Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 37 - Meminta doa restu


__ADS_3

Hari ini hari senin di mana sekolah mengadakan ujian akhir untuk menentukan kelulusan. Kelulusan bagi semua kelas 3 SMA.


Syeira yang mempersiapkan untuk menghadapi ujian sudah siap untuk melaksanakannya. Dimulai berlajar sebelum hari senin, malam hari sampai pagi sebelum shubuh dia sudah bangun untuk belajar. Dengan di bantu oleh alarm Syeira dapat bangun dengan pagi.


Waktu menunjukkan setengah 7 kurang 5 menit, saatnya Syeira berangkat sekolah. Takut nanti terlambat sekolah karena jika ujian sebelum jam 7 semua siswa harus sampai di sekolah.


" Bu, Syeira berangkat sekolah ya. Doain Syeira semoga bisa mengerjakan ujian dengan lancar dan mendapatkan nilai yang bagus." Ucap Syeira sambil menggenggam tangan ibunya. Mereka berada di sofa depan televisi.


" Iya pasti, ibu selalu mendoakan untuk anak ibu yang baik ini. Hati-hati ngerjainnya, yang teliti, jangan terburu-buru biar dapat nilai bagus." Ucapnya. Karena doa ibu selalu yang terbaik untuk anak-anaknya. Walaupun anak membuat salah ibu akan selalu memaafkannya. Karena tak ada ibu yang ingin melihat anaknya menderita.


" Makasih ya bu, Syeira berangkat takut telat nanti." Jawab Syeira tersenyum dengan hati yang hangat. Senang, karena ibunya selalu mendoakannya.


" Ya hati-hati ya." Beranjak dari duduknya untuk mengantar Syeira ke depan rumah.


" Iya, assalamualaikum." Berjalan mendahului ibunya menuju ke tempat motor.


" Waalaikumsalam." Melipat tangannya ke dada, melihat Syeira pergi dengan menggunakan motornya.


*****


Nana juga sedang meminta doa restu kepada kedua orang tuannya agar bisa lancar untuk mengerjakan ujian hari ini dan tak halangan apapun.


" Ayah ibu minta doanya ya, hari ini Nana akan ujian akhir sekolah. Semoga Nana bisa mengerjakan dengan lancar hari ini sampai dengan seterusnya." Mencium tangan ibunya yang duduk di ruang keluarga.


" Iya ibu selalu mendoakanmu agar nilai kamu bagus dan lancar mengerjakannya, tidak kesulitan pada saat mengerjakan ujian." Mengelus kepala Nana dengan satu tangannya masih digenggam oleh Nana.


" Amin," beralih ke ayahnya yang duduk di sebelah istrinya.


Pak Hasan menengokkan badannya kearah Nana. Mengelus kepala Nana diiringi doa dalam hati. Mendoakan yang terbaik untuk anaknya.


" Semoga lancar mengerjakannya ya." Menepuk pundak Nana dengan pelan.


" Iya ayah, kalau begitu Nana pamit berangkat sekolah. Nanti takut terlambat, biasa kalau ujian suka cari masalah. Kalau terlambat sedikit dimarahin." Ucapnya dengan menyengir.


" Namanya juga sekolah memang seperti itu, biar siswanya menjadi pribadi yang disiplin nanti. Sudah sana berangkat kalau begitu." Ucapnya menasehati Nana dengan suara yang halus dan pelan.


" Iya ayah, Assalamu'alaikum."


" Waalaikumsalam!" Jawab kedua orang tua Nana. Menggandeng tangan istrinya untuk mengajak mengantar Nana ke depan rumah.

__ADS_1


Melihat Nana sampai melajukan motornya keluar dari halaman rumah mereka. Dengan senyum yang menghiasi di wajah mereka. Begitu senang melihat anaknya tumbuh dewasa dan mengantar kedepan rumah melihat berangkat ke sekolah.


Setelah melihat motor Nana menghilang, mereka masuk ke dalam rumah untuk mengurusi anak kedua mereka yang belun berangkat.


Pak Hasan kembali ke ruang keluarga untuk menonton televisi sambil meminum kopi. Sebelum berangkat ke toko, mengisi daya tahan tubuhnya dengan makanan dan kopi untuk stamina, agar tidak mengantuk pada saat bekerja.


Untuk adiknya sendiri masih di dalam kamar bersiap-siap berangkat sekolah.


*****


Di rumah Doni juga sedang meminta doa restu kepada mama dan papanya.


Doni yang sudah siap akan berangkat sekolah turun kebawah untuk sarapan bersama mama dan papanya. Kebetulan mereka ada di rumah membuat Doni senang. Akhirnya bisa sarapan bersama dan sekalian meminta doa restu sebelum ujian dimulai.


Sambil bersiul Doni menuruni tangga dengan tas dibawa sebelah kiri tangannya. Sedangkan tangan kanannya dia masukkan ke dalan saku celana.


Mama dan papanya sudah menunggu di ruang makan dengan pakaian yang sudah rapi.


" Pagi ma, pa." Sapa Doni kepada mereka. Duduk di depan mamanya di samping papa dan menaruh tas di samping kursi yang kosong.


" Pagi!" Ucap mereka berdua


" Nyenyak ma." Jawabnya lalu mengambil roti dan mengolesi dengan selai.


" Katanya hari ini ujian, kamu sudah mempersiapkan untuk hari ini kan?" Tanya Nyonya Zena dengan penuh perhatian. Walaupun dia sering keluar kota bersama suaminya. Dia tidak lupa akan anaknya yang masih sekolah dan butuh perhatian. Mencari tahu kepada anak buahnya dan guru di sekolah, bagaimana tingkah laku anaknya pada saat di sekolah.


" Iya sudah ma, mama doain semoga aku bisa ngerjain ujian hari ini." Pinta Doni kepada mamanya. Menggigit roti yang sudah diisi dengan selai.


" Mama selalu doain buat kamu, buat anak mama yang ganteng ini."


" Alah Doni tidak usah belajar aja sudah bisa mengerjakan ujian itu, papa yakin." Ucap Tuan Victor dengan penuh percaya diri.


Karena Tuan Victor mengetahui akan apa kualitas anaknya. Semua keluarga Victor memang memiliki kecerdasan tersendiri, walaupun tidak harus mendapatkan ranking pertama dalam berbagai hal.


Doni yang mendengarkan ucapan papanya tersenyum senang dan mengangkat kedua alisnya. Tanda menyutujui ucapan papanya.


" Kok papa pd sekali, tetapi kan juga harus tetap belajar pa. Walaupun Doni bisa mengerjakannya." Menuangkan nasi goreng kepada Tuan Victor.


" Ya mau gimana lagi, memang kenyataannya." Ucapnya dengan menghendikkan bahu.

__ADS_1


" Ya, ya terserah papa aja lah." Ucap Nyonya Zena dengan jengah.


" Setelah Ujian selesai kamu belajar bisnis sebentar don, sebelum kamu kuliah. Ikut papa ke kantor se-sekali biar bisa sedikit mengerti terlebih dahulu. Nanti papa ajarin." Jelas Tuan Victor kepada Doni panjang lebar.


" Siap pa, santuy saja."


" Sudah makan sekarang nanti terburu telat kamu don, dan papa cepat makan nanti dingin ini nasi gorengnya." Ucap Nyonya Zena dengan tegas melerai mereka berdua.


" Iya sayang." Jawab Tuan Victor dengan senyum genit dan mengedipkan mata sebelah.


" Iya ma."


" Dih papa, apa-apaan sih. Bisa-bisanya godain kayak gitu." Jawab Nyonya Zena, " Hiihh." Bergidik seolah takut dan ngeri melihat tatapan suaminya.


" Ih ngapain kayak gitu, maksudnya apa. Jijik gitu ngeliat papa seperti itu." Protes Tuan Victor kepada istrinya, tak menyetujui jawaban yang dikatakan oleh Nyonya Zena.


" E-eh papa, tidak sayang, mama cuma bercanda. Ya sudah cepetan makan." Mengelus pipi suaminya diiringi senyum manis. Merayu agar suaminya tidak jadi marah terhadapnya.


" Ish papa dan mama, enggak hargain banget aku yang jomblo ini." Doni yang melihat kedua orang tuannya hanya memutar bola matanya malas.


" Ya sudah cari sana, repot amat."


" Emang boleh pa?" Menegakkan badannya karena merasa senang dengan ucapan papanya dan bertanya kepada Tuan Victor


" Ya enggak lah, sekolah yang bener. Baru ntar papa nikahin."


" Dih papa kirain boleh, " jawabnya dengan lesu . " Sudahlah aku mau berangkat sekolah. Doain semoga Doni bisa mengerjakan ujian hari ini dan mendapatkan nilai bagus." Berbicara serius kepada orang tuanya. Meminta doa restu agar apa yang diomonginnya bisa terkabulkan.


" Iya papa dan mama selalu doain yang terbaik buat kamu." Jawab Tuan Victor kepada Doni.


Doni beranjak dari duduknya dan menyalami kedua orang tuannya sebelum berangkat sekolah.


" Assalamu'alaikum pa,ma."


Nyonya Zena mengecup dahi Doni dengan sayang sebagai tanda agar nanti anaknya semangat dalam mengerjakan ujian karena sudah dibekali olehnya.


" Waalaikumsalam."


" Hati-hati don!" Teriak Nyonya Zena ketika Doni akan sampai di pintu rumah.

__ADS_1


Menjawab hanya mengangkat tangannya ke atas.


__ADS_2