
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang siswa yang mengikuti ujian juga sudah keluar. Karena pelajaran hanya dua dan waktu yang dibutuhkan juga hanya sedikit maka dari itu mereka keluar dengan cepat. Tidak seperti pelajaran biasa yang sampai pukul 1 baru keluar dari sekolah.
" lumayan ya soal ujian tadi bikin kepala sedikit nyut-nyut an." Ucap Syeira yang baru keluat dari kelas sambil memijit kepala yang sedikit pening.
" Ah kamu aja bilang gitu apalagi aku, entah itu jawaban benar atau salah, yang penting aku isi tuh kertas ujian." Jelas Nana dengan gelengan kepala mengingat ujian yang baru dikerjakan.
" Orang yang nyari soal itu kok ya pinter banget. Cari di mana orang kayak gitu. Bikin geleng-geleng kepala." Ucap Syeira dengan terheran.
" Tau tuh, kok bisa cari soal kayak gitu. Mana kita enggak bisa bukak buku disuruh jawab yang sulit. Aku cuma berharap bejo ikutin kita ra." Ceplos Nana dengan pikiran konyolnya. Berharap keberuntungan mengikuti mereka.
" Wah iya bener kamu na, semoga bejo ikutin kita ya. Biar nilai kita bagus. Dan aku pasrah aja juga, dapat berapa tuh nilai."
" Sama ra aku juga, mana aku jawab aja asal soalnya sulit banget."
" He.em, sudahlah lupakan yang lalu buka yang baru. Jangan ambil pusing ntar lama-lama gila." Menunjuk jari telunjuk dan membelah ke dahi.
" Hahhaha, bisa aja kamu. Yaudah yuk pulang, aku mau makan tenaga ku habis karena mikir yang berat tadi."
" Aih masa iya. Cepat amat terkurasnya." Jawab Syeira sambil mengenyitkan dahi dan sedikit memundurkan kepala.
" Tau tuh, perut kagak bisa di ajak kompromi. Ayok cepetan." Sambil mengelus perutnya.
" Ayok lah."
Ketika mereka akan berjalan ke arah parkir Doni Cs menghampiri Nana dan Syeira yang berjalan duluan.
" Ra, na!" Panggil Doni kepada Syeira dan Nana. Sedikit berlari dan menghampiri mereka.
" Eh kamu don kirain sapa." Jawab Syeira menoleh ke arah Doni.
Mereka berjalan beriringan dengan Nana dan Syeira di tengah.
" Mau ke mana? Langsung pulang atau mau ke mana duluan?" Tanya Doni kepada Nana dan Syeira.
" Aku mau langsung pulang ini, kalian sendiri mau ke mana. Tadi juga mengapa datang hampir terlambat?" Tanya Syeira kepada Doni Cs.
" Kita tadi sebenarnya sudah datang tetapi kita masuk ke ruangan guru. Jadi masuk kelas baru barengan sama guru pengawas." Jelas Doni panjang lebar. Karena dia tahu jika kedua teman perempuannya ini sangat kepo.
" Owh gitu, kirain kalian baru datang terus kena hukuman duluan baru deh masuk kelas." Saut Nana yang dari tadi diam mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
" Enggak lah."
" Nah terus ini kalian mau ke mana?" Tanya Nana kepada Doni Cs menolehkan kepala ke arah Doni, Dika, dan Soni.
" Kita mau ke rumah Doni." Jawab Soni diikuti anggukan kepala oleh Dika dan Doni.
" Mau ngapain, mau belajar bersama ya?" Nana yang kepo terus bertanya kepada mereka.
" Ya main, ya belajar, ya makan. Kita lihat aja entar gimana enaknya." Jawab Dika dengan santai sambil memakan permen karet yang ada di saku seragamnya.
" Astaga, bisa-bisanya kayak gitu. Emang enggak dimarahin sama kedua orang tua kamu don?" Nana menoleh kearah Doni yang masih mendengarkan percakapan mereka.
" Enggak, orang tua aku mah santay. Enggak pernah melarang aku selama itu masih di atas wajar. Mereka mah senang karena aku ada yang nemenin." Jelas Doni kepada mereka. Orang tua Doni memang tidak melarang siapa pun masuk ke dalam rumah mereka jika itu masih hal yang baik. Karena mereka sadar jika anaknya butuh teman untuk menemani disaat kesepian.
" Maksud Nana kan kita lagi ujian, emang orang tua kamu enggak tanya kalau kalian main kok enggak belajar malah main gitu." Saut Syeira yang mengerti maksud apa yang di tanyakan oleh Nana.
" Ohw itu, enggak juga. Mereka tau kalau anaknya bisa mengerjakan soal ujian itu. Dan mereka juga paham kalau anaknya mengerti untuk membedakan mana yang harus belajar dan main pada waktunya." Doni menjelaskan kepada mereka. Jika orang tuanya mengerti akan anaknya yang masih butuh teman atau main disaat ujian pun.
" Emm gitu, enak dong ya orang tua kamu don bisa membedakan antara kepentingan dan keharusan." Jawab Nana kepada Doni.
" Maksudnya kepentingan dan keharusan?" Tanya Dika yang tidak mengerti maksud Nana.
" Aih bisa ae lu. Hahaha." Jawab Doni dengan diiringi tertawa.
" Iya na, bisa aja kamu." Saut Syeira kepada Nana. Merangkul Nana yang ada disampingnya.
" Bisa lah, Nana lho ini." Ucapnya dengan mengangkat kerah seragamnya. Seolah sedang membanggakan diri.
Sampai di parkiran hanya tertinggal motor yang sedikit diparkiran sekolah. Karena mereka kebanyakan mengobrol di halaman sekolah depan ketika Doni Cs memanggil Nana dan Syeira.
" Beneran kalian mau langsung pulang? Enggak ikut kerumahku?" Tanya Doni kepada Nana dan Syeira ketika dia sampa di depan motornya.
" Enggak lain kali aja don. Kalau sekarang ujian enggak bisa, takut dimarahin ibu." Jelas Syeira kepada Doni.
" Iya don, tau sendiri kita anak perempuan harus rajin belajar. Nanti setelah ujian kita main ke rumah kamu." Saut Nana kepada Doni, sambil berjalan ke arah motornya.
" Ya okelah. Hati-hati kalau begitu kita duluan." Ucap Doni kepada Nana dan Syeira yang sudah menyalakan motornya siap melajukan.
" Oke siap!" Jawab kompak Nana dan Syeira menoleh ke arag Doni.
__ADS_1
" Bye!" Ucap Dika dan Soni yang juga sudah akan keluar dari parkiran sekolah.
" Bye!"
" Ati-ati ra." Ucap Nana kepada Syeira yang sudah bersama menaiki motor bersampingan.
" Oke, bye na."
" Ya bye."
Mereka meninggalkan parkiran sekolah yang sudah sepi karena sudah banyak yang pulang.
Beberapa menit kemudian Syeira sudah sampai di rumah. Memarkirkan motornya di tempat biasa.
" Assalamualaikum, ibu!" Teriak Syeira yang baru masuk ke dalam rumah. Mencari ibunya yang entah ke mana.
" Waalaikumsalam, kok sudah pulang ra?" Tanya Bu Diana yang baru dari pintu belakang rumah mereka.
" Iya bu, kan aku ujian jadi pulangnya lebih awal."
" Oh iya ibu lupa."
" Ibu darimana kok dari pintu belakang?"
" Ini Ibu metik cabai di tanaman belakang. Kemarin kan ibu nanam sedikit eh ternyata tumbuh banyak. Ya sudah ibu petik untuk tambah masak nanti." Jelas ibu Diana yang menggenggam cabai ditangannya. Berjalan ke arah dapur untuk menaruh cabai itu.
" Masa iya, tau gitu nanam banyak bu terus enggak usah beli lagi. Kan lumayan kalau enggak beli cabai." Jawab Syeira sambil melepas tas dan jaketnya yang dipakai ke sekolah.
" Enggak tentu juga ra, kalau di tanam juga belum tentu tumbuh banyak. Kan ini aja enggak sengaja. Terkadang jika di sengaja untuk di tanam itu malah enggak tumbuh."
" Masa iya bu, kalau di pupuk gimana?"
" Ya kalau di pupuk bisa jadi sih. tetapi entar kita coba ya. Sudah kamu makan sana. Udah lapar apa belum?"
" Hehehe sudah bu, aku ganti baju duluan aja. Gerah ini lengket semua."
" Ya sudah sana."
" He.em." Syeira pergi meninggalkan ibunya yang mencuci cabai sebelum di masukkan ke dalam kulkas.
__ADS_1
Syeira mengganti baju seragamnya dan menggantungnya. Lalu membersihkan diri sebelum makan agar lebih nyaman ketika makan.