DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
49. Cuti


__ADS_3

Valeda membasuh dirinya dengan air hangat, kemudian masuk ke dalam bak untuk berendam. Dia ingin membuat tubuhnya rileks sehingga dapat beristirahat dengan baik hari ini.


Valeda memutuskan untuk meliburkan diri hari itu. Setelah memberi kabar pada Celine bahwa dia tidak akan datang ke kantor, Valeda langsung menonaktifkan handphone-nya dan pergi mandi.


Pikirannya jenuh. Terlalu banyak hal yang dia pikirkan. Tentang masa kecilnya, alasan Daniel marah, bekas luka di leher Daniel, dan cerita dari Tuan Suherman.


Valeda memejamkan mata dan mencoba mengingat kembali, siapa anak yang berjalan bersamanya ke rumah kaca hari itu.


"Jelas ada dua orang bersamaku," gumam Valeda. "Apa aku bisa mengingatnya kalau aku melihat foto mereka?" tanya Valeda pada dirinya sendiri. "Aku akan coba cek album foto setelah selesai berendam."


Valeda menenggelamkan kepalanya dan menahan nafas selama beberapa detik. Cara itu biasa dia gunakan untuk melatihnya menenangkan diri. Dengan melakukan hal itu, telinga Valeda menjadi tuli dan dia hanya fokus pada detak jantungnya.


Sepuluh detik berlalu, Valeda kembali muncul di permukaan. Kehangatan air di bak mandinya membuka pori-pori kulit Valeda, membuatnya lebih rileks. "Hari ini, aku akan bersantai ria," Valeda meregangkan tubuhnya.


Valeda mencoba untuk tidak memikirkan apapun lagi selama berendam. Dia hanya menghitung hembusan napasnya yang seirama. Tidak ada yang mengganggunya dalam menikmati air hangatnya, sampai terdengar suara pintu apartemennya digedor seseorang.


Valeda duduk tegak karena kaget. Dia menunggu beberapa saat untuk memastikan bahwa memang benar pintu yang digedor adalah pintu apartemennya.


DUG! DUG! DUG!


Suara itu terdengar kembali. Valeda bangkit dan menyambar handuk berbentuk kimono yang tergantung di dinding kamar mandinya. Dia segera mengenakan kimono itu, kemudian pergi menghampiri pintu depan.


Valeda menghidupkan monitor untuk melihat siapa yang ada di balik pintu. "Daniel?" Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Valeda senang dengan kehadiran Daniel, sekaligus sebal karena kejadian kemarin di kampus.


Valeda menghidupkan fungsi suara dan memutuskan untuk bicara dengan Daniel tanpa membuka pintu. "Ada apa?" tanya Valeda dengan suara dingin.


Daniel tersentak ketika mendengar suara Valeda. "Valeda? Itu benar kamu?" tanyanya. Wajah Daniel terlihat panik.


"Ya. Ini aku. Kenapa memangnya?" Valeda tidak mengerti kenapa Daniel terlihat sangat panik.


Daniel menghela napas. Dia bersandar ke pintu, seakan tenaganya menguap. "Aku menunggumu di bawah hampir satu jam. Sudah lewat dari jammu berangkat ke kantor, tapi orang di bawah tidak ada yang melihatmu keluar dan Kris ada di sana bersamaku."


"La... Lalu?"


"Aku pikir sesuatu terjadi padamu. Jadi, aku berlari secepatnya lewat tangga darurat ke sini dan ingin memeriksa keadaanmu," lanjut Daniel.

__ADS_1


"Daniel!" Kris terlihat berlari menyusul Daniel. "Gila! Kamu berlari cepat sekali!" Kris jatuh bersimpuh di sebelah Daniel dengan wajah pucat dan napas tersengal.


"Valeda tidak apa-apa," kata Daniel dengan senyuman meminta maaf pada Kris.


"Yah! Hah, hah, aku tahu, hah, hah!" Kris masih ngos-ngosan. "Sa-saat lari, hah, hah, aku dapat telepon dari Celine, hah, hah, hah, kalau Valeda cuti mendadak."


Wajah Valeda bersemu merah. Daniel berlari lewat tangga darurat ke lantai delapan hanya karena dirinya tidak memberi kabar. Hal itu membuat perasaan Valeda berbunga.


"Kris, kamu dibebastugaskan untuk hari ini. Pulanglah!" perintah Valeda.


"No-Nona, hah, hah, setidaknya segelas air?" Kris masih sulit mengontrol napasnya.


Valeda merasa kasihan pada Kris yang terlihat hampir pingsan karena berlari menyusul Daniel. Dia memutuskan untuk membuka pintu dan membiarkan Kris meneguk segelas air.


"Masuklah," Valeda membuka pintu.


"Kau yang masuk!" Daniel mendorong Valeda masuk kembali dan langsung menutup pintu di belakangnya.


"Hei! Aku masih di luar!" seru Kris.


"Kenapa aku tidak boleh masuk?" protes Kris. "Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak ada apa-apa. Pergilah!" jawab Daniel dan langsung menutup pintu.


"Ada apa, Dan?" tanya Valeda bingung dengan sikap Daniel.


Daniel menatapnya dengan pandangan dingin. "Berani sekali kamu hanya memakai handuk begini menemui laki-laki," jawab Daniel.


Valeda menunduk, melihat kimono mandinya. "Tapi aku rasa ini tidak terlalu terbuka."


Daniel merendahkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Valeda. "Di balik handuk itu, kamu tidak mengenakan sehelai benangpun, kan?" bisik Daniel. "Jika aku berhasil melepas handuk itu, apa kamu bisa melarikan diri dari buasnya nafsu laki-laki?"


"A-apa!?" Valeda menggenggam erat handuknya. "Tidak mungkin Kris ataupun kamu berpikiran seperti itu padaku!"


Daniel menyeka rambutnya ke belakang dengan telinga memerah. "Kamu mengetes kesabaranku?" tanyanya, kemudian menggenggam lengan Valeda. "Jangan pernah hanya menggunakan handuk seperti ini!"

__ADS_1


Valeda mendongak. Dia tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan. Genggaman tangan Daniel terasa membakar lengannya. Valeda membalas tatapan Daniel tanpa perlawanan. Pikirannya dipenuhi dengan wajah Daniel.


Daniel menunduk, mendaratkan sebuah ciuman di leher jenjang Valeda. Valeda menahan napas. Darah mengalir deras ke kepalanya. Ada rasa menggelitik ketika deru napas Daniel menyentuh kulitnya.


"Daniel..." desah Valeda ketika Daniel mencium telinganya.


Daniel menarik diri. Tatapannya menjadi tajam walau telinganya memerah. "Sudah mengerti? Kalau sudah, pergilah ke kamar dan pakai pakaianmu!" perintah Daniel. Dia melepas genggamannya. "Aku akan pergi sekarang."


"Jangan pergi!" Valeda menangkap tangan Daniel. "Kita perlu bicara. Banyak hal yang ingin aku tanyakan."


"Jika tentang bekas luka ini, aku tidak akan menceritakan apa-apa," jawab Daniel. "Bekas luka ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku hanya tidak ingin membicarakannya."


"Apa itu ada hubungannya dengan ayahmu?" tanya Valeda.


Daniel diam sejenak, kemudian menggeleng. "Tidak," jawabnya.


Valeda langsung tahu bahwa Daniel berbohong. Tapi dia tidak mau mengungkitnya sekarang. Daniel tampak belum begitu berbahaya dan tidak ada apapun yang Daniel lakukan sampai perlu diwaspadai. "Aku akan mengganti pakaian. Kamu tunggu aku di sini! Kita sarapan bersama."


"Tapi aku sudah makan. Aku lebih baik ke kantor sekarang," tolak Daniel.


"Aku dengar, pekerjaanmu sudah beres. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, kecuali kamu mau telpon-telponan dengan mantanmu," kata Valeda.


Daniel terkekeh mendengar ucapan Valeda. "Kamu cemburu," kata Daniel.


"Tidak!" seru Valeda.


"Aku tidak bertanya. Aku memberi pernyataan bahwa kamu sedang cemburu saat ini," goda Daniel.


Valeda yang kesal karena Daniel menjadi berani menggodanya, maju dan berhenti ketika jaraknya hanya beberapa senti dari Daniel. "Kalau aku cemburu, apa yang bisa kamu lakukan untuk membuatku tenang?" tanya Valeda. "Bukankah tugasmu untuk menyenangkanku?"


Daniel memenuhi paru-parunya dengan wangi sabun yang Valeda gunakan beberapa menit lalu. Wangi mawar memabukkan dan mampu membuat Daniel kehilangan akal sehatnya. "Wah, siapa ini yang cukup dewasa untuk menantangku?"


"Dewasa?" Valeda mengusap dada Daniel perlahan. "Bukankah aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tubuh molek milik Berlian? Tubuhku ini tidak membuat siapapun berminat."


Daniel meraih tangan Valeda, lalu mengecupnya. Dia melirik Valeda dengan tatapan tajam. "Jangan lebih jauh dari ini. Kamu belum siap."

__ADS_1


***


__ADS_2