
Nana yang sudah siap untuk berangkat ke rumah Syeira berpamitan dahulu kepada kedua orang tuanya.
Berjalan ke arah orang tuannya yang sedang mengobrol bersama di sofa.
" Ayah, ibu, Nana berangkat ke rumah Syeira ya."
" Ya hati-hati di jalan." Ucap Ibu Farah menoleh ke arah Nana.
" Iya bu, assalamualaikum." Mencium tangan ayah dan ibunya.
" Waalaikumsalam!" Jawab ayah dan ibu Nana bersamaan.
Tak banyak yang Nana bawa hanya ponsel dan uang. Menaruh di saku celananya, tidak membawa buku juga karena niatnya hanya bermain ke rumah Syeira.
Belajar sudah mereka lakukan, kalau pun belajar bersama mereka akan lakukan di sekolah atau lewat ponsel. Sekarang mah enak, kalau mau belajar dengan teman yang tinggal sedikit jauh dari rumah, melakukan dengan cara video call atau bertatap muka melalui ponsel.
Sangat mudah sekali, tidak perlu repot untuk pergi ke rumah teman yang terletak jauh dari tempat tinggal kita. Kalau ada yang mengharuskan untuk belajar bersama yang beberapa orang dan sekalian ingin keluar itu tidak mengapa jika langsung pergi ke rumahnya.
Sampai di rumah Syeira Nana memarkirkan motornya tepat di samping motor Syeira. Berjalan ke arah pintu.
Tok tok tok....
" Assalamualaikum!" Menengok ke kanan dan ke kiri dari arah cendela.
Di dalam rumah Syeira duduk di sofa sambil memainkan ponselnya langsung membuka pintu.
" Kayaknya itu Nana deh." Gumamnya dengan sendiri. Menebak dan menengok ke arah cendela. Beranjak dari duduknya dan membuka pintu rumah.
Ceklek..
" Waalaikumsalam." Membuka pintu, " gimana macet enggak tadi?" Tanya Syeira dengan tersenyum.
" Enggak, lancar jaya abadi, hehehe." Jawabnya dengan menunjukkan deretan giginya.
" Bisa aja, yuk masuk." Masuk duluan diikuti Nana di belakangnya.
" Macet sih enggak tetapi panas ra, busyett!" Dengan memelototkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Lah, kagak pakek jaket."
" Yha pakek sih, tetapi rasanya masih nembus."
" Iya juga sih, bentar kalau begitu aku ambilin minum, tamu agung mau minum dingin apa biasa?" Bertanya dengan sedikit melebihkan perkataannya, sambil menundukkan kepala. Seolah Nana adalah tamu yang sangat patut di hormati.
" Ah kampret lu, dingin aja lah biar seger." Jawab Nana dengan senyum sumringahnya.
" Siap, bentar tunggu dahulu aku ambilin kipas juga." Beranjak dari duduknya, berjalan ke arah kamar untuk mengambil kipas angin. Menaruhnya di dekat meja mengarah ke tempat duduk Nana.
" Ah dinginnya, pas nih ra." Dengan memperlihatkan lehernya ke arah kipas angin sambil memejamkan mata.
Syeira berjalan ke arah dapur untuk mengambil makanan dan minuman untuk Nana. Menyiapkan es jeruk dan kue yang di buatnya tadi.
" Nih minum pasti mantep." Meletakkan minuman dan makanan tepat di depan Nana atas meja.
__ADS_1
" Uh cocok nih ra." Ucapnya dengan senang. Lalu meneguknya, ketika melewati tenggorokan serasa seperti lega banget.
" Kamu bawa buku na?"
" Enggak lah niatnya kan buat main bukan belajar, pusing aku belajar terus, ntar kalau di rumah juga pasti belajar kan mau ujian."
" Yha bener jugak."
" Ra ini kue siapa yang buat?" Tanya Nana yang sudah mencomot kue di depannya. Tidak sabar untuk memakan karena dari bentuknya sudah sangat memikat untuk segera di makan.
" Aku lah, kebetulan ibu lagi nyuci terus aku deh yang buat."
" Kamu bisa buat kue ra?" Tanyanya sambil mengunyah kue.
" Bisa lah, kan aku diajarin dahulu sama ibu mangkanya aku bisa buat kue." Jelasnya sambil juga memakan kue yang di buatnya tadi dan memperhatikan kue yang di pegangnya.
" Hebat kamu, ajarin dong kalau gitu ra."
" Yha nanti lah gampang."
" Oke sip, kamu juga bisa masak makanan ra?"
" Bisa juga, sedikit-sedikit."
" Semua alat dapur bisa kamu gunakan dong?" Tanya Nana dengan mengkerutkan dahi.
" Bisa sih, sedikit-sedikit."
" Gilak, aku aja masih belum semua, lha kamu malah semuanya sudah. Hebat-hebat."
*****
Di perusahaan
Alex sedang meting dengan klien yang kemarin sudah memberi janji untuk bertemu dengannya. Sebagai sekretaris, Miko duduk di samping Alex untuk mengamati lebih jelas apa yang di bicarakan oleh kliennya dan memperhitungkan kesalahan yang ada. Alex sendiri masih mendengarkan kliennya berbicara.
Sebagai seorang pemimpin pemegang perusahaan yang besar sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Alex duduk berjam-jam di ruangan meting. Memperhatikan klien yang sedang presentasi untuk memikat hati seorang Alex agar mau bekerja sama dengannya.
Sampai beberapa jam kemudian meting sudah selesai. Mereka semua meninggalkan ruangan meting. Dan Alex setuju bekerja sama dengan klien yang baru saja meting dengannya.
Masuk ke ruangannya melihat masih banyak berkas yang harus di tandatangani dan di baca ulang. Lelah? Pastinya, membaca banyaknya berkas dan belum yang ada di laptop serta emailnya.
Duduk di kursi kebesarannya memijat kepala dengan menyenderkan tubuhnya ke kursi.
" Apakah anda ingin di buatkan kopi tuan?" Tanya Sekretaris Miko, karena melihat tuannya yang seperti sedang kelelahan.
" Ya, kopi susu ko." Menurunkan tangan yang baru saja memijat kening, lalu beralih melihat laptop si depannya.
Meting hanya satu kali tetapi pekerjaan masih berkali-kali yang harus di selesaikan. Mau tidak mau Alex harus mengerjakan ini semua.
Dengan cepat Alex segera menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk agar cepat selesai juga.
" Silakan tuan." Menaruh kopi di atas meja Alex samping laptopnya.
__ADS_1
" Ya."
" Kalau begitu saya kembali keruangan tuan." Ucapnya dengan menundukkan kepala.
" Hem." Jawabnya dengan singkat. Tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
Miko keluar ruangan Alex menuju ruangannya sendiri. Mengerjakan pekerjaan dengan segera.
*****
" Na aku mau mengantar kue sebentar, kamu tunggu di sini aja ya." Ucap Syeira kepada Nana. Mereka duduk di kursi yang di depannya banyak tanaman bonzai.
" Enggak, aku ikut ya?" Menoleh ke arah Syeira.
" Panas lho, yakin mau ikut."
" Iya enggak pa-pa, sekalian lihat jalanan sini."
" Okelah, sebentar aku ambil kue di dalam." Ucapnya kepada Nana. Meninggalkan Nana yang masih melihat bonzai Syeira. Masih di buat terkejut dengan kreasi bonzai Syeira yang di buat dengan bagus bentuk pertumbuhannya.
Tadi mereka berbincang sampai melihat tanaman bonzai Syeira yang menurut Nana itu unik. Bisa bertumbuh dengan sangat apik.
" Yok na."
" Sini aku bawa, kamu yang setirin aku." Mengambil kue yang di bawa Syeira.
" Okelah."
Syeira mengambil motornya yang di parkir tepat di samping motor Nana. Tetapi sebelum itu Nana mengambil jaket yang berada di dalam jok motornya.
Barulah melajukan motor ke tempat toko terdekat yang biasa untuk menitipkan beberapa kue.
" Jauh ya ra?" Tanya Nana mendekatkan wajahnya ke samping telinga Syeira.
" Enggak terlalu sih, tetapi kalau jalan ya lumayan, mending pakek motor aja."
" Setiap hari kamu nganterin kaya gini ra?"
" Iya lah, siapa lagi kalau bukan aku. Kasihan kalau ibu yang anterin, dia harus jalan kaki ke tempat toko-toko." Jelasnya sambil terus melajukan motor dengan pelan.
" Iya juga sih, terus setiap hari kan kamu sekolah ra, gimana dengan kuenya."
" Setelah pulang sekolah aku anterin nih kue-kue."
" Langsung ra?"
" Iya tetapi setelah salat berganti baju dan lain-lain pokoknya."
" Strong girl!"
" Iya dong harus, kita kan perempuan tanpa kenal lelah. Eak eak eak, hahaha." Ucap Syeira dengan bercanda dan tertawa.
" Bener banget tuh."
__ADS_1
Mereka sampai di toko pertama untuk menitipkan kue Syeira. Lalu berjalan lagi untuk ke toko ke dua.