DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
15. Makan Malam


__ADS_3

Valeda duduk mengelilingi meja kayu yang besar, bersama semua anak panti asuhan. Kris yang duduk di sebelahnya tampak janggal karena memangku seorang anak kecil.


Bukan tanpa alasan anak itu duduk di sana. Anak perempuan yang bernama Mawar itu, sepertinya jatuh cinta pada Kris pada pandangan pertama. Semenjak Mawar melihat Kris, dia tidak bergerak sedikitpun dan terus menempel pada Kris.


"Mawar, sini sama Kak Dan," panggil Daniel setelah mengedarkan makanan di atas meja untuk semua orang. "Kasih Kak Krisnya makan malam dulu."


Mawar mendongak melihat Kris yang hanya tersenyum. Kris tidak berpengalaman dengan anak kecil, jadi dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Mawar. Kris hanya tersenyum untuk menghindari salah bicara. Kris tahu jika hati anak kecil mudah terluka dan luka itu akan membekas lama. Melihat Kris yang hanya tersenyum, Mawar akhirnya merelakan Kris dan pergi menghampiri Daniel.


Valeda memperhatikan sikap canggung Kris. Dia membayangkan bagaimana nanti jika Kris memiliki anak. Pasti sangat lucu.


"Nona, jangan tersenyum sambil melihat saya seperti itu," pinta Kris.


"Kenapa? Pemandangan begini jarang-jarang bisa aku lihat," sahut Valeda sambil nyengir.


Kris mendengus. "Jangan ceritakan ini pada Celine. Saya takut dia tidak mau punya anak jika saya masih canggung seperti ini."


Valeda terkesiap mendengar permintaan Kris. Dia tertawa dan memukul pelan lengan Kris. "Semoga hubungan kalian berhasil," doa Valeda.


Suasana makan malam saat itu sangat meriah. Valeda lumayan menikmati semua kekacauan yang terjadi. Tidak semua anak makan dengan rapi dan patuh pada nasehat. Meski begitu, Daniel tampak sabar mengurus semua adiknya.


Valeda jarang makan dengan suasana ramai seperti ini sebelumnya. Jika makan di rumah bersama keluarganya, Valeda merasakan beban yang sangat berat.


"Nona Val, bagaimana makanannya?" tanya Daniel yang ternyata sudah duduk kembali di sebelah kiri Valeda.


Valeda baru sadar kalau dia belum menyentuh makanan di depannya. Dia terlalu menikmati suasana ramai nan hangat yang menyelimuti panti asuhan itu. "Maaf, akan aku cicipi sekarang," jawab Valeda. Dia segera menyuap beef teriyaki di piringnya. "Hm!" Valeda berhenti mengunyah. Dia merasakan ada yang berbeda dengan olahan daging sapi di mulutnya.


Daniel menoleh saat Valeda menjerit dengan mulut tertutup. "Apa tidak sesuai dengan selera Nona?"


Valeda tertegun. Kemudian mulai mengunyah kembali. Dia ingin menjawab pertanyaan Kris, namun otaknya hanya bereaksi pada makanan di depannya. Beef teriyaki buatan Kris sangat berbeda dengan yang pernah Valeda makan sebelumnya.


"Nona, makannya pelan-pelan saja. Di dapur masih banyak stok," kata Daniel yang melihat Valeda makan dengan lahap.

__ADS_1


"Masakan Anda memang enak sekali, Tuan Daniel!" puji Kris dari seberang meja. "Pantas saja Nona Valeda makan degan lahap!"


"Panggil saya Daniel saja," ujar Daniel. Dia tahu bahwa Kris ingin bersikap sopan padanya. Tapi, panggilan seperti 'tuan' terdengar aneh di telinganya, mengingat mereka seumuran dan Daniel hanyalah orang biasa. "Kalau Anda mau, saya bisa bungkuskan untuk dibawa pulang."


"Wah, benarkah? Saya mau sedikit," jawab Kris cepat.


Valeda mendelik pada Kris yang tidak tahu malu. Tapi, di dalam hatinya, Valeda juga menginginkan hal yang sama. Dia masih mau mengecap rasa beef teriyaki yang sangat enak itu berkali-kali.


"Nona Val juga mau saya bungkuskan?" tawar Daniel.


"Mau!" Valeda menjawab lebih cepat daripada kinerja otaknya. Wajahnya memerah karena malu. Padahal dia mengejek Kris barusan.


Makan malam itu berlangsung lebih lama dari yang Valeda perkirakan, karena banyak anak kecil yang harus Daniel urus. Valeda sudah duduk di teras belakang panti asuhan sambil menikmati secangkir teh hangat, sementara Daniel masih sibuk dengan dapurnya.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Daniel akhirnya menghampiri Valeda di teras belakang. "Maaf, saya lama," kata Daniel sembari duduk di sebelah Valeda.


"Take your time," jawab Valeda santai. "Aku juga punya banyak waktu."


"Dia menunggu di dalam mobil. Aku memintanya menghubungi asistenku untuk masalah kerjaan," jawab Valeda.


Daniel mengangguk mengerti. "Terima kasih sudah membuat makan malam kami menjadi menyenangkan, Nona Valeda," ujar Daniel. "Adik-adik saya sungguh senang malam ini."


"Senang? Memangnya apa yang aku lakukan sampai mereka sesenang itu?" tanya Valeda yang tidak mengerti.


Daniel tersenyum simpul, membuat Valeda memalingkan wajahnya. "Saya bekerja mati-matianpun, tidak akan bisa membelikan mereka daging sebanyak itu."


"Kalau begitu, aku terima ucapan terima kasihmu. Aku juga berterima kasih karena sudah dibuat kekenyangan seperti ini," timpal Valeda.


Daniel terkekeh mendengar pengakuan tamunya. Dia memandang Valeda agak lama, sebelum memutuskan untuk berpaling ke arah lain.


Angin malam berhembus pelan, membuat daun-daun bergemerisik saling bergesekan. Beberapa di antaranya yang sudah mengering, terlepas dari ranting pohon.

__ADS_1


Daniel melihat salah satu daun jatuh di atas kepala Valeda. Tanpa sadar, tangannya menjulur untuk menyingkirkan daun itu.


Valeda yang melihat Daniel bergerak mendekat, menoleh cepat. Pandangan mereka bertemu. Valeda mempertahankan tatapannya seperti yang Daniel lakukan. Mereka diam, hanya saling memandang satu sama lain.


"A... Ada daun di atas kepala Nona," ujar Daniel pada akhirnya.


"Oh... Oke..." Valeda tidak tahu harus menjawab apa.


Daniel segera menarik dirinya untuk menjauh dari Valeda. Dia merasa tidak enak hati berdekatan dengan Valeda.


"Kayaknya aku harus pulang sekarang," Valeda bangun dari duduknya. Daniel buru-buru mengikuti. Mereka berjalan berdampingan mengitari halaman samping panti asuhan, di mana banyak jenis sayuran yang ditanam.


Valeda tidak membuka mulutnya, begitu juga dengan Daniel. Sampai akhirnya mereka tiba di gerbang depan. Valeda melirik Daniel yang berdiri di sebelahnya. "Kapan-kapan aku mampir ke sini lagi," kata Valeda.


Daniel mengangguk, terlihat setuju dengan ucapan Valeda. "Lain kali, tidak usah bawa apa-apa. Kita punya bahan sayuran yang enak. Saya akan buatkan sup."


"Terserah padaku mau bawa apa, kan?" jawab Valeda sambil tertawa pelan. "Aku pulang."


Kris yang melihat Valeda berjalan mendekati mobil, dengan sigap membukakan pintu. "Pulang sekarang, Nona?" tanya Kris.


"Langsung ke apartemenku," jawab Valeda. Setelah dia masuk ke dalam mobil, Kris langsung menutup pintu. Valeda sempat melihat Kris melambai kecil pada Daniel sebelum menyusulnya masuk.


Mobil Valeda bergerak menjauh dari panti asuhan, membawa Valeda kembali ke apartemennya. Sebenarnya, dia enggan untuk kembali, karena Nyonya Emely bisa menemukannya di sana kapan saja.


"Andai saja Daniel punya kesempatan, dia bisa membuat sebuah restoran yang terkenal," ujar Kris tiba-tiba dari bangku kemudi.


Valeda mengangguk setuju. Dia memang punya banyak uang. Membuka kesempatan bagi orang lain bukanlah suatu hal sulit untuk Valeda. Namun, dia harus berhati-hati. Dia mengenal Daniel belum lama dan belum tahu banyak mengenai Daniel.


"Sepertinya Daniel orang yang baik," Kris berkomentar lagi.


"Kalian bisa jadi teman dekat," balas Valeda.

__ADS_1


***


__ADS_2