
Syeira dan teman-temannya sampai di vila. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing untuk segera membersihkan diri. Karena badan mereka di penuhi oleh bau keringat yang menempel. Apalagi tadi mereka menempuh perjalanan yang sedikit menguras tenaga.
" Ah akhirnya segaar banget nih tubuh. Semua lelah yang tadi timbul hilang seketika." Ucap Syeira yang baru merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Iya ra, benar kamu. Tadi sebelumnya, tubuh aku wow banget." Jawab Nana yang saat ini duduk di sofa yang tersedia di kamar.
" Iya kan, benar."
*****
Sedangkan di tempat lain, kamar yang begitu luas dan indah, terdapat dua orang yang sedang bercengkrama membahas tentang pekerjaan.
Ditemani kopi susu dan sedikit camilan yang sudah disiapkan oleh pembantu di vila tersebut.
" Gimana ko, apakah ada yang salah?" Tanya Alex kepada Miko yang saat ini duduk bersebelahan. Hanya meja yang membatasi mereka. Saat ini mereka berada di balkon kamar vila yang di tempati oleh Alex.
Dengan view yang mengarah ke lampu-lampu rumah warga desa sekitar puncak.
Menjadikan tempat itu seperti bintang yang menyinari pada malam hari. Tetapi bedanya jika bintang ada di atas dan lampu itu berada di bawah.
" Tidak ada tuan, semuanya aman terkendali. Tidak ada yang lecet sedikit pun."
" Bagus, dan tambahkan lagi pekerja yang ada di bagian kebun teh agar mereka tidak terlalu kelelahan saat memanen."
" Baik tuan, saya akan segera mencarinya."
Mempunyai banyak bisnis tidak mudah jika hanya di pandang sebelah mata.
Banyaknya pesaing di luaran sana membuat sang pemilik bisnis dibuat kelimpungan untuk mengatasi masalah yang terjadi.
Apalagi orang yang ingin berbuat licik, membuat mereka harus lebih waspada.
Dan sebagai pemilik bisnis terbanyak Alex harus lebih pintar serta cerdik untuk mengendalikan semuanya.
Termasuk bisnis kebun tehnya yang saat ini digeluti. Mempunyai kebun teh terluas di negara ini membuat banyak orang iri dan berniat menghancurkannya.
Siapa yang tidak tergiur dengan kebun teh terluas yang dimiliki oleh Alex. Daunnya bisa di jadikan teh dan minuman. Membuat Alex mempunyai pabrik sendiri untuk mengolah hasil panen dari kebun teh tersebut.
__ADS_1
Pekerja yang dikerjakan oleh Alex juga bukan hanya pekerja biasa. Mereka harus menjunjung tinggi kejujuran dan rasa tanggung jawab besar.
Saat ini mereka sedang membicarakan semua pekerja di pabrik. Apakah ada orang yang berkhianat dengan seorang Alex. Kalau sampai itu terjadi, pasti hidup mereka tidak akan tenang.
" Jangan sampai ada celah sedikit pun bagi mereka untuk masuk ke dalam dunia kita, jika sampai itu terjadi. Aku pastikan masa depannya akan hancur seketika." Ucap Alex dingin, dengan sorot mata yang tajam.
" Baik tuan, saya usahakan tidak ada yang akan mengganggu dan masuk dalam dunia bisnis kita."
" Hem, bagus. Ah ya, terus bagaimana perkembangan para pekerja yang langsung terjun di lapangan. Apakah ada masalah." Ucap Alex tanpa melihat ke arah Miko. Kaki yang menumpu pada lutut kaki satunya. Dengan tangan yang sibuk mengelus di area bawah hidung. Sambil menerawang pandangan ke depan. Maksud dari terjun lapangan adalah pekerja yang langsung memetik di kebun teh.
" Tidak ada tuan, semua bagus." Jawab Miko dengan cepat. Memang tak ada yang salah dari para pekerja di kebun teh. Semua aman terkendali di bawah tanggung jawabnya.
" Kau kasih bonus kepada para pekerja di sini dan tambahkan lagi bahan pokok untuk mereka bawa pulang." Alex yang berpikir para pekerja kebun teh sudah bekerja keras dalam membantu bisnisnya. Membuat dia harus memberikan bonus kepada mereka. Apa yang kita dapatkan juga hasil kerja keras mereka semua. Apalagi hasil yang dia dapat dengan mereka itu jauh lebih banyak dari mereka.
" Baik tuan." Jawab Miko, tanpa ada sepatah kata lain. Inilah yang menurutnya Alex di mata Miko sangat baik. Di sisi lain dari sifat kejam, dingin dan tegasnya dia masih peduli dengan orang yang ada dibawahnya.
*****
Pagi hari Syeira dan teman-temannya sudah keluar dari kamar. Mereka berada di taman vila.
" Ayo, ayo, ayo!" Sorak Doni dan Nana. Saat ini mereka berada di depan kolam renang. Memanfaatkan fasilitas yang ada di vila.
Apalagi Syeira dan Nana yang termasuk orang sederhana. Jika mereka ingin berenang, harus pergi ke suatu tempat yang menyediakan kolam renang untuk berenang. Dan membeli tiket masuknya.
Pelajaran berenang juga ada di dalam materi sekolah mereka. Mengambil nilai kepada masing-masing murid untuk berbagai gaya renang.
Jebyur , jebyur, jebyur....
Suara air karena tangan mereka yang sedang mendayung.
Sampai di finis Dika yang memenangkannya.
" Yeah!, guwa menang. Hahaha." Teriak Dika dengan suara lantangnya. Mengayunkan tangan ke atas sambil mengepal. Senyum cerah yang memperlihatkan gigi putih.
Tidak berapa lama Syeira datang terakhir dari mereka.
" Ah, aku kalah." Ucap Syeira dengan mendengus kesal. Napas yang masih naik turun dengan cepat.
__ADS_1
" Oke, sekarang bagi yang kalah masakin kita makanan yang paliiing enak." Ucap Soni dengan semangat. Ide muncul karena perut yang kelaparan membuat Soni dengan cepat memberi saran. Memanfaatkan temannya yang katanya bisa memasak.
" Nha yha betul itu. Ayo ra, kamu masak untuk kita semua." Saut Doni yang juga ikut bersuara. Yang kini duduk di kursi samping kolam renang bersama Nana.
" Aih kalian ini, mengapa jadi begini. Tadi tidak ada kesepakatan seperti ini." Protes Syeira karena dia tidak terima jika dia di hukum.
" Tadi memang begitu ra, tetapi setelah kita pikir, tidak asyik jika tidak ada konsekuensi nya." Ucap Dika.
" Tetapi masak untuk kalian berlima itu banyak lho. Kalau sendiri capai dong aku." Syeira yang tetap tidak ingin masak sendiri memprotes dan membela diri.
" Oke kita bantu kamu. Gimana kalau Doni dan Nana sekarang yang lomba. Siapa dari mereka yang kalah, akan menemani Syeira memasak makanan untuk kita. Deal!" Ucap Dika, karena juga merasa kasihan terhadap Syeira jika harus memasak sendiri."
" Nah setuju aku. Ayo cepat kalian masuk sini." Saut Syeira dengan cepat dan semangat. Dia juga tidak terima jika temannya tidak basah kuyup seperti dirinya
Yang lain hanya tersenyum mendengar ucapan Syeira karena ada yang membantunya nanti.
" Giman don?" Tanya Nana kepada Doni.
" Okelah, mau gimana lagi. Hanya kita yang belum basah. Hahaha." Jawab Doni diselingi candaan.
" Ish." Jawab Nana dengan memajukan bibirnya. Baru saja dia senang karena tidak ikut basah, eh malah di suruh masuk ke dalam kolam dan yang kalah mendapat hukuman.
Nana dan Doni sudah bersiap untuk berlomba. Masuk ke dalam kolam, bersiap dan mendengarkan aba-aba dari Soni.
" 1 2 tiiiiiii ga!"
Byuuuurrrrrrr.....
Mengayunkan tangan dengan bersaut- sautan. Saling mengambil napas dari luar air dengan bergantian. Mereka terlihat sengit karena jarak mereka tidak terlalu jauh. Sangat dekat, sehingga sedikit deg-deg an. Siapakah yang akan memenangkannya.
Nana melebihi Doni untuk segera sampai di finis. Tetapi tersaingi lagi oleh Doni.
Tetapi Doni tetap bertahan sampai ke garis finis. Akhirnya Nana kalah dan harus menemani Syeira.
" Hahaha kamu kalah Na!" Ucap Syeira dengan keras. Betapa Syeira sangat senang melihat kekalahan Nana. Melihat temannya yang cemberut dengan muka kesal. Sungguh lucu bagi semua orang yang melihatnya.
" Sialan kamu ra, teman kalah malah senang. Tak punya hati kau!" Teriak Nana kepada Syeira. Bukan berarti dia marah tetapi hanya candaan semata, mereka sudah biasa dengan kata kasar atau apapun yang keluar dari mulut mereka berdua. Karena mereka sudah mengetahui dan yakin jika itu hanya candaan, jadi tidak ada yang dimasukin ke hati.
__ADS_1
" Biarin, tau rasa kau!" Balas Syeira dengan menjulurkan lidah.