
Cuaca sore itu ketika Valeda sampai di lobi kantornya, sedang sangat buruk. Awan kelabu menggantung rendah di atas kepalanya. Hujan deras menyapa bumi tanpa henti. Udara dingin menembus hingga ke tulang belulang.
"Rasanya seperti mewakili perasaanku," gumam Valeda pada dirinya sendiri. Dia maju beberapa langkah dan mengulurkan tangannya. Titik-titik hujan yang lebat membentur telapak tangannya. Terasa dingin sekaligus menyakitkan.
"Nona!" suara Kris terdengar dari belakang Valeda. Dia berjalan cepat menghampiri Valeda di teras kantor. "Kenapa tidak menghubungiku kalau sudah selesai bekerja?" tanyanya dengan nafas tersengal.
"Kenapa ngosan-ngosan begitu? Kamu habis lari?" Valeda balik bertanya.
"Aku tadi ke ruangan Nona untuk mengecek apakah Nona masih sibuk atau sudah mau pulang. Tapi sepertinya kita tidak bertemu di lift yang sama. Ketika aku tiba di atas, Celine mengatakan bahwa Nona sudah turun daritadi," jawab Kris.
Valeda memang sudah turun sejak sepuluh menit yang lalu dan menikmati suara hujan yang turun. "Kamu pulang saja duluan. Aku mau mengemudi sendiri." Valeda mengulurkan tangannya, meminta Kris menyerahkan kunci mobilnya.
"Tapi, Nona--"
"Sudah, tidak usah membantah. Aku sedang ingin menyetir sendiri," potong Valeda.
Kris menyerahkan kunci mobil dengan berat hati. Dia tahu bahwa atasannya ini sedang ada masalah dan selalu berakhir buruk jika Valeda mengendarai mobilnya sendiri. "Aku akan menunggu sampai Nona pulang."
"Apa bedanya dengan diantar pulang?" tolak Valeda. "Kamu duluan saja. Atau, jemput Celine dan ajak dia makan malam bersama."
Kris tidak bergeming. Dia masih tidak yakin untuk meninggalkan nonanya pergi sendirian. Dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan Valeda dari awal Valeda membuka mata, hingga kembali ke apartemennya.
Valeda menghela nafas karena Kris tak kunjung pergi juga. Dia mendekati Kris dan melirik sekeliling sebelum berbisik. "Sebenarnya ada seseorang yang aku tunggu."
"Tapi Daniel sudah pulang," jawab Kris cepat. "Aku bertemu dengannya satu jam yang lalu."
Valeda menghentakkan kakinya. "Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya! Sekarang, pulang!" desis Valeda kesal.
Valeda sebenarnya tahu bahwa Daniel sudah pulang daritadi. Ketika melewati meja Daniel, tempat itu sudah kosong. Jam pulang kantor memang sudah berlalu sejak satu jam yang lalu. Valeda tidak ingin percaya bahwa Daniel menghindarinya. Jadi, dia memutuskan untuk menunggu Daniel di kantor. Siapa tahu, Daniel datang sambil membawa kopi dan menyapa Valeda yang menunggu di lobi kantornya.
Valeda berbalik dan memunggungi Kris. Dia tidak berniat bercengkrama dengan Kris saat ini. Pikirannya terlalu kacau dan dia merasa konyol karena hal itu.
'Dia tidak mungkin datang,' batin Valeda sedih. Dia kembali menghadap Kris. "Aku pulang sendiri," katanya, lalu pergi ke arah lift untuk pergi ke lantai basement, di mana mobilnya terparkir sejak pagi tadi.
__ADS_1
Langkahnya semakin gontai. Valeda merasa sangat kecewa karena tidak bisa menyelesaikan masalah dengan Daniel. Dia menjadi uring-uringan sendiri seperti sekarang.
Valeda masuk ke dalam mobilnya. Dia menghela nafas panjang sebelum memutar kunci. Baru sedetik yang lalu deru mobilnya memenuhi sekitar lantai basement, handphone-nya berdering dari dalam tas.
Valeda merogoh tasnya dan melihat siapa yang menghubunginya jam segini. "Rangga," gumamnya sambil membaca nama di layar handphone. "Ah, benar... Dia akan mengajak Mama dan Papa makan malam."
Jari Valeda tidak bergerak untuk menerima panggilan masuk dari Rangga. Dia hanya menatap layar handphonenya dalam diam. Pada dering ketujuh, akhirnya handphone Valeda kembali senyap.
TING!
Valeda mengerjap. Sebuah pesan masuk ke dalam handphone-nya. Rupanya Rangga yang tidak tahu bahwa Valeda sengaja tidak mengangkat telepon darinya, mengirim sebuah pesan. Valeda membuka pesan itu setengah hati. Dia sudah tahu kalau Rangga akan mengirim pesan singkat yang berisikan kabar tentang makan malam nanti. Valeda sedang tidak berniat untuk menghadiri acara apapun.
Dia melempar handphone-nya ke dalam tas setelah membaca pesan singkat Rangga dengan cepat. Tidak ada yang membangkitkan minatnya saat ini. Valeda memasukkan gigi dan mulai menginjak pedal gas. Pikirannya membawanya pergi menyusuri jalan menuju Panti Asuhan Matahari Terbit.
Valeda menghentikan mobilnya tidak jauh dari panti asuhan. Gerbang cokelat setinggi dua meter itu tertutup rapat. Valeda tidak mendengar apapun karena diredam suara hujan yang membentur body mobilnya.
Satu menit... Dua menit... Tiga menit... Empat menit... Lima menit akhirnya berlalu. Valeda hanya memandang kosong ke arah gerbang panti asuhan. Keberaniannya menciut seiring berjalannya waktu. Dia bahkan tidak menghiraukan perutnya yang meraung-raung minta makan, karena sudah melewati makan siang dan sekarang jam makan malam.
Tapi, Daniel ternyata tidak sendirian. Dia menggendong seorang anak kecil yang meringkuk di pelukannya, berlindung dari derasnya hujan di balik lengan Daniel. "Gila dia! Kenapa tidak pakai payung!?" seru Valeda ketika sadar dengan keadaan.
Valeda menyambar payung di bangku belakang mobilnya dan segera keluar dari mobil. Dia tidak sempat membuka payungnya dengan benar ketika sudah berada di luar mobil. Matanya terpaku pada Daniel yang berlari ke arahnya. "Daniel!" seru Valeda cepat.
Daniel yang awalnya fokus melihat jalan di depannya, menoleh ke arah sumber suara. Valeda tidak membuang-buang waktu dan langsung menyodorkan payung yang akhirnya berhasil dia buka ke atas kepala Daniel. "Valeda? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Daniel.
Valeda tidak menjawab, melainkan menunduk untuk melihat siapa yang Daniel bawa. "Mawar kenapa?" tanya Valeda, menyadari siapa pemilik rambut panjang bergelombang itu.
"Di-dia demam tinggi," jawab Daniel. Kepanikan menguasai dirinya lagi. "Aku harus ke rumah sakit segera."
"Masuklah ke mobil! Aku akan mengantar kalian!" perintah Valeda. Dia menarik lengan Daniel dan membawanya ke arah mobil. "Cepat!" Valeda membuka pintu belakang ketika sampai.
Daniel menyusup masuk ke dalam mobil dengan cepat. Begitu pintu belakang ditutup, Valeda berlari ke arah bangku kemudi dan juga masuk secepat yang dia bisa. Dia tidak peduli jika jok beludrunya basah terkena air hujan. Ini pertama kalinya Valeda tidak peduli dengan barang kesayangannya. Valeda memutar mobil dan menuju rumah sakit dalam kecepatan tinggi.
"Sial!" umpat Daniel di tengah perjalanan.
__ADS_1
Valeda melirik ke belakang melalui spion dan melihat Mawar kejang, sementara Daniel berusaha agar Mawar tetap telentang dan menengadahkan kepala Mawar. "Apa Mawar tidak apa-apa?" Valeda ikut panik. Kakinya bergetar hebat, sementara tangannya sedingin es.
"Mawar!" seru Daniel. "Mawar, dengar Kak Dan! Bernafaslah!" Daniel memberi nafas buatan pada Mawar yang membiru.
Valeda menarik pandangannya kembali ke depan. Dia tidak bisa menyaksikan apa yang terjadi di belakangnya. 'Fokuslah, Val! Yang bisa kamu lakukan saat ini adalah sampai di rumah sakit dengan cepat! Jangan panik!' pikir Valeda, mencoba mengembalikan kesadarannya.
Valeda berdoa selama perjalanan agar keadaan Mawar tidak semakin memburuk, agar Mawar bisa bertahan sampai di rumah sakit, dan agar dia tidak melihat wajah putus asa Daniel seperti sekarang lagi. Sepuluh menit yang terasa seperti seabad itupun berlalu. Valeda berhenti di depan rumah sakitnya dengan sembarang. Dia langsung keluar dan membukakan pintu untuk Daniel.
Daniel melesat masuk ke dalam IGD sambil membawa Mawar di dalam pelukannya. Valeda mengikuti di belakang dengan kaki bergetar hebat. Dia tidak bisa merasakan jari-jemarinya. Kepalanya kosong dan telinganya berdengung.
Valeda berdiri di dekat pintu masuk, menyaksikan Mawar di atas ranjang yang dikerumuni empat petugas medis. Daniel mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang bagi petugas. Valeda terbatuk tersedak ludah sendiri karena tenggorokannya sangat kering. Dia tidak berani mendekati Mawar ataupun Daniel.
Salah satu petugas medis mendatangi Daniel dan mereka bicara sangat lama. Sayup-sayup, Valeda dapat mendengar Daniel menjelaskan kondisi Mawar dengan teliti.
"Nona!"
Valeda berbalik, mendapati Kris dan Celine ada di belakangnya. "Kalian?"
"Kris berkeras mengikutimu, jadi aku pinjamkan mobilku," Celine menjelaskan. "Ada apa?"
Valeda menggeleng. Dia tidak tahu secara rinci tetang apa yang terjadi. Namun, jika harus menceritakan apa yang Valeda lihat saat di mobil tadi, dia memilih untuk diam. Wajah Mawar yang membiru saat kejang menimbulkan trauma di ingatannya.
Celine menoleh pada Kris. Kris yang seakan mengerti dengan pikiran Celine, mengangguk sekali kemudian meninggalkan Valeda bersama Celine. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Celine. Dia melepas jas Kris yang tersampir di bahunya, lalu ganti menyelimuti bahu Valeda yang basah.
"Ti-tidak usah," tolak Valeda.
Celine meremas bahu Valeda seraya memandangnya lurus-lurus. "Kamu lebih memerlukan ini!" ujarnya tegas. "Ayo, kita cari tempat duduk dulu. Kamu harus menenangkan dirimu."
Valeda mengangguk setuju. Dia harus bisa menguasai dirinya, jadi dia bisa berpikir lebih jernih dan tenang. Valeda melirik ke arah Daniel yang masih berdiri di dekat ranjang Mawar. Kris juga di sana, bicara pada petugas medis yang tadinya bicara dengan Daniel.
'Ya, Tuhan... Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi,' doa Valeda di dalam hati.
***
__ADS_1