DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
68. Kejutan


__ADS_3

Valeda masih menimbang apakah dia akan memakan makanan di tangannya, atau memilih untuk mengurungkan niatnya. Bukannya dia tidak percaya dengan ucapan Daniel, tapi rasa takut memang ada di dalam dirinya.


"Ada apa, Cinta?" tanya Rangga, seraya melirik sekilas ke arah Valeda. Tangan kanannya tidak lepas dari kemudi, sementara tangan satunya bertengger manis di persneling. Meskipun sekilas, Valeda tahu bahwa Rangga memperhatikannya.


"Tidak... Bukan apa-apa..." dusta Valeda. Dia membuka kotak makanan di pangkuannya. Wangi sandwich menguar di depan hidungnya. Valeda sudah mau pasrah dengan nasibnya dan mengangkat sandwich itu, sebelum tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Valeda menahan nafas, merasa berterima kasih karena diganggu saat akan makan. Valeda menaruh kembali sandwich di tangannya ke dalam kotak dan merogoh tas kecil di sebelahnya.


"Daniel?" terka Rangga.


"Papa," jawab Valeda. Valeda menekan tombol hijau lalu menempelkan handphone ke telinganya. "Halo, Pa?" sapa Valeda.


"APA KAMU TIDAK PUNYA OTAK!? KENAPA MENGIKUTI JEJAK SAMPAH ITU!?" Tuan Suherman tiba-tiba berteriak, membuat Valeda menjauhkan handphone dari telingannya yang berdenging.


"Ada apa, Pa?" tanya Valeda perlahan, ketika hanya ada deru nafas ayahnya yang memburu dari seberang. "Siapa 'sampah' yang Papa maksud?"


"Lucas! Siapa lagi!?" cicit Tuan Suherman.


Valeda dapat mendengar geraman amarah ayahnya. Dia yakin terjadi sesuatu, tapi tidak yakin apa itu. "Papa, Val tidak mengerti. Apa Papa bisa bicara pelan-pelan?"


"Di saat begini, kamu masih pura-pura tidak mengerti!?" Tuan Suherman semakin murka. "Di mana kamu!? Pulang ke rumah sekarang!"


"Pa, apa yang ter--" Valeda tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Tuan Suherman sudah memutus telepon secara sepihak.


"Ada apa?" tanya Rangga.


"Papa minta aku pulang," jawab Valeda.


"Ada masalah?" Rangga melirik sekilas.


Valeda menghela nafas panjang. "Aku juga tidak tahu. Papa tiba-tiba marah dan minta aku segera pulang."


"Hmm, kalau begitu kita langsung ke rumahmu saja." Rangga menoleh ke arah spion, kemudian mengambil haluan kanan untuk memutar balik kendaraannya. "Kamu tenang saja. Aku akan menemanimu di rumah, jadi Tuan Suherman tidak akan terlalu marah."


Valeda tertawa pelan. "Memangnya apa yang akan Papa lakukan padaku?"

__ADS_1


Rangga mengangkat bahu sekilas. "Siapa tahu kamu takut," sahutnya.


"Aku masih tidak mengerti, apa yang membuat Papa sampai marah begitu. Aku tidak merasa melakukan hal yang buruk atau salah."


"Pacaran dengan Daniel adalah hal yang buruk dan salah," tukas Rangga.


"Kenapa kamu tidak menyukai Daniel? Selama bersamaku, Daniel adalah orang yang baik. Kepribadiannya luar biasa. Aku..." Valeda tersenyum lebar, mengingat bagaimana Daniel menyatakan perasaannya, "...sangat menyukai Daniel."


"Jangan bicarakan dia," Rangga mendengus. Dia tidak dapat menyembunyikan kekesalannya lagi. "Saat bersamaku saja, jangan bicarakan dia."


Valeda menatap Rangga lekat-lekat. Sejenak, tidak ada yang mengeluarkan suara. Rangga fokus menatap ke depan dengan tatapan tajam. Tidak ada senyuman ramah seperti yang biasa Valeda lihat. "Rangga..." Valeda memanggilnya dengan nada pelan.


"Hm?" Rangga menjawab seadanya.


"Apa kamu cemburu?" Pertanyaan itu meluncur dengan mulus dari mulut Valeda.


Mobil yang Rangga kemudikan sempat oleng sesaat, karena Rangga benar-benar kaget dengan pertanyaan yang terlontar dari perempuan di sebelahnya. "A-apa!?" Rangga tergagap.


Rangga mendengus sambil tersenyum hambar. "Rupanya kamu sebegitu menyukai Daniel."


Kemudian, tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Valeda tahu bahwa Rangga sedang tidak enak hati. Memberikan penjelasan padanya sekarangpun, akan menjadi hal yang sia-sia.


Tiga puluh menit kemudian, Valeda dan Rangga tiba di rumah Tuan Suherman. Rumah itu tampak suram karena Valeda tahu ayahnya sedang murka.


Rangga membiarkan mobilnya terparkir begitu saja di halaman depan rumah Valeda, sementara dia bergegas mengikuti Valeda masuk ke dalam.


"Kamu tidak perlu menemaniku. Aku bukan anak kecil yang tidak bisa melindungi diri. Lagipula, Beliau ayahku," ujar Valeda ketika Rangga menjajarkan langkahnya dengan Valeda.


"Aku ingin tahu, apa yang membuat ayahmu sampai marah seperti itu," jawab Rangga terus terang.


"Valeda..." suara Lucas muncul dari ruang keluarga.


"Hai, Kak," sapa Valeda sekedarnya. "Di mana Papa?"

__ADS_1


Lucas menangkap lengan Valeda. Matanya berkilat, menampakkan kecemasan sekaligus rasa bahagia secara bersamaan. "Apapun yang Papa katakan, pertahankan! Meskipun ini jalan yang tidak bisa dikatakan benar, namun semuanya akan menjadi sangat berharga."


Valeda melemparkan pandangan tanya pada Rangga, yang menjawabnya dengan mengangkat bahu. Dia sendiri juga tidak mengerti dengan ocehan Lucas.


"Daniel ada bersama Papa di ruang kerjanya," tambah Lucas.


"Daniel?" ulang Valeda.


Lucas mengangguk bersemangat. "Dia benar-benar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dengan mengakui semuanya secara jantan di depan Papa."


Valeda menelan ludah dengan susah payah. Dia menduga bahwa Daniel telah mengungukap persekutuan mereka selama ini. Tapi, bukankah mereka berpacaran sekarang? Maksudnya, mereka tidak pura-pura lagi. Mereka saling mencintai. Valeda tidak mengerti kenapa ayahnya menjadi marah dengan hal itu.


'Apakah Papa benar-benar tidak setuju kalau pasanganku adalah orang biasa?' batin Valeda. Dia melangkah cepat menuju ruang kerja ayahnya. Rangga mengekor di belakangnya dalam diam.


Tok, tok, tok!


"Papa, ini Val," sapa Valeda dari luar pintu ruang kerja Tuan Suherman.


"Masuk!" sahut Tuan Suherman dari dalam.


Valeda membuka pintu ruang kerja berwarna hitam yang terasa berat di depannya. Pintu itu tidak mengeluarkan suara sama sekali ketika Valeda menariknya hingga terbuka lebar. Tuan Suherman tengah duduk di sofa ruangan itu dengan salah satu tangan memijit keningnya. Mata Tuan Suherman terpejam, seakan sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Di seberangnya, Daniel duduk tenang. Dia menoleh ketika pintu ruangan itu terbuka. Daniel sempat melemparkan senyuman pada Valeda saat pandangan mereka bertemu.


"Ada apa, Dan?" tanya Valeda sembari menghampiri Daniel.


Tuan Suherman menghela nafas panjang, namun tak kunjung membuka mulut ataupun menurunkan tangannya. Dari balik buku-buku jarinya yang mulai keriput, Valeda tahu kalau ayahnya sedang berpikir keras.


Daniel tidak segera menjawab saat Valeda bertanya. Dia membiarkan Valeda duduk dulu di sebelahnya, kemudian membelai lembut pipi kekasihnya itu. Valeda dapat melihat pancaran sinar cinta dari mata Daniel yang berkilau. Namun, di balik itu, Valeda juga dapat merasakan Daniel merencanakan sesuatu, dan dia harus masuk ke dalam permainan Daniel lagi.


Valeda mengangkat alis, bertanya sekali lagi dalam diam tentang apa yang membuat Tuan Suherman marah.


"Aku memberitahu ayahmu, bahwa kamu sedang mengandung anakku."


***

__ADS_1


__ADS_2