
Tok tok tok.....
" Ya! Bentar der nanti kakak kekamar mu!" Teriak Nana dari dalam kamar yang masih memainkan ponselnya.
" Oke." Meninggalkan pintu kamar kakaknya lalu berjalan kearah kamarnya yang terletak di samping kamar Nana tetapi terhalang oleh kamar lagi.
" Si derix, ini lagi asyik-asiknya malah udah selesai nonton aja tu anak." Gumam Nana bangun dari tempat tidurnya.
Memang tadi Nana bermain ponselnya mencari di sosmed cowok-cowok korea yang sering bermain di drakor.
Melihat juga k-pop yang bernyanyi dengan melepaskan kemejanya lalu bertelanjang dada. Menari dance dengan gaya cool hingga meminum minuman air putih dibotol hingga menetes didada. Perut dengan membentuk seperti roti sobek.
Uhhh membuat cewek-cewek yang melihatnya ngiler. Serasa tidak ada yang bisa ngalahin cowok-cowok yang ada di korea.
Menurutnya cowok korea itu it's so perfect. Ganteng, putih, tinggi dan wajahnya itu loh kalau dilihat masih aja awet muda walaupun itu sudah berumur.
Keluar dari kamarnya dengan menggenggam ponsel ditangannya. Masuk ke kamar Derix.
Tok tok tok ....
" Masuk kak, kagak dikunci!" Teriak dari dalam kamarnya.
Ceklek...
Masuk kedalam kamar Derix melihat adiknya masih mencari buku di tumpukan meja belajar.
Melihat karpet yang digulung, Nana berinisiatif untuk mengambil lalu membukanya dan duduk di atas karpet.
Karena tidak mungkin dia akan duduk dikursi depan meja belajar yang hanya ada satu kursi di sana.
" Nih kak, yang ini ni." Memperlihatkan tugasnya kepada Nana.
" Bentar kakak lihat rumusnya." Mengambil buku Derix membuka yang ada rumusnya lalu membacanya sebentar.
"Owalah ini tinggal dikalikan lalu dibagi sama ini, coba kamu kerjain."
" Heem."
Derix sebenarnya pintar tetapi dia sangat tidak suka pada pelajaran matematika, yang menurutnya rumit dan berbelit-belit.
Jadilah setiap saat Nana selalu mengajari Derix belajar matematika. Walaupun kadang Nana suka kesal karena Derix tidak cepat mengerti dengan penjelasannya.
Melihat adiknya belajar membuat dirinya menjadi senang karena seorang anak lelaki yang mau menurut dan berinisiatif untuk belajar itu menjadi poin plus tersendiri. Dengan dirinya yang masih memainkan ponselnya.
" Uh gantengnya ni cowok." Ucap Nana dengan telapak tangan menempel dipipinya.
" Hah sapa?" Tanyanya, dia menoleh kearah Nana yang yang sedang sibuk melihat ponsel.
" Enggak-enggak, udah kamu kerjain kakak mau melihat oppa-oppa korea."
__ADS_1
Derix hanya memutar bolanya dengan malas mendengar perkataan kakaknya. Karena dia sudah sering dengan kakaknya yang dengan senangnya melihat cowok dinegeri orang.
Menschrooll ke bawah melihat lebih banyaknya cowok korea yang lebih keren di ponselnya.
" Uhh ganteng banget mana senyumnya itu loh manis bikin meleleh, bener-bener perfect. Ini kalau aku punya cowok kayak gini pasti banyak yang ngiri tuh." Batin Nana yang masih melihat ponselnya dengan tersenyum.
" Udah selesai belum?" Tanyanya kepada Derix yang matanya masih fokus ke ponsel.
" Belum." Yang masih menghitung dan berpikir dengan keras apa jawabnya.
" Lama amat der, perasaan gampang deh itu untuk dikerjain."
" Ah ellah, ini aja jawabannya sulit banget."
" Coba sini kakak lihat." Mengambil buku tulis milih Derix.
Membacanya dengan saksama dengan dahi yang berkerut dan mata yang tajam.
" Oh kamu udah sampek sini?"
" Iya terus macet sampek disitu." Menunjuk tulisan yang sudah dijawabnya tadi pada buku tulisnya.
" Sebenarnya ini udah betul lho yang kamu kerjakan tetapi kok lama amat tidak bertemu ya." Meneliti kembali jawaban Derix yang sudah sempat dikerjakan.
" Mangkanya, apa yang salah padahal aku udah sama in dengan rumusnya loh."
" Astaga derix! Ini soal nomor atas nya kamu salah nulis."
" Masa sih." Menengok kembali buku paket yang diberikan oleh gurunya lalu melihat lagi kearah buku tulisnya.
" Eh iya bener, ehehehe salah tulis ternyata." Jawabnya dengan menyengir.
" Dasar kamu, makanya diteliti dahulu, lama kan jadinya, coba kalau kamu lebih teliti pasti cepat selesai. Gimana kalau kamu ulangan pasti akan memakan banyak waktu. Udah ini kamu kembali kerjain lagi." Jelas Nana kepada Derix.
" Iya-iya kak."
" Di kelas kamu ada yang pintar matematika tidak?"
" Ada, dia pintar tuh cepet banget ngitungnya. Apalagi kalau soal-soal begini." Ucapnya tanpa menoleh, yang masih mengerjakan tugasnya.
" Mengapa tidak belajar bersama, kan enak bisa saling bertukar pikiran dan bertanya gimana cara ngerjain nya atau ada cara lain atau jalan pintas yang bisa cepat dapat jawabannya." Cerocosnya kepada Derix.
" Emm gimana ya, dia tuh orangnya pendiam jarang bergaul sama temen-temen yang lain. Jadi temen yang lain juga takut nanti bakal ganggu dia apa tidak? Atau mengusik ketenangan dia."
" Emang hantu mengusik ketenangan."
" Ehheheh, ya enggak tetapi ya gitulah. Dan kayaknya dia anak orang kaya deh kak."
" Kok bisa tau kamu, dari mananya?"
__ADS_1
" Dari tasnya, ponsel, sepatu, ya gitu-gitulah."
" Terus kalau disekolah temannya siapa dong?"
" Enggak ada, eh ada sih satu dua. Dibilang dia itu jarang berteman atau akrab dengan temen yang lain.
" Coba kamu berteman dengan dia der, kasian dia sendirian pasti. Dan dia pasti juga ingin berteman tetapi karena banyak yang takut atau apa dia minder sendiri."
" Hemm besok aku tanya dan mulai ngajak bicara."
" Nan gitu dong, kita jangan pilih-pilih teman semua sama. Hanya saja yang membedakan sifatnya, kalau dia baik mengapa tidak, ya kan?"
" Yaps betul sekali."
" Gimana udah selesai belum?"
" Udah nih coba kakak lihat."
Nana pun membaca pekerjaan Derix. Memang enak kalau punya kakak yang bisa diajak bercanda, nemenin belajar apa lagi bermain. Membuat suasana jadi ramai dan menyenangkan.
Sedikit lama membaca akhirnya Nana selesai mengoreksi pekerjaan Derix dan semuanya betul. Tidak ada yang salah sedikitpun.
" Dah ni, bener semua. Besok kalau mau mengerjakan harus diteliti dahulu jangan buru-buru biar tidak salah lagi."
" Oke siap boss." Menghormatkan tangannya ke kepalanya kepada kakaknya.
" Ih kok gemas sih kakak, sini cium dahulu." Sudah mau memonyongkan bibirnya.
" Enggak-enggal! Udah besar jugak masih cium-cium." Ucapnya dengan sewot dan memanyunkan bibirnya, mengalihkan badannya yang ingin menjauhi kakaknya.
" Kamu tuh masih kecil, buat kakak kamu selaku adik kakak yang kecil, imut, dan menggemaskan." Menghampiri adiknya dan memeluknya lalu mencium pipi Derix dengan gemas.
Muach muach....
" Kakak! Ih lepasin." Yang sudah memberontak dalam pelukan Nana. Berguling ke karpet.
" Ah gitu aja kok susah." Duduk melepaskan pelukannya dari Derix.
" Tau ah nyebelin!" Ucapnya dengan muka cemberut dan kesal karena Nana sudah berhasil mencium pipinya.
" Udah selesai kan?"
" Udah cuma ini aja kok."
" Yaudah kakak keluar kalau begitu."
" Yap oke."
Nana meninggalkan kamar Derix berjalan kearah kamarnya sendiri, merebahkan tubuhnya.
__ADS_1