Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 66 - Terkejut


__ADS_3

Tok tok tok


" Masuk!"


Mendengar ada jawaban, Syeira masuk ke dalam ruangan Jane.


Ceklek


Jane mendongakkan kepala untuk melihat siapakah yang masuk ke ruangannya.


" Eh kamu ra, gimana sudah selesai meeting dengan Tuan Alex?" Tanya Jane sambil memeriksa berkas di meja.


" Hah," menghela napas, duduk di sofa yang berada diruangan Jane. " Sudah mbak." Menyenderkan punggung di sofa.


" Mengapa kok kayak ada masalah?"


" Enggak sih, cuma.." berhenti berucap setelah berpikir.


" Cuma apa?"


" Enggak, enggak jadi."


" Loh mengapa tidak jadi, bicara saja ra."


" Sudah, enggak penting. Aku juga lupa mau bicara apa. Hahaha." Ucap Syeira pura-pura lupa untuk mengalihkan pembicaraan agar Jane tidak bertanya lagi.


" Oh, ya sudah." Jawab Jane singkat. Mungkin memang tidak terlalu penting untuk dibicarakan begitu pikir Jane.


" Ngemall yuk ra." Ajak Jane tiba-tiba.


" Kapan?"


" Sebisa kamu saja, kapannya."


" Emm, nunggu ibu aku beneran sembuh ya mbak, soalnya aku enggak tenang ninggalin ibu yang lagi sakit sedangkan aku sendiri malah keluar jalan-jalan."


" Iya tidak pa-pa. Santai saja, aku ngajak kamu karena kita kan juga jarang pergi keluar."


" Iya juga ya mbak, kita malah belum pernah hangout bersama."


" He.em mangkanya aku ajak kamu."


" Okelah kapan-kapan yak."


" Oke."


Blebep blebep blebep


Jane yang mendengar suara yang sedikit aneh, mengedarkan pandangan. Mencari-cari di mana letak suara itu.


" Suara apaan itu ra?"


" Hahaha, itu suara ponsel Syeira mbak." Ucap Syeira sembari tertawa, melihat Jane yang celingukkan mencari asal suara yang dihasilkan dari dering ponsel Syeira.


" Astaga, aku kira apa an."


" Bentar ya mbak, aku angkat dahulu."


" He.em." Menganggukkan kepala.


Syeira mengambil ponsel yang berada di saku celana.

__ADS_1


" Lama sekali kamu mengangkat telepon!"


Syeira yang seperti mengenal suara di ujung telepon menjadi terkejut. Menegakkan badan lalu melototkan mata, melihat kembali nama tulisan yang tertera di ponselnya. Dan ternyata nomor ponsel itu baru, belum tersimpan.


" M-maaf tuan."


" Di mana kamu, waktunya kerja malah kelayapan tidak jelas!" Ucap Alex dengan suara sedikit keras.


" Maaf  tuan, saya berada di ruangan Mbak Jane." Ucap Syeira dengan sedikit takut.


" Pergi keruanganku sekarang."


" Baik tuan."


Tuts tuts..


" Mbak aku harus pergi ke ruangan Tuan Alex sekarang." Ucap Syeira dengan buru-buru.


" Iya, sudah sana. Nanti kamu kena semprot lagi kalau tidak cepat kesana."


" Iya mbak, bye."


" Bye."


Lalu Syeira keluar dari ruangan Jane. Dengan sedikit berlari ke arah ruangan Alex.


Sampai di depan pintu ruangan Alex. Syeira menetralkan napasnya. Lalu mengetuk pintu.


Tok tok tok


Klek,


Ceklek


Masuk ke dalam ruangan Alex dengan sedikit takut. Takut jika dimarahi lagi.


" Buatkan saya kopi." Ucap Alex langsung menyuruh ketika pintu ruangan terbuka, tanpa mengalihkan pandangan ke arah berkas yang berada di atas meja.


" B-baik tuan." Syeira hanya menurut. Tidak berani membantah.


Syeira berjalan ke tempat yang biasa untuk membuat kopi. Setelah itu mengantar ke meja Alex.


" Ini tuan kopinya."


" Hem."


Karena tidak dipersilakan duduk, Syeira masih berdiri di samping meja Alex. Matanya melihat ke mana-mana. Dengan kedua tangan saling menautkan di belakang.


" Kamu mengapa tidak duduk?" Tanya Alex setelah menyeruput kopi dan melihat ke arah Syeira.


" Tuan tidak menyuruh saya untuk duduk."


" Hais, ya sudah duduk sana."


" Di mana tuan?" Tanya Syeira dengan bodohnya. Dengan wajah yang polos. Dia bingung harus duduk di mana? Duduk di depan, kursi berhadapan dengan Alex atau di sofa.


" Genting!" Jawab Alex dengan kesal.


" Hah, genting?" Tanya Syeira dengan melongo.


" Astaga, kau bisa duduk di sofa atau depanku itu ada kursi. Mengapa kau bertanya yang membuatku jengkel. Ha!" Ucap Alex frustrasi dengan pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut Syeira.

__ADS_1


" Ya maaf tuan, saya kan hanya bertanya. Nanti kalau asal duduk salah lagi." Gumam Syeira lirih. Dia juga kesal terhadap Alex karena sudah membentak dirinya. Sedangkan dia hanya bertanya, apakah salah jika bertanya terlebih dahulu. Daripada nanti dirinya kena semprot lagi.


Eee bukannya mendapat jawaban yang pas malah dapat omelan. Memang menghadapi orang seperti Alex harus sangat-sangat bersabar.


" Kau mengumpat diriku!"


Syeira terlonjak mendengar ucapan Alex. Apakah dirinya terlalu keras untuk berucap?


" Ti-tidak tuan." Lalu duduk di sofa yang sudah tersedia di ruangan Alex.


Kemudia Alex beranjak dari kursi dan membawa beberapa berkas lalu menyerahkan tepat di depan atas meja Syeira.


" Kerjakan itu semua sampai selesai. Saya tunggu."


" Baik tuan." Mengambil berkas di depannya lalu ingin beranjak dari tempat duduk.


" Mau ke mana kamu?" Tanya Alex ketika melihat Syeira akan berdiri.


" Saya mau mengerjakan ini diruangan saya tuan."


" Tidak usah, di sini saja. Jika butuh sesuatu bilang langsung kepada saya."


" Baik tuan." Dengan menurut Syeira mengerjakan pekerjaan yang diberikan Alex di ruangan Alex sendiri.


Sedangkan Alex juga duduk tepat di hadapan Syeira, hanya terbatasi oleh meja.


Mengamati Syeira yang lagi mengerjakan pekerjakan yang dia berikan.


" Hem, cantik juga. Menarik." Batin Alex yang sedang mengamati Syeira.


Syeira sendiri belum tau jika diperhatikan. Dia masih terlalu fokus dengan pekerjaan yang diberikan oleh Alex. Sesekali mengenyitkan dahi, ketika ada yang sulit bagi dirinya untuk dikerjakan.


Dan itu membuat makin lucu bagi Alex. Wajah yang berubah-ubah. Kadang mengerucutkan bibir, kadang tersenyum. Membuat daya tarik tersendiri bagi Syeira untuk Alex. Apalagi rambut-rambut halus yang keluar dari kucir membuat wajah Syeira menjadi terlihat lebih manis.


" Manis, lucu. Hanya aku yang boleh melihat dia seperti ini." Batin Alex. Dia seperti kekasih yang sangat posesif kepada Syeira. Padahal di antara mereka belum terjalin hubungan apapun.


Tiba-tiba dia merasa tenggorokannya mengering. Tetapi takut untuk berbicara kepada Alex. Meneguk ludahnya dengan sedikit sulit.


" Duh, aku haus sekali lagi. Mana tidak diberi minum. Si tuan juga tidak ingin beranjak dari sini." Batin Syeira dengan bingung. Dia gelisah, bingung harus bagaimana agar mendapatkan air minum. Di depannya hanya ada berkas dan kertas yang berserakan. Tidak ada air atau minuman apapun di atas meja.


Alex yang melihat gelagat Syeira aneh menjadi bertanya-tanya.


" Ada apa dengannya, mengapa jadi aneh?" Batin Alex melihat gerak gerik Syeira.


" Mengapa kamu?"


" Sa-aya haus tuan." Jawab Syeira dengan ragu.


" Sana ambil minum, itu di meja ujung ada minum. Ambil saja."


" Baik tuan." Jawab Syeira dengan semangat. Seperti mendapat hadiah. Beranjak dari tempat duduk untuk mengambil air minum.


Tetapi ketika mata Alex tidak sengaja melihat ke arah celana Syeira. Dia terkejut bukan main. Matanya melotot hampir melompat. Dia tersedak ludahnya sendiri.


Uhuk huk huk..


Syeira yang sudah sampai di meja yang dimaksud Alex segera meminum air.


Glek glek glek..


Hampir setengah botol Syeira menghabiskan minuman. Setelah dirasa cukup, Syeira membawa air minum ke meja yang berada di depan Alex. Untuk berjaga-jaga jika nanti dirinya haus lagi.

__ADS_1


__ADS_2