DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
58. Rahasia


__ADS_3

Kiki menyuap makanannya sekali lagi dan mengunyahnya dengan malas. Jelas terlihat kalau dia tidak ada selera makan, meski Valeda sudah memesankan makanan paling mewah yang pastinya disukai anak-anak.


Tidak berbeda dengan Kiki, Nana bahkan hanya mengaduk-aduk mie kuahnya yang sudah mengembang. Nana menolak menerima daging ayam pilihan Valeda. Wajahnya sayu. Valeda diam-diam memperhatikan Nana yang lebih kurus dibanding dirinya. Dia seperti hampir pingsan.


"Kak Val..." Kiki menengadah untuk bicara dengan Valeda. Seketika, makanan di depan Valeda menjadi tidak menarik lagi. Pandangan Valeda terpancang pada dua pasang mata dengan binar yang indah.


"Ya? Ada apa, Ki?" tanya Valeda.


Kiki sempat melirik ke segala arah sebelum melanjutkan, seolah dia menghindari sesuatu. "Sebenarnya... Ada yang harus aku katakan... Tapi, aku takut Kak Dan marah..."


Valeda mengerti dengan alasan Kiki. Meskipun Kiki dekat dengan Daniel, akan lebih nyaman jika dia bicara dengan seorang kakak perempuan. Apalagi, Valeda jelas bisa diandalkan.


Valeda meraih tangan Kiki dan menggenggamnya erat. "Ada apa?" bisiknya.


"Sebenarnya..." Kiki masih tampak ragu. Dia merogoh kantong jaket dengan tangannya yang bebas, kemudian mengeluarkan secarik kertas lusuh.


"Apa itu?" tanya Valeda.


Kiki menyerahkannya ke tangan Valeda. Kemudian, dia bungkam. Valeda menunduk untuk membaca tulisan yang ada di kertas itu.


'Mata dibalas mata,' baca Valeda di dalam hati. Keningnya langsung berkerut. "Apa maksudnya?" gumam Valeda.


Kiki hanya bisa menggeleng. Sementara Nana memandang Kiki dan Valeda secara bergantian.


"Ki, kamu dapat ini di mana?" tanya Valeda. Dia mulai menanggapi ini dengan serius.


Kiki masih terlihat ragu untuk menceritakan semuanya. Dia melihat sekeliling, memastikan Daniel belum tiba di sekitarnya.


"Tidak apa, Ki," ujar Valeda pelan tapi tegas. "Ceritakan sama Kak Val. Untuk sementara, Kak Val tidak akan bicarakan ini dengan Kak Daniel. Kakak janji ini menjadi rahasia di antara kita untuk sementara," tambahnya.


"Eng... A-aku dapat itu... Waktu sampai ke rumah sakit sama Kak Jingga dan Kak Nana..." jawab Kiki pada akhirnya.

__ADS_1


"Bisa jelaskan lebih detail?" pinta Valeda. Tidak mungkin Kiki memungut kertas ini secara random, apalagi dalam situasi buru-buru karena mendapat kabar dari rumah sakit.


"A-ada bapak-bapak yang ngasih, Kak," jawab Kiki. "Dia bilang kalau ini titipan buat Kak Dan. Makanya aku terima. Tapi, aku nggak ngerti apa maksudnya. Kak Dan sering bilang kalau aku nggak boleh terima barang dari orang asing. Aku takut Kak Dan marah."


Valeda membelai puncak kepala Kiki. Anak ini terlalu polos. Dia hanya takut dimarahi Daniel karena menerima barang dari orang asing.


"Apa kalian pernah lihat orang yang mencurigakan di sekitar panti asuhan?" tanya Valeda.


Nana dan Kiki menggeleng bersamaan. "Kami jarang keluar panti, Kak, kecuali untuk sekolah atau pergi ke supermarket," aku Nana.


Valeda menggusap dagunya. "Apa Kak Daniel pernah bertengkar dengan seseorang?"


"Baaanyaaaak!" Kiki merentangkan tangannya, seolah memberitahu orang yang diajak bertengkar oleh Daniel sebanyak bentangan tangannya.


"Sebanyak itu?" tanya Valeda.


Kiki dan Nana kali ini mengangguk bersamaan. "Banyak orang mau mengambil panti asuhan kami. Jadi, Kak Dan sering menasehati untuk tidak pergi sendiri dan sebisa mungkin tidak keluar dari panti," jelas Nana. "Katanya, banyak orang jahat di luar sana."


Kiki mengangguk setuju dengan ucapan Nana, membenarkan semua yang Nana katakan.


"Kak Dan datang," Nana menyenggol lengan Kiki. Mereka langsung menunduk, kembali fokus dengan makanan di depan mereka.


Valeda menoleh ke belakang. Daniel berjalan lemas menuju arahnya. Wajah Daniel pucat dan sayu. Senyuman yang tadinya masih terulas di bibirnya, kini hilang sepenuhnya.


Valeda mengangkat tangan untuk memberitahu keberadaannya dan kedua adik Daniel. Daniel menyadarinya, kemudian menghampiri Valeda.


"Kenapa makannya tidak habis?" Daniel berbasa-basi. Dia tahu jawabannya. Tapi, tidak enak rasanya jika dia datang dalam diam.


"Aku sudah nggak lapar, Kak," jawab Kiki.


"Nana juga..." Nana menjawab dengan lemas.

__ADS_1


Daniel duduk di sebelah Valeda. "Setidaknya, kamu harus makan, Val," kata Daniel.


Valeda menunduk, melihat nasi gorengnya yang hanya dia makan dua suap. "Oh, iya, aku sudah pesankan untuk Jingga juga," Valeda mengubah topik. "Apa urusan di dalam sudah selesai?"


Daniel mengangguk. "Semuanya berjalan mudah. Pasti berkat kamu, Val," ujar Daniel. "Terima kasih banyak karena sudah membantuku."


"Kamu tidak usah mengatakannya berkali-kali, Dan," Valeda mengusap lengan Daniel. Valeda dapat melihat ada air mata di ujung mata Daniel.


Daniel tersenyum sumbang. "Baiklah, aku harus mengantar adik-adikku pulang dulu," Daniel melanjutkan.


"Aku sudah minta Kris membawa sopir kantor untuk mengantar mereka pulang. Kris juga masih di panti asuhan untuk adik-adikmu. Kamu bisa menemani Cahya dan Wahyu di rumah sakit. Aku sudah menyediakan kamar khusus untukmu bersama Cahya. Jadi, kamu bisa memantau adikmu terus." Valeda meneguk es jeruknya banyak-banyak. "Urusan panti asuhan, Kris akan membantumu untuk sekarang. Urusan kerjaan, Celine akan mem-back up semuanya."


Daniel mengulurkan tangan, lalu memeluk Valeda erat-erat. "Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas budi baikmu?" bisiknya di sela isakan tangisnya.


Valeda ingin menjawab agar Daniel tidak menyimpan rahasia apapun darinya lagi. Valeda merasa cukup terganggu jika dia tidak mengetahui sesuatu tentang Daniel. Tapi, hal itu urung dia ungkapkan. Mengambil kesempatan dalam kesempitan bukanlah hal yang patut dibanggakan. Dia juga tidak mau membuat Daniel menjadi orang yang sungkan padanya.


'Oke, aku harus memastikan Daniel percaya padaku dan banyak tergantung di tanganku, sehingga pada akhirnya dia akan ada di sisiku,' batin Valeda.


Tiba-tiba saja, Valeda sadar dengan apa yang ada di pikirannya barusan. 'Astaga! Astaga! Astaga! Apa yang aku pikirkan!?' serunya di dalam hati. Dia sadar akan semua yang terjadi. Bahkan saat mereka ada di kebun binatang.


Wajah Valeda menjadi panas. Jantungnya berdebar sangat cepat. 'Apa... Apa yang telah aku lakukan? Apakah... Aku jatuh cinta?' ucap Valeda di dalam pikirannya.


Daniel melepas pelukannya. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Maaf... Seharusnya aku tidak secengeng ini di depanmu. Bahumu jadi basah. Maaf..."


Valeda merentangkan tangannya lebar-lebar. Tenggorokannya tercekat. Dia tidak bisa mengeluarkan suara, namun dia ingin memberikan kenyamanan bagi Daniel lebih banyak lagi.


Daniel kembali menangis tanpa suara di dalam pelukan Valeda. Dia seakan tidak peduli dengan kontrak yang sudah mereka sepakati. Daniel perlu tempat bersandar dan orang dewasa di sekitarnya saat ini hanyalah Valeda.


Valeda berusaha agar pikirannya kembali jernih dan dia bisa berpikir lurus. Ada hal yang lebih penting untuk dia ulas, ketimbang perasaannya yang campur aduk.


'Jika dugaanku benar, adik-adik Daniel mengalami tabrakan bukan karena kecelakaan. Ada seseorang yang mengincar mereka untuk menyakiti Daniel,' pikir Valeda.

__ADS_1


***


(Maaf, ya, slow update. Mata agak bermasalah dan jadi mual banget kalau terlalu lama lihat HP. Untuk pembaca setia, terima kasih banyak 😊)


__ADS_2