
Valeda duduk dengan punggung tegak di kursinya. Keningnya berkerut. Wajahnya serius. Dia tengah memikirkan hubungan apa sebenarnya yang dia miliki dengan Daniel.
"Siapa Daniel sebenarnya?" tanya Valeda pada dirinya sendiri. Valeda memijit keningnya. Dia berusaha mengingat kilasan yang terlintas di ingatannya kemarin.
"Apa bekas luka itu ada hubungannya denganku? Apa sebenarnya aku dan Daniel pernah bertemu dulu? Tapi, aku sama sekali tidak ingat kapan."
Tiba-tiba saja, Valeda teringat tentang ayahnya yang seperti pernah melihat Daniel sebelumnya. Valeda langsung meraih handphone-nya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya duduk, dan menghubungi Tuan Suherman.
"Papa!" sambar Valeda ketika mendengar sapaan Tuan Suherman dari seberang.
"Ya, Sayang? Ada apa?" Tuan Suherman terdengar kaget. "Apa Daniel melakukan sesuatu semalam? Mau Papa beri dia pelajaran?" tuduh Tuan Suherman, karena semalam dia sudah memperingatkan putrinya untuk hati-hati. Namun, mendengar putrinya tiba-tiba menelepon dengan suara mendesak, membuat Tuan Suherman berpikir negatif.
"Bukan, Pa! Bukan!" jawab Valeda.
"Lalu, ada apa? Kenapa kamu terdengar buru-buru?" Tuan Suherman bertanya kembali.
"Dulu, waktu Papa bertemu Daniel untuk pertama kali, Papa bilang seperti pernah bertemu Daniel sebelumnya, kan?" Valeda memastikan.
"Hmmm," Tuan Suherman mencoba mengingat kejadian di mana dia pertama kali bertemu Daniel ketika Valeda mengenalkannya. "Ya. Papa memang bilang seperti itu," jawab Tuan Suherman. "Wajah Daniel tidak asing. Tapi di mana aku pernah melihatnya, ya?"
Valeda memberi waktu untuk ayahnya berpikir lebih lama. Dia terlalu penasaran dengan siapa Daniel sebenarnya. Pekerjaan mendesak yang ada di atas mejanya, bahkan tidak mampu mengalihkan perhatiannya. "Bagaimana, Pa? Apa Papa mengingat sesuatu?" desak Valeda.
"Tidak... Papa tidak mengingat apapun."
"Mungkinkah Daniel adalah salah satu anak dari kolega Papa?" terka Valeda. Dia mempertimbangkan semua kemungkinan yang ada, mengingat bahwa Tuan Suherman mengenal banyak orang semasa hidupnya.
"Mungkin juga," jawab Tuan Suherman. "Tapi Papa punya banyak kolega. Papa tidak mengingat semua anak mereka."
"Bagaimana dengan anak yang memiliki tanda khusus?" Valeda mengingat bekas luka yang Daniel miliki.
"Tanda apa yang kamu maksud?"
"Bekas luka, misalnya?" tanya Valeda.
"Hmm, bekas luka..." Tuan Suherman mengulang perkataan Valeda. "Jika anak yang memiliki bekas luka seperti itu, pasti Papa mengingatnya. Bisa lebih spesifik?"
"Bekas luka bakar," jawab Valeda cepat.
__ADS_1
"Daniel memiliki bekas luka bakar?"
"Ya. Dia punya bekas luka di lehernya. Val tidak memperhatikannya selama ini. Tapi, jika dilihat dengan seksama, itu adalah bekas luka bakar," jelas Valeda.
"Jika itu tidak terlalu terlihat, artinya itu adalah bekas luka lama?"
"Sepertinya begitu," Valeda setuju.
"Kalau anak dengan bekas luka bakar di leher, Papa sepertinya tidak pernah mengenalnya," jawab Tuan Suherman pada akhirnya.
Valeda duduk merosot di kursinya. 'Jadi, Papa juga tidak tahu,' pikirnya putus asa. Tapi, perilaku Daniel tadi, jelas menunjukkan rasa marah yang luar biasa. Valeda tidak suka melihat Daniel seperti itu, tapi Daniel tidak mau mengatakan apa alasannya marah. Dia sendiri menemukan jalan buntu.
"Tapi..."
Valeda duduk menegak ketika Tuan Suherman mulai bicara kembali. "Tapi apa, Pa?"
"Kalau bicara soal kebakaran, dulu pernah ada kejadian kebakaran di rumah lama kita, kan?"
"Rumah lama? Kebakaran?" Valeda tidak mengerti.
"Dulu, saat kamu masih kecil, kita tinggal di rumah dekat pantai. Tapi, ada kejadian yang tidak mengenakkan. Kata dokter, kamu trauma sampai melupakan kejadian itu. Apa sampai sekarang kamu belum ingat juga?" tanya Tuan Suherman.
"Sebelum Papa cerita, apa saat ini kamu baik-baik saja? Papa takut traumamu akan berdampak buruk," kata Tuan Suherman.
"Ya, Val baik-baik saja. Val mau Papa cerita semuanya," jawab Valeda. Valeda benar-benar tidak bisa mengingat apapun yang ayahnya katakan barusan. Tentang rumah lama mereka, ataupun mengenai kebakaran yang pernah terjadi. Satu-satunya jalan, memang harus mendengarkan cerita dari Tuan Suherman, meski itu berarti dia harus membuka luka lama yang tidak ingin dia ingat.
"Jadi, saat kamu berusia tiga tahun, kita masih tinggal di rumah dekat pantai. Sebenarnya, Papa dan Mama sudah tinggal di sana sejak usaha Papa maju. Semua berjalan sempurna sampai kamu merayakan ulang tahun yang ketiga."
Valeda mencoba mengingat ada kejadian apa saat dia berumur tiga tahun, namun nihil. Valeda tidak menemukan apapun di dalam ingatannya.
"Papa mengundang siapapun yang kamu ingin undang saat itu. Ada banyak temanmu yang datang. Suasana ulang tahunmu sangat meriah. Tidak disangka, saat Papa dan Mama tidak memperhatikanmu, temanmu menyulut api di rumah kaca Mamamu."
Valeda memejamkan mata. Kepalanya berdenyut menyakitkan. Kilasan demi kilasan berkelebat cepat di matanya yang terpejam. Valeda dapat melihat seorang anak kecil tampan mengenakan kemeja biru di kilasan pertama. Kemudian ada anak lainnya yang berjalan di belakangnya. Di kilasan terakhir, api berkobar di depannya. Valeda dapat merasakan udara yang sangat panas.
Valeda membuka matanya. Dia menghirup udara cepat-cepat. Valeda merasa seperti habis tenggelam. Dia tidak bisa bernapas dengan baik. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Val, kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Suherman dari seberang.
__ADS_1
Valeda mengatur napasnya dengan susah payah. Dia mencoba mengatur irama jantungnya yang berdebar cepat. "Y-ya, Pa..." jawab Valeda.
"Papa akan ke sana sekarang!"
"Ti-tidak usah, Pa!" tolak Valeda. "Val bisa handle ini dengan baik," sambungnya. Valeda tidak mau sampai membuat kehebohan yang tidak berarti dan membuat orang-orang di kantornya menjadi panik.
"Kamu yakin, Nak?" Tuan Suherman tidak serta merta percaya dengan ucapan Valeda.
"Ya, Pa," suara Valeda kembali terdengar mantap. Valeda sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri. "Lalu, apa yang terjadi hari itu?"
Tuan Suherman menghela napas panjang. Sebenarnya dia tidak mau melanjutkan ceritanya. Tuan Suherman sudah menyimpan rapat luka itu selama bertahun-tahun. Dia tidak memiliki keberanian untuk menceritakannya dari mulutnya sendiri.
"Pa... Tidak apa, Pa," kata Valeda, ingin meyakinkan ayahnya. "Val siap untuk mendengarkan. Bisa Papa ceritakan kelanjutannya?"
"Baiklah..." Tuan Suherman menyerah. "Kobaran api cepat merambat karena di dalam rumah kaca itu banyak furniture yang terbuat dari kayu dan bambu. Kamu di dalam rumah kaca itu."
"Ba-bagaimana Val bisa selamat?" tanya Valeda. Bulu kuduknya berdiri. Keringat mulai mengalir melintasi pelipisnya. Valeda dapat merasakan kalau tangannya menjadi dingin.
"Anak itu membawamu keluar. Saat itu, kobaran api sangat besar. Papa sedang mencari cara untuk masuk. Tapi, seorang anak menyelamatkanmu. Dia membungkusmu dengan pakaian basah dan keluar dari rumah kaca itu. Memang seharusnya dia mempertaruhkan nyawanya untukmu, karena dia yang menyebabkan rumah kaca itu terbakar," Tuan Suherman terdengar geram di akhir kalimatnya.
"Anak yang menyelamatkan Val adalah yang membakar rumah kaca itu?" tanya Valeda. Mata Valeda terpejam lagi. Dia jelas mengingat ada beberapa anak di sana saat itu. "Apa benar anak itu yang melakukannya?"
"Ya. Hanya ada kalian berdua di rumah kaca itu."
"Hanya berdua?" bisik Valeda pelan. "Pa, apa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu?"
"Tidak ada."
"Papa yakin?" selidik Valeda.
"Tentu saja Papa yakin," Tuan Suherman terdengar tegas. "Papa sampai memanggil polisi untuk menyelidiki kejadian itu."
"Lalu, bagaimana nasib anak itu?"
"Papa memutus hubungan kerja dengan ayahnya. Kesalahan anak harus ditanggung orangtuanya juga, karena tidak becus dalam mendidik anak," jawab Tuan Suherman.
"Papa ingat nama anak itu?" tanya Valeda.
__ADS_1
***