
Valeda menunggu dalam diam hampir satu jam lamanya. Celine tidak menanyakan atau berkomentar apapun, walau dia sempat bicara dengan Kris beberapa kali.
Mata Valeda terarah pada pintu ruangan IGD yang tertutup. Dia tidak bisa melihat menembus ke dalam lewat pintu itu. Lebih baik begitu baginya, jadi dia tidak perlu menyaksikan apa yang terjadi di dalam. Valeda hanya melihat ekspresi Kris dan menganalisanya dari sana.
"Aku akan beli minum sebentar. Kamu jangan kemana-mana!" perintah Celine, kemudian berlalu dari hadapan Valeda.
Valeda menghela nafas. Celine berani meninggalkannya untuk membeli minum, kemungkinan keadaan sudah membaik. Tapi, dia tidak berani berharap banyak. Apapun bisa terjadi di detik-detik terakhir. Valeda menangkupkan tangannya, kembali berdoa untuk keselamatan Mawar.
"Nona," Kris ternyata sudah berdiri di depannya.
Valeda tidak sadar sama sekali karena tengah berdoa dengan sungguh-sungguh. Dia mendongak dan melihat Kris tersenyum. "Ba-bagaimana?" tanya Valeda gugup.
"Anda tidak perlu khawatir. Berkat para tenaga medis yang handal, Mawar selamat. Mawar akan dipindah ke ruang PICU sebentar lagi," Kris menjelaskan.
"Minta mereka memberi pelayanan yang terbaik!" perintah Valeda.
Kris menepuk bahu Valeda. "Nona tidak perlu khawatir. Mereka akan melakukan yang terbaik untuk semua pasien di sini," jawab Kris, berusaha menenangkan. "Apa Celine baru saja pergi?"
Valeda mengangguk. "Baru saja."
Kris menimbang sejenak sebelum bertanya. "Apa Nona mau masuk dan menemui Daniel? Dia sudah lebih tenang sekarang."
Valeda menelan ludah. Sekilas, dia sempat memikirkan penampilannya yang acak-acakan. 'Astaga! Apa yang aku pikirkan?' umpatnya di dalam hati.
"Aku akan menunggu Celine di sini, lalu kami akan masuk bersama nanti," tambah Kris.
Valeda berdiri namun dia menjadi limbung. Kris menangkapnya dengan sigap. Valeda diam sejenak karena kepalanya masih pusing. "Terima kasih," katanya saat dia bisa berdiri dengan tegak.
"Jika Nona masih ingin istirahat, biar aku yang mengatakannya pada Daniel," kata Kris.
"Tidak. Aku akan menemuinya." Valeda meluruskan punggungnya dan menghela nafas keras. Lalu dia pergi masuk ke ruangan IGD.
Matanya langsung menemukan Daniel yang tengah duduk di sebelah ranjang rumah sakit. Valeda memantapkan langkahnya untuk mendekati Daniel.
__ADS_1
Valeda melihat Mawar di atas ranjang. Kulitnya tidak biru seperti yang ada di ingatan Valeda. Nafas Mawar teratur dan matanya terpejam. Sebuah selang infus tertanam di punggung tangan kirinya. Sementara hidungnya terpasang selang oksigen.
"Apa Mawar baik-baik saja sekarang?" tanya Valeda.
Daniel mendongak mendengar Valeda datang. "Berkat kamu," jawabnya.
"A-a-aku?" Valeda gagap. Jantungnya berdebar melihat rambut Daniel yang setengah basah. Mata tajam Daniel menembus pertahanannya, seperti biasa. Valeda bisa merasakan kalau Daniel membuatnya tidak beres.
"Terima kasih karena ada di sana saat itu," Daniel tersenyum. "Aku meninggalkan dompetku di kantor karena buru-buru pulang setelah mendengar kabar bahwa Mawar sakit. Aku hampir berlari ke rumah sakit kalau kamu tidak di sana tadi."
'Ah... Jadi Daniel bukannya sengaja meninggalkanku pulang?' batin Valeda. Suasana hatinya seketika membaik.
"Kata dokter, Mawar tidur karena kelelahan. Dia berjuang keras. Dia akan segera dipindahkan ke PICU. Untuk saat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika keadaannya membaik, Mawar akan dipindahkan ke ruang rawat biasa secepatnya."
"Syukurlah..." Valeda lega karena mendengar kabar dari Daniel sendiri.
"Begitu Mawar dipindah, aku akan ke apartemenmu," tambah Daniel.
"Aku tidak bisa mendampingi Mawar karena dia di ruang intensif. Jadi, aku akan ke apartemenmu dan makan bersama. Kamu yang menawarkan, kan? Apa sudah tidak berlaku?"
"Masih, masih!" jawab Valeda cepat. "Aku sangat lapar!"
"Karena kamu sudah membantu, biar malam ini aku yang masak," Daniel menambahkan lagi.
"Apa kita sudah berbaikan?" tanya Valeda. Dia tahu kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Tapi, suasana hati Daniel sedang bagus dan tidak ada jalan untuknya kabur dari Valeda lagi.
Daniel tertawa pelan. "Maaf sudah membuat masalah dan merajuk seperti itu. Ternyata aku jadi kekanakan kalau cemburu. Aku sendiri baru sadar."
Mata Valeda membelalak kaget. Dia tidak menyangka bahwa jawaban itu yang akan Daniel katakan. Valeda tidak menyangka bahwa Daniel tengah cemburu hingga berbuat seperti itu. "Cemburu? Apa yang membuatmu cemburu?" tanya Valeda tidak mengerti.
"Aku tahu kalau aku tidak berhak sama sekali mengatakan bahwa aku cemburu. Tapi, yah, itulah yang terjadi." Daniel bangun dari duduknya dan melepas hoddie yang dia kenakan. "Pakai ini saja," katanya sambil melepas jas Kris yang tersampir di bahu Valeda, kemudian membantu Valeda mengenakan hoddie-nya. "Ini tebal, jadi tidak terlalu basah."
Valeda menunduk, berusaha keras untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia terbuai dengan wangi Daniel yang terkuar dari hoddie itu. "A-akan aku kembalikan setelah aku cuci," kata Valeda.
__ADS_1
"Tidak usah terlalu dipikirkan," Daniel menepuk kepala Valeda. "Sekali lagi, terima kasih, Val. Terima kasih karena kamu ada di sana dan membantuku. Kamu benar-benar penyelamatku."
Mata Valeda menjadi panas dan sedetik kemudian air mata mulai menetes membasahi pipinya. Kelembutan Daniel yang dia terima, sungguh membuatnya lega. Tanpa sadar, dia sudah menangis seperti anak kecil.
Daniel yang bingung karena tidak mengerti kenapa Valeda menangis, menarik Valeda ke dalam pelukannya. Dia menepuk punggung Valeda untuk menenangkan perempuan itu.
Malam yang kalang kabut itupun, berakhir tenang. Valeda tidak menyangka bahwa masalahnya akan terselesaikan secepat ini. Lalu, mendengar Daniel mengatakan bahwa dia cemburu, entah bagaimana membuat Valeda senang bukan kepalang. Meskipun Valeda tidak tahu kenapa Daniel cemburu. Saat ini, Valeda belum berani mendesak Daniel untuk mengatakan apa alasannya sampai cemburu. Valeda ingin menjaga hubungan baik ini lebih lama sebelum membicarakan hal serius.
"Sejak kapan kamu punya simpanan baju seperti ini?" Daniel keluar dari kamar tamu setelah membersihkan diri di apartemen Valeda. Dia menunduk memperhatikan T-shirt bergambar kumbang yang Valeda siapkan untuknya.
"Mmm, aku coba beli T-shirt seperti katamu," jawab Valeda.
Daniel mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan Valeda. Daniel tidak bergerak ketika melihat Valeda yang mengenakan T-shirt dan celana pendek. "Apa ini pertama kalinya kamu memakai ini?" tanya Daniel.
"Aku sudah memakainya beberapa hari terakhir. Ternyata sangat nyaman ketimbang baju-bajuku. Kamu benar, seharusnya aku memakainya sejak awal," jawab Valeda.
"Apa ada yang menemuimu ketika kamu memakai baju itu?" tanya Daniel lagi.
Valeda menggeleng. "Tidak ada. Memangnya kenapa?"
"Itu tidak cocok denganmu. Gantilah dengan baju yang biasa kamu kenakan!" kata Daniel. "Piyama sutra yang kamu bilang T-shirt tempo hari itu," tambah Daniel.
Valeda menunduk melihat T-shirt yang dia kenakan. "Tapi ini nyaman," rengek Valeda. Dia berputar sekali dan kembali melihat Daniel. "Apa sangat tidak cocok dengan karakterku? Aku baca di internet kalau ini sedang tren di kalangan remaja putri."
"Jangan pernah pakai ini di depan siapapun!" sahut Daniel.
Valeda mendengus keras. "Kamu marah-marah lagi, Dan," gerutunya. "Kita baru saja berbaikan."
Daniel menyibak rambutnya ke belakang dengan wajah memerah. Dia melirik Valeda sekilas, lalu membuang muka lagi. "Kamu... Terlalu seksi dengan itu."
Wajah Valeda ikut memerah. Dia bisa merasakan kalau kepalanya hampir meledak saking malunya. Tapi, kakinya menolak untuk bergerak. Badannya terasa kelu setelah mendapat komentar seperti itu dari Daniel. Sejenak, dia berharap kalau tidak ada kontrak di antara mereka.
***
__ADS_1