Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 38 - Pagi yang cerah


__ADS_3

" Astaga lihatlah anakmu pa, bisa-bisanya hanya menjawab seperti itu." Ucap Nyonya Zena dengan menggelengkan kepala.


" Anakmu juga ma, tidak lihat kita berdua yang membuat. Apa mama lupa atau papa harus yang ingetin gimana cara buatnya." Menggoda Nyonya Zena dengan mengangkat alisnya kebawah dan ke atas.


" Dih, ya enggak lah, kalau itu mama juga ingat. Sampai mama kelelahan karena nafsu papa yang liar banget." Cerocos Nyonya Zena yang tidak sadar membangkitkan gairah suaminya. Bagaimana perlakuan suaminya terhadapnya dahulu.


" Ya habis mama sih, pakek pakaian kayak begitu. Salah siapa coba, mana baru pertama kali sudah di hadiahi dengan pemandangan yang begitu liar. Ya walaupun sebelumnya sudah lihat di ponsel." Jawab Tuan Victor dengan santainya. Mengingat malam pertama dengan istrinya. Dia yang sangat bernafsu dengan istrinya yang menggunakan lingerie super sexy.


" Itu karena hadiah teman aku, disuruh coba pada saat malam pertama, ya sudah mama coba. Eh baru di pakai papa sudah tidak bisa di kondisikan. Langsung nyosor saja." Memonyongkan bibirnya lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mengeluarkan unek-uneknya pada saat malam pertama.


" Papa kan cuma lihat di video ponsel belum pernah cobain gimana prakteknya. Nanti kalau enggak cepat dimakan terburu dimakan kucing kan sayang." Ucap Tuan Victor dengan santai tak melihat perubahan wajah istrinya yang sudah melotot dan ingin mencabik suaminya karena mulut yang lemes itu.


" Astaga papa, bisa-bisanya ngomong kayak gitu." Menggeleng-gelengkan kepala dengan ucapan suaminya dan melihat kesana kemari takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.


" Lah yang mulai siapa, kan mama yang mulai bukan papa. Toh mereka juga pasti tau, kita juga suami istri. Gitu aja repot."


Mendengar ucapan suaminya Tuan Zena menghentikan makannya dan menengok kearah Tuan Victor.


" Yang mulai kan papa kok jadi mama yang disalahin." Jawabnya dengan membela diri. Mengenyitkan dahi, tidak ingin di salahkan oleh suaminya yang jelas- jelas adalah salah Tuan Victor.


" Sudahlah, mending kita sudahi percekcokan kita hari ini. Dan membuat adik untuk Doni. Gimana?" Mengedipkan matanya kepada istrinya dengan senyum mesum.


" Aih enggak! Ini papa mau berangkat kerja nanti telat. Kalau telat siapa yang akan mengurusi kantor."


" Enggak ma, sebentar aja enggak lama-lama yang penting dapat vitamin hari ini, ya ya." Memohon kepada istrinya dengan muka melas agar di perbolehkan.


" Enggak jangan main-main, nanti malam saja. Sudah sana berangkat, kelamaan di sini nanti enggak cepat berangkat. Malah minta yang aneh-aneh." Cerocos Nyonya Zena dan melototkan matanya.


Tuan Victor yang sudah melihat perubahan istrinya menjadi tidak bergairah lagi takut nanti istrinya ngambek dan tidak lagi mendapat yang mantap-mantap.


Segera Tuan Victor menyelesaikan sarapannya dan berangkat ke kantor.


" Iya-iya, papa berangkat, ati-ati di rumah ya." Cup . Mengecup kening istrinya dan beranjak dari tempat duduknya.


" Hemm hati-hati ya." Jawabnya dengan tersenyum . Senyuman yang sangat manis agat Tuan Victor semangat untuk bekerja dan melupakan soal pembicaraan tadi.


Muach,

__ADS_1


Mencium pipi Tuan Victor. Ciuman rasa bersalah karena sudah sedikit berkata dengan nada tegas dan agar Tuan Victor tambah bersemangat untuk bekerja.


Berjalan ke arah pintu dengan tangan Nyonya Zena memeluk pinggang Tuan Victor. Sedangkan tangan Tuan Victor memegang pundak istrinya, satu tangan membawa tas.


" Bye."


" Bye." Melambaikan tangan kepada suaminya.


Setelah mobil menghilang Nyonya Zena masuk ke dalam rumah.


*****


" Derix! sudah belum, cepat keluar dan sarapan bersama. Nanti terburu dingin makanannya." Ucap Ibu Farah dengan nada yang sedikit tinggi.


Pak Hasan yang melihat tingkah istrinya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Karena itu memang kebiasaan istrinya yang nanti akan membuat telinganya mendenging.


" Iya bu, sebentar, sedikit lagi otw!" Jawab Derix dari dalam kamar.


Di dalam kamar Derix masih menggunakan kaus kakinya dan belum menyisir rambut. Mengomel tidak jelas karena sudah mendengar teriakan ibunya di pagi hari. Dan segera turun kebawah untuk sarapan bersama. Karena jika tidak cepat keluar derix selalu diteriaki oleh ibunya.


Memonyongkan bibirnya, duduk di kursi tempat makan.


" Ada apa dengan bibir kamu, dipipisin kacoak, sampek monyong kayak gitu." Ucap Ibunya dengan jutek.


" Ibu nih, masih pagi sudah teriak. Bikin kesal aja." Jawabnya dengan cemberut.


" Kalau enggak gitu kamu enggak cepat turun. Mangkanya ibu teriak biar cepat turun." Berjalan kearah lemari, mencari sisir yang selalu digunakan jika saat diluar kamar.


" Huh, menyebalkan." Bergumam dengan sendirinya. Sehingga menampilkan wajah yang imut dan menggemaskan.


Bibir yang cemberut, rambut yang masih berantakan seperti terkena angin ****** beliung. Tetapi walaupun seperti itu masih terlihat tampan.


Ibu Farah berjalan ke arah Derix membawa sisir yang baru diambilnya tadi. Berjalan di belakang Derix untuk menyisirnya.


" Kebiasaan kalau berangkat sekolah belum sisir rambut, apa enggak malu nanti kalau diketawain sama teman kamu." Masih mengomel kepada Derix dengan terus menyisir rambut Derix.


" Lupa, siapa tadi yang teriak. Jadi lupa mau menyisir rambut ibu." Jawabnya dengan masih membela sendiri.

__ADS_1


" Kalau dibilangin jawab aja, bilang iya gitu kan ibu jadi senang." Jawabnya dengan sewot.


" Iya ibuku tercantik." Ucap Derix memuji ibunya agar tidak mengomel lagi.


" Nah gitu, sudah makan. Nanti terburu telat."


" Iya-iya ini juga mau makan."


Pak Hasan yang sudah melihat istrinya mengomel selesai, beranjak dari duduknya dan pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama.


Menghindari jika nanti dia juga terkena omelan oleh istrinya. Karena menghadapi perempuan yang bicara tidak akan menang.


Mereka mulai makan dengan tenang. Masalah sudah terselesaikan satu persatu. Antara mengomel dan mengurusi anak. Hehehe


Setelah sarapan Pak Hasan mengantar Derix ke sekolah. Biasanya Derix diantar bersama Nana tetapi karena Nana harus berangkat pagi jadi Pak Hasan yang mengantarnya.


" Hem, sudah." Meminum air putir yang ada di depannya. " Ayo berangkat nanti telat sampai sekolah." Ucap Derix kepada ayahnya yang berada di sampingnya.


" Ya sebentar, ayah ambil kunci motor dan panasin motor dahulu." Jawab Pak Hasan lalu beranjak dari tempat duduknya mengambil kunci motor. Berjalan ke arah samping rumah untuk mengambil motornya lalu menyalakan sebelum digunakan.


" Di bawain bekal apa enggak rix, kalau di bawain bekal kamu tunggu sebentar." Tanya ibunya kepada Derix. Karena biasanya Derix membawa bekal jika ada kegiatan sekolah.


" Enggak usah bu, aku beli jajan aja." Berjalan ke depan rumah lalu memakai sepatunya.


" Ya sudah kalau begitu, tidak pa-pa."


" Berangkat ya bu." Mencium tangan ibunya.


" Ya, hati-hati di sekolah. Jangan main yang berbahaya, dengerin apa kata ibu guru jangan seenaknya sendiri, kalau enggak awas kamu." Ucap Ibu Farah kepada Derix, mengucapkan semua apa yang difikirannya ketika anak seusia Derix yang masih suka bermain. Biasanya anak kecil yang diingatkan dan diberitahu dengan sedikit ancaman akan menurut.


" Iya-iya bu assalamu'alaikum." Takut dengan ancaman ibunya yang nanti jika dia langgar. Hanya menjawab iya tanpa ada kalimat lagi dibelakangnya.


" Waalaikumsalam."


Menaiki motor ayahnya dengan memakai hlm kecil khusus seusia Derix. Dengan memegang pinggang ayahnya.


Ibu Farah yang melihat anak dan suaminya sudah pergi meninggalkan halaman rumah mereka, segera masuk ke dalam rumah. Membereskan rumah yang masih berantakan dan bekas piring yang di buat untuk sarapan tadi.

__ADS_1


__ADS_2