
Setelah makan malam bersama mereka duduk di sofa dengan televisi yang menyala. Seperti biasa mengobrol membicarakan hal lain dengan sesekali menonton televisi. Juga orang tua Doni yang ingin mengetahui bagaimana perkembangan anaknya di sekolah dan pergaulan pertemanan. Jika mereka sering mengobrol pasti anak tidak akan malu lagi untuk membicarakan hal-hal yang di kirannya penting untuk tidak di bicarakan.
" Gimana don sekolah kamu?" Tanya Tuan Victor kepada Doni menoleh sebentar kepada Doni.
" Lancar pah, enggak ada apa-apa." Ucapnya dengan santai. Memang tidak ada masalah dengan sekolahnya bahkan sangat lancar.
" Kalau untuk pertemanan kamu bagaimana, apakah ada teman yang lain mendekati kamu?" Tanyanya lagi dengan penasaran.
" Tidak, semua teman aku sama. Tidak ada yang baru, karena memang tidak ada murid yang pindahan dari sekolah lain."
" Bagus kalau begitu, ingat ya don, kalau kamu bertemu dengan teman yang sekiranya ingin menjerumuskan kamu dengan hal negatif kamu jangan mau." Jelas Tuan Victor dengan menasehati Doni. Tidak ingin jika anaknya terlibat dalam pergaulan bebas.
" Iya pah, Doni juga tau mana teman yang baik mana yang tidak baik, Doni juga enggak bodoh amat kali pah."
" Siapa tau kamu lupa dan tergiur kan dengan iming-iming yang tidak jelas."
" Benar kata papa kamu don, papa dan mama sayang sama kamu jadi tidak ingin jika terjadi sesuatu dengan kamu, apalagi pergaulan zaman sekarang yang melalui batas." Saut Nyonya Zena panjang lebar.
" Iya mama papa, tenang aja. Doni bisa jaga sendiri kok."
" Kalau gitu kan papa dan mama tenang, ingat kalau ada apa-apa cepat hubungi papa dan mama, atau nanti papa carikan mata-mata untuk membuntuti kamu." Tegas Tuan Victor kepada Doni. Dengan badan yang sudah di tegapkan ketika berbicara seperti itu.
" Woits, menoleh langsung kepada papanya dengan teekejut. "santuy dong pa!. Iya enggak, janji nanti kalau ada apa-apa Doni langsung bicarakan kepada papa dan mama." Jelas Doni takut jika beneran yang di katakan oleh papanya. Yang nantinya akan tidak leluasa jika dia ingin ke mana-mana.
" Bagus kalau begitu." Ucap papanya.
Wajar aja sih jika orang tua Doni sangat Over protective karena dia hanya anak tunggal. Anak satu-satunya Mama dan papanya. Nyonya Zena yang tidak bisa hamil lagi karena ada masalah dengan rahimnya hanya bisa hamil sekali saja. Apa lagi Tuan Victor yang tidak ingin membahayakan istrinya hanya menurut apa kata dokter. Setidaknya mereka sudah memiliki anak walaupun hanya satu. Biarlah nanti Doni yang mempunyai anak banyak dan bisa memberi cucu untuk mama dan papanya.
" Udah pa, Doni pasti menurut apa yang di katakan oleh kita, dia kan anak yang penurut." Ucap Nyonya Zena dengan lembut, mengelus bahu suaminya agar tidak naik darah.
" Ahii, mama memang ter the best." Batin Doni dengan senyum penuh kemenangan karena sudah di bela oleh mamanya.
Tuan Victor jika sudah mulai menaikkan nada bicara pasti akan membuat dia lebih kesal, jika tidak di redam amarahnya dengan segera. Dan juga akan lebih panjang nantinya.
" Papa dan mama enggak keluar kota lagi?" Tanya Doni sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
" Belum, di sana sudah lebih stabil. Sekarang tinggal mengurus di sini. Ada apa memang?" Tanya balik Nyonya Zena.
" Ya enggak, tanya aja."
Mereka pun kembali fokus dengan televisi. Tetapi tidak dengan Doni yang sudah sibuk memainkan ponsel. Melihat sosmed yang lagi ramai untuk di bicarakan.
" Ujian kamu kapan don?" Tanya Nyonya Zena. " Sini dong deketan sama mama, mengapa sih jauh amat duduknya." Protes Nyonya Zena kepada Doni. Memang benar posisi duduk Doni sedikit jauh dari mamanya, berbeda sofa tetapi sofa yang di samping .
" Apa sih ma, di sini aja juga kedengeran." Kekeh dengan pendiriannya.
" Sini enggak!" Bentak Nyonya Zena bahkan Tuan Victor sampai terkejut mendengar suara istrinya.
" Ma, sampai kaget lho papa." Mengelus dada dengan menstabilkan nafasnya.
" Ehehehe, maaf pa abis mama kesel sama Doni, sudah lama enggak bertemu mama kan kangen ingin peluk, lah ini jangan kan peluk, dekat aja enggak." Ucap Nyonya Zena dengan muka yang cemberut setelah tertawa.
" Iya tetapi enggak usah teriak ma, kaget loh." Dengan muka juga cemberut yang di buat.
" Dih, papa lebay." Saut Doni kepada papanya dengan mengejek papanya.
" Gimana jantung papa enggak pa-pa kan?" Tanya Nyonya Zena kepada Tuan Victor dengan tangan yang sudah mengelus dada suaminya dengan lembut.
" Dag dig dug ini ma." Ucapnya dengan manja.
" Uh kesayangan, sini mama elus dahulu."
" Ihhhh mama nih, papa itu cuma bercanda! Tuh lihat muka nya sudah mengejek ke Doni lagi." Ucap Doni dengan sewot. Karena setelah mamanya mengelus dada Tuan Victor dia langsung memeluknya. Dengan muka yang mengejek kepada Doni.
Itu lah kelakuan yang dilakukan oleh Tuan Victor. Jika Doni tidak cepat peka terhadap mamanya, dia akan melakukan cara agar apa yang diinginkan oleh istrinya terkabul.
Tuan Victor akan menjahili Doni dengan bermanja kepada Nyonya Zena untuk membuat Doni cemburu dan iri. Yang nantinya Doni sendiri akan melerai mereka dan dengan cepat memeluk mamanya.
Kalau tidak begitu Doni tidak sadar apa yang diinginkan oleh mamanya. Sebagai orang tua jika sudah lama tidak bertemu dengan anaknya pasti akan sangat merindukan. Jadi Nyonya Zena ingin memeluk anaknya tersayang, tetapi apalah daya jika anaknya tidak peka terhadap dirinya.
Dan tidak berapa lama pasti Doni akan merebut mamanya dari papanya untuk agar memeluk dirinya juga.
__ADS_1
Doni berjalan ke sofa yang di duduki oleh mama dan papanya.
" Ih papa, papa kan sudah setiap hari peluk mama gantian Doni dong!" Protes Doni kepada papanya yang sudah menolehkan mamanya untuk memeluk dirinya.
" Lah kamu sendiri kan tadi yang tidak mau di peluk, ya sudah mending mama peluk papa aja." Ucap Tuan Victor dengan santai setelah melepas istrinya untuk memeluk anaknya. Dengan tubuh bersender sofa.
" Tau ah." Yang masih nyaman dengan pelukan mamanya.
" Sudah, ucap Nyonya Zena melerai. " Uh anak mama, kangen deh beberapa hari enggak bertemu." Ucapnya lagi dengan lembut sambil mencium kening Doni dan mengelus rambut.
" Mama sih ikut papa terus, harusnya kan di sini aja nemenin Doni."
" Kamu sudah besar, kalau papa enggak di temenin nanti siapa yang ngurusin dan entar uring-uringan malah membuat mama pusing."
" Ya terserah deh."
Setelah beberapa menit acara peluk memeluk mereka kembali dengan duduk santai.
" Belum jawab loh tadi pertanyaan mama, ujian kamu kapan?"
" Minggu depan ma mulainya."
" Kamu harus belajar dengan pintar, setelah lulus kamu ingin kuliah di mana?" Tanya Tuan Victor.
" Belum tau pa."
" Terserah mau kuliah di mana yang terpenting nanti kamu harus meneruskan perusahaan papa, bantuin papa."
" Iya pa, Doni sudah tau kok."
" Iya Don, apalagi kamu anak satu-satunya mama dan papa, kalau enggak kamu siapa lagi."
" Iya,iya."
Doni sudah tau jika dia pasti akan meneruskan perusahaan papanya. Selain ingin membahagiakan orang tuanya dia juga tidak ingin memusingkan orang tuanya untuk siapa yang meneruskan perusahaan kalau dia tidak ingin meneruskan. Apalagi dia anak tunggal pasti lah Doni berfikiran untuk yang ke depannya bagaimana.
__ADS_1