
" Assalamualaikum!" Ucap Syeira, masuk ke dalam rumah. Menenteng tasnya, wajah yang sudah sedikit pucat karena lipstik yang dia pakai sudah hilang.
" Waalaikumsalam." Jawab Ibu Diana yang duduk di sofa depan televisi.
Menghampiri Ibu Diana untuk mencium tangan.
" Kok ibu di sini? Enggak tiduran aja di kamar." Tanya Syeira yang sudah duduk di sofa samping Ibu Diana.
" Rasanya enggak enak tidur terus, jadi ibu duduk di sini sambil nonton televisi." Jelas Ibu Diana. Maklum karena biasanya Ibu Diana tidak pernah diam. Selalu ada saja yang dikerjakan ketika tubuhnya sehat.
" Tetapi ibu enggak ngapa-ngapain kan?" Tanya Syeira dengan penuh selidik. Takut jika Ibunya melakukan pekerjaan apapun, apalagi melihat keseharian Ibu Diana yang selalu mengerjakan apa saja ketika di rumah. Syeira bukan melarang atau apa, dia hanya takut terjadi sesuatu dengan bekas luka yang berada di tubuh Ibu Diana.
" Enggak, ibu hanya berdiam diri di rumah tanpa mengerjakan apapun." Jelas Ibu Diana dengan tersenyum.
" Benar ya? Enggak usah masak, buat kue, menyiram bunga, atau apapun lho." Ucap Syeira dengan serius, dia merasa masih bisa melakukan pekerjaan yang biasa Ibunya kerjakan. Syeira sangat mewanti-wanti terhadap Ibu Diana. Orang tua satu-satunya yang dia miliki sekarang. Jadi dia harus benar-benar menjaga Ibu Diana. Biarlah dia lelah, asal ibunya tidak. Sesuai perkataan orang tua. Orang tua akan melakukan apa saja demi anaknya. Begitu juga sebaliknya. Anak yang berbakti kepada orang tua akan melakukan apapun jika ibunya kesulitan atau membutuhkan. Dia sangat menyayangi ibunya jadi apapun, selama dirinya bisa mengerjakan, akan Syeira kerjakan.
" Iya sayang," mengelus kepala Syeira dengan lembut diiringi senyuman. " Sudah sana mandi, agar rasa lelah di tubuhmu segera hilang."
" Iya, Syeira mandi. Ibu di sini saja. Nanti kalau butuh sesuatu panggil aja."
" Iya." Jawab Ibu Diana dengan lembut. Dia sangat bersyukur mempunyai Syeira yang sangat menyayangi dirinya. Mau membantu apapun yang dia kerjakan.
*****
Kring kring kring..
Telepon kantor ruangan Syeira bunyi. Saat ini dia lagi mengerjakan pekerjaan di ruangannya.
" Keruangan saya sekarang." Ucap Alex dengan tegas.
" Baik tuan." Syeira langsung menjawab dengan cepat. Tidak mau jika dirinya kena omel lagi.
" Ada apalagi sih, selalu aja. Keruangan saya sekarang." Ucap Syeira sendiri dengan menirukan suara Alex yang tegas seperti biasa. Dengan mata yang melotot. Karena dia juga sudah jengkel dengan kelakuan Alex.
Tak lupa membawa ponsel, berjaga-jaga jika dia membutuhkan bantuan kepada orang lain, ketika dirinya mendapat kesulitan di ruangan Alex. Entahlah Syeira selalu antisipasi kepada Alex. Padahal Alex sama sekali tidak pernah berbuat apapun, kecuali membentak dirinya.
Tok tok tok..
Klek,
Ceklek..
Masuk ke dalam ruangan Alex dengan menongolkan kepalanya terlebih dahulu. Matanya celingukan mencari ke arah mana pun.
" Ngapain kamu di situ. Masuk!"
Seketika Syeira terperanjat mendengar ucapan Alex.
Masuk ke dalam ruangan Alex dengan berjalan pelan.
__ADS_1
" Ada apa tuan memanggil saya?" Tanya Syeira ketika sudah berdiri di hadapan Alex.
" Duduk di sofa, nanti akan kuberitahu."
" Baik tuan."
Menurut seperti apa yang dikatakan Alex. Duduk berdiam di sofa. Kaki yang merapat. Tangannya memegang ponsel di atas paha. Menundukkan kepala sambil memainkan kuku jari.
Tidak berapa lama Alex membawa laptop berserta berkas ke arah sofa.
" Kerjakan ini, saya tunggu sekarang." Menaruh di atas meja.
" Baik tuan."
Syeira tidak tau saja jika sekarang dirinya sedang dikerjai oleh Alex untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya bukan dikerjakan Syeira.
Alex menyukai pekerjaan Syeira sebelumnya, jadi dia mencoba untuk memberi Syeira pekerjaan yang sedikit sulit.
Apakah Syeira sanggup mengerjakan pekerjaan yang di beri oleh Alex? Kita lihat saja nanti.
Alex menunggu, dengan duduk di samping Syeira yang sedikit berjarak. Memainkan ponsel, sesekali melirik hasil kerja Syeira.
" Hem, bisa juga dia mengerjakan. Padahal karyawan lain belum tentu sanggup untuk mengerjakannya." Batin Alex ketika melihat hasil kerja Syeira.
Beberapa pekerjaan Syeira kerjakan dengan lancar, tetapi tiba-tiba dia menemukan yang begitu sulit. Mencerna kembali, juga tidak menemukan jalan keluar.
" Dih ini gimana, kok enggak ketemu?" Batin Syeira dengan mengkerutkan kening. Otaknya sudah berputar-putar mencari jawaban, tetapi masih belum menemukan.
" Mengapa dia berhenti, apakah dia kesulitan?" Batin Alex melihat Syeira tidak mengetik laptop lagi.
" Mengapa tidak kau teruskan?"
" Eh, emm saya kesulitan menemukannya tuan?"
Lalu Alex menaruh ponsel dan mendekatkan tubuhnya di samping Syeira.
Alex membantu Syeira mengerjakan, tubuhnya sangat merapat dengan Syeira, sehingga napas mereka terdengar satu sama lain.
" Waduhh, jantungku. Mengapa jadi deg-deg an gini. Mana dekat banget, ini kalau kecium bisa berabe." Batin Syeira yang berpikir tidak-tidak. Ketika wajah Alex sangat dekat dengan wajah Syeira. Tubuhnya menjadi panas dingin.
Alex sendiri masih fokus dengan pekerjaan yang menurut Syeira sulit. Sesekali menjelaskan, dan menyuruh Syeira memperhatikan apa yang dia ucapkan.
" Paham tidak?"
" I-iya paham tuan."
Lalu menggeser tubuhnya menjauh dari Syeira.
" Sudah, kamu kerjakan seterusnya."
__ADS_1
" Tetapi sebelum itu boleh saya ke toilet sebentar tuan?"
" Hem."
Syeira tidak mengerti maksud Alex yang hanya berdehem. Menaikkan alis dan memiringkan kepala mengarah ke Alex.
" Hem apa? Hem iya apa hem tanya?" Batin Syeira bingung dengan jawaban Alex yang ambigu. Belum terbiasa mengartikan ucapan Alex.
" Apa? sudah sana!" Menolehkan wajah ke arah Syeira dengan mata yang sedikit melotot.
" E-eh iya tuan." Beranjak dari tempat duduk. Berjalan menuju toilet yang berada di ruangan Alex.
Beberapa saat menunggu, belum juga Syeira keluar dari kamar mandi. Alex berniat menghampiri dan menggendor pintu, kemudian
dia beranjak dari tempat duduk.
Syeira yang sudah keluar dari kamar mandi tiba-tiba terpeleset.
Refleks, Alex membantu dengan meraih tubuh Syeira.
Tetapi kaki Alex menabrak sofa dan akhirnya mereka terjatuh, tubuh Alex menindih Syeira.
" Akh!!"
" Bruk!"
Jantung keduanya berdetak dengan kencang. Antara terkejut dan deg-deg an. Wajah yang hanya berjarak beberapa senti. Mata yang saling menatap.
" Astaga, Alex!" Teriak Nyonya Zena terkejut. Menutup mulut dengan telapak tangan.
Bagaimana tidak? Dia menyaksikan sendiri anaknya menindih Syeira dengan tangan sebelah memegang dada Syeira.
Syeira dan Alex yang merasa dipergoki juga terkejut. Sialnya tangan Alex meremas dada Syeira sehingga Syeira sendiri menjadi mendesah.
" Ahh!"
Alex melototkan matanya mendengar ******* Syeira sekaligus merasakan jika tangannya meremas benda keramat.
" Tuan! Apa yang anda lakukan?" Tanya Syeira dengan kesal. Merasa dirinya sudah di nodahi oleh Alex.
" S-saaya tidak sengaja." Jawab Alex gugup, dia juga tidak sengaja dengan kejadian barusan.
Lalu mereka berdiri, merapikan baju yang berantakan.
" Alex! Kau ingin berbuat mesum dengan orang yang belum menjadi muhrim mu?" Tanya Nyonya Zena dengan marah.
" Ma, ini tidak seperti yang mama lihat. Alex bisa jelaskan."
" Tidak, kalian harus menikah. Ini tidak bisa dibiarkan. Jika kau sudah tidak betah menjomblo, menikah adalah jalan yang terbaik lex. Mama tidak mau jika sampai kau menghamili perempuan di luar nikah." Ucap Nyonya Zena dengan tegas.
__ADS_1
" Apa, menikah?!" Jawab mereka bersama.