DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
14. Teman Baru


__ADS_3

Valeda keluar dari mobilnya, diikuti Daniel dan kedua adiknya. Kris yang keluar paling akhir menenteng dua kantong belanja di tangannya. "Saya bantu," tawar Daniel, hendak mengambil salah satu kantong belanja di tangan Kris.


Kris tersenyum. "Tidak usah. Ini tidak berat," tolaknya.


Daniel bimbang sejenak. Dia merasa tidak enak hati. Benar-benar tidak enak hati, karena selain tidak membantu apapun, Valeda membeli sebagian besar bahan makanan, bahkan untuk seminggu ke depan.


"Tidak perlu merasa tidak enak," ujar Valeda. "Itu semua aku yang mau."


"Terima kasih, Nona," jawab Daniel.


"Ayo, kita masuk," Valeda mengakhiri pembicaraan yang membuat Daniel tidak nyaman. "Adik-adikmu bilang, masakanmu enak. Aku sudah lapar."


Daniel memimpin Valeda masuk ke dalam panti asuhannya. Valeda sempat mengedarkan pandangan ke area panti itu. "Suasananya nyaman dan tenang. Padahal ada di dekat jalan besar," komentarnya.


"Saya juga tidak menduganya. Kita hanya pernah ke sini sekali. Itupun secara tidak sengaja," jawab Kris.


"Tempat yang bagus untuk anak-anak," tambah Valeda.


Sesampainya mereka di depan pintu rumah, Valeda dikejutkan dengan seorang balita yang berlari tanpa busana. Dia tertawa terpingkal-pingkal sambil menjerit-jerit.


"Mawar!" bentak Daniel. "Berapa kali Kakak bilang, jangan berlari sambil telanjang begini? Kalau sakit, bagaimana?"


Anak yang bernama Mawar langsung diam mendengar omelan Daniel. Tidak lama setelahnya, seorang anak perempuan menyusul Mawar ke pintu depan dengan membawa handuk. "Mawar, udah Kakak bilang nggak boleh lari-lari,kan?" protesnya.


"Nana, ajak Mawar siap-siap! Kita kedatangan tamu," perintah Daniel.


Valeda tersenyum maklum. "Aku bukan orang penting. Kalian santai saja," ujarnya. Valeda mengangguk pada Vio yang menggenggam tangannya, meminta Vio untuk mengajaknya masuk ke dalam.


Seakan mengerti dengan isyarat tubuh Valeda, Vio masuk ke dalam sambil menggandeng Valeda. "Nona Valeda bisa duduk di sini," kata Vio sembari menepuk sofa ruang tamu.


"Tidak usah panggil pakai 'nona'. Kalian bisa panggil aku Kak Val," jawab Valeda. Dia menuruti tawaran Vio untuk duduk di sofa.


"Kak Val diam di sini dulu, ya! Vio mau mandi supaya bersih," pamit Vio. Valeda menjawabnya dengan anggukan.


"Jingga pamit ke dapur dulu. Mau siapkan bahan untuk makan malam," Jingga buka suara.


"Biar saya bawakan ke dapur," jawab Kris yang melihat Jingga menoleh padanya. "Ini berat untuk ukuran gadis cilik seperti Anda."

__ADS_1


Jingga menggaruk kepalanya, dia merasa bingung karena Kris berbicara sopan sekali padanya. "Lewat sini, Pak," ajak Jingga.


Valeda terkekeh geli mendengar Kris yang dipanggil 'Pak' oleh Jingga. "Panggil saja dia Kak Kris. Dia masih dua puluh lima tahun dan belum punya pacar."


"Nona Val, bagian tidak punya pacar sepertinya tidak usah disebut," protes Kris. "Ayo, gadis cilik! Kita ke dapur saja. Nona saya itu akan ngoceh tidak jelas kalau sedang lapar."


Jingga hanya tertawa pelan mendengar Kris bersungut-sungut seperti anak kecil. "Nama saya Jingga, Kak. Bukan gadis cilik," jawab Jingga seraya menuntun Kris menuju dapur.


Valeda bersandar di sofa ruang tamu yang sudah agak usang dan robek di beberapa bagian. Daniel duduk tegap di seberangnya. "Kamu juga, Tuan Daniel. Silakan berlaku santai," sambung Valeda.


"Ehem!" Daniel berdeham. "Ka-kalau begitu, saya juga meminta hal yang sama. Panggilan seperti 'tuan' tidak cocok untuk saya."


"Baiklah," jawab Valeda. Kemudian, Valeda mengedarkan pandangannya lagi. "Sudah berapa lama panti asuhan ini berdiri?" tanya Valeda.


"Sudah dua puluh tahun. Ayah saya mendirikannya waktu ibu saya meninggal dunia karena perdarahan saat melahirkan adik saya yang prematur. Katanya, supaya saya tidak kesepian karena berharap punya adik, namun tidak jadi."


"Aku turut berduka," kata Valeda cepat. Dia merasa tidak enak karena mengungkit masa lalu yang menyedihkan.


Daniel menggeleng pelan sambil tersenyum. "Saya sudah tidak apa-apa dengan itu," jawabnya. "Banyak anak yatim piatu yang menjadi adik saya. Saya tidak punya waktu bersedih sekarang."


"Jadi, kamu mengelola panti asuhan ini bersama ayahmu?"


"Lalu, kamu mengelolanya sendirian?" Valeda mengganti topik pembicaraan. Meskipun Daniel berkata bahwa dia tidak terlalu terganggu dengan pembicaraan tentang orangtuanya, Valeda dapat menangkap ada raut terluka di wajah Daniel.


"Ya. Sejak usia sembilan belas tahun."


Valeda mengangguk takjub. Dia kagum pada Daniel yang bisa mengelola sebuah panti asuhan di usianya yang terbilang muda. Valeda membuka mulutnya, hendak melanjutkan pembicaraan mereka, tapi dering smartphone-nya menunda hal itu.


"Sorry, aku angkat telepon dulu," Valeda meminta izin.


"Silakan," jawab Daniel.


Valeda melihat sekilas nama yang tertera di layar smartphone-nya dan langsung menjawab. "Iya, Cel?"


"Kamu sudah sampai di apartemenmu, Val? Aku dalam perjalanan ke sana," tanya Celine.


"Oh, aku lupa memberi kabar. Saat ini aku ada di panti asuhan yang dulu aku ceritakan. Ada kejadian ini dan itu, jadi sekarang aku akan makan malam di sini," jawab Valeda. "Ada apa sampai repot-repot menyusulku?"

__ADS_1


"Bukan hal penting. Aku cuma mau cerita tentang laki-laki yang mendapatkan undian yang kamu buat." Celine tertawa kecil dari seberang telepon.


"Aku akan dengar cerita lengkapnya besok. Intinya apa?" tanya Valeda tidak sabar. Dia tidak berharap banyak, tapi sepertinya Celine akan menceritakan hal menarik.


"Ini sungguh tidak sengaja, Val. Aku meminta salah satu orang yang aku temui di jalan untuk bertemu laki-laki itu. Ternyata, mereka adalah suami-istri!" Celine terbahak, hampir membuat telinga Valeda tuli.


"Astaga, Celine!" Valeda dapat membayangkan bagaimana hebohnya suasana tempat pasangan itu bertemu. Sudah pasti mereka akan saling menyalahkan dan saling menuduh bahwa pasangannya berselingkuh. Valeda bernafas lega. Dalam hati dia berdoa pada Tuhan, berterima kasih karena terhindar dari malapetaka. "Kita bicarakan ini besok."


Celine meredakan tawanya. "Oke, oke! Bye, Val!" pamit Celine di sela tawanya.


Valeda menutup telepon dari Celine dan menyimpan kembali samrtphone ke dalam tasnya. Dia mendongak dan melihat Daniel masih duduk diam di hadapannya. Daniel tersenyum canggung saat pandangan mereka bertemu.


"Maaf, lama," Jingga muncul membawa nampan berisi secangkir teh hangat. "Silakan, Kak Val," ucapnya, seraya mengulurkan cangkir pada Valeda.


Valeda menerima dengan senang hati. Dia dapat melihat bagaimana mengkilatnya cangkir yang ada di tangannya. Sudah pasti itu adalah cangkir yang jarang digunakan dan baru saja dikeluarkan untuk menyambut Valeda. "Terima kasih, Jingga."


Valeda hendak menyeruput teh ketika dia melihat beberapa sembulan kepala di balik pintu tempat Jingga muncul tadi.


"Siapa?"


"Cantik!"


"Putih kayak hantu."


"Rambutnya panjang banget."


"Temen Kak Dan?"


"Kayaknya temen baru. Aku nggak pernah lihat."


"Tanya Kak Dan, yuk?"


"Kalian kalau ngomongin orang, jangan di depan orangnya," timpal Daniel, heran melihat adik-adiknya yang berbisik-bisik namun masih bisa didengar.


Valeda menyeruput tehnya lagi, kemudian tersenyum pada anak-anak panti yang masih tidak berani keluar dari persembunyian mereka. "Sini, kenalan sama Kakak!" panggil Valeda.


Mendengar panggilan dari seorang gadis cantik, satu per satu anak-anak panti asuhan keluar dan duduk memenuhi sofa ruang tamu. Valeda agak kaget karena yang muncul lebih dari sepuluh orang.

__ADS_1


"Ramai, ya?" Valeda tidak yakin bisa mengingat nama mereka semua.


***


__ADS_2