
Di rumah Syeira
Tok tok tok.....
" Assalamualaikum!"
" Siapa ya yang ketuk pintu." Gumam Ibu Diana dari dapur yang sedang membuat kue. Dia berjalan kearah pintu untuk membukakan pintu rumahnnya.
Ceklek...
" Waalaikumsalam." Bu Diana membukakan pintu terlihat dari atas kebawah seorang wanita yang sudah seumuran dia tetapi jauh lebih muda darinya. Dari atas sampai kebawah dilihatnya rambut, baju, sepatu, tas semua bagus dan berkelas. Kelihatan dari situ pasti orang kaya. Bu Diana sendiri bingung siapa gerangan yang bertamu, seingatnya dia tidak memiliki keluarga yang kaya raya seperti wanita di depannya ini.
" Permisi bu, apakah saya mengganggu."
" O-oh tidak mari silakan masuk bu, maaf rumahnya seperti ini sederhana." Ucap Ibu Diana mempersilahkan masuk berjalan kearah sofa sambil membersihkan sedikit debu yang terlihat.
" Ah tidak apa bu, biasa saja jangan terlalu berlebihan."
" Sebentar saya buatkan minum dahulu." Yang sudah ingin beranjak dari duduknya untuk membuatkan minuman.
" Jangan bu jangan saya hanya sebentar."
Mereka duduk bersampingan di sofa.
" Kalau boleh tau siapa namanya."
" Nama saya Rayana saya tinggal di kompleks sebelah." Ucapnya dengan tersenyum ramah.
" Owalah iya iya." Mengangguk-anggukkan kepala tanda tau di mana keberadaan rumahnya.
" Begini saya diberitahu sama ibu-ibu kompleks bahwa bu Diana ini pintar memasak jadi saya mau minta tolong, kalau bisa nanti sore kerumah saya untuk membantu memasak dirumah saya."
" Kalau boleh tau acara apa itu bu?"
" Syukuran, saya baru pindah kemarin kerumah itu dan kebetulan belum diadakan pengajian nah saya minta tolong kepada bu diana untuk bersedia memasaknya."
" Oh bisa bu bisa nanti saya akan usahakan kesana."
" Alhamdulillah trimakasih bu, akhirnya ada yang ngebantu soallnya dari tadi saya mencari agak susah pada sibuk semua."
" Kebetulan juga ibu-ibu dikomplek sini juga ada yang ikut pengajian di kompleks lain mungkin masalahnya disitu."
__ADS_1
" Owalah gitu, ya sudah kalau begitu saya permisi udah siang nanti saya tunggu kedatangannya di rumah." Ucap bu Rayana mulai berdiri untuk pamit.
" Iya iya pasti, maaf jadi enggak di kasih minum." Jawab bu Diana dengan tidak enak ati.
" Alah tidak apa, mari Assalamu'alaikum." Berjalan keluar rumah dengan anggunnya. Semua orang juga tau dari pakaian dan barang-barang yang ada ditubuhnya kalau itu orang kaya. tetapi dari mana orang itu berasal baru kali ini ada wanita yang sudah berusia tetapi penampilannya bisa secantik itu. Pemikiran bu Diana melayang ke mana-mana.
" Waalaikumsalam." Masuk kedalam rumah menutup pintu berjaga-jaga kalau ada orang yang tidak dikenal masuk tanpa permisi dan mengambil barang yang ada dirumahnya ketika dia sedang di dapur.
Walaupun tidak ada barang yang berharga tetapi kalau satu dua kan ada dan lumayan lah kalau dijual bisa buat makan seminggunan. Dan juga kalau mencelakai dirinya juga pasti akan merepotkan semua orang mana lagi enggak ada uang kan bisa berabe...
Bu Diana meneruskan membuat kue yang sempat tertunda tadi. Tidak terburu-buru karena akan membuat tekstur kue yang dibuat tadi menjadi jelek.
Selain rasa Bu Diana juga sangat memperhatikan tekstur pembuatan kuenya alasannya agar semua pembeli yang membeli kuenya menjadi puas. Karena apa? Karena jika orang yang membeli kue itu dan kue nya enak dan lembut pasti orang akan kembali lagi untuk membelinya. Itulah alasannya mengapa bu Diana selalu memperhatikan cara pembuatan kuenya.
Kalau bertanya darimanakah Ibu Diana bisa belajar membuat kue?. dahulu bu Diana sempat kursus sebentar bagaimana cara membuat kue atau masakan lainnya yang sulit. Dan dari situlah Bu Diana mempelajarinya dengan detail siapa tau suatu saat akan berguna baginya. Dan akhirnya berguna juga untuk kedepannya dia bisa mencari nafkah untuk anak-anaknya dengan cara jualan kue. Walaupun penghasilannya sedikit Ibu Diana percaya pasti akan lama-lama jadi bukit.
Karena setelah ditinggal oleh suaminya yang meninggal akibat sakit bu diana mencari nafkah sendiri untuk menghidupi keluarganya. Semangat hidupnya hanya kedua anaknya yang sangat cantik dan sekarang sudah dewasa bahkan sudah memiliki keluarga sendiri.
Pembuatan kue dan masakannya yang enak-enak itupun diturunkan ke anak-anaknya karena kebetulan perempuan semua jadi bu Diana berfikiran seorang perempuan itu harus bisa memasak.
Untuk pendapatan yang lebih besar biasanya bu Diana menerima memasak untuk katering acara yang besar,menerima pesanan kue juga. Kalau untuk kue kebanyakan acara ulang tahun kalau untuk yang lain mungkin kue-kue buat pengajian juga bisa.
*****
" Ra langsung pulang kamu?" Tanya Nana setelah membereskan bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas.
Masukkan buku yang dibaru saja dipelajari bersama gurunya.
" Iya nih, emang ke mana lagi." Berdiri berjalan
meninggalkan kelas mereka.
" Ya iya sih ke mana lagi coba." Manggut-manggut sambil melihat ponsel yang ada ditangannya.
" Eh tadi aku ada yang enggak ngerti nanti aku hubungi kamu kita video call an atau aku chat kamu."
" Woke sip." Berjalan melewati lorong sekolah yang masih terlihat banyak siswa di sana sini. Mungkin menunggu untuk giliran kegiatan ekstrakurikuler bagi yang kelas 1 dan 2. Untuk kelas 3 sudah jarang terlihat ikut karena kegiatan ujian dan akan dilaksankan ujian atau les semacamnya.
Sampai di parkiran mereka berpencar mencari keberadaan motor masing-masing.
" Aku duluan ya ra?" Tanya Nana yang sudah menaiki motor hendak melajukannya dan sudah memakai helm.
__ADS_1
" Ya! Hati-hati." Teriak Syeira.
" Oke, kamu juga."
Nana yang sudah melajukan motornya terlebih dahulu meninggalkan Syeira, tidak berapa lama Syeira juga melajukan motornya meninggalkan parkiran sekolah.
*****
Beberapa menit kemudian Syeira sampai di rumah, memarkirkan motornya di samping rumahnya yang masih termasuk halaman rumahnya.
" Assalamu'alaikum!" Masuk kedapur karena sudah tau di mana keberadaan ibunya. di mana lagi kalau bukan didapur yang masih membuat kue.
" Wa'alaikumsalam, udah pulang ra?" Tanya ibu Diana yang masih menunggu kue yang di oven.
" Iya bu." Mencium tangan ibunya. " Aku bersih-bersih dahulu ya terus nanti aku bantuin ibu."
" Iya sekalian salat juga jangan lupa."
" He.em." menganggukkan kepalannya.
Syeira berjalan meninggalkan ibunya pergi ke kamar untuk menaruh tasnya, setelah itu berganti baju, wudhu dan salat menunaikan kewajibannya.
Setelah semua selesai Syeira masuk ke dapur lagi bersiap untuk membantu ibunya. Kalau di tanya mengapa Syeira tidak makan siang? Syeira memang jarang untuk makan siang, nanti ketika dia lapar dia akan makan dengan sendirinya. Katanya mubazir jika dia makan tetapi tidak lapar akibatnya akan membuang makanan itu dan sayang kan. Toh dia masih kenyang karena makanan yang dimakan di sekolah tadi. Kalaupun makan siang itu juga ketika dia hanya kelaparan saja.
" Gimana bu apa yang belum dikerjakan?" Tanya Syeira membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin.
" Kue pukisnya belum ra, semua udah tinggal kue pukis nya aja."
" Ya udah aku aja yang buat bu."
" Eh ra, nanti ibu mau ke kompleks sebelah bantuan masak."
" Hah acara untuk apa bu?" Tanya Syeira yang sudah bersiap untuk mengambil bahan untuk membuat kue.
" Pengajian untuk syukuran rumah."
" Lah emang rumahnya mengapa?" Bertanya sambil mengenyitkan dahinya.
" Rumahnya baru, baru kemarin pindah katanya."
" kompleks sebelah mana sih?"
__ADS_1
" Lah iya ibu juga enggak tau sebelah mananya." Ucap bu Diana dengan heran mengapa dia lupa di mana rumahnya atau lebih tepatnya mengapa tadi tidak tanya. Atau mungkin obrolan yang sedikit dan penampilan bu Rayana membuat bu Diana sedikit terkejut menjadi lupa akan keberadaan rumah bu Rayana.
" Ih ibu gimana sih, disuruh bantuin malah enggak tau, eh jangan jangan itu makhluk halus bu." Tebak Syeira dengan bergidik membayangkan makhluk jelmaan menjadi manusia.