
Sampai di ruang makan mereka makan malam dengan tenang dan hening. Hanya dentingan sendok dan garpu. Tak ada yang memulai percakapan karena mereka terlalu fokus pada makanan yang tersedia.
Selesai makan mereka duduk di sofa. Menyalakan televisi untuk menambah suasana keramaian.
Berbeda dengan Tuan Victor yang asyik sendiri dengan ponsel ditangannya. Dengan hoby yang bermain game online. Menggunakan waktu luangnya untuk memulai permainan game online.
Nyonya Zena yang suka menonton sinetron pun memilih menonton televisi.
Mereka duduk dengan Nyonya Zena di tengah. Tuan Victor di samping kiri dan Doni di samping kanan.
Doni merebahkan kepala di pangkuan Nyonya Zena sambil melihat sosmed di ponsel.
Sedangkan Tuan Victor masih heboh sendiri dengan game online.
" Ya, ya, teros tembak teros. Mati lah kalian semua!" Ucap Tuan Victor dengan menggerakkan ponsel ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya bergoyang sesuai dengan permainan game online.
Kaki yang dinaikkan di atas sofa yang diduduki. Menekuk untuk menumpu kedua tangan yang berada di lututnya dengan memegang ponsel.
Nyonya Zena yang melihat suaminya heboh sendiri, menggeplak paha dengan sedikit keras.
" Apasih ma, lagi asyik nih. Jangan di gangguin." Tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya. Mata yang terlalu fokus ke arah ponsel.
" Kalau main tuh jangan teriak-teriak. Ini yang lagi nonton kaget dengernya pa." Ucap Nyonya Zena dengan menolehkan wajahnya ke arah Tuan Victor. Dengan muka yang kesal.
" Iya maaf, tadi papa eksaitit ma." Menolehkan kepala sebentar ke arah istrinya dengan tersenyum.
" Kaya enggak tau papa aja ma, papa kalau main kan suka gitu. Teriak sendiri, tertawa sendiri, kesal sendiri. Hahaha." Saut Doni mengejek papanya. Mengatakan keseharian Tuan Victor ketika bermain game online.
" Ya iya sih bener jugak. Tetapi mama kaget tadi. Kesel juga, ketika lagi fokus menonton televisi malah denger teriakan."
" Ini yang kalian omongin lagi ada di samping lho. Telinga ini masih jeli untuk mendengar semua perkataan kalian." Ucap Tuan Victor dengan terheran.
" Biarin, biar tau rasa dan intropeksi diri." Ucap Nyonya Zena dengan ketus.
__ADS_1
Tuan Victor masih fokus ke arah ponsel tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia tau jika istrinya hanya marah sesaat. Membiarkan tanpa merayu atau membujuknya.
Doni yang mendengarkan ucapan mamanya hanya cekikikan tanpa menjawab lagi. Kembali fokus ke arah ponsel.
Walaupun mereka fokus dengan dunianya sendiri. Tetapi itu sangat berharga bagi mereka. Bercanda bersama dan membicarakan hal yang lebih seru selain pekerjaan. Biasanya mereka sibuk di luar kota atau negeri yang mengharuskan mereka berpisah dengan anaknya. Meninggalkan di rumah sendiri bersama pembantu. Karena itulah saat seperti ini mereka butuhkan.
Sembari menonton televisi Nyonya Zena menyentuh kepala Doni. Mengelus kepala dengan lembut. Sesekali mengecup kening Doni.
Doni yang mendapatkan perlakuan seperti itu. Menenggelamkan kepala ke dalam perut mamanya.
" Ujian ini kan selesai. Kayaknya Doni akan pergi ke puncak bersama teman Doni. Boleh enggak ma?" Bertanya sedikit tidak jelas kepada mamanya. Karena wajahnya masih mendusel ke dalam perut Nyonya Zena.
" Ga pa-pa yang terpenting hati-hati. Jaga diri baik-baik mama cuma pesan itu aja. Berapa orang memang yang pergi ke sana?"
" 5 orang ma, ada perempuan 2 orang."
" Kalau ada perempuan kamu tau apa yang harus kamu lakukan. Jangan pernah berbuat macam-macam di luar batas dan jaga perempuan itu. Karena kamu anak lelaki yang bisa diandalkan bagi mereka."
Tuan Victor yang mendengarkan percakapan anak dan istrinya membiarkan tanpa berucap apapun. Dia tau jikaa anaknya pasti tidak akan mengecawakan kedua orang tuanya.
*****
Sama halnya dengan keluarga Nana yang saat ini juga duduk bersama depan televisi. Tetapi bedanya mereka duduk di atas karpet lantai.
Di temani camilan dan singkong yang di beri keju.
Dengan Nana yang mengajari adiknya mengerjakan pr sambil memakan singkong.
Kedua orang tuanya menonton televisi yaitu bola.
Sesekali adiknya juga melirik apa yang ditonton oleh orang tuanya. Tetapi dia juga belajar apa yang di kerjakannya.
" Bu, ayah, kira-kira aku izin mau pergi ke puncak bersama teman-temanku boleh apa enggak?" Tanya Nana kepada kedua orang tuanya. Sambil mengunyah singkong dimulutnya.
__ADS_1
" Ha, puncak! Jauh pasti na. Sama siapa aja, kok jauh amat ke puncak." Jawab Ibu Farah dengan nada sedikit tinggi karena terkejut mendengar ucapan Nana.
" Enggak tau, pokoknya puncak gitu aja. Yang jelas itu milik teman aku. Biaya juga ditanggung sana. Kita cuma berangkat aja. Bawa keperluan yang dibutuhkan seperti baju." Jelas Nana kepada mereka dengan santai. Tak ada ucapan yang membuatnya takut ketika meminta izin. Karena jika dia takut pasti orang tuanya tidak akan tega untuk mengijinkannya.
" Sama siapa tuh, sama siapa aja."
" Aku, Syeira juga ada dan 3 teman laki-laki aku."
" Mana ada laki-lakinya lagi. Kamu kok ada-ada aja sih na, pergi jauh sama lelaki juga." Ucap Ibu Farah dengan khawatir. Tidak tega anaknya pergi dengan lelaki yang belum pernah dia kenal. Dan ke puncak bersama.
" Ya, gimana bu. Kalau enggak ada lakinya kalau ada apa-apa siapa yang bantuin. Jika ibu tidak percaya nanti teman aku bakalan jemput. Dan ibu bisa lihat sendiri orangnya bagaimana." Mencomot lagi singkong yang berada di sampingnya.
Ibu Farah yang melihat anaknya meminta izin dengan tanpa takut sedikitpun menjadi berpikir untuk memperbolehkan Nana pergi.
Dan Nana juga sudah meminta izin dengan baik-baik. Belum tentu anak lain mau minta izin dan langsung pergi tanpa memberitahu dahulu kepada orang tua.
Sebenarnya orang tua hanya takut jika anaknya terjadi sesuatu pada saat pergi. Tetapi jika anak meminta izin terlebih dahulu apa salah? Seharusnya dia sebagai ibu mendoakan anaknya agar sampai ke tempat tujuan dengan selamat.
" Tetapi jika ibu tidak memperbolehkan Nana pergi ya sudah tidak pa-pa. Nana tidak akan pergi." Ucapnya masih dengan nada santay tanpa beban. berpikir mungkin jika tidak diijinkan itu bukan yang terbaik untuknya. Memaksa juga percuma nanti terjadi sesuatu malah dia sendiri yang terkena akibatnya. Dia hanya berpikir logis.
" Engga, ibu ijinin kok. Tetapi kamu harus berhati-hati dan nanti jika akan berangkat ibu mau lihat teman kamu itu."
" Iya bu, makasih ya bu." Ucap Nana dengan senang dan tersenyum. Tidak sia-sia dia perpasrah diri.
" Iya sama-sama."
Nana melihat ke arah ayahnya yang masih fokus ke arah bola.
" Kalau ayah bagaimana, boleh apa tidak?"
" Hem, kalau ibumu sudah bilang begitu ayah bisa apa. Ayah dan ibu hanya berdoa semoga sampai tujuan dengan selamat. Tidak ada yang luka sekecil pun." Ucap Pak Hasan dengan bijak. Pak Hasan berpikir jika Nana tidak sering bepergian. Dia merasa egois jika Nana tidak bisa menghirup udara di luar di saat remaja. Masa-masa masih senangnya untuk bermain dan keluar.
" Ah!, terima kasih ayah. Baik deh ayah." Teriak Nana dengan heboh. Senang karena ayahnya juga mengijinkannya pergi. Beranjak dari duduknya dan memeluk ayahnya lalu ibunya.
__ADS_1