Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 61 - Berdetak kencang


__ADS_3

" Mama mau makan apa, biar papa belikan?" Tanya Tuan Xander terhadap istrinya. Dia baru mengingat jika alasan istrinya pingsan karena perut yang belum terisi makanan saat ini.


" Terserah papa aja, yang penting perut mama sudah terisi itu sudah cukup."


" Ya sudah, papa suruh bodyguard di luar untuk membelikan makanan mama."


" He.em."


Ketika ingin keluar Tuan Xander berpapasan dengan Alex dan Miko dibelakang yang ingin masuk ke ruangan Nyonya Zena.


" Pa, gimana keadaan mama?" Tanya Alex dengan wajah yang tak kalah khawatir dengan papanya tadi sebelum masuk ke dalam ruangan.


" Sudah mendingan, kamu lihat saja di dalam. Papa mau keluar sebentar."


" Hem." Masuk ke dalam menuju brankar yang ditempati Nyonya Zena.


" Ma, gimana keadaan mama. Ada yang sakit, mana yang sakit ma. Nanti biar aku datangkan dokter dari luar negeri." Ucap Alex dengan beruntun, memegang tangan serta kaki mamanya melihat mana yang sakit.


" Busyeetttt, enggak nyangka si tuan bisa begitu perhatian dengan mamanya. Padahal jika di kantor kejam, galak, dan seenaknya. Tetapi dihadapan mamanya, berubah seratus delapan puluh derajat. Amazing." Batin Syeira sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat perlakuan Alex kepada mamanya. Dia tidak menyangka jika Alex bisa seperhatian itu dengan orang tua.


" Tidak lex, mama tidak pa-pa. Hanya kelelahan dan belum makan yang berat, sehingga tenaga mama habis akhirnya pingsan." Jelas Nyonya Zena kepada Alex, mengelus kapala Alex dengan sayang sambil tersenyum.


" Tetapi jika ada yang mama keluhkan langsung bilang ya. Jangan di sembunyikan."


" Iya sayang." Jawab Nyonya Zena dengan tersenyum lembut. Dia senang karena Alex begitu perhatian dengan dirinya. Walaupun pekerjaan padat tetapi tidak mengurangi rasa perhatian Alex kepada dirinya.


" Maafin Alex ma, karena tidak tau jika mama pingsan di kantor."


" Tidak pa-pa lex, mama mengerti. Pasti kamu lagi meeting di luar dengan klien." Tebak Nyonya Zena, yang mengerti anaknya jika tidak ada di kantor pasti keluar untuk meeting atau ada hal yang harus dikerjakan saat itu juga.


" Iya ma." Jawab Alex dengan wajah sedih dan merasa bersalah, karena kesibukannya dia menjadi tidak tau jika mamanya pingsan di kantor.


Lalu Alex menolehkan kepala dan melihat Syeira yang duduk di sofa.


" Kamu! ngapain kamu di sini?" Tanya Alex dengan mengkerutkan dahi.


" Saya,"


Belum sempat terjawab, Nyonya Zena sudah menjawab duluan.


" Tadi Syeira yang bantuin mama. Mama pingsan di lorong menuju ruangan kamu." Jelas Nyonya Zena kepada Alex. Karena dia tahu sifat anaknya yang mudah mencurigai orang lain.


" Oh." Jawabnya dengan singkat.


" Apa! Hanya oh, benar-benar sifat yang berbeda dengan kedua orang tuanya." Batin Syeira yang mendengar ucapan Alex. Dia sedikit terjengit dengan ucapan Alex barusan. Pasalnya Nyonya Zena dan Tuan Xander tidak seperti Alex, mereka sopan dan menghargai sesama.


" Ih, kamu tuh. Jangan begitu, seharusnya kamu berterima kasih kepada Syeira. Bukan malah acuh."


" Iya."


Ceklek...

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, Tuan Xander masuk dengan membawa banyak makanan di kantung tangannya.


" Ayo kita makan bersama, papa sudah bawa banyak makanan." Ucap Tuan Xander lalu menaruh semua makanan di atas meja.


Tetapi dia membawa satu kantung berbeda menuju Nyonya Zena.


" Kalian makan saja, ajak Syeira juga. Papa mau nyuapin mama sebentar." Ucap Tuan Xander dan mengarahkan pandangan ke Alex dan Syeira.


" Iya pa."


Syeira yang merasa tidak enak, ingin pergi. Beranjak dari sofa dan menghampiri brankar.


" Maaf  tuan, nyonya. Saya harus kembali ke kantor."


" Jangan, kamu makan siang saja di sini. Lagi pula ini sudah lewat waktunya untuk makan siang, nanti malah kamu lagi yang gantian sakit." Larang Nyonya Zena kepada Syeira. Karena jam makan siang juga hampir habis jika Syeira kembali pasti waktu yang digunakan tidak akan cukup.


" Tidak nyonya, tidak mengapa. Saya juga harus segera mengerjakan pekerjakan yang ada di kantor."


" Lex." Mengarahkan pandangan ke arah Alex untuk menghentikan Syeira yang ingin pergi.


Alex yang dipanggil dan melihat kode dari mamanya akhirnya membuka suara.


" Ya, benar kata mama. Nanti kamu terlambat makan siang. Tidak ada bantahan!" Ucap Alex dengan tegas. Dia sudah memunculkan sikap dingin yang tidak mau dibantah sama sekali.


Syeira pun akhirnya pasrah dan mereka menuju sofa untuk makan siang bersama.


Nyonya Zena dan Tuan Alex hanya kode-kodean melihat anaknya makan bersama seorang wanita. Karena selama ini Alex tidak pernah dekat dengan wanita selain mamanya. Teman-temannya pun kebanyakan laki-laki.


" Maaf  nyonya saya harus kembali ke kantor dan sebelumnya terima kasih atas makan siang hari ini." Ucap Syeira dengan sopan, berdiri di samping nyonya Zena.


" Jangan sungkan, anggap saja kita keluarga." Jawab Nyonya Zena dengan lembut dan tersenyum. " Oh ya, kamu pulang dengan siapa ra?"


" Saya akan naik taksi nyonya."


" Kalau begitu, sekalian saja dengan Alex pergi ke kantor. Kalian kan sama tujuan." Ucap Nyonya Zena yang memberi ide. Dia ingat mereka satu kantor, tidak salah jika satu mobil.


Alex yang mendengar ucapan mamanya melototkan mata. Tidak salah dia satu mobil dengan karyawan sendiri. Apalagi karyawan wanita?


" Biarkan jika dia ingin naik taksi ma, tidak salah kan?" Jawab Alex yang secara tidak langsung menolak saran dari mamanya. Dengan menghendikkan bahu.


" Kamu tuh lex, sekali-kali enggak pa-pa lah. Memang ada yang salah apa?"


" Huuh, " mendengar mamanya tetep kekeh dia hanya menghela napas. Percuma ngobrol dengan mamanya, pasti tidak akan menang. " Terserahlah." Akhirnya Alex pasrah. Apa boleh buat.


" Lumayan tidak jadi mengeluarkan uang, asyik!" Batin Syeira dengan senang. Biarkan saja jika sang tuannya terpaksa memberi tumpangan kepada dirinya, yang terpenting kantongnya aman.


" Kalau begitu saya pamit nyonya."


" Terima kasih ya sudah mengantar saya ke rumah sakit."


" Sama-sama nyonya, assalamualaikum." Dengan sedikit membungkukkan badan.

__ADS_1


" Waalaikumsalam."


" Alex balik ke kantor ya ma, jika terjadi sesuatu cepat hubungi Alex." Ucap Alex menghampiri mamanya yang duduk di brankar.


" Iya."


Cup,


tak lupa mencium kening Nyonya Zena dengan sayang.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam. Awas jangan turunkan Syeira di jalan." Pesan Nyonya Zena kepada Alex sebelum meninggalkan ruangan. Dia memperingati Alex, untuk tidak berbuat aneh-aneh terhadap Syeira. Karena melihat tadi yang memaksa Alex untuk mau satu mobil dengan Syeira adalah dirinya. Bukan kemauan Alex sendiri.


" Iya-iya ma."


Lalu mereka meninggalkan Nyonya Zena sendirian karena Tuan Xander sedang membeli obat di apotek.


Di dalam mobil mereka tak banyak bicara. Hanya berdiam dengan Alex memainkan ponsel dan Syeira menghadapkan wajah ke arah jendela luar.


Hingga mobil sampai di kantor mereka tetap diam tanpa sepatah kata pun.


" Terima kasih atas tumpangannya tuan, saya permisi." Ucap Syeira dengan menundukkan kepala.


" Hem." Menjawab dengan deheman.


Ketika Syeira ingin berjalan meninggalkan Alex duluan, dia menghentikan Syeira.


" Tunggu!"


Syeira menengokkan kepala lalu membalikkan badan.


" Ada apa tuan?"


" Terima kasih." Hanya dua kalimat itu yang keluar dari mulut Alex.


Syeira yang mendengar ucapan terima kasih dari tuan dinginnya, mendongakkan kepala dan menatap wajah Alex.


" Baru kali ini dia berterima kasih terhadap orang. Kesambet setan apaan ni tuan." Batin Syeira yang mengumpat. Dia terkejut dengan dua kalimat yang diucapkan Alex. Karena selama dia di kantor, sekali pun belum pernah mendengar ucapan terima kasih Alex kepada karyawan lain atau dia sendiri. Aneh menurutnya.


" Sama-sama tuan." Jawab Syeira dengan tersenyum lembut.


Deg,


jantungnya berdetak kencang ketika melihat senyum manis Syeira. Entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini. Kemudian dia langsung pergi meninggalkan Syeira yang masih di parkiran.


Diikuti Miko belakang Alex yang jaraknya lumayan jauh. Tetapi Miko berjalan ke arah ruangannya sendiri. Menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk di atas meja.


Berjalan masuk ke dalam ruangan. Jantungnya masih berdetak kencang.


" Apa yang terjadi dengan diriku, mengapa jantungku bisa berdetak kencang seperti ini." Ucap Alex sendiri sambil memegang dadanya. Dan menepuk-nepuk agar cepat hilang. Dia heran mengapa seperti itu, padahal dia tidak mempunyai penyakit jantung atau yang lain.

__ADS_1


Sebelumnya juga dia tidak pernah merasakan jantung yang berdetak kencang.


__ADS_2