Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 6 - Berbincang


__ADS_3

Pagi hari saat untuk semua orang mencari nafkah agar tidak dipatok ayam katanya orang zaman dahulu.


Dikamar mewah tepatnya di kediaman William. Alex sedang bersiap untuk berangkat bekerja. Alex sedang memakai jam tangan keluaran terbaru yang memiliki harga sangat tinggi. Jas berwarna abu-abu dan kemeja berwarna putih sangat cocok untuk kulit putihnya yang memiliki tinggi badan tegap berotot karena memang dia sangat rajin berolahraga.


Tok tok tok.... " Lex, kamu sudah bangun?" Tanya Nyonya Raya di depan pintu Alex.


" Iya mah sebentar!" Teriak Alex dari dalam kamar kemudian berjalan untuk membuka pintu kamarnya yang terkunci.


Ceklek


" Wah anak mama udah ganteng aja." Ucap Nyonya Raya dengan tersenyum senang.


" Mama bisa aja," berjalan kearah meja untuk mengambil tas kerja nya yang siap untuk berangkat.


" Sini mama bantuin," Mendekat ke Alex. Mereka saling berhadapan.


" Dasi kamu miring nih, udah seharusnya kamu punya istri biar ada yang benerin dasi kamu." Ucap Nyonya Raya seraya membenarkan dasi Alex.


" Mama istri mulu yang ditanyain." Jawab Alex dengan jutek.


" Ya habis gimana, sudah pantas kamu menikah lex emang mau gimana lagi sih."


" Ya entar lah mah jangan sekarang, Alex belum nemuin yang cocok buat Alex."


" Oke mama tunggu tetapi jangan lama-lama mama udah ingin punya cucu lex, kamu kok tidak tau perasaan mama sih." Ucap nyonya Raya dengan nada kesal berjalan kearah sofa.


" Iya ma Iya! Alex tau sabar dong, emang mudah nyari istri." Jawab Alex menghampiri mamanya yang sedang cemberut.


" Gimana kalau mama kenalin sama anak temen mama aja!" Ucap Nyonya Raya tersenyum cerah.


" Enggak Alex masih bisa nyari sendiri ma, tidak usah dicari cariin kaya biro jodoh aja!" Jawab Alex dengan nada kesal.


" Ya habis kamu tidak dapat dapat mama udah tidak sabar nih."


" Iya mama, sebentar lagi pasti dapat." Jawab Alex dengan lembut.


" Yaudah mama tunggu secepatnya." Jawab Nyonya Raya berjalan mendahului Alex keluar dari kamar.


" Huft," menghembuskan napas. "Mama mama." Ucap Alex sambil menggeleng gelengkan kepala.


Mereka berjalan menuruni tangga siap untuk sarapan bersama.


" Papa pulang jam berapa ma?" Tanya Alex sambil mengambil minum.


" Jam 10 an kali, katanya sih gitu tadi." Jawab Nyonya Raya dengan mengendikakkan bahunya dan mengambilkan nasi ke piring Alex.


" Oh gitu." Jawab Alex manggut manggut.

__ADS_1


Pagi pagi sekali Tuan Xander William papa Alex menelfon Nyonya Raya untuk memberi kabar jika nanti akan pulang. Memang Tuan Xander tidak bisa jauh dari Nyonya Raya makanya tadi dia menelfon dengan video call agar bisa melihat wajah Nyonya Rayanya tercinya. Padahal Nyonya Raya masih tertidur dan bangun karena mendengar dering ponsel.


Mereka saling menyapa dengan sayang walaupun sudah berumur mereka masih sangat romantis. Katanya agar tetap awet muda. Bisa bisanya Tuan Xander saja itu karena memang tidak bisa jauh dari Nyonya Raya.


Sekretaris Miko berjalan kearah ruang makan.


" Selamat pagi tuan, nyonya." Sapa sekretaris Miko yang menundukkan kepala dengan sopan.


" Pagi Miko, kamu udah sarapan sini sarapan bersama." Ajak nyonya Raya dengan lembut.


" Sudah nyonya, saya sudah sarapan."


" Ma aku berangkat." Ucap Alex mulai berdiri berjalan kearah Nyonya Raya.


" Ya hati hati di jalan."


" Ya ma." Sambil mencium punggung tangan Nyonya Raya.


" Saya permisi nyonya." Ucap sekretaris Miko menundukkan kepala.


" Eh iya lex, hati hati dijalan."


" Baik nyonya." Alex dan sekretaris Miko berjalan kearah pintu diiringi Miko dibelakangnya. Sekretaris Miko membukakan pintu mobil untuk Alex setelah itu berjalan kearah samping kemudi.


" Gimana kabarnya apakah ada perkembangan." Tanya Alex dengan melihat kearah samping kaca mobil.


" Tampau terus perkembangannya, jika ada kabar membaik segera beritahu." Ucap Alex melihat kearah jalan dengan raut wajah yang tidak bisa dibicarakan.


" Baik tuan."


*****


"Kamu udah mau berangkat ra." Tanya Ibu Diana yang lagi menyapu halaman rumah.


" Iya bu, aku udah mau telat ini." Jawab Syeira buru buru.


" Hati hati di jalan ya." Ucap Ibu Diana menyerahkan telapak tangan nya.


" Iya bu, assalamu'alaikum!" Setelah mencium punggung tangan Ibunya menghampiri motor.


" Wa' alaikumsalam." Melihat Syeira yang sudah menjauh bersama motornya. Kemudian melanjutkan menyapu halaman di rumah.


" Yur sayuuuurrr!" Ucap Pak Sayur yang lewat di depan rumah Syeira.


" Pak sayur!" Teriak Ibu Diana ibunya Syeira. Berjalan kearah tukang sayur.


" Ayamnya masih pak?" Tanya bu Diana.

__ADS_1


" Masih bu masih banyak ini sayur sop nya juga masih." Jawab pak sayur sambil memegang beberapa sayur digerobaknya.


" Wah kebetulan sa..." Ucap Ibu Diana terpotong bicaranya.


" Pak ayam nya masih ada, eh bu Diana mau belanja apa bu?" Tanya Ibu Tutik tetangga Ibu Diana yang berada di depannya.


" Eh ini bu, saya mau belanja ayam." Jawab Ibu Diana sambil memilih sayuran di gerobak.


" Owalah sama kita bu."


" Pagi buk ibuk semua yang cantek cantek!" Sapa Ibu Devi dengan gaya berlenggak lenggok nya.


" Pagi buk dep dep, hahaha." Jawab Ibu Diana dan Ibu Tutik dengan tertawa.


" Iih apasih kok dep dep!" Ucap Ibu Devi dengan menghentakkan kakinya.


" Ya habis gimana betul kan, Depi!, dep dep." Jawab Ibu Tutik dengan senyumnya.


" Iya betul tuh kata Ibu Tutik, kamu mah gimana sih dep!" Jawab Ibu Diana.


" Tau ah terserah kalian." Jawab Ibu Devi dengan kesal. Lalu mulai memilih sayurnya.


" Jangan marah dong bu Depi kita mah cuma bercanda, iyakan bu Tutik?" Jawab Ibu Diana kemudian bertanya pertanda persetujuan kepada Ibu Tutik.


" He.eh bener kata bu Diana, biar kita tidak cepat tua soalnya tertawa mulu. Hahaha." Jawab Ibu Tutik tertawa.


" Iya saya juga bercanda tadi, hahaha." Saut Ibu Devi


" Astaga kita kirain beneran bu Devi, bu devi." Ucap mereka dengan menggelengkan kepala.


" Ya enggaklah saya juga tau kalau bercanda, masa kayak gitu aja marah kan tidak lucu. Hahaha."


Kemudian mereka semua memilah dan memilih sayuran yang masih segar itu. karena memang masih pagi hari jadi wajar jika masih segar.


" Okelah silakan belanja saya udah selesai." Ucap Ibu Diana menyerahkan belanjaan kepada pak sayur.


" Berapa semuannya pak?"


" 30rb bu." Sambil memasukkan belanjaannya ke dalam kantung plastik.


" Ini pak." Ibu Diana menyerahkan uang 50rb an.


" Ini bu, kembaliannya." Sambil Menyerahkan kembaliannya ke bu Diana.


" Mari ibu ibu saya pamit." Ucap Ibu Diana kepada tetangganya tadi.


" Owalah enggeh bu monggo silakan." Jawab mereka berdua.

__ADS_1


Kemudian Ibu Diana masuk kedalam rumah dan menyimpan sayur itu semua kedalam kulkas. Menatanya dengan rapi agar tetap muat. Setelah itu menyelesaikan pekerjaan tadi yang sempat tertunda karena berbelanja di tukang sayur.


__ADS_2