan Daniel menyentuh gagang pintu. Valeda teringat dengan kata-kata Celine beberapa menit lalu sebelum Daniel datang ke kantornya. Valeda tidak bisa untuk tidak bertanya tentang hal itu, dan akan lebih jelas baginya jika mendengar jawaban dari yang bersangkutan secara langsung.
"Hahaha," Daniel tertawa renyah. "Apa hubunganku dengannya?" Daniel balik bertanya.
'Benar. Mereka tidak ada hubungannya. Kenapa Daniel harus marah karena Rangga?' pikir Valeda, membenarkan perkataan Daniel, lagi.
"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku permisi."
"Malam ini, pokoknya aku akan menunggumu!" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Valeda tanpa bisa dia pikirkan untuk kedua kalinya.
Daniel diam dengan tatapan tajam menembus pertahanan Valeda. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling pandang dalam diam. Kemudian, keheningan itu berlalu seiring Daniel membuka pintu dan pergi dari hadapan Valeda tanpa memberi tanggapan apapun.
Valeda termenung menatap pintu kantornya yang tidak bergerak setelah Daniel menutupnya. Kepalanya menjadi kosong. Valeda hanya berdiri dan diam.
"Kenapa ini?" bisik Valeda. Tangannya terangkat dan mengusap dadanya. "Rasanya perih sekali di sini. Sesak dan tidak nyaman..."
Valeda menggeleng keras ketika sebuah pemikiran liar muncul di kepalanya. Pemikiran yang seharusnya dia sendiripun tidak pernah memikirkannya.
"Aku sudah tidak waras!" ujarnya seraya terkekeh. "Sudahlah! Aku harus fokus dengan pekerjaanku!" Valeda berjalan cepat kembali ke meja kerjanya. Dia membuka semua file yang dia perlukan dan kembali sibuk dengan apa yang harusnya dia lakukan pagi itu.
__ADS_1
***