
Daniel menarik tangannya dari pinggang Valeda menuju tengkuknya. Valeda dapat merasakan bulu kuduknya meremang. Diam-diam, Valeda menikmati setiap sentuhan yang Daniel berikan.
Valeda menunduk, rasa malu menguasai tubuhnya begitu dia sadar bahwa Daniel menatapnya lekat-lekat. Lampu ruang tengah yang temaram menyembunyikan wajah merah Valeda.
"Perhatikan langkahmu, Val," bisik Daniel.
Valeda sadar kalau gerakannya mulai tidak seirama dengan alunan musik yang mengalun. Konsentrasinya buyar karena dia terlalu fokus pada laki-laki ciptaan Tuhan di hadapannya.
"Ayahmu diam-diam sedang memperhatikan kita," tambah Daniel. "Apakah aku harus melakukan sesuatu yang jauh lebih meyakinkan?"
"Misalnya?" tanya Valeda. Dia berpikir bahwa Daniel akan menariknya hingga jatuh ke dalam pelukannya. Memberikan kesan intim yang semua pasangan miliki.
Daniel menarik tangannya dari tengkuk Valeda, kemudian mengamit dagu runcing Valeda. Mata mereka saling bertautan selama sekian detik. Daniel menunduk, mendaratkan sebuah ciuman di kening Valeda.
Tiga detik. Hanya tiga detik waktu yang berlalu. Namun, bagi Valeda, itu terasa seperti berbulan-bulan lamanya. Dalam waktu yang singkat itu, Valeda dapat mengingat dengan jelas bagaimana lembut dan hangatnya bibir Daniel. Bagaimana deru nafas Daniel yang menggelitiki keningnya. Bagaimana tangan Daniel yang besar mengamit dagunya.
Valeda membuka mata begitu merasakan Daniel sudah menarik bibirnya dari kening Valeda. Daniel tersenyum lembut. Sinar matanya membuat Valeda terlena.
'Val! Ingat peraturan, Val! Kamu jangan goyah!' jerit Valeda di dalam hati. Tanpa sadar, dia sudah berhenti berdansa. Kakinya tidak lagi mengikuti irama musik yang memenuhi ruang tengah rumah orangtuanya.
"Ehem!" Tuan Suherman tiba-tiba saja sudah ada di samping mereka. Dia memandang Daniel dan Valeda yang masih lengket satu sama lain. "Apa kalian tidak lelah berdansa terus?" tanya Tuan Suherman.
Daniel tertawa kecil. Sebenarnya, dia dan Valeda baru berdansa sekitar sepuluh menit lamanya. "Apakah Anda cemburu karena putri semata wayang Anda sekarang, sedang asyik dengan pacarnya?" Daniel berkomentar.
"Hahahaha!" Tuan Suherman tertawa renyah. "Aku tidak pernah merasa cemburu pada siapapun," jawabnya dengan nada angkuh. "Ayo kita ngobrol sebelum kalian pulang."
Valeda dan Daniel saling bertukar pandang, kemudian mengangguk bersamaan. Tuan Suherman menggiring mereka menuju ruang tamu, di mana hanya akan ada mereka bertiga.
Sore yang indah. Langit sangat cerah dengan semburat jingga cantik, mengiringi matahari yang akan tenggelam. Tuan Suherman mengundang Daniel untuk makan malam bersama. Walau mendadak, Daniel menyetujuinya dan datang bersama Valeda. Tidak sopan bagi Daniel jika menolak niat baik dari orangtua kekasihnya meski hanya pura-pura. Daniel merasa harus memainkan peran dengan sempurna, karena Valeda sudah banyak membantunya.
__ADS_1
Daniel dan Valeda mengikuti Tuan Suherman yang duduk duluan di sofa ruang tamu rumahnya. Suara musik dansa yang mengalun lembut dari arah ruang tengah, masih bisa mereka dengar.
Nyonya Emely tidak ikut bergabung. Beliau cukup kaget dengan kehadiran Daniel, karena ternyata Tuan Suherman tidak memberitahunya tentang undangan makan malam ini. Jadi, setelah selesai makan malam, Nyonya Emely langsung kabur dari meja makan.
Ah, tentu saja tidak hanya mereka. Ketiga kakak Valeda juga hadir. Alex bersama sekretarisnya--berhubung Tuan Suherman meminta membawa pasangan, namun Alex masih sendiri. Berbeda dengan dua saudara laki-lakinya yang lain. Tidak penting tentang Joan. Dia selalu membawa perempuan berbeda setiap kali Tuan Suherman mengundang makan malam. Kali ini, Lucas memberanikan diri untuk membawa istri yang sudah dia nikahi secara diam-diam. Tidak ada yang tahu tentang hubungan Lucas kecuali Valeda dan Daniel. Tuan Suherman ataupun Nyonya Emely tidak begitu memperhatikan Lucas karena mereka terlalu fokus dengan Daniel. Tentu saja, Daniel yang seorang laki-laki biasa lebih menarik untuk diperhatikan, ketimbang perempuan asing yang dibawa Lucas.
Setelah makan malam selesai, Tuan Suherman mempersilakan anak-anaknya berdansa untuk melancarkan pencernaan. Ritual ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, kali ini terasa aneh bagi Tuan Suherman, karena putri kecilnya ikut berdansa.
Tuan Suherman mengangkat tangannya, meminta seorang pelayan membawakan mereka teh hangat. "Aku tidak menyangka," Tuan Suherman memulai percakapan, "kalian bisa bertahan selama ini dengan status sosial yang berbeda jauh."
"Saya juga tidak menyangka," jawab Daniel. Dia melirik Valeda sekilas.
"Aku tidak bisa berkomentar apapun, karena aku pun menikahi seorang perempuan biasa," tambah Tuan Suherman. "Apa kalian benar-benar sudah merasa cocok satu sama lain?"
"Kalau Val tidak cocok, tidak mungkin Val selama ini bersama Daniel," Valeda yang menjawab.
"Kapan kalian akan menikah?"
"Me-menikah?" Valeda tidak bisa menjawab.
Daniel tersenyum masam pada Valeda. Dia pun tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Tuan Suherman.
"Kami belum berpikir sampai ke arah sana, Pa," lanjut Valeda.
Tuan Suherman menyilangkan tangan di depan dada. "Anak muda yang sedang dilanda cinta seperti kalian, salah melangkah sekali saja, bisa membuat nama baik menjadi buruk."
"Val pastikan tidak akan ada hal seperti itu, Pa!" Valeda menjawab cepat dengan wajah memerah. "Lagipula, kami baru saja memulai hubungan ini. Val ingin menikmati masa pacaran lebih lama lagi."
"Val," Daniel menggenggam tangan Valeda. "Perkataan ayahmu tadi, ditujukan untukku," ujarnya.
__ADS_1
"Apa?"
"Ayahmu khawatir kalau aku akan menjadi serigala yang menerkam mangsanya tanpa ampun. Bagaimanapun, aku ini laki-laki normal," jelas Daniel karena Valeda memasang wajah tidak mengerti.
"Astaga, Papa! Kami bukan orang seperti itu!" bentak Valeda dengan wajah semerah udang rebus. Sebenarnya, dia malu sekali pada Daniel, karena mereka hanyalah pura-pura pacaran saja. Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi di antara mereka berdua.
"Tidak usah mengelak sekeras itu," kata Tuan Suherman. Beliau diam sejenak karena seorang pelayan masuk dengan nampan berisi tiga cangkir teh hangat untuk mereka. "Kalau kalian sudah merasa cocok, akan lebih baik kalian segera menikah. Papa dan Mama yang akan menyiapkan semuanya. Masalah tempat tinggal, akan Papa usahakan membeli apartemen yang luas dan nyaman, sehingga kalian bisa tinggal di sana sampai melahirkan cucu-cucu untuk Papa kelak. Atau, kalian mau punya rumah hunian seperti yang ini? Akan Papa buatkan. Kamu juga akan mendapatkan hak sesuai kemampuan kamu di perusahaan nanti, Daniel."
Daniel memberi isyarat pada Valeda ketika Tuan Suherman meraih cangkir tehnya. Valeda mengangguk kecil, mengerti dengan apa yang dimaksudkan Daniel. "Pa, ngomong-ngomong, Val baru pertama kali melihat perempuan yang dibawa Kak Lucas," kata Valeda.
Tuan Suherman meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja. "Kenapa? Kamu terganggu dengan gosip bahwa kakakmu penyuka sesama jenis?" tanya Tuan Suherman. "Yah, di tempat kita ini, hal itu memang masih tabu untuk dibicarakan. Papa juga tidak mau mengambil kesimpulan apapun tentang apapun. Ketiga kakakmu hanya perlu membuktikan diri jika ingin memegang perusahaan yang akan Papa wariskan untuk mereka."
Valeda menoleh pada Daniel yang diam. "Apa Papa mau cucu?" tanya Valeda tiba-tiba.
Tuan Suherman tertegun mendengar pertanyaan Valeda. "Cucu? Kalian mau memberi Papa cucu? Apa kamu sudah hamil, Val?" Tuan Suherman bertepuk tangan dengan wajah summringah. "Papa tidak akan menolak!"
"Bukan, bukan kami!" jawab Valeda cepat, agar kesalahpahaman ayahnya tidak merembet ke sana-sini.
"Lalu siapa? Alex? Hahaha!" Tuan Suherman tertawa lagi. "Alex itu terlalu fokus bekerja. Semua kencan buta yang ibumu siapkan jadi berantakan karena Alex mengacaukannya."
"Bukan Kak Alex."
"Lalu, Joan? Playboy macam dia mana bisa setia pada satu perempuan. Papa bahkan tidak bisa mengingat wajah perempuan yang dia bawa sebelumnya," sanggah Tuan Suherman. "Apa maksud kalian Lucas?"
Valeda menelan ludah dengan susah payah. Daniel duduk tidak bergerak di sebelahnya. Valeda tidak berani membenarkan perkataan ayahnya.
"Hhh..." Tuan Suherman menghela nafas panjang. "Lucas adalah yang paling tidak bisa diprediksi."
"Kak Lucas sudah menikah," kalimat itu meluncur dari mulut Daniel.
__ADS_1
***